Alasan mengapa Ben ingin mengunjungi tempat-tempat yang belum pernah ia kunjungi sebelumnya adalah selain untuk mencari foto-foto baru, ia juga ingin berinteraksi dengan lebih banyak orang yang ditemuinya.
Ia selalu suka bertemu dengan para penduduk lokal tempatnya berkunjung, tertawa bersama dengan anak-anak yang tidak ia ketahui namanya, juga mengobrol dengan para orang-orang lanjut usia yang sedang melakukan aktivitas harian mereka atau sedang duduk bersantai di taman.
Dan tentu saja, hal-hal itu tidak bisa dilakukan di kota-kota besar. Orang perkotaan cenderung menghabiskan harinya di dalam ruangan dan jarang mau bertemu orang lain. Karena itulah, bepergian ke kota-kota kecil yang tidak terlalu modern adalah pilihan yang tepat.
Siapa bilang jika hal-hal menarik hanya ada di kota besar? Hanya karena negara yang kau kunjungi tidak ada pusat perbelanjaan atau salon dan spa mewah, bukan berarti dirimu tidak bisa bersenang-senang di sana. Kadang, hal-hal sederhana dan jauh dari kemewahan justru bisa menimbulkan kebahagiaan yang begitu besar.
Selama ini, tempat-tempat yang Ben datangi memang daerah atau Negara bagian yang cenderung kecil dan jauh dari hiruk pikuk modernisasi. Alabama, Taos, Whitefish, Ouray, hingga Gallena di Illinois adalah kota-kota yang sudah ia kunjungi selama dua tahun ini.
Ada rasa bahagia dan kepuasan sendiri saat menghabiskan waktu di kota kecil. Itu terasa hampir seperti di rumahnya, di Portland. Dan hal itu membuatnya tidak terlalu merindukan rumah. Yah, ia merindukan rumahnya sedikit. Sue pasti akan membunuhnya jika mendengarnya mengatakan tidak rindu rumah dan keponakan kecilnya.
Namun, kebahagiaan yang ia rasakan saat menginjakkan kaki di kota-kota tersebut, tidak pernah bisa ia jelaskan dengan kata-kata walaupun kadang, suasana yang diterimanya jauh berbeda dengan apa yang ia harapkan.
Seperti hari ini. Ben baru saja memasuki Nashville, Indiana, di Brown County ketika hujan deras turun menyambutnya. Ia tahu jika bulan-bulan pertama di awal tahun adalah waktu terjadinya musim hujan di kota tersebut. Dan bulan Mei disebut-sebut memiliki curah hujan tertinggi sepanjang tahun. Namun, apa yang ia tidak tahu adalah hujan itu akan datang sekarang.
Ia belum sempat mencari penginapan dan satu-satunya tempat terdekat yang bisa dimasukinya adalah sebuah galeri seni yang bertuliskan TUTUP pada pintu kacanya. Bahkan hampir semua tempat ini terlihat tutup karena derasnya hujan yang turun. Ia tidak punya pilihan lain selain masuk ke tempat itu atau semakin basah kuyup.
Ben mendekati pintu kaca itu dan mendorongnya pelan. Bunyi berderit pelan terdengar saat ia membukanya lebih lebar lagi. Ben beruntung karena pintu itu tidak terkunci meskipun tulisan tutup tertera di sana. Berarti jelas, masih ada orang di sini.
“Hello??” ucapnya keras. Berharap sapaan itu bisa menyaingi gemuruh hujan dan petir yang bersahutan di luar.
Bagaimana hujan bisa begitu deras di tempat sekecil ini? Ia tidak terlalu suka hujan. Hujan membuatnya tidak bisa memotret hal-hal yang indah.
Selama beberapa saat Ben menunggu di depan pintu, berharap ada seseorang yang akan menjawab sapaannya. Meskipun tidak ada satu kendaraan pun di luar, seharusnya masih ada orang di sini. Jika tidak, tidak mungkin pintunya dibiarkan tidak terkunci seperti itu. Lagipula, galeri ini terlihat masih rapi dan terawat, jadi jelas tempat ini masih dipakai.
