10

1221 คำ
Hujan tidak juga mereda sementara hari semakin gelap. Apa yang Mary inginkan sekarang hanyalah, berada di rumahnya yang hangat dengan secangkir teh di genggamannya sambil meringkuk di sofa tuanya dengan selimut menutupi tubuhnya. Bukannya berada di galeri menyeramkan seperti ini sendirian. Meskipun Mary menyukai pekerjaannya di sini, bukan berarti ia mau menghabiskan malam sendirian di sini kecuali itu sangat terpaksa.  Ia pernah dua atau tiga kali berada di galeri ini sampai malam ketika akan mengadakan pameran, tetapi ada Lucas dan Luca di sini. Juga, semua lampu di sini menyala. Bukannya gelap seperti ini. Ia tidak berani menyalakan semua lampu karena takut ada orang asing lagi yang masuk kemari dan mengira tempat ini masih buka. Jadi, karena ia tahu jika hujan tidak akan berhenti, Mary akan menembusnya. Dan karena ia tidak lagi memiliki payung, ia akan hujan-hujanan sampai di rumah. Ben. Satu nama itu sejak tadi terus menghantuinya dan membuatnya gelisah. Juga wajah tampan yang hampir ia lupakan itu. Mary tidak akan pernah lupa bagaimana wajah Ben meskipun janggut menghiasi wajahnya. Wajah-wajah pria seperti Ben bukan jenis yang mudah dilupakan para wanita sepertinya. Bahkan mungkin wajah itu menghiasi malam-malam para wanita yang kesepian sepertinya. Apakah pria itu mengenalnya? Seharusnya tidak kan? Mereka hanya sempat bertemu beberapa kali dulu. Lagipula, itu sudah dua tahun berlalu. Ben tidak mungkin masih mengingatnya. Pria itu juga tidak mungkin kemari untuk mencarinya. Mary mendengkus dengan pemikirannya sendiri. Mencarinya. Memang siapa dia sampai Ben yang tidak ada hubungannya dengan dirinya, harus ikut mencari keberadaannya? Lagipula lihat dirimu sekarang, bisik hatinya dengan sinis. Dari cara pria itu menatapnya untuk pertama kali, Mary tahu jika Ben merasa jijik padanya. Pria itu tidak akan menoleh padanya lain kali jika mereka bertemu. Ia tertawa muram pada dirinya sendiri. Menjadi orang lain adalah apa yang dulu ia inginkan, tetapi kenapa sekarang itu terasa menyakitkan saat ada orang yang nyata-nyata ia kenal tidak mengenalnya? Apa sebenarnya yang Mary inginkan? Dan juga, apa alasan Ben kemari? Apa pria itu yang akan mengadakan pameran dengan Luca? Sue pernah bilang jika Ben seorang fotografer. Atau mungkin pria itu sengaja mencari tempat-tempat seperti ini untuk mencari foto yang bagus? Menghalau pikirannya tentang Ben, Mary meraih tas dan kunci yang ada di atas meja. Ia harus pulang sekarang sebelum hari semakin gelap. Dirinya tidak ingin berada di galeri sepi ini di saat hujan dan dingin seperti ini. Itu terasa seperti berada di tempat yang penuh dengan banyak orang karena foto-foto yang ada di sana. terutama foto-foto wajah manusia yang seolah menatapnya. Hujan sudah tidak sederas tadi walapun Mary tahu ia akan basah kuyup ketika sampai di rumahnya. Letak rumahnya terletak agak jauh dari pusat komunitas, hampir mendekati batas hutan. Hal itulah yang membuat Mary tidak ingin berjalan pulang sendirian saat gelap. Biasanya ia tidak pernah ketakutan, tetapi entah mengapa hari ini ia merasakannya. Mungkin karena ada Ben di sini sehingga ia merasa terancam. Bagaimana jika suatu saat pria itu akhirnya akan mengenalinya? Berapa lama Ben akan berada di sini? Bagaimana jika Sue atau Zoe menyusul Ben kemari dan bertemu dengannya? Mary tidak akan sanggup pergi lagi jika sudah bertemu dengan sahabat-sahabatnya itu. Bisa saja ia akan ikut mereka pulang ke Portland dan kembali menjadi Mary Swan. Lalu, Gideon akan menemukan dan membawanya pulang. Kemudian siksaan demi siksaan akan diterimanya lagi. Mary bergidik antara kedinginan dan ketakutan membayangkan Gideon akan membawanya pulang. Ia lebih baik mati daripada harus menjalani kehidupan bersama pria itu. Siksaan Gideon pasti akan berkali-kali lipat lebih berat karena ia sudah kabur seperti ini. Bisa jadi Gideon akan mengurunginya di gudang bawah tanah mereka dan tidak memberinya makan sampai dirinya mati kelaparan. Ia menggenggam tasnya lebih erat di d**a ketika angin