Suami Brondong

1052 คำ
Sementara Asoka sibuk di dapur, Asaki menunggunya di ruang tengah sembari menonton televisi. Entah apa yang bisa di masak oleh bocah yang memiliki gelar pangeran dan tuan muda. Sebenarnya Asaki tidak yakin apakah suaminya itu bisa sungguhan memasak, ia tadi juga sudah menawarkan bantuan. Namun Asoka menolak dengan lembut dan menyuruh Asaki bersantai saja sembari menunggu masakannya matang. Dan selama itu berlangsung, Asaki di larang menoleh ke arahnya. Sedikitpun tidak boleh atau ia akan mendapatkan hukuman lagi. Astaga... Apa-apaan pria ini? Selalu saja menetapkan semua aturan dengan semaunya sendiri. Sedikit-sedikit memberi hukuman, seolah-olah Asaki yang notabennya usia-nya lebih tua darinya, jadi tidak memiliki harga diri. Memang benar ia lebih tua, tapi orang tua nya selalu mengajarkannya untuk taat pada laki-laki yang akan menemaninya seumur hidupnya kelak. Asaki pernah memiliki kieteria calon suami, ia ingin pria yang kelak menikah dengannya setidaknya memiliki usia di atasnya agar bisa membimbingnya dalam segala hal. Tapi tak di sangka ia malah mendapatkan suami berondong. Astaga... Sungguh ekspetasi tak pernah sejalan dengan kenyataan. Atau memang seperti itu takdir alam bekerja. Kita manusia hanya bisa berencana, selebihnya Tuhan yang menentukan. Asaki kaget ketika sebuah tangan melingkar di lehernya. Dan ketika ia menoleh, sebuah ciuman lembut mendarat di keningnya. Dunia di sekeliling Asaki seolah berhenti berputar untuk beberapa saat. Ia masih tidak percaya jika yang baru saja melakukan semua itu adalah Asoka-suaminya. "Hei... Kenapa kakak malah bengong begitu?" Asoka sengaja menoel hidung Asaki agar wanita itu segera sadar dari lamunannya. "Eh ... Apa?" Asaki tampak gelagapan dan itu justru memancing gelak tawa Asoka. Asaki menautkan kedua alisnya memasang wajah cemberut, "kenapa malah tertawa? Memangnya ada yang lucu?" Ucapnya yang juga di barengi melipat tangan di depan d**a. "Tidak... Aku hanya gemas saja melihat wajah kakak. Kenapa kakak suka bengong seperti itu? Kakak tadi sedang terpesona dengan ketampanan ku, ya?" Asoka menaik turunkan kedua alisnya menggoda. Tahukah dia? Sikap manisnya yang suka tiba-tiba itu membuat jantung Asaki terasa ingin lepas dari tempatnya. Asaki tidak memungkiri jika wajah suaminya itu memang imut dan tampan. Tapi ia tidak ingin mengatakannya langsung pada Asoka atau pria itu akan semakin besar kepala. "Banyak yang lebih tampan," Asaki sengaja menggoda Asoka dengan memanas-manasi pria itu, ia hanya ingin tahu seperti apa reaksi suaminya. "Misalnya saja aktor drama Korea itu," ia menunjuk ke layar televisi, "dia sangat tampan, kan?" Pujinya penuh dengan penuh nada sindiran. Asoka seketika memasang wajah masam. Setelah itu beringsut meraih remote dan mematikan layar tivi. "Hei... Apa yang kau lakukan? Aku sedang nonton, Asoka..." Asaki tidak percaya ternyata Asoka benar-benar termakan oleh omongannya. Apa pria itu sungguhan tidak percaya diri? Padahal dirinya tak kalah tampan dengan aktor Korea yang ada di TV. "Supaya kakak bisa lebih fokus lihat ketampananku, di bandingkan pria lain. Aku ingin kakak hanya melihat ku seorang. Tidak boleh yang lain!" Apa? Apa yang di katakan oleh bocah ini? Apa dia salah minum obat lagi? Asaki tidak menyangka jika Asoka akan seserius ini. Padahal tadi ia hanya berniat bercanda. "Sekarang katakan dengan jujur, lebih tampan mana aku dengan pria yang kakak bilang tampan tadi?" Desak Asoka layaknya anak kecil yang tak mau kalah. Aissshh... Dasar kekanak-kanakan. "Ayo... Jawab!" Desaknya lagi makin tak sabar karena Asaki masih saja memilih diam. "Iya... Lebih tampan ... Kau." Jawab Asaki akhirnya meski sedikit ragu. Ia