“Zee!” Perempuan muda yang ternyata bernama Zee itu menoleh ke sumber suara dan melihat Amir yang berderap dengan langkah panjang dan terburu. Perempuan cantik yang tak lain adalah ibu dari Zee segera maju dan menghalangi jalan Amir. Perempuan bernetra cokelat gelap itu tersenyum dan berkata, “Sayang, kenapa wajahmu terlihat seperti itu? Apa ada yang membuatmu terganggu?” “Ya, aku terganggu dengan kehadiranmu di sini, Syani. Kenapa kalian mengunjungi mansion utama tanpa menghubungiku lagi? Terlebih, apa yang akan kau lakukan pada Maharani, Zee? Kau tau bukan, Ayah sama sekali tidak suka jika ada kekerasan di rumah ini?” tanya Amir pada Zee. Zee pun menurunkan tangannya dan melangkah menuju Amir. “Zee tau, Ayah. Maafkan, Zee,” ucap Zee sembari bertingkah manis di hadapan

