Ep. 8 - Wajah lama

1272 คำ
Hari ini pelajaran Biologi tentang Sistem Reproduksi Manusia. "Aduh... aku males banget belajar materi ini disebelah cowok gila ini" batinku yang terus menerus tidak tenang. Aku benci dengan matanya yang begitu fokus melihat sistem reproduksi pada wanita meski guru tidak sedang membahas itu. Setelah guru keluar dan aku masih mencatat poin penting penjelasan dari guru barusan, tiba-tiba dia mengambil penaku dan menarik buku tulisku lalu diputarnya hingga halaman terakhir. "Kalau cewek cowok lagi begituan, gini posisinya.." ucapnya seraya menggambar organ vital pria dan wanita berikut posisinya. Aku jijik dengan mulut dan otaknya. Dengan cepat kuambil buku cetak biologi yang cukup tebal, "Dasar anak gilaaa.." kataku sambil memukulkan buku tersebut ke kepalanya. "Aduhh.." teriaknya yang tak kupedulikan. Ku robek serta ku remet-remet karya luar biasanya itu kemudian ku injek kakinya lalu aku bergegas keluar kelas membuang sampah tersebut. Lalu kulihat Riski yang saat ini berada dikelas XI IPS 3 berjalan menghampiriku. Entah kenapa aku merasa grogi dan semakin grogi saat dia sudah hampir mendekatiku, jantungku berdegup kencang. Aku salting nggak tau mau ngapain. "Laura,, kantin yuk.." ajaknya lalu melirik kedalam kelasku. "Hahah jauh ya mainnya..yuklah.." kuterima ajakannya dan berjalan menuju kantin. "Please Laura biasa aja, lihat dia, dia juga biasa aja. Jangan kegeeran banget dong hatiku..tolooong.." hatiku sangat berbunga-bunga namun aku berusaha menutupinya agar terlihat santai didepannya, dan itu susah banget. Kami terdiam beberapa saat sampai aku menemukan ide agar kami tidak saling diam begini. "Ki mampir bentar ke kelas Eka ya, siapa tau dia mau ke kantin juga.." pintaku, dia mengangguk mengiyakan. Kami langsung menghampiri kelas Eka, aku mencarinya dari depan pintu kelasnya, namun kelasnya sepi. "Sepi Ra, pada kemana orangnya kok nggak ada sih.." ucapnnya. "Entah nih.. yasudah ayolah Ki, kita aja..". kami melanjutkan perjlnan menuju kantin, lalu dia bertanya, "Itu yang ngelihatin kamu dari dalam kelas anak guru matematika kan?". Aku hanya mengangguk karena nggak mood untuk membahasnya. "Kamu sebangku dengan dia ra?" tanyanya lagi dan aku mengangguk lagi. Aku tidak tau apa yang dipikirkannya sekarang, yang jelas aku tidak ingin memberi penjelasan lebih tentang orang itu. "Kok tumben kantin sepadat itu, ada apa..?" Riski mengubah topik pembicaraan. "Enggak tau tuh.." balasku. Karena penasaran kami melangkah lebih cepat ke kantin. "Lauraaa..." Mira, Eka dan Rani berlari menghampiriku. "Ih ciiee,, kok kalian bisa bareng.." Rani menggodaku. Aku dan Riski hanya tersenyum berpandangan, lalu aku melihat ekspresi berbeda di wajah Eka dan Mira. "Kok kantin rame sekali hari ini.. kalian juga kok udah ada disini.." Riski mengalihkan perhatian. "Iya kami lagi lihatin anak baru di IPS 1, ganteng loh Ra. Kata Mira anak baru itu satu sekolah dengan kalian waktu SMP. Benar ya?" tanyanya lagi padaku. "Siapa Mir?" aku memandang Mira yang hanya terdiam. Belum sempat dia menjawab, ku lihat wajah tidak asing berdiri dan menatapku tajam. "Ferdi.." batinku, seketika otakku langsung mengenali pemilik mata itu. Aku menatap Mira yang sama terpelongonya denganku. Tak berselang lama, Ferdi melangkah ke arahku yang membuatku sedikit gugup. Namun dia hanya melewatiku dengan pandangan sinisnya. Riski tampak kesal saat Ferdi tak berhenti menatapku, hingga ia juga menatap Ferdi dengan pandangan sinis. Melihat ada bangku yang kosong, Rani mengajak kami untuk duduk disana. Aku membiarkan mereka jalan duluan, aku ingin bicara dengan Eka yang sedari tadi banyak diam. "Cemburu ya.." aku setengah berbisik dan menaik turunkan alisku. Eka tampak terkejut dan malu karena aku mengetahuinya. "Engak kok.." ia mengelak sambil terus melangkah mendekati bangku tersebut. "Bener nggak cemburu..? hahah bagus deh.." aku tersenyum jahil dan berniat ingin mengganggunya. Riski menyuruhku duduk disampingnya dan Eka cemberut. Dengan tersenyum kuturuti permintaan Riski untuk duduk disampingnya. Setelah duduk kutatap Eka yang duduk disamping Rani dengan senyum lebar serta memainkan alis kembali. Meski tak tega, aku tetap merasa lucu melihat ekspresi wajahnya saat ini. Rani masih penasaran dengan hubungan aku, Mira dan Ferdi. Akhirnya Mira menjelaskan semuanya, sesekali aku juga menimpali. Setelah selesai makan kami bergegas kembali ke kelas. Kelas Riski yang pertama kami jumpai. "Mau