Asoka terlihat shok ketika ibunya memberitahunya alasan yang sebenarnya. Dan tidak menyangka jika ibunya tahu tentang kasus tabrak lari yang menimpa dirinya beberapa hari yang lalu. Padahal ia sudah menyuruh pengawalnya yang biasa menemaninya untuk menyembunyikan mobil yang ia gunakan kala itu ke suatu tempat.
"Kau tidak perlu tahu darimana ibu tahu semua itu." Ujar Regita yang seolah bisa membaca pikiran putranya, "yang penting saat ini kau harus mempertanggung jawabkan perbuatanmu itu." Lanjutnya dengan sungguh-sungguh.
"Tapi, Bu... Apakah harus dengan menikahinya?" Protes Asoka sembari menatap ke arah Asaki dengan tatapan tak terima.
"Memang kenapa dengan nona Asaki? Dia cantik, dewasa, bijaksana, dan masih banyak kelebihannya yang lain. Ibu yakin ia bisa menjadi pendamping hidup yang baik untukmu."
Mendengar ucapan sang ibu, tawa Asoka malah pecah, ia seolah baru saja mendengarkan lelucon yang sangat lucu. "Apa? Ibu bilang apa tadi? Ibu bilang wanita seperti ini cantik? Lihat saja penampilannya itu, sangat kampungan sekali, apa ibu tidak mau memiliki menantu seperti di--"
"Asoka! Jaga ucapanmu!" Potong Regita cepat. Ia tidak ingin putranya itu terus merendahkan Asaki. "Sejak kapan ibu mengajarimu bicara seperti itu pada seorang wanita? Jangan mempermalukan ibu seolah ibu tidak mengajarimu tentang sopan santun." Ia benar-benar kesal kali ini. Meski ia tahu sifat putranya sangat keras kepala dan suka hilang kendali, tapi tidak di sangka putranya itu juga mampu berkata-kata keji seperti itu.
"Ibu... Itu kenyataan!" Protes Asoka lagi.
"Aku tidak mau dengar perkataanmu. Sekarang minta maaf pada nona Asaki!" Tegas Regita.
"Apa! ... Apa aku tidak salah dengar? Kenapa aku harus minta maaf padanya?" Asoka masih saja menunjukkan keangkuhannya.
Sementara itu kedua tangan Asaki sudah terkepal menahan emosi, rasanya ia ingin sekali meninju wajah bocah tengil, sombong, yang ada di hadapannya itu. Tapi mengingat Regita yang telah membelanya dan sangat menghargainya, Asaki mencoba mengabaikan perkataan Asoka.
"Apa kau ingin menjadi anak durhaka karena melawan perintah ibu?" Ancam Regita.
"Ibu... Bisa tidak? Tidak memberiku pilihan yang sulit?" Asoka masih bersi keras membela dirinya sendiri.
"Minta maaf sekarang juga!" Regita tak menggubris perkataan putranya dan tetap mendesaknya meminta maaf pada Asaki. Ia sengaja tak ingin melunak pada putranya kali ini.
"Ya... Baiklah!" Dengan terpaksa Asoka menuruti perkataan ibunya, meski raut wajahnya menunjukkan Mimi ketidak relaan. Ia melangkah ke arah Asaki dan mengulurkan tangannya, "aku minta maaf," ucapnya masih terdengar angkuh.
"Apa begini caramu minta maaf?" Tanya Asaki dengan tenang, ia tidak segera menyambut jabatan tangan Asoka.
Asoka memutar bola matanya malas, lalu mencondongkan tubuhnya ke arah Asaki. "Ayolah! Jangan banyak tingkah karena mentang-mentang ibu ku ada di pihakmu, ya?" Bisiknya setengah mengancam, "aku pastikan kau tidak akan tenang jika tetap nekat menikah denganku." Selesai bicara, ia menarik dirinya lagi dan menatap Asaki dengan senyum penuh kemenangan. Ia pikir wanita di hadapannya itu akan ragu dan akhirnya menyerah.
"Asoka, minta maaflah dengan sopan!" Ujar Regita lagi.
"Apa maksud ibu? Apa aku harus berlutut di hadapannya begitu, biar ibu puas?"
"Benar, tidak di sangka kau bisa membaca pikiran ibu."
Semua orang yang ada di ruangan itu seketika mendelik mendengar perkataan Regita. Terutama Asoka yang menatap ibunya dengan tatapan tak percaya. "Ibu... Apa ibu yakin? Kenapa ibu tiba-tiba seperti ini?" Protesnya tak mengerti.
