9

1695 คำ
Seumur hidup, Diva tidak pernah sekalipun membenci kakaknya. Dave adalah satu-satunya saudara yang dimilikinya sehingga Diva selalu mencintainya. Namun kini, ia membenci kakaknya setengah mati hingga rasanya ia ingin mengambil pisau buah yang ada di hadapannya dan menusukkan pada jantung Dave. “Aku bukan anak kecil lagi.” Ucap Diva dengan dingin tanpa memandang Dave yang tengah menatapnya tajam. Coba kalian sebutkan hal yang lebih memalukan selain 'disidang' masalah pacar di usiamu yang sudah lebih dari dari dua puluh tahun. Secara hukum ia sudah dewasa. Sangat dewasa malah. Umurnya sudah hampir dua puluh empat tahun sekarang, itu sudah masuk kategori terlalu tua untuk disidang masalah siapa pria yang bisa mengencanimu. “Aku tahu! Tetapi kau tidak bisa berpacaran dengan Daniel!” Dave jarang berteriak padanya. Malah, pria itu tidak pernah marah padanya. Diva benar-benar tidak mengerti mengapa hal ini membuat kakaknya marah. Padahal dirinya dan Daniel hanya pergi makan satu kali. Satu kali!! “Kak, kami hanya makan siang! MAKAN SIANG! Kami tidak pergi kencan!!” “Tetap saja nanti kalian akan berakhir di tempat tidur!!” Mereka berdua saling berdiri dan melotot. Sementara penonton mereka malah tertawa terbahak-bahak. Diva dan Dave sama-sama menoleh pada kedua orang tua mereka. Orang tua mana yang tertawa bahagia melihat kedua anaknya bertengkar? “Papa, jangan tertawa. Ini masalah serius. Aku tahu Daniel. Ia tidak bisa serius dengan satu wanita. Jika Diva nekat, ia akan sakit hati nantinya.” Kembali ayahnya terbahak-bahak. “Semua orang bisa berubah, Nak.” Ucap beliau setelah tidak lagi tertawa. Diva tersenyum penuh kemenangan. “Nah! Dengar itu, Kak!” “Tetapi itu tidak akan terjadi pada Daniel!” “Why not? Hal itu bisa terjadi pada siapa saja. Bahkan kau.” Dave tersenyum sinis mendengar perkataan ayahnya dan menggeleng. “Itu seperti menunggu kucing mempunyai sayap, Pa. Semua wanita hanya mengincar uangku!” Lalu matanya kembali menatap Diva. “Aku sudah memperingatkanmu, adikku. Jangan tanyakan dosa jika kau sakit hati satu saat nanti.” Ucapnya seraya meninggalkan ruang keluarga dan naik ke kamarnya. Diva mengembuskan napasnya dan terduduk lesu di atas karpet. Mereka tidak pernah bertengkar bahkan saat mereka masih kecil. Dave adalah malaikat pelindungnya. Kakak terbaik yang pernah ia miliki. Namun kini mereka bertengkar 'hanya' karena masalah seperti ini. Oke, mungkin ini bukan sekedar 'hanya'. Mungkin akan lain ceritanya seandainya pria itu bukan sahabat baik kakaknya. Diva tahu Dave khawatir karena ia tahu semua sifat buruk Daniel. Namun toh ini juga belum tentu berakhir dengan dirinya dan Daniel berpacaran. Ia tidak senaksir itu pada Daniel. Atau mungkin Dave sudah mencium ‘bau’ ke arah sana? Apa Dave tahu jika Diva mulai jatuh cinta pada Daniel? “Ikuti saja kata hatimu, Nak. Ia akan tahu mana yang terbaik untukmu.” Diva memandang ibunya yang tersenyum. “Apa Dave akan membenciku jika akhirnya aku berhubungan dengan Daniel, Ma?” “Dave tidak akan pernah membencimu, Sayang. Kau adalah peri kecilnya.” Diva kembali menunduk. Ia benci bertengkar dengan Dave. Baru beberapa menit mereka bertengkar, tetapi rasanya begitu menyesakkan. Ia sangat ingin menangis. Diva bangkit dari duduknya dan berlari naik ke kamar kakaknya. Ia ingin memeluk Dave. Diva kembali berdiri dengan ragu di depan kamar Dave. Ia takut kakaknya masih marah padanya. Setelah menghitung sampai sepuluh, ia memberanikan diri mengetuk pintu kamar Dave. Tidak ada jawaban. Diva mengetuk kembali hingga akhirnya pintu terbuka lebar. Tanpa bicara, Diva mendekat dan memeluk pinggang Dave lalu menangis