9

1513 คำ
Ketika akhirnya Ben berhasil menemukan sebuah penginapan kecil, tubuhnya benar-benar sudah basah kuyup. Payung jelek itu amat sangat tidak berguna. Angin yang bertiup kencang membuat benda itu terbalik. Selain itu, ada beberapa besi peyangganya yang patah saat Ben mencoba membenarkannya yang mana malah membuatnya semakin basah. Ini sama saja tidak memakai payung. Ia yakin semua orang menertawainya dari balik jendela-jendela yang tertutup itu. Sialan! Gadis aneh itu pasti tertawa puas saat ini di dalam galerinya yang hangat. Tidak  mungkin ia tidak tahu jika payungnya rusak. Gadis itu pasti sengaja memberikan itu pada Ben agar dirinya kehujanan seperti ini. Ia masuk ke penginapan kecil itu dan bersin satu kali sebelum bernapas lega karena penghangat ruangan yang menyala. Air menetes dari tubuh dan juga payung yang dipegangnya. “Astaga, apa kau tidak melihat hujan di luar sangat deras, Sir?” Seorang wanita tua yang duduk di balik meja counter membelalak melihat Ben masuk sambil buru-buru mengambilkan handuk kering untuknya. Wanita itu mengulurkan handuk putih yang tebal kepada Ben dan mengambil payung yang masih ada di tangannya. Benda itu tampak semakin menyedihkan karena besi peyangganya yang mencuat ke mana-mana. Tadinya, Ben ingin membuang payung itu di tempat sampah depan motel, tetapi ia harus menyimpannya untuk membuat perhitungan dengan si gadis aneh besok. Ini sama saja dengan percobaan pembunuhan! Jaket dan ranselnya basah kuyup. Entah bagaimana nasib kameranya walaupun ia memasukkannya ke dalam wadah khusus anti air. Ben harap kameranya aman karena jika tidak, ia terpaksa harus meminta ganti rugi pada gadis penjaga galeri yang aneh dan norak itu. Satu yang paling jelas sekarang, pasti tidak ada satupun bajunya yang kering. Namun itu tidak apa-apa selama ada kamar kosong. Ia bisa tidur telanjang dan bergelung di balik selimut yang nyaman. “Aku harus mandi dan mengeringkan tubuhku. Apakah ada kamar kosong?” tanya Ben pada wanita itu. “Tentu saja. Tidak pernah ada kamar penuh di sini.” Wanita itu berjalan ke mejanya dan mengambil kunci lalu meletakkan benda itu di atas meja. “Aku Linda, pemilik tempat ini.” Menyedihkan. Apa tempat ini memang sesepi itu? Bagaimana usaha-usaha seperti ini bisa bertahan jika jarang ada pengunjung yang datang? “Tolong simpan payung itu. Aku harus mengembalikannya pada seseorang,” kata Ben di sela mengeringkan tubuhnya. “Dan jangan coba diperbaiki,” tambahnya saat Linda membuka lagi payung itu untuk membenarkan letak besi peyangganya. Tetesan air berwarna coklat dari payung itu jatuh di lantai kayu. Linda memandangnya heran. “Bukan milikmu?” Ben menggeleng. “Seorang gadis dari galeri meminjamkannya padaku.” “Valerie?” Valerie. Oke, nama yang cukup cantik untuk gadis yang cukup kuno dan aneh. Jika Ben hanya mendengar namanya dan belum melihat langsung wajahnya, pasti Ben akan membayangkan seorang gadis yang cukup cantik dan trendi. “Kecuali ada gadis lain di sana?” Kemungkinan besar tidak ada. Linda menggeleng. “Hanya ada satu wanita yang bekerja di sana. Kau cukup beruntung dia memberimu payung dan bukannya melemparmu dengan vas antik.” Tadinya, Ben ingin cepat-cepat ingin pergi ke kamar dan mandi air hangat, tetapi perkataan Linda membuatnya berhenti melangkah. Ia kembali menoleh pada Linda yang sudah kembali