“Situasinya berbeda. Dulu dan sekarang sangat berbeda. Jadi jangan pernah melewati batasmu, Zee! Lupakan apa yang harus kau lupakan! Aku tidak yakin, jika aku masih bisa memiliki kesabaran saat menghadapimu yang bersikap seperti ini,” ucap Ahmar tidak main-main. Netra Zee terlihat meredup. Seakan-akan ada luka menganga yang tergores pada hatinya. Namun, Zee tidak menunjukkan semua luka itu. Ia tidak mau menunjukkan sisi lemahnya di hadapan Ahmar. Zee tersenyum dan melangkah mendekati Ahmar. Tangannya terulur, lalu jemarinya yang berkuku panjang dan dicat cantik meraba sensual d**a Ahmar yang bidang. “Tapi aku tidak bisa melupakan apa pun yang terjadi di masa lalu. Aku masih mencintaimu. Jadi, kembalilah menjadi kekasihku, Ahmar.” Ahmar meledakkan tawanya sembari mencengkra

