Tadi siang Asaki sengaja menggantung kalimatnya, ia tidak memberitahu alasan yang sebenarnya kenapa ia merasa aneh dengan perubahan Asoka yang menurutnya sangat tiba-tiba. Asaki akhirnya memutuskan sambungan teleponnya, agar bisa menikmati bekal makan siangnya dengan tenang, tak ia pedulikan panggilan telepon Asoka yang terus berdering. Sampai akhirnya ring-tone lagu 'Dadari' milik salah satu idol Korea itu tak terdengar lagi. Entah sejak kapan lagu itu menjadi nada dering telepon tiap ada panggilan yang masuk. Mungkinkah itu kerjaan Asoka? Dan kapan ia menggantinya? Dan lebih aneh lagi, bagaimana pria itu melakukannya? Sedangkan layar ponsel Asaki di kunci menggunakan kode khusus.
Asaki baru saja selesai mandi ketika pintu utama terdengar di buka oleh seseorang. Sebelumnya ia sudah mendengar suara mobil yang terparkir di carport depan rumah, ia menduga itu pasti Asoka.
Tadi siang Asaki memutuskan pulang dengan naik taxi online, ia tidak ingin ada gosip aneh-aneh jika dirinya ketahuan pulang bersama dengan maha siswa paling populer itu. Cukup Sam saja yang membuatnya was-was. Semoga pria itu sungguhan membungkam mulutnya untuk tidak menceritakan kejadian tadi pagi.
"Kau sudah pulang?" Asaki menyambut kedatangan Asoka sembari mengeringkan rambutnya yang masih basah dengan handuk kecil putih.
Pria muda di hadapannya tak menjawab dan malah melemparkan tatapan kesal padanya. "Kenapa kakak tadi tiba-tiba mematikan sambungan teleponku? Dan tak mau mengangkat lagi panggilanku?!" Protesnya. "Kakak juga tidak menungguku pulang, padahal aku sudah kirim pesan ke kakak agar kita pulang bersama, kenapa?!"
Asaki kaget melihat perubahan sikap Asoka yang tak pernah ia lihat sebelumnya. Selain manja dan suka bersikap seenaknya, ternyata pria ini juga sangat pemarah.
"Jika kakak seperti itu, bearti kakak tidak patuh pada suami. Dan kakak harus menerima hukuman dariku!"
"Apa!" Mata Asaki makin terbelalak, ia merasa tak berdaya di bawah tatapan intimidasi suaminya. Sejak kapan pria ini bersikap seolah-olah seperti seorang suami sungguhan? Apa pria muda ini sungguh tidak ingat dengan apa yang terjadi di antara keduanya di awal-awal menikah?
Jujur saja Asaki masih tidak percaya dengan perubahan sikap Asoka sekarang ini. Ada apa dengan pria ini?
"Apa? Apa ... Kata kakak? Apa kakak tidak merasa bersalah dengan suami kakak sendiri?"
Dahi Asaki berkerut heran, "aku hanya tidak ingin ada yang curiga dengan hubungan kita, itu saja," jelas Asaki dengan tenang.
"Oh... Jadi kakak lebih suka dengan hubungan sembunyi-sembunyi?" Asoka mencondongkan tubuhnya ke arah Asaki yang lebih pendek darinya. Wanita itu sampai menghindar karena Asoka terus mengejarnya. Tapi gerakannya terhenti ketika tangan Asoka dengan sigap menarik tubuh Asaki yang ramping agar mendekat ke arahnya.
"Augh! Apa yang kau lakukan?!" Asaki kaget bercampur gugup, hampir tak ada sisa jarak di antara keduanya, bahkan Asaki bisa merasakan hembusan napas Asoka yang hangat dan wangi daun mind menerpa wajahnya. Seolah-olah itu telah menghentikan aliran darahnya, membuatnya kehilangan oksigen di sekitarnya. Dadanya terasa sesak bersamaan dengan getaran-getaran aneh yang mulai merayapi tubuhnya.
"Aku akan menghukum kakak supaya kakak tidak melakukan kesalahan yang sama."
"Hukuman apa yang ka--" Asaki tak sempat melanjutkan kalimatnya, Asoka sudah lebih dulu membungkam mulutnya dengan bibirnya.
