berangkat ke kampus bersama

1038 คำ
Kesadaran Asaki kembali menapaki bumi ketika jari Asoka terasa menusuk-nusuk lembut pipinya beberapa kali. Asaki terkejut saat mendapati mobil yang mereka tumpangi sudah berada di parkiran kampus. Asaki mendadak panik. Takut semua orang tahu dirinya sedang bersama dengan seseorang di dalam mobil. Dan masalah utamanya adalah, Asoka adalah pria paling populer di kampus. Asaki takut itu akan membuat kegaduhan, karena selama ini tidak ada yang tahu status hubungan mereka yang sebenarnya. Dan biasanya mereka datang ke kampus dengan mobil masing-masing. Saat di rumah mereka adalah suami istri, dan saat di kampus atau di luar, tidak ada yang boleh tahu hubungan mereka. Itulah salah satu isi surat perjanjian nikah mereka yang pertama. Sebelum akhirnya semua di ubah tadi pagi secara dadakan. "Hei... Apa yang kakak pikirkan?" Suara Asoka menyadarkan Asaki dari lamunannya. Ia menoleh dan mendapati bocah laki-laki itu sedang tersenyum tanpa dosa. Asaki heran kenapa bocah itu-- Em... Ralat, kenapa suaminya itu kini berubah? Lebih ramah dan bersikap manja padanya? Sungguh Asaki belum bisa mencerna semuanya dengan baik. Mengingat biasanya Asoka selalu ketus padanya, dan melihatnya yang suka tersenyum padanya sekarang, membuat Asaki jadi serba salah dan salah tingkah. Asaki ingat tentang kejadian tadi pagi sebelum mereka berangkat ke kampus, kejadian yang membuatnya jadi harus keramas sebanyak dua kali. Astaga... Asaki bahkan tidak menyangka bisa melakukannya dengan pria itu. Ternyata bocah itu sangat pandai membuatnya melayang. Pipi Asaki mendadak memerah jika teringat kejadian semalam dan tadi pagi. "Memangnya kau tidak khawatir mereka akan curiga dengan hubungan kita jika kita keluar dari mobil ini secara bersama-sama?" Sahut Asaki sembari memperhatikan keadaan luar. Tapi Asoka malah fokus menatap ke arahnya tanpa berkedip. Tak ingin menjawab pertanyaan istrinya, Asoka malah memajukan wajahnya dan ... cup! Ia malah mendaratkan satu kecupan kecil di pipi Asaki. "Apa yang kau lakukan?" Asaki lagi-lagi jadi salah tingkah di buatnya. Entah kenapa sekarang Asoka suka sekali menggodanya. "Mencium istriku," ujar Asoka masih dengan tersenyum manis, bahkan ia mengatakannya dengan tanpa canggung sama sekali. Asaki diam-diam berusaha menenangkan dadanya yang kini mulai berdebar-debar tak karuan. Ia tak ingin kehilangan kendali dan malah bersikap seperti layaknya gadis remaja yang sedang jatuh cinta, itu pasti sangat memalukan, ia harus bisa mengendalikan dirinya dan menjaga sikap agar tetap terlihat cool di hadapan Asoka. "Apa kau sungguh tidak takut pada gadis-gadis yang mengejar-ngejarmu itu tahu tentang hubungan kita?" Ulang Asaki dengan tenang. "Kenapa aku harus takut?" Jawab Asoka tak kalah tenang dan membuat Asaki keheranan. "Kau serius dengan ucapanmu? Bukankah di perjanjian awal kau tidak ingin ada yang tahu tentang hubungan kita yang sebenarnya?" "Kenapa?" Asoka malah menatap menyelidik ke arah Asaki, "oh... Jangan-jangan kakak yang sedang menjaga hati seseorang, benar kan?" Bocah itu malah balik menuduhnya. Asaki mendelik, "siapa? Aku tidak sedang menjaga hati siapapun, jangan mumutar balikkan fakta." Asaki melipat tangannya di depan d**a dan memperlihatkan wajah kesalnya. Ia harus melindungi dirinya sendiri dari pesona sang suami. Karena ia tidak ingin pria itu ternyata hanya ingin mempermainkan perasaanya. Ya... Hanya jaga-jaga saja. Tak di sangka pria yang duduk di sampingnya itu malah terkekeh kecil melihat sikap Asaki yang seperti anak kecil. "Baru pertama kali ini aku melihat kakak begini? Di mana sikap sok cool, kakak?" Tawa Asoka