"Terimakasih Rian.. Jaket nya aku pinjam ya sampai bajuku kering" ucapku menghentikan langkah kami dan ia menurunkan tangannya dari bahuku. Tanpa menunggu jawabannya aku segera masuk kekamar mandi, ku basuh tipis-tipis rambutku yang terkena minuman dan memakai jaket milik Rian lalu aku segera keluar.
"Eh Rian kamu nungguin aku..?" sapaku yang melihat Rian berada membelakangi pintu kamar mandi.
"Iya Ra aku nungguin kamu. Kok kamu cepat Ra?" tanyanya.
"Hmm aku hanya membasuh rambutku yang terkena minuman tadi aja" balasku.
"Yaudah yuk.. guru sudah didalam kelas.." ajaknya.
"Ih gimana dong Yan.. ini baju aku masih basah ntar aku kena marah lagi kalau pakai jaket didalam kelas.." aku panik.
"Enggak apa kok Laura.. tadi aku sudah jelasin ke guru.. udah yuk.." dia menarik lenganku dan aku melepaskannya saat hampir tiba di depan kelas.
"Permisi bu" aku dan Rian menunduk memberi salam.
"Silahkan masuk" kata bu Guru. Aku dan Rian masuk kedalam kelas.
"Bu maaf, Laura izin pakai jaket ya bu karena baju Laura basah.." aku meminta izin pada bu Guru.
"Iya Laura tidak apa-apa.." guru mengizinkan dan aku kembali ketempat duduk. Malasnya aku menatap muka orang disebelahku, begitupun dia. Sepanjang pelajaran kami tidak bercakapan dan dia juga tidak menggangguku. Aku merasa tenang.
Bel pulang berbunyi
Aku merapikan buku dan membuka jaket Rian, lalu kusandang tasku menuju meja Rian.
"Rian ini jaket kamu. Makasih banyak ya Rian" ucapku menyodorkan jaket itu ke tangannya, ia mengambilnya.
"Iya sama-sama Laura..hmm bareng yuk ke parkiran" ajaknya.
"Hmm.. ayo deh.." sebenarnya aku menunggu teman-temanku, tapi karena dia sudah baik padaku akhirnya aku mengiyakan ajakannya. Aku melambatkan gerakanku agar ia pergi duluan dan aku menunggu teman-temanku di parkiran.
Setelah menunggu 2 menit bukannya teman-temanku yang muncul, tapi Ferdi. Dia terus menatapku dan dengan langkah yang lebar dia berjalan medekatiku, aku takut sebab kami hanya berdua disini. Jujur ini adalah hari yang buruk bagiku dan aku sudah tidak punya mood untuk bertengkar lagi dengan siapapun saat ini, aku membalikkan badan lalu berjalan cepat untuk menghindarinya.
Langkahku terhenti saat sebuah tangan besar mencengkram erat tanganku.
"Mau kemana kamu..? Menghindar dari aku? Kenapa? Takut?" suara bas-nya menciutkan nyaliku karena aku mengenalinya. Dengan sok berani aku membalikkan badan, dan menatap wajahnya dengan senyum menantang. Aku menarik-narik tanganku agar terlepas darinya, namun tidak bisa karena genggamannya sangat kuat.
"Kamu itu cewek ganjen kan. Munafik tau nggak. Dulu kamu menolakku dengan alasan ingin fokus belajar, disini kamu jadi penggoda. Sudah berapa cowok yang kamu goda ha..! bentaknya.
Aku tak mengerti maksud perkataannya, aku tidak pernah menggoda siapapun dan tidak ada orang yang tergoda denganku.
"Bukan urusanmu..! Bahkan setelah setahun lebih kamu masih tidak sadar juga kenapa aku menolakmu? Lihat dirimu, TIDAK MENARIK..! Apa reputasimu? Playboy? atau Sadboy?" aku menyinggung tragedi penolakan dimana sebagian orang menjulukinya dengan sebutan 'sadboy'.
"Ya ampun apa yang merasuki ku sampai bisa-bisanya ngomong sekasar ini padanya. Tapi bodo amatlah, cowok gilak ini juga kasar..! Aduh tanganku sakit banget.." batinku. Perkataanku ternyata membuat emosinya tersulut dan ia semakin mempererat cengkramannya.
"Singkirkan tanganmu.." paksaku ketus saat tanganku sudah mulai terasa sakit. Tak lama kemudian entah darimana Riski datang dan menyentak tangan Ferdi agar lepas dariku.
"APA MAUMU..!" Riski emosi setelah melihat pergelangan tanganku yang memerah.
"BUKAN URUSANMU..! MINGGIR..!" balasnya kasar lalu medorong tubuh Riski agar menjauh dariku. Riski tidak bergeming sedikitpun, ia langsung menyambar kerah Ferdi dan bersiap untuk memukulnya yang berusaha mendekatiku kembali.
"RISKI JANGAN.." teriakku yang tengah tertunduk takut seraya memegang tasnya. Riski melepaskan kerah Ferdi dengan kesal dan menghalangi pandangan Ferdi kearahku.
Eka, Mira dan Rani berlari medekati kami.
"Ada apa Ra... ada apa?" tanya mereka panik.
"Gak ada apa-apa kok.." jawabku untuk menenangkan mereka.
