Kecelakaan

1086 คำ
Kisah ini bermula dua bulan yang lalu. Asaki mendapat telepon dari rumah sakit yang mengabarkan bahwa kedua orang tuanya mengalami kecelakaan saat sedang jalan santai di sebuah jalan pinggir taman. Mereka menjadi korban tabrak lari. "Baiklah, aku akan segera ke sana." Asaki yang kala itu sedang bersiap pergi ke kampus untuk mengajar, malah bergegas pergi ke rumah sakit. Sesampainya di sana, dokter menyatakan jika kedua orang tuanya tidak selamat. "Tidak... Ini tidak mungkin." Asaki duduk melesak ke lantai tak kuasa menahan rasa sedihnya. Kedua orang tuanya adalah segalanya baginya, ia adalah seorang anak tunggal yang tidak memiliki sodara atau sanak famili. Dan hal yang membuatnya menyesal adalah, ia belum sempat mewujudkan keinginan kedua orang tuanya yang ingin melihatnya menikah. Padahal usia Asaki sudah cukup matang, 25 tahun. "Apa kau keluarga korban?" Asaki mendongak menatap seseorang yang baru saja mengajaknya bicara. Seorang wanita paruh baya dengan pakaian mencolok sedang menatapnya penuh tanya. Asaki mengusap pipinya yang basah dan berusaha untuk bangkit berdiri, namun tubuhnya sedikit terhuyung dan hampir jatuh, beruntung wanita paruh baya di hadapannya segera menangkapnya dan membantunya berdiri tegak. "Anda siapa?" Asaki malah balik bertanya dengan nada bingung. Sepertinya wanita usia sekitar kepala 4 itu tampak familiar, Asaki seperti pernah melihatnya, tapi ia lupa dimana. "Aku Regita Brawijaya, aku ibunya Asoka Brawijaya." Wanita itu menjawab dengan salah tingkah, "bisa kita bicara sebentar?" Lanjutnya penuh harap. "Tapi aku harus mengurus registrasi orang tuaku dulu." Asaki masih tampak sedih. Orang tuanya masih di ruang mayat dan di urus oleh pihak rumah sakit sebelum akhirnya nanti di makamkan. "Baiklah, sebaiknya kita bicara setelah acara pemakaman orang tuamu selesai." Menyentuh pundak Asaki dengan rasa penuh prihatin. Namun Asaki masih terlihat linglung dan tak ingin berpikir banyak tentang siapa wanita yang tiba-tiba mengajaknya bicara tersebut. Asaki segera menuju meja administrasi untuk mengurus administrasi kedua orang tuanya. "Apa? Semua sudah di bayar?" Wajah Asaki tampak terkejut. "Benar, Nona. Bahkan transportasi mobil Ambulance juga sudah di bayar." "Suster, boleh aku tahu siapa yang telah melakukannya?" Wanita berseragam putih di depannya menggeleng, "beliau meminta kami untuk merahasiakannya pada, Nona." Asaki langsung teringat akan wanita paruh baya namun masih terlihat cantik yang datang menyapanya tadi. Asaki pun bergegas untuk mencari wanita tersebut. Menyusuri lorong rumah sakit hingga ke depan lobi. Tapi wanita itu seolah lenyap dari pandangannya. "Kau mencariku?" Sebuah suara kembali mengejutkannya. Asaki menoleh dan mendapati wanita yang di carinya sudah berdiri di belakangnya. "Katakan, siapa anda sebenarnya?" Ucap Asaki tanpa basa-basi, wajahnya terlihat menimang mengingat-ingat sesuatu. Wanita di hadapannya tersenyum tenang, "sebelum aku menjawab pertanyaanmu, maukah kau menjawab pertanyaanku lebih dulu?" "Apa?" Asaki semakin merasa tidak sabar. "Apa kau berniat mencari pelaku tabrak lari yang telah tanpa sengaja menabrak kedua orang tuamu?" Asaki menyipitkan matanya menyelidik, "kenapa anda bertanya seperti itu? Tentu saja aku akan melakukannya, setelah pemakaman kedua orang tua-ku selesai aku akan ke kantor polisi membuat laporan." Jelasnya tegas. Wanita itu terlihat menarik napas panjang merasa tidak nyaman. "Aku tahu reputasimu, kau adalah salah satu dosen muda yang cukup berprestasi dan mengajar di salah satu kampus swasta yayasan milikku, Universitas Tunggal Jaya, benar kan?" Asaki tak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya, matanya melebar terperangah, "bagaimana anda bisa tahu?" Asaki segera mengumpulkan semua ingatannya tentang wanita di hadapannya itu. Sepertinya memang bukan orang sembarangan. "Apa kau sungguh tak mengenaliku?" Regita tersenyum melihat