masih berderai, seperti baru saja mendengar lelucon yang sangat lucu. Biasanya Asaki memang pendiam dan hampir tidak pernah memperlihatkan emosinya. Ia sangat tenang dan kaku. Asoka kadang mengatakan jika dirinya adalah wanita kulkas. Dan yang paling menyakitkan adalah, ketika Asoka pernah berkata jika dirinya akan menjadi perawan tua selamanya jika tidak menikah dengannya. Astaga... Semenyedihkan itukah dirinya? "Sudahlah, aku tidak mau banyak berdebat denganmu, sekarang kau maunya bagaimana? Aku yang keluar duluan, atau kau yang keluar duluan?" Ujar Asaki tegas kali ini. "Bagaimana kalau kita keluar bersama-sama saja? Aku ingin lihat apa kakak punya nyali?" Apa? Apa anak ini sedang salah minum obat? Kenapa ia bisa berkata seperti itu? "Justru aku ingin tahu, apa kau punya nyali mengakui hubungan kita di depan para gadis-gadis itu?" Balas Asaki sembari melirik keluar menatap ketiga gadis yang sedang duduk di bangku panjang depan kelas. Asaki ingat, salah satunya pernah di gosipkan memiliki hubungan dekat dengan Asoka, dan itu adalah gadis favoritnya. Asoka ikut menatap ke arah pandangan Asaki. "Kenapa menatap Kiara seperti itu? Kakak cemburu padanya?" Asoka mengabaikan pertanyaan Asaki dan malah menanyakan hal yang tidak masuk akal menurut Asaki. "Cemburu? Untuk apa aku cemburu?" Asaki memperlihat wajah setenang mungkin, meski di dalam hatinya, samar-samar ada rasa sakit yang tiba-tiba menyelinap masuk ke dalamnya, entah apa. "Kakak pasti telah mendengar gosip ku dengannya, kan?" Desak Asoka. Gosip di luaran mengatakan jika Asoka dan Kiara pernah menjalin hubungan, lalu keduanya putus karena Ibu Asoka melarang mereka untuk dekat. Asaki juga tidak tahu apa alasannya. Setelahnya tak beberapa lama Kiara malah menjalin hubungan dengan Juno sahabat dekat Asoka. Dan inilah yang di takutkan Asaki, ia takut Asoka hanya menjadikannya pelarian semata. Mengingat perasaan Asoka pada Kiara yang tak mungkin padam begitu saja kan? Asaki diam-diam pernah memergoki Asoka yang tengah memandangi Kiara. Terlihat jelas jika di matanya masih menyimpan rasa. Untuk itu Asaki tidak ingin menaruh banyak harapan pada Asoka, dan tidak membiarkan pria itu meringsek masuk ke dalam hatinya. "Tidak, aku tidak pernah dengar gosip apapun." "Benarkah?" Asoka mendekatkan wajahnya pada Asaki dengan tatapan menggoda. Heh... Apa yang di lakukan bocah ini? Senang sekali membuatku salah tingkah. "Sungguh, untuk apa juga aku bohong. Lagipula aku bukanlah tipe orang yang suka mencari gosip, apalagi gosip tidak penting." Sangkal Asaki ketus, ia berusaha mati-matian membohongi kata hatinya sendiri. Meski di luar Asaki terlihat dingin dan cuek, tapi diam-diam ia suka mengamati dan memikirkan segala sesuatunya sendiri. "Padahal aku ingin kakak mengatakan hal yang lainnya. Tapi jika kakak mau kita seperti ini terus tidak apa-apa. Baiklah, aku akan keluar duluan, dan kakak tidak perlu khawatir, tidak akan ada yang curiga dengan hubungan kita berdua." Asoka segera membuka pintu mobil dan keluar tanpa menoleh lagi, ekspresi wajahnya terlihat kesal bercampur sedih. Heh... Apa-apaan ini? Hati Asaki tiba-tiba mencelos, Asoka baru saja membuatnya seolah-olah dirinya yang bersalah sekarang. Asaki bahkan tersenyum mengejek pada dirinya sendiri. Astaga... Ada apa dengannya? Dan ada apa juga denganku? Ternyata hal yang terlihat mudah, tidak benar-benar mudah untuk di ucapkan. Entah apa yang membuat ragu padahal hati menyakini? Apa ini yang di sebut dengan ego? Bersambung
อ่านฟรีสำหรับผู้ใช้งานใหม่
สแกนเพื่อดาวน์โหลดแอป
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    ผู้เขียน
  • chap_listสารบัญ
  • likeเพิ่ม