Ketika Ben memeluknya seperti itu, entah mengapa Mary merasakan dirinya utuh kembali. Rasanya seakan semua kesakitan dan air mata selama dua tahun kemarin tidak pernah ada dalam hidupnya. Mary merasa nyaman, damai, dan bahagia. Bagaimana mungkin Ben bisa memberikan perasaan seperti itu kepadanya hanya dalam satu malam? Mereka tidak pernah saling mengenal secara personal sebelumnya, mereka tidak pernah bicara berdua dalam waktu yang lama, mereka juga tidak pernah saling bertukar kedekatan baik itu dalam bentuk fisik ataupun sekedar senyum sapa. Akan tetapi malam ini, kedekatan itu tiba-tiba tercipta dan mengikat mereka berdua dengan erat. Hati Mary terbelah antara kesedihan dan kebahagiaan. Ia sedih karena telah berbohong kepada Ben. Namun di sisi lain, Mary bahagia karena ia masih bisa

