Pisah Kamar

1481 คำ
Apa aku salah mengatakan kalau kamu suamiku, Mas? Kenapa tatapan matamu tak suka? Mungkin karena kami belum saling mengenal. "Selamat,ya, Mbak Asiyah, suaminya ganteng." Bu Marni melirik Mas Adam. Memang benar suamiku tampan, tapi sayang sikapnya es, dingin. "Terima kasih,Bu." Sebenarnya ini acara tahlilan atau sesi tanya jawab tentang Mas Adam. Acara tahlilan berjalan dengan lancar. Abi juga memberitahukan bahwa aku dan Mas Adam telah menikah walau masih secara agama. Karena memang pernikahan ini tak di rencanakan sama sekali. Abi hanya ingin tak ada fitnah untuk kedepannya. Mas Adam dan Abi masih mengobrol di luar. Umi sendiri sudah ada di kamar ayah untuk istirahat. Mungkin kelelahan karena tadi membantuku membersihkan rumah setelah acara tahlilan selesai. Rumah ini memang tergolong kecil, hanya ada dua kamar tidur. Satu kamar mandi di dekat dapur, ruang keluarga dan juga ruang tamu. Jadi Umi tidur di kamar alm. ayah. Berjalan perlahan menuju kamar, ku tutup pintu namun tak ku kunci. Karena aku tahu sekarang kamar ini bukan milikku seorang. Duduk di tepi ranjang dengan pikiran tak menentu. Apakah malam ini Mas Adam akan meminta haknya sebagai seorang suami? Sungguh aku belum sanggup melaksanakan kewajibanku sebagai seorang istri. Aku takut, aku tak sanggup membayangkannya. Ampuni aku Ya Allah... Kreeekk... Suara pintu dibuka, Mas Adam masuk dan mengunci kamar kami. Jantungku berdetak dengan cepat, rasa takut semakin merasuki jiwa. Apakah ini saatnya? "Aisyah." Aku toleh ke arah Mas Adam, hingga tak sengaja mata kami saling bertemu. "I-iya Mas," jawabku tergagap. "Kenapa tidak lepas hijab? apa tidak gerah?" "Iya Mas." Kulepas hijab yang menutupi kepala. Mas Adam menatapku hingga tak berkedip. Kemudian membuang pandangannya saat dia tahu aku memperhatikannya. "Tidurlah kamu pasti sangat lelah," ucapnya dingin. Ada rasa lega luar biasa, karena Mas Adam tak meminta haknya hari ini. Di balik sikap dinginnya ternyata Mas Adam begitu perhatian padaku. Mas Adam tidur di atas ranjang yang sama, namun kami saling membelakangi. Hening, tak ada percakapan diantara kami. Hingga akhirnya aku terlelap karena kelelahan. **** Samar-samar terdengar suara muadzin mengumandangkan adzan subuh. Segera aku bangun, kulihat Mas Adam masih terlelap mungkin karena kelelahan mengurusi pemakaman ayah. "Mas Adam bangun sudah adzan subuh." Aku elus pipinya perlahan. Mas Adam membuka mata, lalu dengan cepat mengibaskan tanganku begitu saja. "Jangan pegang-pegang, aku bisa sendiri," ucapnya kasar sambil berdiri meninggal kamar begitu saja. Astaghfirullah... Kupegang d**a yang terasa nyeri. Tak terasa bulir bening mengalir dari sudut netra. Apakah seperti ini watak suamiku? Sekasar itukah? Segera aku hapus air mata, keluar kamar untuk mandi dan berwudhu. "Sudah bangun,Aisiyah?" tanya Umi yang baru keluar dari kamar ayah. Kamarku dan kamar ayah memang bersebelahan. Rumah ini memang kecil sehingga tak ada jarak luas antar ruangan. Kami memang hidup dengan kesederhanaan, kuliah pun karena beasiswa. "Iya,Mi, ini Aisyah mau ke belakang." "Pengantin baru, subuh-subuh sudah mandi saja," ucap Umi sambil menahan tawa. Ah, boro-boro malam pertama mi, ngobrol saja pun tidak. Sekalinya ngomong membuat orang sakit hati. Kuulas senyum, beranjak pergi ke kamar mandi. Pintu kamar mandi masih tertutup, Mas