"Maksud Mas kita pisah kamar?"
"Ya, tak sudi aku sekamar denganmu. Melihatmu saja aku tak selera."
Ya Allah nyeri hati ini mendengar ucapan dari seseorang yang telah bergelar suamiku.
Apakah aku sangat menjijikan?
Tanpa banyak bicara, kubawa tas ke dalam kamar tamu. Segera ku kunci pintu rapat-rapat. Tak ingin sampai Mas Adam masuk ke dalam kamar.
Kujatuhkan tubuh di atas ranjang. Menangis tersedu-sedu di balik bantal. Rasanya aku tak sanggup menjalani biduk rumah tangga ini. Kenapa aku harus menikah dengan Mas Adam bukan dengan Putra.
Astaghfirullah...
Aku tahu perasaan ini salah Ya Allah, tapi sungguh aku tersiksa dengan pernikahan ini. Bukan rumah tangga seperti ini yang aku harapkan.
Kupejamkan mata, berharap bisa tertidur dan saat bangun semua yang kurasakan ini hanyalah mimpi belaka.
***
Kriiingg... Kriiingg ....
Suara ponsel membangunkanku. Siapa yang meneleponku? Dari pada terus berbunyi, kuambil ponsel yang masih ada di dalam tas.
Nama Putra terlihat di layar ponselku. Bingung antara menjawab teleponnya atau tidak, mengingat diri ini sudah memiliki suami. Meski Mas Adam tak menganggapku ada.
Akhirnya kubiarkan bunyi ponsel berhenti dengan sendirinya. Aku belum sanggup mendengar suara Putra. Bagaimana mungkin aku dapat mendengar suara orang yang aku cintai setelah aku menancapkan belati di hatinya.
Ting
Satu pesan masuk. Kubuka, benar saja Putra mengirim pesan setelah teleponnya ku abaikan.
[Aisyah, tolong angkat teleponku. Aku ingin berbicara serius. ]
Tak berselang lama, ponselku kembali berbunyi. Putra benar-benar ingin berbicara denganku. Apa dia sudah tahu kalau aku sudah menikah?
"Assalamu'alaikum." Suara Putra sedikit bergetar. Apa dia habis menangis? Apa benar dia sudah tahu pernikahan siriku? Bagaimana aku bisa mengatakan pada Putra kalau sebenarnya aku terpaksa dan jauh di lubuk hati masih terukir namanya.
"Waalaikumsalam, ada apa,Put?"
"Turut bela sungkawa ya,Ais. Maaf tidak bisa datang di pemakaman ayah." Putra terdiam sejenak.
"Tak apa, kamu tahu dari mana,Put? Bukannya kamu pulang kampung,ya?"
"Tadi aku ke rumah kamu, niatnya mau melamar kamu. Tapi rumah kamu kosong. Mereka bilang ayah meninggal seminggu yang lalu dan mereka juga bilang kamu ...." Putra menggantung ucapannya.
DEG!
Air mata berduyun-duyun jatuh membasahi pipi. Rasa nyeri di hati, andai waktu bisa kuputar. Ini rasanya kutolak permintaan ayah kala itu. Tapi sayang, nasi sudah menjadi bubur.
"Maafkan aku Put, hiks ... aku ...." Tak bisa lagi kulanjutkan kata-kata ini. Rasanya mulut ini kelu untuk sekedar menjelaskan semuanya pada Putra. Kumatikan telepon, dan ku non aktifkan.
Kututup wajah dengan bantal, kutumpahkan semua sesak di d**a. Maafkan aku Putra, sungguh aku tak berniat menyakitimu. Aku terpaksa, dan hati ini masih milikmu.
Tok ... Tok ... Tok....
Pintu kamar diketuk, segera kuhapus air mata dan memakai hijab. Aku tak ingin menampakkan sedikitpun auratku di depan Mas Adam, meski sudah halal dia melihatnya.Namun hati ini tak rela bila aku harus menampakkannya di depan orang yang tak pernah menganggap aku sebagai istrinya.