tersedu-sedu. Dave menghela napas dan balas memeluknya dengan erat. “Aku hanya tidak ingin kau terluka, little baby.” “Apa kau akan membiarkanku menjadi perawan tua dengan melarang semua pria mendekatiku?” Dave terkekeh. “Tidak. Hanya saja jangan Daniel, please. Ia sama brengseknya denganku.” Diva bergumul dengan pikirannya sendiri. Di satu sisi, ia ingin mengenal Daniel lebih jauh dan membuktikan pada Dave jika pria itu salah. Namun di sisi lain, ia tidak ingin hubungannya dengan Dave menjadi seperti ini. “Carilah pria yang baik. Yang bisa mencintaimu dengan tulus. Dan yang pasti, cari pria yang bisa menjaga kemaluannya.” Diva terkekeh lalu mengangguk dan memeluk kakaknya makin erat. Mungkin memang perkenalannya dengan Daniel tidak bisa lebih dari ini. Mungkin ini adalah takdir mereka. ~~~ Daniel memandang ponselnya tanpa berkedip hingga matanya terasa panas. Apa boleh ia menangis sekarang? Apa seperti ini rasanya patah hati? Seolah ada pisau tak kasat yang merobek jantungnya berkali-kali hingga hancur. Ia bahkan belum merasakan apa itu indahnya cinta yang selama ini banyak digaungkan oleh orang-orang. Ia belum tahu bagaimana rasanya ada wanita yang mencintainya. Namun kini, semua itu seolah tidak mungkin setelah ia membaca pesan dari Diva yang dikirim gadis itu beberapa menit yang lalu. The One : Hi, Danny! ?? How was your day? Apa kau menikmati saat kita makan siang kemarin? Dan... Mungkin siang kemarin adalah makan siang pertama dan terakhir kita. Aku sangat senang bisa memiliki siang kemarin bersamamu. ?? Jangan cari aku lagi ya. Kau tahu kakakku kan? Ia tidak mengijinkanku dekat denganmu bahkan untuk sekedar berteman. Ia takut kau akan membawaku ke ranjangmu. Haha. Ia konyol kan? Aku jelas bukan tipemu seperti wanita yang di apartemen itu. Aku yakin kita akan baik-baik saja seperti sebelumnya. Someday, we will forget the hurt, the reasons why we cried and who caused the pain. And someday you'll find your one, Dan. Bye... Daniel memang baru mengenal Diva, tetapi rasa sakit yang ditimbulkan gadis itu membuatnya bersumpah ia tidak akan jatuh cinta lagi. Jelas Devan telah salah. Cinta itu omong kosong. Tidak ada hal yang menyenangkan dari cinta. Bukan salah Dave jika ia tidak ingin adiknya jatuh ke pelukan pria b******k sepertinya. Semua kakak laki-laki akan selalu melakukan itu pada adiknya. Hatinyalah yang telah salah berlabuh. Suara ketukan pintu membuatnya menarik napas panjang. Ia memejamkan mata dan mengembuskan napasnya kembali dengan pelan. “Ya, Maria?” Tidak ada orang lain yang mengetuk pintu kamarnya selain Maria. “Ada temanmu di bawah, mi hijo.” Hal terakhir yang diharapkannya saat ini adalah sebuah kunjungan. Ia hanya ingin minum dan sendirian. “Siapa?” “Devandra dan Damian.” Lagipula siapa lagi yang ia harapkan akan mengunjunginya? Ia tidak punya teman lain selain mereka. “Aku akan turun sebentar lagi.” Seharusnya malam ini mereka pergi ke club seperti malam minggu yang biasa mereka lalui. Minum dan mencari wanita. Namun tiba-tiba Dave membatalkan kedatangannya dengan alasan 'acara keluarga' dan dirinya sendiripun tidak berminat untuk pergi. Entahlah, sejak mengenal Diva, keinginan itu hilang dengan sendirinya. Bahkan bisa dibilang ini rekor terlama ia tidak berhubungan seks. Dan ia merasa ...baik-baik saja. Aneh. “Whoooaaaa, what's up, Dude??” Teriak Devan dan Damian bersamaan saat dirinya turun. Daniel tidak tahu bagaimana mukanya saat ini, tetapi jelas ia hancur. Hancur luar dalam. “Ada apa kalian kemari?” Ia menatap dua sahabatnya itu dengan galak. Devan dan Damian saling berpandangan. “Kau ingin kami pulang saja?” Tanya Damian