aku antar kekelas Ra.." dia menawariku yang membuatku tersenyum malu. "Duh romantisnya.." ejek Rani dan Mira yang membuatku dan Riski salah tingkah, sementara Eka hanya menampakkan senyum palsu. Haha... "Hahah.. terimakasih Riski. Kalau aku sama Eka aja boleh kan.." tolakku sambil tersenyum menghargainya. "Ya boleh dong.. hati-hati ya.." balasnya lalu mengusap lembut kepalaku. Seketika kami berempat terdiam. Melihat kebisuan kami, Riski cepat-cepat masuk kedalam kelas dan kami juga melangkah dengan ekspresi speechless. "Ya ampun Ra, dia baper beneran sama kamu.." ungkap Mira yang begitu tidak percaya. Aku belum bisa berkata-kata karena aku masih gugup banget, dan seperti biasa aku gemetaran, tanganku dingin. "Bye bee.." Mira melambaikan tangannya dan aku membalas lambaian tangannya sembari terus berjalan menuju kelas bersama Eka. Aku malu karena banyak banget yang sedang memandang ke arahku saat ini, aku tidak berani manatap satu mata pun. "Kamu suka sama Riski ya Ra.." nada galau Eka terdengar di telingaku membuatku tersadar. Aku menenangkan diri dan menjawabnya, "Maaf ya Ka, sepertinya memang begitu, aku suka sama Riski. Soal yang dikantin tadi, aku juga minta maaf ya, aku cuma bercanda dan nggak ada maksud untuk mempermainkan kamu. Kamu nggak marah kan..?" tanyaku serius. "Enggak apa-apa kok Ra.. Yasudah masuk gih kekelas.." jawabnya. "Thanks Ka,, aku kekelas dulu ya.. bye.." aku tersenyum lalu masuk kekelasku. Sesampainya dikelas aku melihat sebotol minuman segar terletak di atas mejaku. Saat hendak mengambilnya tiba-tiba suara Iqbal mengagetkanku. "Itu dari aku Ra.. minum ya" aku langsung mengingat perkataan Rani kalau Iqbal pernah memberi minuman ke mantan pacarnya dan membuatnya tidak sadar. "Nggak usah bal, makasih.." kugeser minumannya ke atas mejanya. "Kenapa kamu tolak Ra.." tanya nya lagi. "Gpp, aku cuma nggak haus. Barusan minum tadi di kantin.." balasku. "Sama cowok yang tadi..?" ketusnya. Aku mulai bete meladeninya sehingga aku hiraukan saja perkataannya. "Jawab Ra.." ia mengenggol mejaku dengan kesal hingga bergeser, semua memandang kearah kami. Aku makin kesal tapi aku masih mencoba untuk bersikap baik dengannya. "Iya Iqbal, aku sudah makan dan minum dengan cowok tadi. Sudah jelas..!" aku menoleh wajahnya lalu menarik kembali mejaku yang tergeser. "Minum..!" perintahnya seraya meletakkan kembali botol tersebut dengan sedikit menghentak. Tanpa banyak basa basi kuambil botol tersebut, lalu, "Lina, kamu haus nggak? Ini diminum ya dari Iqbal" dengan senyum kuberikan minuman tersebut didepan Lina yang sedang menghadap ke arahku. Belum sempat disentuhnya, Iqbal mengambil botol tersebut kemudian membuka tutupnya, lalu di tuangnya sedikit hingga membasahi sebagian wajah, rambut, bahu kiri dan rokku. Semua anak kelas terkejut melihat ulahnya terlebih diriku yang sempat terdiam sangking kagetnya. "Tinggal minum aja susah banget.." ucapnya santai tanpa rasa bersalah kemudian ditaruhnya air yang tersisa di depan mejaku. Dengan kesal aku berdiri lalu menuangkan sia air diatas kepalanya membasahi wajah, baju serta celananya. Satu kelas tambah melongo melihat keberanianku memperlakukannya seperti itu. "Minum sendiri juga bisa kan.." ketusku menceloskan senyum mengejek. Mukanya terlihat sangat emosi, lalu saat ingin bergerak, ia segera ditahan oleh Rian. "Jangan kelewatan.." ucapnya memegang bahu Iqbal. Aku lega banget, aku tidak tau apa yang akan dia lakukan kalau Rian tidak menahannya. Lututku lemas dan ingin menangis tapi aku berusaha menahannya. Aku tidak pernah bertengkar seperti ini karena aku memang tidak suka. Aku mulai merasa tidak nyaman dengan keadaanku saat ini, aku takut baju putihku jadi tembus pandang. Lalu Rian berdiri di hadapanku dan memakaikan jaketnya dibahuku. Setetes air yang sedari tadi aku tahan akhirnya jatuh dari ujung mata. Aku malu dan benci harus menangis gara-gara cowok syaiton itu. Dengan tangan bergetar, kupegang lengan kiri Rian dengan tangan kananku, aku berbisik agar dia membantu menutupi wajahku keluar dari kelas ini dan ia menurutinya. Ia menahan jaketnya yang menempel di bahuku lalu menuntunku keluar kelas menuju kamar mandi. "Terimakasih Rian.. Jaket nya aku pinjam ya sampai bajuku kering" ucapku menghentikan langkah kami dan ia menurunkan tangannya dari bahuku.
อ่านฟรีสำหรับผู้ใช้งานใหม่
สแกนเพื่อดาวน์โหลดแอป
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    ผู้เขียน
  • chap_listสารบัญ
  • likeเพิ่ม