ke balik mejanya untuk merajut itu. “Melemparku? Aku tidak berbuat apa-apa di sana. hanya berteduh. Tidak lebih.” Otaknya membayangkan gadis kecil aneh itu meraih vas dan melemparkan benda itu padanya. Apa memang Valerie segarang itu? Lagipula, hanya karena ia mencoba untuk berteduh, tidak mungkin ia akan dilempar vas kan? “Jangan mendekati dia. Gadis itu selalu defensive setiap ada orang, terutama pria, yang mencoba mendekatinya.” Kening Ben berkerut karena dua hal. Pertama tentang kata defensive. Apa itu jawaban mengapa si aneh sangat ketakutan saat melihatnya di galeri? Trauma masa lalu mungkin? Apa ketakutan yang ditampakkan wajah Valerie tadi memang benar-benar karena takut padanya? Dan kedua, karena kata-kata mendekati. Hah! Seakan di dunia ini tidak ada gadis lain yang bisa ia dekati saja! Jauh lebih mudah mendekati gadis cantik dan seksi daripada mendekati gadis seperti itu. Kenapa yang jelek-jelek begitu selalu jual mahal? Bukankah seharusnya mereka senang jika ada satu pria saja yang menaruh perhatian padanya? “Jangan khawatir, aku tidak tertarik,” ucap Ben sebelum ia berjalan ke lantai dua. Ia menoleh saat mendengar tawa sinis Linda meskipun mata wanita itu tetap pada rajutannya. “Kau pikir aku tertarik pada gadis aneh itu?” Linda mendongak padanya dan mengangkat bahu. “Hanya karena dia berpakaian seperti itu, bukan berarti dia bukan gadis yang tidak menarik.” Ben menatap Linda seakan tumbuh tanduk di kepala wanita itu. Dia memang tidak pernah melihat seorang gadis dari penampilannya jika itu tidak berhubungan dengan ‘hubungan personal’. Siapapun pasti akan memilih pasangan yang cantik dan enak dilihat daripada gadis yang tidak bisa memadukan pakaian dengan baik seperti itu. “Kemarikan tasmu, aku akan mencucikannya. Tidak ada mesin cuci dan pengering di kamar.” Linda kembali bangkit dari duduknya, membuka lemari untuk mengambil pakaian dan mendekat pada Ben. “Tidak apa-apa, aku bisa menjemurnya di…” Ia berpikir sekecil apa kamar yang ia dapatkan. Linda kembali tersenyum sinis. “Keluarkan saja barang-barang berhargamu, lalu letakkan pakaina basahmu di depan pintu. Aku akan mengambilnya nanti.” Ia menyerahkan pakaian yang dipegangnya pada Ben. “Milik cucu lelakiku, mudah-mudahan pas di tubuhmu.” Setelah mengucapkan terima kasih, Ben naik ke kamarnya. Hanya ada sekitar empat pintu kamar di sana. Ia menuju kamar yang berada di paling ujung. Satu kosong satu sesuai yang tertulis di kuncinya. Kamar itu memang kecil. Hanya ada satu tempat tidur ukuran single yang ditutupi selimut hangat berwarna hijau. Ranjang itu menempel ke dinding yang memiliki satu jendela. Ada satu meja kopi kecil yang di atasnya terdapat lampu tidur dan teko berisi air minum. Setelah meletakkan baju kering yang diterimanya dari Linda. Ben melepas semua pakaiannya hingga hanya mengenakan celana dalam. Oh, ia tidak akan membiarkan Linda mencuci celana dalamnya. Ben membuka tas dan bernapas lega saat mengetahui kamera dan laptopnya kering. dengan cepat, ia mengeluarkan barang-barang pribadinya, kemudian meletakkan pakaiannya yang basah di depan pintu. Ia akan membayar lebih untuk itu. Bunyi ketukan pelan terdengar ketika Ben baru saja keluar dari kamar mandi. Ia mengeringkan rambutnya seraya membuka pintu dan mendapati Linda berada di sana. Di tangannya ada nampan berisi semangkuk