Pintu kubuka perlahan. Mas Adam berdiri sambil menyilangkan kedua tangan di d**a. Sorot matanya tajam saat menatapku.
Ada apa lagi ini?
Apa Mas Adam mendengar percakapanku dengan Putra tadi?
"Ada apa,Mas?" tanyaku tanpa sedikitpun menoleh ke arahnya.
"Buatkan makanan aku lapar."
"Ya sebentar."
Aku berjalan menuju dapur, Mas Adam mengikutiku dari belakang. Kubuka kulkas, hanya ada telur. Tak ada telur maupun daging. Kucari beras tapi tak ada, sepertinya Mas Adam memang tak pernah memasak hingga tak ada bahan makanan di dapurnya.
"Beras tak ada Mas, hanya ada mie instan. Mau di buatkan mie instan atau pesan makanan online saja?"
"Mie instan sajalah, kelamaan kalau harus menunggu."
"Siapa suruh dapur tak ada isinya. Percuma ada kulkas kalau tak ada isinya," ucapku lirih.
"Apa kamu bilang?" Mas Adam menatapku tajam. Sepertinya mendengar apa yang aku ucapkan. Tapi biarlah, toh kenyataannya seperti itu.
Tak lama, mie instan pun telah matang. Harum ayam bawang menyeruak di hidungku. Membangkitkan cacing-cacing di perut yang sudah kelaparan sedari tadi.
Kuletakkan dua mangkuk berisi mie rebus dan dua gelas air putih di atas meja.
"Di makan Mas."
"Iya, makasih."
Mas Adam segera memasukkan sendok yang berisi mie ke dalam mulut. Tak butuh waktu lama mie di mangkuk Mas Adam telah tandas.
"Beli bahan makanan dong Mas, tak mungkinkan nanti malam makan mie instan lagi," ucapku.
"Iya nanti habis ashar kita ke supermarket." Mas Adam berlalu pergi meninggalkan mangkuk yang telah kosong di atas meja.
*****
Aku mendorong trolly dan memasukkan barang kebutuhan rumah di dalamnya. Mas Adam hanya mengekor di belakang tanpa ada niat mendorong trolly. Keterlaluan memang Mas Adam ini.
Beras, sayur, cemilan, dan bahan-bahan di dapur telah berpindah ke dalam trolly ku. Kudorong lagi trolly menuju rak yang berisikan buah-buah segar. Mas Adam masih setia mengikutiku di belakang.
"Aisyah sudah belum? Aku sudah capek ini!" Mas Adam mulai terlihat bosan.
"Sebentar lagi Mas." Tanganku masih asyik memilih buah apel dan memasukkannya ke dalam plastik.
"Sudah selesai Mas." Kutoleh kebelakang. Tak ada Mas Adam, kemana dia? Main pergi saja. Harus bayar pakai apa ini? Uangku tak akan cukup untuk membayar barang belanjaan ini. Mau telepon Mas Adam, tapi aku tak punya no teleponnya. Nomor telepon suami sendiri aku sampai tak tahu. Hubungan macam apa ini?
Kudorong trolly perlahan, berjalan menyusuri setiap sudut rak. Mungkin Mas Adam ingin membeli sesuatu, jadi dia meninggalkanku sendiri. Atau aku terlalu lama memilih hingga Mas Adam bosan dan lelah.
Trolly kudorong mendekati rak berisi deterjen yang tertata rapi. Hingga mata ini tak sengaja melihat seseorang menyerupai Mas Adam dari postur tubuh hingga pakaian yang di kenakan.
Aku terus berjalan hingga tinggal dua meter sampai di tempat Mas Adam berdiri. Mas Adam sedang asyik berbicara dengan seorang wanita. Dan Mas Adam tertawa lepas bersama wanita itu. Nampaknya dia tak memperhatikan keberadaanku.
Siapa wanita yang bersamanya?
Kenapa mereka terlihat sangat akrab?
Kenapa terasa nyeri melihat seseorang yang bergelar suami sedang tertawa lepas dengan seorang wanita.
Ingin putar badan, tapi sudah kepalang tanggung.
