Kutata makanan di atas meja makan. Rasa kecewa tak lantas membuatku lupa akan tugasku sebagai seorang istri. Menyiapkan makan malam untuk Mas Adam. Entah di makan atau tidak, aku tak perduli.
"Masak apa?" Mas Adam berjalan mendekati meja makan.
"Tumis kangkung dan ayam goreng,Mas."
Ku ambilkan nasi dan lauk untuk Mas Adam. Hening, kami fokus dengan makanan masing-masing.
"Soal yang tadi ...." Mas Adam menelan saliva, raut wajahnya terlihat tegang.
"Apa Mas? Kamu mau bilang mau menikah denganku karena terpaksa,kan?" Kutatap matanya dengan tajam.
Terkejut Mas Adam mendengar ucapanku. Wajahnya mendadak menjadi pucat pasi.
"Kamu tahu,Ais?"
Kubuang napas perlahan, mengatur setiap kata yang ingin ku ucapkan. Dan jangan sampai air mata jatuh di depan Mas Adam.
"Tidak mungkin seseorang mau menikah dengan orang yang sama sekali tak dikenal, kalau bukan karena terpaksa,Mas." Kujeda ucapanku. Mas Adam mengangguk, membenarkan setiap kata yang terucap dari mulut ini.
"Aku juga sama Mas, menikah dengan Mas Adam karena terpaksa. Hanya ingin membahagiakan ayah di akhir hidupnya bukan karena cinta. Aku bahkan tak percaya cinta pada pandangan pertama."
Mas Adam terlihat lega dengan ucapanku.
"Lega rasanya, jadi kita hidup masing-masing. Aku gak akan ikut campur privasi kamu, begitupun kamu. Tak perlu ikut campur masalah pribadiku. Untuk nafkah, setiap bulan akan aku ransfer ke nomor rekeningmu," ucap mas Adam penuh rasa kebahagiaan.
Sesak rasanya mendengar setiap kata yang terlontar dari mulut lelaki yang bergelar suamiku ini. Semudah itukah dia mempermainkan sebuah ikatan pernikahan. Bukankah pernikahan adalah ikatan suci antara dua orang di hadapan Illahi Robbi.
"Lalu apa gunanya hubungan pernikahan ini Mas? Kalau pada kenyataannya kita saling menyakiti. Bukankah lebih baik kita akhiri saja?"
"Aku tak mungkin menceraikan kamu, aku tak ingin mengecewakan Umi dan Abi."
"Kamu lebih mementingkan umi dan abi, dan dengan mudah mengingkari janji suci yang kamu ucapkan di hadapan Illahi Robbi?" sentakku.
Mas Adam menelan saliva, terdiam mencerna setia kata yang ku ucapkan.
"Benarkan yang aku katakan Mas Adam?" Mas Adam masih terdiam, engan menjawab.
"Terserah kamu mau menganggap pernikahan ini seperti apa. Tapi bagiku sebuah pernikahan tak layak untuk dipermainkan apapun alasannya." Kutinggalkan Mas Adam yang masih terpaku di tempat.
"Sebuah pernikahan adalah janji suci terhadap Illahi Robbi. Berusahalah menjaga komitmen sebuah pernikahan. Karena dalam rumah tangga akan selalu ada kerikil dan batu yang menghadangnya."
Pesan ayah masih selalu terngiang di telinga. Semoga Aisyah dapat menjalani biduk rumah tangga dengan baik, sesuai pesan ayah.
***
Sayup-sayup terdengar muadzin sedang mengumandangkan adzan subuh. Kubuka mata, berjalan perlahan ke kamar mandi. Bukan untuk mandi, hanya untuk berwudhu dan segera melaksanakan ibadah sholat subuh.
Aku tengadahkan tangan, meminta pada Sang Pemilik hati untuk menyatukan hatiku dan Mas Adam. Karena sesungguhnya Dialah yang mampu membolak-balikan hati hambanya. Bukan karena aku mulai mencintainya, tapi karena sebuah ikatan suci tak layak dijadikan permainan. Tak mengenal dan tak mencintai bukan berarti dengan gampang menjadi alasan untuk berpisah.
Sedikit lega yang kurasakan saat dapat mencurahkan isi hati kepada Sang Pemilik kehidupan.
Kipat mukenah, lekas kubuka pintu kamar. Berjalan menaiki anak tangga, membangunkan Mas Adam untuk menjalankan ibadah wajib.
Tok... Tok....
"Mas shalat subuh dulu." Hening tak ada jawaban. Jangan-jangan Mas Adam masih tidur lagi.
Tok ... Tok....
"Subuh dulu mas." Tak ada sahutan, sepertinya Mas Adam memang masih tidur pulas.
Klik
Knop pintu kuputar,kuraba kepala.
Astaga, aku lupa belum pakai hijab. Walau sebenarnya tak berdosa jika Mas Adam melihatku tanpa hijab. Tapi rasanya masih tak rela jika harus menampakkan rambut di depan lelaki yang tak pernah menganggap aku sebagai istrinya.
Putar badan, segera aku berlari menuju kamar. Terserah Mas Adam bangun atau belum. Yang penting aku sudah berusaha membangunkan. Kalaupun tak bangun, resiko ditanggung penumpang.Eh,di tanggung Mas Adam maksudnya.
Kutumis bawang putih, cabai, merica dan bumbu yang lain yang telah kuhaluskan, tak lupa kumasukkan ayam yang sudah dipotong kecil-kecil. Bau wangi masakan menyebar di dalam ruangan. Membuat cacing di perut meronta-ronta meminta haknya.