Pertahanan Asaki perlahan melemah, hatinya sekuat tenaga mengingkari, namun tubuhnya seolah menghianati. Lagi-lagi Asoka mampu membawanya melayang hingga ke awang-awang.
Melihat Asaki yang tampak tak berdaya, sudut bibir Asoka tertarik ke atas tersenyum.
"Kakak menginginkannya juga, kan?" Bisik Asoka di telinga Asaki dengan suara menggoda. Asaki hanya diam saja, menahan mati-matian sesuatu yang seolah ingin meledak dari dalam dirinya.
Asoka segera membopong tubuh ramping Asaki masuk ke dalam kamar. Wanita itu hanya bisa pasrah dan menyembunyikan wajahnya yang memerah di d**a bidang Asoka.
Sore itu mereka melakukannya lagi. Dari semalam hingga hari ini, mereka sudah melakukannya sebanyak tiga kali. b******a itu layaknya candu, kau tidak akan pernah bosan dan malah ingin terus melakukannya. Asaki bertanya-tanya dalam hatinya, apakah ini akan menjadi rutinitasnya bersama Asoka setiap hari?
Setiap hari?
Asaki mengulang kalimat itu di benaknya. Kejadian selama dua hari ini masih terasa seperti mimpi baginya. Kenapa dirinya bisa melakukan hubungan suami istri saat ia belum sepenuhnya yakin dengan perasaanya sendiri. Dan ia juga tidak tahu perasaan Asoka yang sebenarnya padanya.
Asaki merasa bodoh dan merutuki tubuhnya yang selalu lemah dengan sentuhan Asoka. Seharusnya dirinya lebih bisa mengendalikan diri. Bukan malah menuruti kemauan pria itu.
Bagaimana jika Asoka sebenarnya tidak pernah mencintainya? Dan semua yang di lakukannya padanya hanyalah rasa pelariannya saja karena pria itu baru saja patah hati melihat Kiara bersama Juno sekarang. Itu bisa saja terjadi kan? Dan hal yang lebih menakutkan lagi adalah, bagaimana jika dirinya mulai berharap pada Asoka?
Tidak!
Asaki sekuat tenaga menepis kata hatinya sendiri. Selama ini ia selalu membentengi hatinya agar tidak jatuh cinta pada siapapun. Dan jika pun ia harus jatuh cinta, ia ingin jatuh cinta dengan orang yang tepat. Yaitu orang yang ia cintai dan mencintainya. Sedangkan Asoka? Ia tidak yakin pria itu benar-benar mencintainya. Untuk itu ia tidak ingin menanggung resiko patah hati. Ia menganggap apa yang terjadi antara dirinya dan Asoka hanyalah sebuah rutinitas suami istri. Ia tidak harus benar-benar menggunakan hatinya, kan?
"Kakak..."
Asaki tergagap dan segera menjejakkan kembali kakinya ke dunia nyata. Meninggalkan lamunannya yang menyisakan banyak tanda tanya.
Pria di sampingnya menggeliat dan bangkit terduduk, "sudah jam berapa ini?" Ia mengucek matanya dan tatapannya teralih ke arah jam dinding, "apa? ... Sudah hampir jam sembilan malam. Pantas saja perutku terasa lapar," gumamnya. Lalu menoleh lagi ke arah Asaki yang hanya duduk diam tanpa ekspresi.
Asoka langsung tertidur ketika keduanya mencapai k*****s, tapi tidak dengan Asaki, wanita itu sudah berusaha memejamkan mata, tapi rasa kantuk tak juga menghampirinya. "Kakak belum tidur dari tadi?" Tanya pria itu lembut. Asaki menggeleng lemah, wajahnya tampak tak bersemangat.
"Pasti karena kakak lapar juga, kan? Kali ini biar aku yang masak untuk kita berdua." Asoka melompat dari tempat tidur penuh semangat.
Asaki hendak mencegahnya tapi pria itu memberinya isyarat agar Asaki tetap diam di tempatnya. Setelah bergegas keluar kamar dengan senyum lebar.
Asaki ingin sekali mempercayai jika sikap yang di tunjukan Asoka padanya adalah memang tulus dari dasar hatinya. Tapi entah kenapa hatinya belum bisa sepenuhnya percaya. Seperti ada yang mengganjal pikirannya.
Bersambung