Sepanjang perjalanan menuju rumah Regita Brawijaya, Asaki hanya duduk termenung menatap ke luar jendela mobil. Pikirannya masih mengawang, apakah ia sudah mengambil keputusan yang benar?
Baiklah, mungkin menikah adalah hal wajar dan kebutuhan bagi setiap insan yang jatuh cinta dan ingin hidup bersama, tapi masalahnya, Asaki tidak begitu kenal dekat dengan Asoka, apalagi jatuh cinta? Dan bahkan ada perbedaan yang mencolok dan menurutnya tidak wajar, calon suaminya itu lima tahun lebih muda darinya. Ia tidak yakin apakah mereka akan cocok nantinya.
Pikiran-pikiran tidak masuk akal itu masih berkecamuk di benak Asaki dan baru terhenti saat mobil yang di tumpanginya berhenti di depan sebuah bangunan dua lantai yang mewah dan megah. Asaki mengawasi dari balik kaca, bangunan di luar sana lebih mirip istana karena saking megahnya. Detik berikutnya gerbang rumah besar itu terbuka sendiri, Sopir kembali melajukan mobilnya memasuki pekarangan rumah, mobil terus melaju melewati paving yang di sebelah kanan dan kirinya terdapat taman luas yang di tumbuhi bunga-bungan warna-warni nan cantik. Dan tepat di ujung jalan terdapat air mancur dengan kolam bulat cukup besar, mobil terhenti tepat di depan teras yang sangat luas dengan pilar-pilar yang menjulang tinggi.
"Apa kau gugup?" Asaki bisa merasakan tangannya yang mulai mendingin di sentuh oleh seseorang. Asaki menoleh dan mendapati Regita tersenyum padanya. Senyum yang membuat kegelisahan Asaki sedikit memudar. Wanita paruh baya itu terlihat begitu karismatik, dan senyumnya seolah mampu membuat orang-orang di sekitarnya terpesona dan merasakan ketenangan.
"Jangan takut, Aku pastikan Asoka tidak akan menolakmu, dia anak yang baik dan patuh padaku, hanya saja ia memang sulit di atur. Maksudku, dia tidak pernah membantah ucapan ku, tapi jika di luar dia sering membuatku pusing, itu yang ku maksud," Regita terkekeh kecil, mencoba mencairkan kecanggungan yang sesaat terjadi, "untuk itu aku butuh bantuanmu agar dia benar-benar bisa berubah menjadi pribadi yang lebih baik lagi." Lanjutnya dengan tatapan serius kali ini.
Asaki mematung, ia masih tidak mengerti kenapa Regita begitu menaruh harapan padanya. Walaupun wanita itu telah mengutarakan alasannya, dan terdengar masuk akal. Tapi tetap saja Asaki masih merasa sedikit tidak percaya diri.
Pintu di sampingnya di buka oleh sopir, Asaki keluar dengan perasaan yang masih tak menentu. Diam-diam menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Jujur saja ini bukan hal mudah untuknya.
Asaki mengikuti langkah Regita yang berada satu hasta di depannya. Beberapa pelayan tampak berjejer menyambut kedatangan mereka. Regita berjalan dengan elegan, sedangkan Asaki berjalan dengan kepala menunduk dan kikuk. Ia tidak terbiasa dengan apa yang terjadi padanya saat ini.
Regita Brawijaya, selain salah satu dari deretan sepuluh besar konglomerat di negri ini, wanita itu juga merupakan keturunan bangsawan, ada darah biru yang mengalir di tubuhnya. Meski sudah keturunan generasi ke sekian, ia tetap memiliki gelar ratu dari garis keturunannya. Tak salah jika putranya Asoka Brawijaya di juluki sebagai pangeran kampus.
Asaki kira itu hanya julukan karena bocah itu tampan dan anak horang kaya, ternyata memang ada darah biru mengalir di tubuhnya.
Setelah beberapa saat berjalan melewati beberapa ruangan yang begitu luas, akhirnya langkah Regita, Asaki dan beberapa pengawalnya terhenti di sebuah ruangan yang tak kalah besar dari ruangan-ruangan sebelumnya. Terdapat beberapa sofa panjang dan lebar di sana, juga cahaya matahari yang lolos dari dinding-dinding kaca yang lebar menambah kesan luas dan estetik, apalagi terdapat hiasan tanaman hijau di setiap sudutnya.