tidak yakin dengan apa yang di katakannya, itu sungguhan dari dalam hatinya, atau hanya ingin menyenangkan suami bocahnya semata. "Ulang!" "Apa?" "Aku ingin kakak ulangi perkataan kakak, aku ingin mendengarnya sekali lagi," ucap Asoka sembari tersenyum layaknya anak kecil. Dalam hati Asaki jadi ikut tersenyum. Seolah ia bisa melihat ketulusan di mata Asoka di balik sikap kekanak-kanakannya. "Iya, tentu saja kau yang lebih tampan, karena kau suamiku." Astaga... Asaki reflek menutup mulutnya sendiri dengan satu tangan. Apa yang baru saja ia katakan? Ia tidak percaya kata-kata seperti itu sanggup keluar dari mulutnya. Ia berharap Asoka tidak menyadari wajahnya yang sudah berubah merah seperti udang rebus. Nyatanya pria itu malah senyum-senyum sendiri seolah larut dalam imajinasinya sendiri. Apa karena perkataan Asaki yang membuatnya tampak senang? "Oh... Iya, kau masak apa? Apa sudah matang? Aku lapar." Asaki mencoba memecah keheningan yang sesaat terjadi, sekaligus mengalihkan pembicaraan. Ia tidak ingin pembahasan tadi terus berlanjut. "Oh... Iya, aku malah hampir lupa," Asoka menepuk jidatnya sendiri dengan satu tangan. "Tapi sebelum ke meja makan, kakak harus memejamkan mata kakak." "Kenapa harus di tutup?" "Sudah... Kakak menurut saja, biar kakak tambah penasaran aku masak apa untuk kakak." Baiklah, Asaki mengerti, lagi-lagi ia menuruti permintaan suami berondongnya. Asoka pindah posisi berdiri di belakang Asaki dan menutup mata wanita itu dengan kedua tangannya. Kemudian keduanya berjalan pelan-pelan menuju meja makan yang terletak di antara ruang tengah dan dapur. Asaki masih tidak percaya dengan kehidupan rumah tangganya akan seperti ini. Ternyata Asoka adalah orang yang penuh dengan kejutan. Dengan semua tingkahnya yang kadang absurd dan tidak masuk akal, perlahan-lahan Asoka mulai meringsek masuk ke sela-sela rongga hati Asaki tanpa ia sadari. "Jangan di buka dulu matanya," Asoka melepaskan tangannya di mata Asali, dan beralih menarik salah kursi untuk wanita itu, "sekarang kakak duduklah," membimbing Asaki menempati tempat duduknya. Lalu setelah ia berlari ke seberang menarik bangku untuk dirinya sendiri. "Apa sekarang sudah boleh di buka?" Jujur saja, Asaki jadi semakin penasaran setelah mencium aroma lezat yang terhidang di hadapannya. "Tentu saja," sahut Asoka antusias. Perlahan, kelopak mata Asaki terbuka sedikit demi sedikit, berusaha menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam retinanya. Dan saat matanya mulai terbuka sempurna, ia melihat dua piring spaghetti sudah tersedia di meja. "Ini... Sungguhan kau yang masak?" Ia bukan tidak percaya, tapi lebih ke arah kagum. Tidak di sangka seorang pangeran seperti Asoka bisa memasak. "Tentu saja, memangnya ada orang lain di sini?" Kelakar Asoka. Ia mengatakannya sembari tersenyum agar Asaki tidak salah paham. Karena mereka sempat bersi tegang sebelum akhirnya memutuskan untuk tinggal di rumah yang mereka tinggali sekarang. Mereka tinggal di rumah sederhana atas permintaan Asaki, selain itu tidak ada pelayan dan semacamnya. Karena Asaki ingin mengajari Asoka tentang kemandirian, dan ia juga sudah dapat persetujuan dari Regita ibu Asoka. Awalnya Asoka menolak mati-mayian, tidak setuju karena ia harus meninggalkan istana yang di mana di sana ia hidup serba di layani. Namun akhirnya mengalah karena sang ibu lebih mendengarkan perkataan Asaki. "Aku hanya tidak menyangka kau bisa melakukan ini semua? Siapa yang mengajarimu memasak?" Asoka terdiam, wajahnya seolah sedang teringat akan sesuatu. Bersambung.
อ่านฟรีสำหรับผู้ใช้งานใหม่
สแกนเพื่อดาวน์โหลดแอป
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    ผู้เขียน
  • chap_listสารบัญ
  • likeเพิ่ม