kemudian. Daniel memejamkan mata dan mengusap wajahnya kasar. Ia bahkan tidak tahu apa yang diinginkannya sekarang. Oh, ia tahu satu hal yang sangat diinginkannya. Diva. “Ini tentang Diva ya?” Pertanyaan Devan membuatnya kembali teringat isi pesan gadis itu. Ia sudah menghapalnya di luar kepala hanya dalam beberapa menit saja. Dan lagi, rasa sakit itu muncul kembali. “Dave tidak hanya mematahkan leherku, ia menghancurkanku,” ucap Daniel dengan lirih. “Jadi kau benar-benar jatuh cinta padanya??” Mata biru Damian membelalak. “I can't believe it! Bukannya kau tidak bisa hidup tanpa s**********n wanita??” Mau tidak mau Daniel tertawa mendengarnya. Ia tertawa begitu keras hingga air matanya mengalir deras di pipinya. Jebol sudah pertahanannya. Daniel terisak-isak persis seperti saat ia menemukan ibunya tidak bernyawa. Dan ini adalah tangisan pertamanya setelah hari itu. “Jadi benar ungkapan yang mengatakan, ia yang tertawa paling keras biasanya menyimpan kesedihan yang paling dalam ya, An?” Devan mengangkat bahunya dan berpindah duduk di sisi Daniel sementara Damian mengikuti di sisi lainnya. Mereka hanya menepuk bahunya pelan tanpa bicara apapun hingga Daniel tenang. Daniel merasa malu. Ia tidak pernah lepas kontrol seperti ini. Ia adalah orang yang paling bisa mengontrol emosinya. Namun hari ini, ia bukanlah dirinya sendiri. “Bicaralah baik-baik pada Dave. Aku yakin ia akan mengerti.” Mungkin saran Damian terdengar masuk akal, tetapi itu jelas bukan hal yang mudah. Mereka semua tahu bagaimana seorang Dave. Ia tidak mudah digoyahkan jika sesuatu itu benar menurutnya. Kecuali jika ada bukti nyata terpampang di hadapannya. “Aku tahu yang kau pikirkan, Dan. Kalau begitu buktikan padanya jika keyakinannya itu salah.” Devan menepuk bahunya dua kali dengan mantap. “Apa itu mungkin, An?” Devan tersenyum. “Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, Danny. Nyatanya kau yang tidak percaya cintapun pada akhirnya jatuh cinta kan? Tinggal menunggu waktu Damian dan Dave akan mengalaminya.” Damian bergidik. “Setelah melihat Danny seperti ini, aku tidak yakin aku akan sanggup untuk jatuh cinta. Ini konyol, An. Bagaimana bisa seorang pria menangis hanya karena wanita?” “Jadi kau mengataiku konyol?” Daniel melotot pada Damian. “Ya. Absolutely ridiculous!” Devan terkekeh. “Bersiaplah untuk karmamu, Damian. Kau akan lebih konyol nanti.” “Jangan menyumpahiku, Alexander!!” “Kau lupa kau pernah jatuh cinta setengah mati pada Giselle si medusa itu?” “Tetapi aku tidak menangis karenanya!!” Damian cemberut hingga membuat Devan dan Daniel kembali terkekeh. Ternyata tidak seburuk itu mendapatkan kunjungan dari mereka. Dan Daniel selalu bersyukur memiliki mereka. Mereka adalah hartanya, walaupun ia tidak akan mengatakan itu di hadapan mereka. Kadang, apa yang kita butuhkan hanyalah seseorang yang selalu ada. Bukan untuk memperbaiki segalanya, tetapi hanya perlu membuat kita tahu bahwa mereka peduli pada diri kita. “Nah, kau sudah bisa tertawa. Ayo kita keluar. Aku butuh minum dan satu atau dua ciuman.” Damian berdiri dengan tidak sabar. “Damian, aku tidak ingin pergi. Kau saja sana dengan Andra.” “Dan aku harus menontonnya make out? No, thanks!” “Ck! Kalian tidak asyik!” Ia kembali duduk dengan cemberut. “Aku punya anggur kalau kau butuh minum. Dan untuk satu atau dua ciuman kami juga bisa memberikannya. Ya kan, An?” Devan mengangguk menanggapi perkataannya. “Keluarkan semua anggurmu, de Castillo!! Aku tidak butuh ciuman kalian!!”
อ่านฟรีสำหรับผู้ใช้งานใหม่
สแกนเพื่อดาวน์โหลดแอป
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    ผู้เขียน
  • chap_listสารบัญ
  • likeเพิ่ม