sup krim yang beraroma harum, keranjang roti, dan juga kopi yang mengepul. Ben menelan ludah saat aroma itu menyerang hidungnya. Perutnya bernyanyi riang gembira melihat apa yang tersaji di hadapannya. “Sup krim jagung adalah pilihan paling tepat ketika kedinginan,” kata Linda sambil menyodorkan nampan itu lebih dekat. “Apa ini termasuk layanan kamar?” Linda tertawa. “Yah, kau bisa menyebutnya begitu. Ambillah.” Linda menyodorkan lagi nampan itu agar Ben menerimanya. “Sup krimku paling terkenal di sini. Kau akan menyesal jika tidak mencobanya.” Mau tidak mau Ben tersenyum mendengarnya dan meraih nampan. “Hitung semua biaya mencuci pakaian dan untuk ini,” katanya kemudian. Linda hanya melambaikan tangan dan berlalu tanpa bicara apa-apa lagi. Mata Ben mengawasi lorong lantai dua yang sepi itu selama sesaat. Tiga kamar lainnya tidak ada cahaya lampu dari balik pintu, jadi kemungkinan kamar itu kosong. Mempertahankan usaha di sini pasti sangat sulit. Setelah menutup pintu kamar, Ben duduk di satu-satunya meja dan kursi yang ada di sana. Ia benar-benar kelaparan sekarang. Ben mengambil sendok dan memejamkan mata saat sup itu memasuki mulutnya. Linda benar, sup ini benar-benar lezat. Rasa jagung begitu segar dan harum. Ditambah beberapa irisan daging ayam dan celupan roti hangat, makanan ini akan bisa membuatnya tidur dengan nyenyak. Hal-hal seperti inilah yang membuat Ben menyukai penduduk kota kecil. Mereka jauh lebih ramah kepada para pendatang daripada orang-orang perkotaan. Jika ia menginap di hotel di New York, yang harus ia lakukan adalah menelepon untuk memesan makanan. Mereka tidak akan datang tanpa diminta seperti ini. Ben bersendawa keras setelah potongan roti terakhir masuk ke dalam perutnya yang kini terasa penuh. Ia menguap meskipun kopi yang Linda sajikan juga sudah tandas. Yah, kedinginan memang selalu membuatmu lapar dan mengantuk tidak peduli sebanyak apapun kopi yang kau minum. Hari mulai gelap dan tidak ada yang bisa dilakukannya selain tidur. Oh, mungkin seharusnya ia melakukan review di media sosialnya tentang galeri tadi. Namun, Ben menyadari ia benar-benar mengantuk. Ia naik ke ranjang yang empuk dan duduk menatap jendela yang tertutup itu. Hujan masih turun meskipun sudah tidak sederas tadi. Ia mengamati rumah-rumah lain mulai menyalakan lampu-lampunya meskipun masih tidak ada orang yang keluar karena udara yang cukup dingin. Kecuali satu orang. Matanya menyipit saat melihat sosok kecil itu berjalan melawan hujan. Tangan Ben terangkat membuka jendelanya. Rintik air hujan yang menerpa wajahnya membuat Ben bergidik, tetapi tidak mengurungkan niatnya untuk menjulurkan kepala demi melihat orang gila mana yang berjalan di tengah hujan dan cuaca sedingin ini. Ia mengumpat saat menyadari siapa orang gila itu. Sialan! Apa gadis aneh itu tidak memiliki payung lain?? Atau jika memang ia tidak memilikinya, kenapa ia tidak berdiam diri di dalam galeri?? Apa memang gadis itu sudah gila. Ben menutup jendela dengan keras dan berbaring. Tidak. Ia tidak akan peduli. Biar saja gadis aneh itu kehujanan. Lagipula, itu akan impas jika gadis itu juga kehujanan seperti dirinya. Iya kan?                        
อ่านฟรีสำหรับผู้ใช้งานใหม่
สแกนเพื่อดาวน์โหลดแอป
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    ผู้เขียน
  • chap_listสารบัญ
  • likeเพิ่ม