Permintaan menikah

1133 คำ
Cuaca begitu mendung saat itu, pemakaman kedua orang tua Asaki berlangsung hikmat di bawah rintik-rintik hujan yang mulai turun membasahi bumi. Asaki masih termangu seorang diri di atas pusara ke dua orang tuanya, sementara para pelayat sudah berlalu satu persatu meninggalkan areal pemakaman. "Ayah... Ibu... Aku sungguh tidak menyangka kalian akan meninggalkanku begitu cepat," tenggorokan Asaki seolah tercekat menahan genangan air mata dalam d**a yang mendesak ingin tumpah lagi. Sejak tadi air matanya tak berhenti mengalir melalui sudut matanya. Pipinya basah dan matanya berubah sembab, tapi itu semua tidak cukup mengobati rasa kehilangan yang mendalam yang kini tengah di rasakannya. "Aku tidak tahu harus bagaimana menjalani hidupku ke depannya tanpa kalian." Ada perasaan bersalah yang diam-diam mengendap di dasar hatinya. Mengingat permintaan Regita yang memintanya menikahi putranya, sedangkan putranya adalah pelaku tabrak lari ke dua orang tuanya. "Haruskah aku menikah dengan cara seperti ini? Dengan orang yang membuatku kehilangan kalian selamanya?" Asaki sungguh sedang dalam dilema besar, di satu sisi ia tidak tega menolak Regita yang begitu berharap padanya. Bagaimanapun ia adalah seorang ibu, wajar jika nalurinya ingin selalu melindungi putranya, bahkan wanita itu rela merendahkan dirinya sendiri memohon maaf dan berlutut padanya. "Ayah... Ibu... Apa yang harus ku lakukan? Kenapa nasibku seperti ini?" Asaki tidak tahan dan air matanya kembali jatuh bercucuran. "Apa kalian akan merestui? Tolong jawab aku?" Asaki tahu orang tuanya tidak akan pernah bisa menjawab pertanyaan lagi, tapi paling tidak ia butuh sebuah petunjuk. Asaki tidak ingin salah mengambil keputusan dalam hidupnya. Selama ini, orang tuanya selalu mengajarinya untuk jadi orang yang pemaaf dan tidak pendendam. Tapi untuk kali ini, rasanya Asaki masih sangat sulit memaafkan. Tak berapa lama tiba-tiba hujan mereda dan langit berubah cerah, dan yang paling menakjubkan adalah muncul pelangi yang sangat indah di atas langit tempat pemakaman kedua orang tuanya. Asaki menatap pelangi dengan perasaan kagum yang perlahan menimbulkan ketenangan dan menghilangkan keresahan dalam hatinya. Ia berpikir apakah ini pertanda kedua orang tuanya setuju dirinya menikah? Bukankah itu sama seperti harapan kedua orang tuanya yang ingin melihatnya menikah? Meski masih di liputi sedikit keraguan, Asaki melangkahkan kakinya menemui Regita, wanita itu tengah duduk di dalam sebuah restorant menunggunya. "Aku senang akhirnya kau datang, aku pikir kau tidak akan pernah datang." Senyum Regita melebar melihat kedatangan Asaki, matanya berbinar penuh harap. "Ayo, silahkan duduk." Ia bahkan menarikkan sebuah kursi untuk Asaki, membuat Asaki jadi kikuk dan sedikit salah tingkah. "Terimakasih, nyonya," Asaki mengangguk tanda hormat. Keadaan hening untuk beberapa saat sebelum akhirnya Asaki memberanikan diri membuka suara. "Nyonya... Boleh aku bertanya satu hal?" "Katakan saja, nak... Apa?" Sahut Regita antusias. "Aku ingin tahu, kenapa nyonya ingin aku menikah dengan putra, Nyonya?" Asaki mengira alasannya mungkin karena Regita tidak ingin anaknya di penjara. Tapi jika hanya itu, sebenarnya ia tak perlu mendatanginya dan mengakui semua kesalahan putranya, dengan begitu dirinya juga tidak akan tahu kan? Dan lagipula keluarga besar mereka adalah keluarga yang sangat berpengaruh di negri ini, akan sangat mudah bagi mereka melindungi putra mereka dari kasus semacam ini. Tapi Regita malah memilih berlutut di hadapannya. Asaki merasa ini semua tidak masuk akal, untuk itu ia ingin tahu alasan yang sebenarnya. Regita tersenyum tenang sebelum menjawab, "pertama, karena aku tulus ingin meminta maaf dengan apa yang terjadi pada kedua orang tuamu. Dan aku juga tidak ingin menanggung rasa bersalah meski aku bisa saja menutupi semua ini dari dunia." Asaki mengangguk mendengarkan. "Ke dua, aku ingin ada seseorang yang bisa membimbing putraku agar dia bisa