Asaki diam-diam tersenyum menang dalam hati. Tidak di sangka pria muda yang sombong ini akan di permalukan oleh ibunya sendiri. Sedangkan pengawal dan pelayan yang ada di ruangan itu pun tampak mati-matian menahan tawa mereka. Mereka sangat jarang melihat tuan muda-nya tak berdaya seperti sekarang ini.
Regita menghela napas berat. "Ibu hanya lelah melihat sikapmu selama ini. Ibu hanya ingin kau berubah, jadi ibu berharap kau mau menuruti perkataan ibu kali iniii saja." Regita bicara dengan nada penuh penekanan, "atau kau lebih suka hidup di penjara dan mendapatkan pelajaran hidup dari sana?"
Wajah Asoka sontak berubah pias, entah kemana raut arogant yang di tunjukkannya sejak tadi, seolah hilang di telan panik yang tengah melandanya. "Ibu... Ibu tidak sungguh-sungguh dengan ucapan ibu, kan?" Ia menelan ludah kasar, bahkan nada suaranya ikut melemah.
"Apa ada raut bercanda di wajah ibu?" Regita balik bertanya dengan tatapan serius.
"Kenapa ibu lebih membelanya daripada aku? Putra kandungmu sendiri?" Bahkan kini ia memperlihatkan wajah memelas.
"Anakku..." Regita menyentuh kedua pundak Asoka dengan kedua tangannya. "Ibu hanya ingin kau belajar dewasa dan bertanggung jawab atas perbuatan yang telah kau lakukan. Karena jika ibu terus membelamu dan selalu menutupi kesalahanmu terus menerus, itu sama saja ibu tidak mengajarimu tentang arti tanggung jawab dan kemandirian."
Regita sadar, sifat semena-mena dan arogant putranya itu pasti karena ia terlalu memanjakannya. Untuk itu ia ingin putranya berubah sebelum semuanya terlambat. Karena Regita juga menyadari, dirinya tidak bisa mendampingi putranya untuk selamanya. Suatu hari nanti ia pasti akan meninggalkan dunia ini, begitu juga dengan suaminya. Dan saat itu tiba, ia takut putranya tidak bisa menjaga dirinya sendiri dan akhirnya di kendalikan orang lain. Ia tidak mau itu terjadi.
Setidaknya sebelum semua itu terjadi, ada seseorang yang akan mendampingi putranya dengan tulus. Dan menurutnya Asaki adalah orang yang tepat. Tidak tahu darimana datangnya keyakinan itu. Ia hanya mengikuti nalurinya saja sebagai seorang ibu. Semua peristiwa yang terjadi seperti serangkaian takdir yang membuat mereka akhirnya bertemu. Bahkan Regita merasa menyukai Asaki sejak pandangan pertama, dan semakin suka setelah menyelidiki tentang kehidupannya. Wanita itu sederhana, berprinsip teguh dan tidak pernah macam-macam. Itu seolah mengingatkannya pada masa mudanya dulu.
"Tapi aku merasa tidak perlu berubah, aku suka menjadi diriku sendiri!" Asoka sepertinya belum bisa mencerna perkataan ibunya dengan baik.
"Benar, kau memang tidak perlu berubah dan harus mencintai dirimu sendiri," sudut bibir Asoka tertarik ke atas tersenyum mendengar ucapan sang ibu, ia mengira ibunya mulai mengerti perasaanya. "Tapi ... Jika ada sikap seseorang yang sangat merugikanmu, apa kau ingin orang itu tetap pada sikapnya?" Senyum Asoka perlahan kembali memudar, ia tahu sang ibu sedang menyindirnya. "Nak... Hidup ini bukan tentang diri sendiri, kau juga harus memikirkan perasaan orang lain. Kau harus memikirkan bagaimana perasaan Asaki yang kehilangan kedua orang tua-nya akibat perbuatanmu, dan bagaimana seandainya itu terjadi padamu? Apa kau bisa menerimanya dengan mudah?"
Kali ini Asoka terdiam, perkataan ibunya membungkamnya. "Dan aku juga tidak selalu bisa menutupi kesalahanmu walaupun aku mampu. Tapi kali ini tidak." Lanjut Regita, "aku ingin kali ini kau bisa bertanggung jawab atas kesalahan yang kau perbuat."
"Ibu..."
"Kau mengerti maksud ibu, kan? Kau mau menuruti kemauan ibu untuk menikahkanmu dengan Asaki, kan?"
Bersambung.