Setelah menunggu dan tidak ada satu pun orang yang menemuinya, Ben memutuskan untuk memasuki galeri kecil itu. Hujan terdengar semakin deras menampar daun pintu di belakangnya. Mungkin orang yang ada di sini tidak mendengar sapaannya. Jika dirinya masuk lebih dalam lagi, sudah pasti ada yang bisa ia temui.
Namun, sebelum Ben melangkah lebih jauh, ia mendapati dirinya terpaku pada deretan foto-foto indah dan luar biasa yang terpasang di dinding. Kurator galeri ini jelas memiliki selera seni yang tinggi. Foto-foto itu ditempatkan berdasarkan jenis objek yang diambil. Menjadikan Ben serasa berada langsung di dalam objek tersebut.
Langkah kaki Ben terhenti saat ia memandang foto Sungai Mississippi. Sungai itu adalah bagian yang tidak terpisahkan dari Amerika. Anak-anak sungainya mengalir di hampir seluruh sungai di benua ini. Dengan panjangnya yang lebih dari 3500 kilometer, tidak heran jika sungai ini menjadi induk dari semua sungai-sungai yang ada. Mississippi adalah legenda Amerika.
Sejenak, Ben seperti terbawa ke dalam foto yang diambil ketika matahari hampir terbit itu. Semburat warna orange menghiasi ujung sungai seakan lidah api yang siap menghangartkan dinginnya pagi. Pagi hari selalu menjadi favorit banyak fotografer untuk mengambil foto. Ia sendiri tidak memiliki waktu favoritnya. Asalkan hari itu cerah dan tidak hujan, Ben akan selalu siap mengambil objek apapun.
“Maaf, Sir, kami sudah tutup!”
Suara bentakan itu membuat Ben tersentak dari lamunannya, ia menoleh dan berhadapan dengan seorang gadis yang…yah, agak sulit dijelaskan. Apa dia benar-benar seorang gadis dan bukannya wanita tua melihat gaya berpakaiannya?
Gadis itu memakai rok lebar berwarna biru muda sepanjang mata kaki. Sangat tidak serasi dengan sweater warna hijau tua yang dipakainya untuk menutup blus berwarna coklat kumal di baliknya. Oh, dan sebagai tambahan ketidakserasiannya, ia memakai sepatu tenis warna putih bercorak merah di sampingnya.
Ben mengernyit melihat cara berbusana yang saling bertabrakan warna itu. Gadis ini pasti tidak pernah melihat majalah mode atau menonton televisi. Pandangannya naik ke wajah gadis itu dan kernyitannya berubah semakin dalam. Ben pernah melihat gadis ini sebelumnya. Wajah itu terasa familier. Akan tetapi, di mana ia pernah melihatnya? Seseorang yang pernah ditemuinya di masa lalu.
Mary. Putus Ben setelah ia mengamati gadis itu agak lebih lama. Wajah itu memang mengingatkannya pada Mary.
Hanya saja, Mary yang Ben kenal tidak mungkin berpakaian senorak itu. Mary selalu berpakaian dengan cantik dan sesuai dengan tubuhnya yang langsing. Dulu, Ben suka sekali mencuri pandang pada gadis itu setiap Mary berkunjung ke rumah Sue sebelum pernikahannya. Setelah menikah, Mary pindah ke Seattle dan tidak pernah datang lagi.
Ben kembali mengamati gadis itu. Jelas dia bukan Mary. Lagipula, gadis kuno itu berambut pirang yang terlihat kusam. Sekusam pakaian yang dikenakannya. Wajahnya juga begitu polos tanpa sedikit pun sentuhan make up. Mungkin itu hanya mirip. Bukankah di dunia ini banyak orang yang mirip?
“Maaf, aku kehujanan dan tidak ada tempat lain yang bisa kudatangi. Aku baru sampai di kota ini.”