"JANGAN DEKATI LAURA LAGI" tegas Riski menunjuk wajah Ferdi yang segera ditepisnya. Ia menghiraukan perkataan Riski dan berjalan mengendarai motor sportnya yang berisik.
"Ayo pulang Ra, biar aku yang antar" ucapnya.
"Nggak usah Ki, aku nggak mau ngerepotin kamu lagi. Aku bawa motor sendiri aja" tolakku halus. Lalu dia memegang pergelangan tanganku yang tadi merah.
"Aww, sakit.." merah tersebut sudah berubah menjadi memar yang lumayan sakit.
"BRINGSEK.. AWAS AJA KALAU DIA NGELUKAI KAMU LAGI.. BENAR-BENAR KU TUMBUK MUKANYA..!" umpatnya menahan emosi.
"Kamu pulang sama Riski aja Ra, biar aman" saran Mira dan di iyakan Eka dan Rani.
"Terus motorku gimana dong?" aku bimbang.
"Motor kamu biar aku yang urus" Riski meyakinkan.
Akhirnya aku pulang diantar olehnya dan motorku dibawa oleh temannya.
"Besok kamu jangan bawa motor Ra, aku antar jemput kamu sampai tangan kamu sembuh" tuturnya.
"Enggak usah Ki, aku nggak mau ngerepotin kamu lagi. Aku bawa motor sendiri aja besok" tolakku.
"Aku aja yang jemput kamu besok Ra..!" tegasnya.
"Enggak usah Ki, besok kamu kan latihan voli pasti capek banget, sementara aku ada rapat PMR dan pulangnya agak lama. Nggak mungkin kamu nungguin aku sampai selama itu terus harus nganterin aku balik lagi kerumah. Gpp Ki, aku sendiri aja besok" dalihku lagi.
"Aku jemput atau aku bilangin ke orangtuamu kalau tanganmu terluka, biar kamu nggak bisa bawa motor lagi selamanya.." desaknya yang membuatku terdiam.
"Yaudah iyaa aku pergi bareng kamu besok" dengan terpaksa aku menerima tawarannya. "Thanks ya Ki udah bantuin aku plus udah nganterin aku balik... Thanks banyak-banyak" aku berterimakasih padanya.
"Iya sama-sama Ra. Oiya bentar Ra.." dia menahanku sembari mengambil sesuatu dari dalam tasnya, " Kamu pakai ini Ra untuk menutupi luka itu biar nggak dilihat orangtuamu" ia memakaikan wristband miliknya ditanganku. "Jangan lupa kamu oles pakai salep yang tadi aku kasi" pesannya lagi. Aku tersipu dengan perhatiannya.
"Okee makasih ya Ki.." tuturku halus lalu dia pergi dengan motornya.
"Assalamualaikum" salamku saat memasuki rumah.
"Waalaikumsalam" jawab ayah dan mama serentak yang tengah duduk diruang tamu.
"Tangan kamu kenapa Ra.." aku terkejut saat ayah dengan cepat menyadari perubahanku.
"Hmm.. Nggak apa-apa yah. Cuma gaya doang. Laura ganti baju dulu ya yah.." balasku panik dan segera masuk kedalam kamar.
Wristband yang kupakai cukup ketat sehingga memarku terasa nyeri. Saat aku melepasnya, tanpa kusadari ternyata ibu sedang mengintipku diam-diam. "Itu tangan kamu kenapa..?" aku terlonjak kaget dan menyembunyikan tanganku kebelakang.
"Nggak apa-apa ma.. aduhh.. mama ngagetin Laura aja sih.." ujarku halus.
"Sini mama lihat" mama memaksa untuk melihat tanganku.
"Nggak usah,, Laura gpp kok ma.." balasku lagi.
"Ayah.. lihat Laura ni yah.." mama memanggil ayah dan tak berapa lama ayah muncul dan langsung menarik tanganku.
"Aduhh.." ringisku tanpa sadar. Mama dan ayah melotot melihatnya.
"Kenapa ini.. Macam bekas tangan orang..?" curiga ayah yang tepat sasaran.
"Cuma bekas jatuh" aku mengelak.
"Yang bener Laura.. ada yang jahat sama kamu disekolah.." imbuh ayah lagi.
"Enggak ada ayah. Laura tadi terpeleset dikelas, terus tangan Laura terhantuk meja. Makanya jadi memar gini.." aku berbohong.
"Ya makanya kamu hati-hati dong kalau jalan. Kamu selalu ceroboh ibu lihat.." ayah dan ibu percaya dengan alasanku.
"Itu makanya kamu diantar teman kamu tadi..?" selidik ayah dan aku hanya mengangguk. "Yasudah besok ayah yang antar kamu kesekolah dan jemput kamu lagi" tegas ayah.
"Hmm sebenarnya teman Laura yang tadi mau jemput dan antar Laura kesekolah yah.. bolehkan kalau Laura sama dia aja.." ujarku ragu.
"Nggak usah.. nggak usah ngerepotin orang. Biar dia fokus dengan sekolahnya dan ayah akan anter kamu besok. Titik..!" seruan ayah tanpa ingin ada bantahan lagi dan aku menurut.
Kuolesi pelan-pelan memar itu dengan obat dari Riski dan ibuku lalu ibu memberikan perban untuk menutupinya agar tidak terlihat saat sekolah. Namun aku menolaknya, aku merasa ini hanya memar kecil kenapa harus selebay itu. hahaa