"Mas Adam." Mas Adam dan wanita itu menoleh ke arahku.
Mas Adam membisu, wajahnya menegang seperti maling yang sedang ketahuan mencuri.
Ada apa ini, dan apa hubungan mereka sebenarnya?
Beberapa saat kami saling terdiam, sibuk dengan praduga masing-masing.
"Siapa dia Mas?" matanya melirik ke arahku lalu berpindah ke Mas Adam.
"Perkenalkan nama saya Aisyah, saya is ...."
"Dia sepupuku,Jes." Mas Adam memotong ucapanku.
DEG!
Sepupu?
Ada gemuruh di sini, di hati ini.
Sebegitu malukah dia mengakuiku sebagai istri?
Apa aku benar-benar tak dianggap?
"Saya Jesica, pacar Mas Adam. Senang berkenalan dengan kamu,Aisyah." Jesica mengulurkan tangan.
Kusambut ulur tangannya sambil menahan gemuruh di dalam hati.
Jadi ini alasan Mas Adam tak menyentuhku, bukan karena berduka atas meninggalnya ayah. Tapi karena cinta dan hatinya milik Jesica.
Sekarang aku paham, akulah orang ketiga dalam hubungan mereka sekalipun aku istri pertama, tapi aku hadir di tengah-tengah hubungan mereka. Walau aku sendiri tak pernah tahu akan hal itu.
"Aku sudah selesai,Mas," ucapku datar.
"Kamu sudah selesai belum,Sayang?" ucapnya seraya merangkul pundak Jesica tepat di hadapanku.
Kutahan emosi yang ada di d**a. Aku tahu Mas Adam sengaja melakukannya di depanku. Mungkin agar aku tahu diri, bahwa aku bukan siapa-siapa di kehidupannya.
"Aku belum selesai,Sayang, aku pulang sendiri saja. Kasihan sepupu kamu, pasti capek."
"Oke, hati-hati. Aku duluan ya,Jes." Mas Adam mencium pucuk kepala Jesica.
Aku dan Mas Adam berjalan meninggalkan Jesica yang masih asyik memilih barang belanjaan.
Hening
Tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut kami. Mobil berjalan dengan kecepatan sedang tapi terasa sangat lambat bagiku.
"Aisyah." Aku toleh Mas Adam.
"Jesica adalah kekasihku, kami pacaran sudah tiga tahun. Aku sangat mencintainya dan dia ...." Mas Adam menarik napas dalam lalu menghembuskan perlahan.
"Dia juga mencintai kamu. Dia tak tahu kalau kamu sudah menikah denganku. Aku adalah orang ketiga dalam hubungan kalian." Itukan yang Mas Adam ingin katakan.
Napasku mulai naik turun, emosi di ubun-ubun. Hanya menunggu kapan akan meledak.
"Itu kan alasan Mas Adam tak memberi nafkah batin? Alasan kita tidak tidur sekamar?" Bulir bening mengalir begitu saja.
"Maafkan aku." Mas Adam masih fokus menyetir, tak sedikitpun menoleh ke arahku.
Maaf?
Begini kah cara meminta maaf yang baik dan benar?
"Kenapa kamu mau menikahiku?"
Mas Adam membisu, tak mampu menjawab pertanyaan yang kulontarkan. Begitu sulitkah menjawab pertanyaanku? Dan begitu mudah menyakiti hatiku.
Sepuluh menit kami saling membisu, hingga akhirnya mobil berhenti di carport.Aku berjalan, membuka pintu rumah tanpa perduli barang belanjaan yang masih ada di dalam mobil. Kukunci kamar rapat-rapat.
Aku menangis, hati istri mana yang tak sakit melihat suaminya bermesraan dengan wanita lain tepat di hadapannya. Meski sebenarnya belum ada cinta di hatiku untuk Mas Adam, tapi hatiku sakit melihat Mas Adam dengan Jesica.
Apakah aku egois Ya Robb?
Walaupun aku tahu, hati ini masih milik Putra sepenuhnya?
****