berubah menjadi orang yang lebih baik." Asaki sedikit terkejut mendengar alasan kedua Regita, "tapi kenapa harus aku?" Wajah Asaki seolah tak bisa menyembunyikan rasa penasarannya. Regita kembali tersenyum, tangannya terulur menyentuh tangan Asaki, "aku juga tidak tahu, hanya naluriku saja yang mengatakan dirimu adalah wanita yang baik dan tepat menjadi pendamping putraku." "Tapi... Apakah nyonya tidak keberatan dengan perbedaan usia kami? Usia ku mungkin jauh lebih tua darinya." "Itu bukan masalah besar, yang terpenting saat ini, apakah kau bersedia menikah dengan putraku?" Ujar Regita penuh harap. Asaki terdiam, wajahnya tampak menimang, kenapa wanita di hadapannya itu begitu yakin padanya? Sedangkan dirinya sendiri tidak yakin akan cocok dengan Asoka, selama ini hubungan mereka hanyalah sebatas dosen dan maha siswa. "Tapi... Apakah nyonya sudah menanyakannya pada Asoka juga, apakah dia juga bersedia menikah denganku?" Bukannya mau berbelit-belit, Asaki hanya tidak ingin mengambil tindakan gegabah, untuk itu lah ia kadang sulit memutuskan sesuatu. Menurutnya menikah adalah keputusan yang sangat penting dalam hidupnya, menikah bukanlah sebuah permainan, ia juga harus yakin dengan orang yang akan ia ajak hidup bersama sumur hidupnya, ia ingin tahu apakah itu benar-benar orang yang tepat yang telah Tuhan takdirkan untuknya. "Lagipula, kami belum cukup mengenal dan tidak saling jatuh cinta." Lanjut Asaki mengutarakan sedikit rasa pesimisnya. Layaknya pembawaannya dari awal yang tak pernah berubah, Regita kembali tersenyum tenang, "soal Asoka kau tidak perlu khawatir, akan ku pastikan putraku yang satu itu pasti akan menuruti permintaanku. Dan soal cinta?" Regita menjeda kalimatnya sejenak. "Dulu aku dan suamiku juga tidak saling jatuh cinta, kami menikah karena di jodohkan. Kami hanya mepercayai bahwa jodoh pilihan orang tua kami adalah yang terbaik, jadi kami tidak memikirkan soal cinta. Dan seiring berjalannya waktu, cinta tumbuh di antara kami setelah kami menikah tanpa kami sadari, dari buah cinta itu aku melahirkan Ken dan Asoka." Ia menutup kalimatnya dengan masih tersenyum. "Cinta kadang bisa tumbuh karena terbiasa, yang sulit itu kadang mempertahankannya, tapi jika cinta itu terus di pupuk dengan kasih sayang, maka cinta itu akan semakin tumbuh dan mekar." Regita memberi tambahan sebagai wejangan. "Tapi... Aku--" "Aku tahu apa yang kau pikirkan," potong Regita. Ia bisa melihat rasa gugup yang terlihat di wajah Asaki. "Kau takut dirimu dan Asoka tidak cocok, kan?" Wanita itu seperti bisa membaca pikirannya, Asaki mengangguk mengiyakan. "Karena aku hanya ingin menikah sekali saja seumur hidupku, jadi aku--" "Itulah yang ku suka darimu," potong Regita lagi, padahal Asaki belum sempat menyelesaikan kalimatnya. "Kau begitu dewasa dan memiliki prinsip yang teguh, kau ingin menikah hanya sekali saja seumur hidup, karena menikah bagimu bukan lah sebuah permainan kan?" Asaki kembali mengangguk. "Untuk itu aku rasa kau sangat cocok dengan putraku yang sulit di atur. Aku yakin setelah bersamamu dia akan berubah menjadi pribadi yang lebih baik." "Kenapa anda begitu yakin padaku?" Asaki seperti baru saja di serahi beban yang begitu berat di pundaknya. "Bagaimana kalau aku tidak sebaik yang nyonya pikir, dan aku tidak bisa merubah Asoka?" "Aku tahu kekhawatiranmu, tapi aku tidak pernah salah dalam meyakini sesuatu? Bukankah kau juga percaya jika orang tua selalu ingin yang terbaik untuk anaknya? Begitupun aku. Firasatku lah yang mengatakan kalau kau memang yang terbaik untuk putraku." Entahlah, Asaki rasanya tidak bisa lagi mengelak permintaan Regita yang begitu yakin padanya, tapi di saat yang bersamaan ia juga takut membuat wanita itu kecewa. "Tolong lah, ku mohon!" Asaki terpaksa mengangguk kali ini. Masalah nanti biarlah waktu yang menjawabnya. Bersambung
อ่านฟรีสำหรับผู้ใช้งานใหม่
สแกนเพื่อดาวน์โหลดแอป
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    ผู้เขียน
  • chap_listสารบัญ
  • likeเพิ่ม