"Ais masak apa?" tanya Mas Adam yang sudah ada di sampingku.
"Rica-rica ayam."
"Wah, pasti enak ya, bikin tambah lapar nih." Mas Adam mengibaskan tangannya, mencium aroma masakan yang menggiyurkan.
Tak berapa lama, makanan siap di santap. Lekas kusiapkan makanan di atas meja. Tak lupa teh hangatnya.
"Kalau mau sarapan dulu, silakan Mas. Aku mandi dulu." Kutinggalkan Mas Adam yang sudah mulai memindahkan makanan ke piringnya.
Gak ada basa-basinya Mas Adam ini, nunggu sebentar apa susahnya sih?
Huft, sabar-sabar apalah arti diriku di hadapan Mas Adam, hanya istri yang tak diharapkan.
****
Aku merebahkan tubuh di dalam kamar sambil menulis novel di sebuah aplikasi online. Lumayan untuk mengisi kejenuhan, lumayan juga dapat mengisi kantong yang kosong.
Alhamdulillah dari menulis, bisa memenuhi kebutuhanku. Inilah pekerjaan yang kulakoni setelah lulus kuliah. Sebenarnya sudah banyak lamaran yang kukirim ke perusahaan tapi sayang belum ada yang menerima, alasannya karena aku belum berpengalaman. Walau nilai bagus tapi tetap saja kalah dengan yang lebih berpengalaman.
Rasa haus membuatku beranjak dari posisi ternyamanku.Berjalan perlahan menuju dapur untuk mengambil air minum.Tak kulihat keberadaan Mas Adam setelah sarapan tadi. Rumah tambah semakin sepi, apa mungkin Mas Adam kembali tidur? Karena mobil masih terparkir rapi di garasi.
Ragu, kulangkahkan kaki menaiki anak tangga. Ku ketuk perlahan pintu kamar Mas Adam,tak ada respon. Kubuka, Mas Adam juga tak ada di dalam kamar. Aku berjalan mendekati pintu, ingin segera turun ke bawah. Tak enak masuk ke dalam kamar orang. Walau sebenarnya kamar suami sendiri.
Kreeekk...
Pintu kamar mandi dibuka, Mas Adam berjalan keluar sambil memegangi perutnya. Wajahnya terlihat pucat. Apa dia sakit?
"Maaf Mas, masuk ke kamar kamu tanpa izin."
"Hem ...," ucapnya tanpa menoleh. Berjalan sedikit sempoyongan. Dan...
BRUUGG
Mas Adam jatuh tepat di atasku, niat hati ingin menahan agar Mas Adam tak terjatuh. Tapi badan Mas Adam terlalu berat, hingga akhirnya kami berdua jatuh di lantai.
Sejenak Mas Adam menatapku tanpa berkedip, ada desiran entah apa aku tak mengerti, jantung semakin berdetak tak menantu. Baru kali ini aku dekat dengan laki-laki tanpa jarak.
"Berat,Mas." Kusingkirkan tangan menindihku.
"Apanya yang berat, Ais?" Mas Adam masih diam tanpa merubah posisinya. Lama-lama gepeng kalau Mas Adam tak segera berdiri.
"Badan kamu yang berat,Mas,"
"Maaf, maaf." Mas Adam berdiri dan segera membantuku. Tak sengaja mata kita saling bertemu, lagi dan lagi ada desiran yang mengalir ke seluruh tubuh. Segera ku alihkan pandangan, Mas Adam justru menggaruk-garuk kepala yang tak gatal. Terlihat salah tingkah setelah adegan itu.
"Kamu sakit Mas? kok pucat gitu? hampir pingsan lagi." Kutempelkan telapak tanganku di dahinya.
"Gak panas,Mas."
"Ya jelas tak panas, orang yang sakit perutnya."
Duuuttt... Duuuttt ...
Suara bom atom keluar dari tubuh Mas Adam. Segera kututup hidung sebelum keracunan. Mas Adam kembali berlari ke kamar mandi.
"Kamu ngeracunin aku,ya!" tuduhnya.
"Maksud kamu?" tanyaku keheranan.
"Habis makan rica kamu, aku jadi seperti ini. Buang air besar berkali-kali.Kamu sengaja bikin aku sakit perut? Karena kamu cemburu sama Jesica?"Mas Adam menatapku tajam.
Cemburu?
Gak salah dengar aku?
Aku bukannya cemburu, hanya tak suka dengan kelakuan Mas Adam. Sudah tahu punya istri masih saja pacaran dengan wanita lain. Di depanku lagi bermesraan. Memang keterlaluan dia.
"Aku gak cemburu ya,Mas, emang aku suka pedas."
"Alasan kamu, kalau mau masak tanya sama aku, mau di masakin apa? Atau kamu memang marah sama aku,iya kamu? "ucapnya ketus.
"Aku,kan gak tahu, Mas Adam sukanya apa?Jadi aku masak ya sesuai kesukaanku. Makannya bilang dong mau di masakin apa!"jawabku ngegas.
"Aduh, aduh, sakit ..."Mas Adam memegangi perutnya dengan kedua tangan.
Kutelan saliva yang menempel di tenggorokan. Merasa bersalah dengan Mas Adam, gara-gara masakanku dia jadi sakit begini. Padahal aku cuman memasukkan lima belas biji cabai rawit. Memang sengaja agak pedas, sesuai hati yang sedang panas.