Adam masih di dalam kamar mandi. Ku tunggu dekat dapur. Kreeekk .... Pintu kamar mandi dibuka, Mas Adam keluar dengan wajah yang lebih segar. Handuk melilit di pinggangnya, menampakkan tubuh atletis. Tak kupungkiri dilihat dari fisik,Mas Adam sangat sempurna. "Mas baju gantinya sudah Aisyah siapkan," ucapku saat kami saling berhadapan. Tanpa menjawab Mas Adam berlalu begitu saja dari hadapanku. Kembali aku elus d**a yang begitu nyeri. Harusnya aku sadar, Mas Adam menikahiku karena terpaksa begitupun diriku.Tapi salahkah aku berharap cinta akan datang dengan perlahan, seperti orang Jawa bilang Tresno Jalaran Soko Kulino. Kami duduk diruang keluarga beralaskan tikar. Kusiapkan nasi goreng, teh hangat dan piring. Karena memang tak ada meja makan di rumah ini. Kalau kami makan ya di ruang keluarga ini. "Maaf ya Bi, Mi, rumah Aisyah kecil," ucapku tak enak hati. "Gak apa-apa,Sayang." Umi mengelus pundakku. Kusiapkan piring untuk Mas Adam, mengambil nasi goreng untuknya. "Aku bisa sendiri." Dia mengambil piring dari tanganku. Astaghfirullah... Lagi ku elus d**a ini yang terasa nyeri. Sebegitu tak sukanya Mas Adam terhadapku? "Jangan di ambil hati sikap suamimu. Dia memang seperti itu. Namanya juga baru kenal, lama kelamaan pasti berubah." Umi berusaha menenangkanku. "Aisyah mengerti,Mi." Aku beri senyum untuk menutupi hati yang terasa nyeri. *** Setelah selesai acara tujuh harian ayah, Mas Adam memboyongku tinggal di rumahnya. Sebenarnya Abi dan Umi mengharapkan kami tinggal di rumah beliau tapi Mas Adam tak mau. "Tinggal bersama Umi ya,Dam," pinta Umi saat membantuku berkemas. "Adam ingin hidup mandiri Mi, biarkan kami saling mengenal. Iya,kan Aisyah?" Mas Adam melirikku. Tepatnya memintaku mengatakan iya kepada Umi. "Iya,Mi. Mas Adam benar, Aisyah janji akan sering-sering main ke rumah Umi." Umi memelukku erat. Pelukan hangat, mengingatkan sosok bunda yang telah tiada saat aku duduk di bangku sekolah dasar. Aku bahagia memiliki mertua seperti Umi dan Abi. Mereka sangat menyayangiku, aku seperti memiliki kedua orang tua. Mungkin ini alasan ayah memintaku menikah dengan anak temannya. Agar ayah tenang meninggalkanku. Meski sikap suamiku berbanding terbalik dengan Umi dan Abi. Mas Adam mengantarkan Umi dan Abi, baru setelah itu menuju rumah Mas Adam. Aku duduk di belakang bersama Umi. Umi masih saja memelukku. Dari Umi aku mendapatkan kembali hangatnya kasih sayang seorang ibu, yang sudah lama ku rindukan. Sampai juga di rumah Umi, rumah model Jawa dengan halaman yang luas. Ku pandangi dengan takjub rumah yang bernuansa Jawa modern itu. "Turun dulu,ya,Dam," pinta Umi. "Besok saja ya,Mi, kasihan Aisyah pasti capek." "Iya yang pengantin baru," Umi tersenyum menatapku. Umi dan Abi akhirnya masuk ke dalam rumah. Mobil Mas Adam belum beranjak dari halaman Umi. "Kok belum jalan,Mas?" "Pindah depan, memangnya aku supir kamu?" ucapnya ketus. Segera aku turun dan duduk di depan, di sebelah Mas Adam. Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Sepanjang perjalanan tak ada sepatah kata yang keluar dari kami. Aku memilih melihat pemandangan luar dan Mas Adam sendiri fokus mengemudikan mobil. Tak lama kami berhenti tepat di depan rumah lantai dua.Rumah bercat mocca dipadu coklat.Bunga-bunga berjajar rapi. Di pojok rumah ada sebuah kolam ikan kecil nan indah. Kreeekk... Pintu rumah di buka. Kubawa tas dan koper ke teras. "Assalamu'alaikum." Kaki melangkah memasuki rumah Mas Adam. Mata melotot, mulut terbuka lebar. Baru kali ini aku menginjakkan kaki di rumah sebagus ini. Aku memang tak tahu latar belakang Mas Adam seperti apa. Apa pekerjaannya? Di mana dia tinggal? Wajahnya pun aku tak tahu. "Ayah boleh meminta sesuatu padamu,Ais?" Ayah menggenggam tanganku erat. Sorot matanya ingin mengatakan hal yang sangat serius. "Ayah meminta apa? Apapun yang ayah minta sebisa mungkin akan Aisyah penuhi yah." Ayah terdiam sejenak, mengatur setiap kata yang akan ia keluarkan. "Ayah ingin kamu menikah dengan anak sahabat ayah. Dia anak yang baik, mapan, berpendidikan tinggi." "Tapi yah, Aisyah ingin membahagiakan ayah terlebih dahulu. Ingin bekerja dan memenuhi semua keinginan ayah. Aisyah ingin menabung untuk berangkat ke mekah bersama ayah," tolakku. "Ayah mohon Ais, anggap saja ini permintaan terakhir ayah. Setelah ini ayah tak akan meminta apapun dari kamu. Ayah akan sangat bahagia bila kamu mau menikah dengan Adam, anak sahabat ayah." Ya memang benar apa yang di katakan ayah. Pernikahanku adalah permintaan terakhirnya. Beliau tak akan meminta apapun lagi. Karena Ayah telah berpulang. "Ngapain bengong? Kaget ? Belum pernah lihat rumah sebagus ini?" ucap Mas Adam angkuh. Aku hanya terdiam, malas menjawab ucapan yang tak penting dari mulutnya. "Bukankah ini ya alasan kamu mau dijodohkan denganku. Orang yang baru kamu kenal disaat pernikahan." "Apa maksud,Mas? aku gak ngerti!" "Gak usah sok gak tahu apa-apa. Kamu mau menikah denganku karena hartaku kan? Aku sudah hafal muka-muka orang miskin seperti kamu ini!" sindirnya. Astaghfirullah... Aku elus d**a yang terasa sesak, bagaimana mungkin aku mengincar hartanya kalau kenal orangnya saja tidak. "Ya Allah Mas, aku tak sepicik itu. Aku mau menikah dengan Mas karena menuruti permintaan ayah. Bagaimana mungkin aku mau mengincar harta Mas, kalau aku sendiri tak mengenal Mas. Lihat wajah Mas saja, waktu ijab qobul," terangku. "Halah munafik!" Mas Adam berjalan menuju lantai atas meninggalkanku yang terpaku di tempat. Ya Allah, kenapa dia harus menjadi suamiku? Kenapa aku tak berjodoh dengan Putra saja Ya Robb. Astaghfirullah... Ampuni hamba ya Allah karena belum bisa menerima takdir yang telah Engkau tetapkan. Aku berjalan perlahan ke lantai atas sambil membawa tas yang begitu berat. Tak ada perhatian sama sekali, membiarkan istrinya membawa tas yang begitu berat sendiri. "Mas." Mas Adam menatapku tajam. Sorot kebencian tergambar jelas di matanya. "Siapa yang suruh kamu bawa barang-barang kamu ke kamarku?" teriaknya. Kuhembuskan napas perlahan, mengontrol emosi yang sudah di ubun-ubun. Kalau saja Mas Adam bukan suamiku, sudah ku maki dia. Sayang, dia telah menjadi suamiku dan aku berada di rumahnya. Mau tak mau aku harus menahan emosi di d**a. "Lalu aku harus tidur di mana,Mas?" Kutahan bulir bening yang akan menetes. Aku tak boleh lemah. Jangan pernah kamu menangis di hadapan lelaki angkuh macam dia. Mas Adam berjalan menuruni anak tangga, kuikuti setiap langkahnya. Mas Adam berhenti di kamar dekat tangga. "Kamu tidur di ruang tamu. Ingat, jangan sekali-kali masuk ke dalam kamarku!"
อ่านฟรีสำหรับผู้ใช้งานใหม่
สแกนเพื่อดาวน์โหลดแอป
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    ผู้เขียน
  • chap_listสารบัญ
  • likeเพิ่ม