“Kami juga sudah tutup,” kata gadis itu pelan sambil menunduk memainkan sweater jeleknya.
“Aku mengerti, tetapi bolehkah…” Ben tidak sempat menyelesaikan perkataannya karena gadis itu melesat masuk dan meninggalkannya sendirian di galeri.
Apa gadis aneh itu takut padanya? Tangannya terlihat gugup saat memuntir ujung sweater di jarinya yang kurus.
Ben memandang dirinya sendiri dan merasa bahwa pakaiannya biasa-biasa saja. Jaket kulit, celana jins yang sedikit robek di bagian lutut, sepatu kets, dan tas ransel besar. Tidak ada yang aneh. Oh, kecuali bahwa ia belum bercukur. Apa gadis itu takut karena rambut janggutnya?
Belum sempat Ben berpikir lebih jauh, tiba-tiba gadis itu muncul lagi. Kali ini dengan payung berwarna kuning di tangannya. Ben mendongak dan lagi-lagi mengernyit. Gadis aneh itu sekarang memakai kacamata hitam yang tebal dan benar-benar kuno.
Astaga, benarkah penduduk kota ini memang sekuno itu? Memang tempat ini terkenal dengan komunitasnya yang kuno, tetapi bukankah gadis semuda itu seharusnya mengikuti trend terkini? Gaya pakaiannya akan cocok di tahun enam puluhan, bukan tahun dua ribu dua puluh. Apa gadis ini semacam sedang melintas mesin waktu dan terdampar di dunia modern?
“Anda bisa memakai payung saya.” Gadis itu menyerahkan payung jeleknya dan segera menarik tangannya bahkan sebelum Ben sempat menggenggam payungnya hingga benda itu jatuh ke lantai.
Jadi ia diusir? Pikir Ben sambil memunggut benda jelek itu. Tahun berapa payung ini dibuat? Warnanya sudah sangat kusam dengan bekas-bekas coklat air hujan menempel di kainnya.
“Tidak bisakah aku di sini sebentar lagi? Apa kau tahu jika hujan sangat deras di luar?”
“Maaf, kami sudah tutup.”
Hanya itu yang lagi-lagi dikatakannya dan gadis aneh itu berjalan mendahuluinya menuju lorong. Ben tebak, gadis itu akan menunggu di depan pintu sampai dirinya keluar.
Benarkah seseorang yang bekerja di tempat pelayanan publik harus sedingin itu pada pengunjung? Meskipun galeri ini sudah tutup, tidak seharusnya mengusir sesorang yang berkunjung dengan cara seperti ini. Terlebih di tengah kondisi cuaca yang tidak bagus di luar. Ben bisa saja membuat review tentang tempat ini dan memuatnya di media sosial. Bahwa pegawai tempat ini tidak memiliki rasa empati sedikit pun.
Merasa tidak memiliki pilihan selain pergi, Ben mengikuti gadis itu yang sekarang sudah berdiri di depan pintu. Sialan, hujan semakin deras di luar. Ia yakin payung jelek ini tidak akan berhasil membuatnya tidak basah kuyup.
Dalam hatinya, Ben berjanji ia akan benar-benar mereview galeri ini dan menggunggahnya. Gadis ini harus dipecat karena telah berlaku tidak sopan padanya.
“Apa aku juga tidak boleh kemari lagi besok untuk mengembalikan payungnya?” tanyanya dengan sinis.
“Bawa saja. Saya tidak membutuhkannya.”
Apa itu artinya dia dilarang mengunjungi galeri ini lagi? Hanya karena masuk setelah jam operasional dirinya masuk dalam daftar orang terlarang berkunjung?
Dengan masam, Ben mengamati gadis kuno itu sekali lagi. Ada masalah apa orang ini hingga setega itu pada orang asing sepertinya? Lihat saja, setelah malam ini, gadis itu dan juga pemilik galeri akan memohon-mohon padanya agar kembali lagi ke sini. Dan Ben, ia tidak akan mau kembali ke sini agar sebelum si gadis norak ini dipecat!