berhembus kencang hingga membuatnya semakin menggigil. Tidak ada satu pun orang yang berada di luar karena memang ini masih belum disebut gerimis. Tetesan air itu masih saja turun dengan intens dari langit yang gelap. Mungkin seharusnya ia berhenti di tempat makan kecil milik Carol untuk memesan sup kentang, atau ia bisa menghangatkan diri di motel milik Linda sambil menyantap sup krim jagungnya yang terkenal. Carol dan Linda adalah dua orang yang membuatnya merasa sangat nyaman dan tidak ketakutan. Mereka begitu baik padanya seperti Viona, jadi jelas ia akan diterima di sana. linda bahkan mungkin akan menyuruhnya menginap. Namun tidak, apa yang Mary inginkan sekarang hanya pulang dan berada di rumahnya. Menikmati hujan dalam kesunyiannya sendiri walaupun jelas tidak akan ada sup kentang dan sup krim jagung yang lezat di sana. Ia memandang kedai kecil milik Carol yang tertutup meskipn lampu-lampu masih menyala. Tidak aka nada orang yang mau keluar dan mengobrol di kedai di tengah cuaca yang seperti ini. Mungkin nanti ketika hujan mereda, para pria akan ke sana untuk… “Kalau kau tidak memiliki payung lain, seharusnya kau tidak memberikan benda jelek dan rusak itu kepadaku.” Mary berjengit saat mendengar suara itu begitu dekat dengan dirinya. Jantungnya bertalu-talu dengan heboh hingga ia terpaksa berjongkok hanya agar tubuhnya tidak pingsan karena kaget. Bagaimana Ben bisa ada di sini?? “Kau tidak apa-apa?” Ben menunduk dan mengulurkan tangannya yang tidak memegang payung, tetapi Mary mundur hingga ia jatuh terduduk ke tanah yang basah dan kotor. Tas yang ada di genggamannya, ikut jatuh ke tanah dan terkena air hujan. “Aku tidak akan berbuat macam-macam padamu. Aku hanya ingin mengantarmu pulang,” kata Ben lagi dengan lembut. Tidak. Ia tidak akan membiarkan pria ini mengantarnya pulang dan tahu di mana rumahnya. Lebih baik ia mati kedinginan di sini. Tidak ada satu orang asing oun, terutama Ben, yang boleh tahu di mana rumahnya. “Aku…” bibir Mary bergetar kedinginan. “Aku bisa pulang sendiri,” katanya susah payah sambil kembali mendekap tasnya dan bangkit berdiri dengan goyah. Kakinya masih terasa begitu gemetar. Ia tidak ingin dekat dengan Ben seperti ini. Seharusnya mereka tidak lagi berinteraksi sampai Ben pergi dari kota ini. Ben meraih lengannya yang langsung Mary tarik dengan kuat. Ia tidak ingin pria ini menyentuhnya. Ia tidak ingin siapapun menyentuh dirinya. “Valerie, kau bisa sakit jika hujan-hujanan seperti ini.” Dari mana Ben tahu namanya? “Bagaimana kau tahu namaku?” “Apakah itu penting sekarang?” Ben berdecak frustasi. “Kau kehujanan, kedinginan, dan malah membahas hal itu?” Ben mendengkus. “Kau memang benar-benar gadis aneh.” Gadis aneh. Jadi itu anggapan Ben tentang dirinya. Gadis yang aneh, kuno, dan jelek. Itu pasti. “Karena aku aneh, kau tidak usah mengantarku pulang. Aku masih tahu jalan pulang.” Mary berbalik sebelum Ben kembali menarik tubuhnya dengan keras hingga punggungnya menempel di d**a pria itu. Mary terkesiap saat merasakan benturan dengan d**a yang bidang itu. Tubuh Ben hangat, bahkan meskipun hanya satu tangan yang mencengkeram lengan Mary, ia bisa merasakan panas yang menjalar dari genggaman tangan pria itu ke sekujur tubuhnya. Mengalirkan getaran gairah yang sudah sangat lama tidak lagi Mary rasakan. “Walaupun kau tadi bersikap cukup kejam karena mengusriku ketika hujan begitu deras, aku tidak akan berbuat hal jahat seperti itu padamu,” bisik Ben hingga membuat telinga Mary meremang. Embusan napas Ben di telinganya terasa jauh lebih mengganggu daripada apa yang pria itu katakan. Napasnya berubah menjadi pendek-pendek karena gairah kini melesat naik di sekujur tubuhnya. Ini bahaya. Ia tidak boleh merasakan gairah lagi. Terutama, ia tidak boleh b*******h pada Ben! Apapun yang terjadi, Mary harus menjauh dari Ben. Ia harus pergi sejauh mungkin dari pria ini. Harus!
อ่านฟรีสำหรับผู้ใช้งานใหม่
สแกนเพื่อดาวน์โหลดแอป
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    ผู้เขียน
  • chap_listสารบัญ
  • likeเพิ่ม