Asaki yang tampak datar padanya. Biasanya orang-orang yang di temuinya akan berlomba-lomba mencari muka di hadapannya. Ia membatin sepertinya tidak akan salah pilih kali ini. Setelah membuka semua file ingatan di kepalanya, akhirnya Asaki ingat siapa wanita di hadapannya itu. Ia ingat pernah melihat wanita itu sekali saat mengisi acara di kampusnya. Ia adalah pemilik yayasan universitas tempatnya mengajar sekaligus masuk dalam jajaran sepuluh besar konglomerat di negri ini, yang konon juga masih memiliki darah bangsawan. Beliau juga jarang terlihat di negri ini, karena beliau lebih senang menghabiskan waktunya di luar negri. Tapi yang menjadi pertanyaan Asaki adalah, untuk apa wanita terhormat ini tiba-tiba mencarinya? "Maaf sebelumnya jika aku tidak mengenali anda, sekarang aku ingat, Anda adalah Regita Brawijaya pemilik yayasan tempatku mengajar," Asaki menunduk tanda hormat. "Tapi, jika boleh tahu, untuk apa anda mencariku?" Wanita di hadapannya kembali menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Ia mencoba mengumpulkan banyak keberanian sebelum mulai bicara. "Aku ... Ingin bertanggung jawab." "Apa?" Alis Asaki saling bertaut bingung, "maksud nyonya?" Asaki berpikir apakah wanita ini yang telah menabrak kedua orang tuanya? Tapi rasanya itu tidak mungkin. Ia berusaha menepis pikiran buruk itu dari kapalanya. "Kau pasti kenal dengan Asoka Brawijaya kan? Dia putraku. Dan kebetulan nama kalian mirip." Regita tersenyum. Asaki makin tidak sabar dan penasaran. Tentu saja Ia ingat dengan nama itu, karena pria itu memang cukup populer di kampus, karena selain anak dari pemilik yayasan, pria itu juga memiliki paras yang tampan dan membuat banyak maha siswi berlomba-lomba ingin mendapat perhatiannya. "Maaf, Nyonya. Aku tidak punya banyak waktu, aku harus mengurus jenazah kedua orang tuaku. Bisakah anda bicara pada intinya saja?" "Baiklah, aku akan mencoba mengatakan yang sebenarnya. Orang yang telah menabrak kedua orang tuamu hingga tewas adalah... Putraku." Badai petir seakan menyambar-nyambar d**a Asaki dan mengoyaknya. Ia seolah tak siap dengan pendengarannya sendiri. Jadi pelaku tabrak lari kedua orang tuanya adalah salah satu maha siswanya sendiri? "Tapi tenang saja. Kami akan bertanggung jawab." "Tanggung jawab? Tanggung jawab macam apa yang ingin ibu tawarkan?" Suara Asaki berubah sinis, ia tidak peduli jika orang di hadapannya ini adalah orang penting. Karena menurutnya wanita itu egois dengan berusaha melindungi putranya yang tanpa sengaja telah menjadi seorang pembunuh. "Jika anda memberikan seluruh harta anda padaku juga tidak akan membuat orang tuaku hidup kembali, kan?" Lanjutnya tidak tahan meluapkan semua kekesalannya. Mata Regita terbelalak, sedikit terperangah mendengar ucapan Asaki, tapi ia tahu ini akan terjadi dan ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk siap menghadapi apapun resikonya. Ia melakukannya bukan demi melindungi putranya atau menyelamatkan nama baik keluarganya. Tapi lebih dari itu. "Aku ingin kau menjadi menantu di keluarga kami. Menikahlah dengan putraku, Asoka Brawijaya." Asaki tak kalah kaget dan terperangah dengan ucapan wanita di hadapannya. Apa-apaan wanita ini. Malah menyuruhnya menikah dengan putranya? Apa wanita ini sungguh tidak waras? "Aku tidak mengerti maksud anda. Jika anda mengira aku adalah wanita matre, suka menghalal segala cara dan bisa membuang nuraniku demi bisa menikahi seorang pangeran, anda salah. Aku akan tetap melanjutkan kasus ini ke jalur hukum." Ucap Asaki tegas, dan ia hendak berlalu dari hadapan Regita, namun wanita itu buru-buru mencegahnya. "Tolonglah, anggap saja ini permintaan seorang ibu. Jika kau ingin aku berlutut di hadapanmu, aku akan melakukannya." Apa? Kenapa wanita ini sampai senekad ini? Bersambung
อ่านฟรีสำหรับผู้ใช้งานใหม่
สแกนเพื่อดาวน์โหลดแอป
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    ผู้เขียน
  • chap_listสารบัญ
  • likeเพิ่ม