Asaki terpukau dengan design rumah milik Regita yang di d******i dinding-dinding kaca yang lebar, hingga cahaya matahari bisa masuk dengan bebas. Design rumah tropical yang menjadi idamannya, ia pernah bermimpi untuk memiliki rumah seperti ini, tapi tidak seluas ini juga, ini terlalu besar untuknya.
Seorang pria muda sudah tampak menunggu di sana. Poni lurusnya yang sedikit panjang menutupi sebagian matanya, Ia menyibaknya ke belakang, lalu berdiri menyambut kehadiran sang ibu. "Ibu... Akhirnya kau datang juga." Ia melangkah ke arah Regita dan memeluknya.
"Apa kau sudah menunggu lama?" Tanya Regita sembari mengembangkan senyumnya yang khas.
"Tidak lama, hanya hampir satu jam saja," kelakarnya dan membuat keduanya terkekeh bersama.
"Aku senang kau mau menuruti ibu."
"Memang kapan aku tidak menuruti ibu?" Protes Asoka dengan nada bercanda. "Aku hanya heran, kenapa ibu tiba-tiba pulang mendadak dari luar negri? Oh iya... Kenapa ayah dan kakak tidak ikut pulang dengan ibu?"
Asaki masih terdiam di belakang Regita, memperhatikan sepasang ibu dan anak di depannya saling melepas rindu karena sepertinya sudah lama tidak bertemu.
"Ayah dan kakakmu sedang sibuk mengurusi bisnis baru kita di sana. Sedangkan ibu sengaja pulang karena ingin membicarakan hal yang penting padamu."
"Hal penting apa?" Asoka mengerutkan keningnya. Pasalnya ibu nya tidak pernah terlihat seserius ini sebelumnya.
Regita menoleh ke arah Asaki, membuat Asoka mengikuti arah pandangnya. Mata Asoka sontak terbelalak, pria muda itu seolah tak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya. "Aku yakin kalian sudah saling kenal, kan?" Ujar Regita menatap bergantian ke arah keduanya.
"Ibu, kenapa ada Nona Asaki ... Di sini?" Asoka tampak tak yakin. Ada apa ini sebenarnya? Ia bertanya-tanya dalam hatinya.
Di tengah kebingungannya, Asoka terus mendesak Regita, "ibu... Ada apa sebenarnya ini?" Ibunya tak kunjung menjawab dan hanya tersenyum misterius. Membuat Asoka makin penasaran. "Jawab aku, Bu!"
"Kau sungguh ingin tahu kenapa aku mengajaknya kemari?" Asoka mengangguk linglung.
"Apa ibu berniat menjadikannya sebagai dosen pembimbingku? Aku sudah bilang kan? Aku tidak memerlukan dosen pembimbing." Protesnya kemudian. Regita menggeleng penuh misteri. "Jika bukan untuk itu, lalu untuk apa ibu membawanya kemari?" Asoka kesal karena ibu nya seolah ingin mengajaknya main teka-teki.
Asaki hanya bisa menunduk, berusaha menyembunyikan kegugupan yang sejak tadi menyerangnya. Ia juga bingung harus bersikap bagaimana dan seperti apa jika Asoka tahu tentang alasan yang sebenarnya kenapa Regita membawanya kemari.
"Lebih dari itu sayang. Dia tidak hanya akan menjadi dosen pembimbingmu, tapi sekaligus akan menjadi ... Istrimu!"
"Apa!" Asoka yakin tidak salah dengar, tapi tetap saja apa yang baru terucap dari mulut ibunya sangat mengejutkannya. "Apa aku tidak salah dengar? Dia... Calon istriku?!" Asoka menatap Asaki tak percaya. "Ibu tahu kan, aku baru saja berusia 20 tahun Minggu lalu, dan sekarang tiba-tiba ibu menyuruhku menikah? Ini tidak lucu, Bu!"
"Siapa bilang ini lucu? Ibu juga tidak sedang melucu."
"Tapi ke--" wajah Asoka tampak frustasi hingga tak sanggup melanjutkan kalimatnya.
"Ini sudah menjadi keputusan ibu. Jika kau sungguh anak berbakti, kau tidak akan membantah perintah ibu, kan?"
"Jadi ini semua perintah? Tapi setidaknya beri tahu aku alasannya kenapa aku harus menikah dengannya?" Asoka menatap Asaki dengan tatapan penuh kebencian. Asaki tahu ini akan terjadi. Di situasi ini ia juga tidak bisa berbuat banyak.
"Jadi kau sungguh ingin tahu alasannya?"
Bersambung