Pukul 14.25 WITA kami telah tiba di bandara kota Makassar. Perjalanan 1 setengah jam ditempuh menuju resort adik pak Beni.
"Gita.. bangun.. kita sudah sampai.." Beni kembali membangunkan aku setelah kami tiba di resort.
"Dasar cewek tukang tidur.. " sindir Rafa dan aku hanya terdiam.
Aku memang selalu begitu jika menjadi penumpang. "Daripada bosan, lebih baik tidur" begitulah mottoku. Jadi tak heran kalau aku tidur sepanjang perjalanan.
"Akhirnya orang jauh sampai juga.. Apa kabar bang.. apa kabar Rafael..?" terdengar suara seseorang menyapa Beni dan Rafa.
Aku belum menoleh karena masih sibuk merapikan wajah, takutnya ada sesuatu pula yang menempel dimata kan bikin malu.
"Itu siapa bang..?" ia penasaran.
"Oh iyaa..Ini Gita.. Dia yang akan menjadi asisten kamu selama disini.." aku langsung berbalik hendak menyapa.
Namun seketika mataku terbelalak, jantungku berdegup kencang tatkala melihat siapa gerangan yang ada dihadapanku.
"Ferdi... " batinku.
Aku tak sanggup mengucapkan sepatah katapun, bahkan otakku tak dapat berpikir saat ini. Aku hanya diam mematung menatapnya, begitupun ia yang juga terkejut melihatku.
"Laura... " namaku terucap dari bibirnya.
"Laura? Siapa Laura? Namanya Gita. Dia staff abang dihotel. Kinerjanya bagus dan abang yakin dia bisa membantu pekerjaan kamu disini.." Beni menjelaskan.
"Kok pada diam... Kalian sudah kenal..? " celetuk Rafa.
"Perkenalkan.. Saya Ferdi..." ia menjulurkan tangannya.
"Gita.. " dengan enggan kubalas uluran tangannya.
Dia terus memandangiku dan aku benci tatapannya. Aku benci melihat wajahnya. Aku benci mendengar suaranya, semua tentangnya aku benci. Kenangan masa lalu terbesit di benakku yang membuat sakit hatiku kembali bergelora.
"Baiklah ayo kita masuk.. " ucap Rafa.
Akhirnya kami masuk ke kamar masing-masing. Setelah mencuci muka, tangan dan kaki, kurebahkan badanku diatas kasur empuk milik resort ini. Mataku menatap langit-langit, namun pikiranku melayang entah kemana.
Aku terus membayangkan masa lalu yang begitu menyakitkan. Aku tidak pandai untuk berpura-pura baik didepan orang yang tidak kusuka apalagi kubenci. Bagaimana aku bisa menjadi asisten yang harus selalu berada disampingnya.
"Kenapa aku harus bertemu lagi dengannya? Aku belum siap untuk melihat wajah itu kembali, hatiku masih terluka. Bahkan bayangan masa lalu masih sangat segar diingatanku. Apa yang harus aku lakukan?" bulir airmata mengalir di ujung mataku. Dengan segera aku menghapusnya, "Aku nggak boleh lemah dihadapannya. Aku pasti bisa.. semangat Laura..kamu pasti kuat..!" aku menyemangati diriku sendiri.
Setelah satu jam beristirahat, aku harus keluar untuk melanjutkan tugasku. Aku berjalan menikmati suasana menyegarkan resort ini. Merdunya suara ombak dan nyanyian burung-burung menambah kesan damai, sangat cocok bagi pengunjung yang menginginkan ketenangan.
"Gitaa..." aku berbalik dan melihat Beni berjalan kerahku, ia terlihat sangat keren dengan perpaduan kaos liris biru putih dan celana selutut.
"Eh... pak Beni. Baru saja saya ingin mencari bapak.." ucapku.
"Sudah cukup istirahatnya..?" tanyanya.
"Sudah pak.." jawabku.
"Jangan formal-formal lah, panggil Beni aja. Kita kan sedang liburan. Kalau saat kerja baru panggil pak.." ujarku.
"Enggak enak saya pak.. sudah terbiasa dengan panggilan itu.." balasku tersenyum.
"Saat ini saya memang atasan kamu, tapi kamu jangan lupa kalau saya pernah jadi senior kamu waktu kuliah. Sudah lama saya tidak mendengar kamu memanggil saya seperti dulu.." ujarnya yang masih mengingatku.
"Abang gitu? jadi bapak mau saya panggil seperti itu?" tanyaku santai.
"Iyaa.." balasnya tersenyum.
"Okelah kalau begitu abang Beni... Sekarang apa yang harus saya kerjakan abang... hahah.." kami sama-sama tertawa dan akhirnya kami bisa bersikap santai seperti dahulu.
"Sore ini kita akan menyapa tamu-tamu yang ada disini. Sekarang kita makan dulu disana.." ujarnya dan aku mengikutinya.
Setelah sampai, Beni menarik kursi dan menyuruhku duduk disana, sementara ia duduk disampingku. Tak berselang lama, Rafael datang lalu menarik kursi dan duduk tepat didepanku.
Dari jauh kulihat Ferdi yang tengah memanggil seorang pelayan dan berjalan kearah meja yang kami tempati. Perasaanku tidak enak sehingga aku memalingkan wajah dan melihat laut yang berada tepat disisi kananku.
"Mau makan apa?" tanyanya sembari menarik kursi dan mendudukinya. Pelayan datang dan mereka menyebutkan beberapa pesanan secara bergantian.
"Kamu mau makan apa Gita..?" aku tersadar dari lamunku saat mendengar suara pak Beni bertanya padaku. Mereka serentak menatapku membuatku salah tingkah. Aku tertunduk dan berpura-pura melihat menu yang ada dimeja.
"Hmm.. saya mau makan..." ucapanku terhenti karena aku sangat gugup, nggak ada satu menu pun yang terpikirkan olehku .
Mereka tertawa pelan, aku menatap mereka bingung apa yang sedang mereka tertawakan.
"Kamu mau memilih makanan, tapi yang kamu lihat menu minuman... Sampai besok juga kamu nggak akan makan Gita.." tegur Rafa menertawakanku. Sontak aku langsung membaca menu tersebut, ternyata benar yang sedang kulihat adalah menu minuman.
Dengan menahan malu, aku segera menerima menu makanan yang disodorkan Rafael kepadaku dan memilih satu menu tanpa berpikir, aku nggak tau apa yang sudah kupesan yang jelas aku ingin cepat agar perhatian mereka segera beralih dariku.
Setelah menunggu beberapa menit, makanan yang tadi dipesan akhirnya datang. Aku kaget melihat makanan berwarna hijau dengan bentuk yang mirip seperti ulat daun. Aku nggak selera melihatnya apalagi memakannya, namun pak Beni malah meletakkannya dihadapanku.
"Kok bapak letak dimeja saya, ini pesanan siapa pak?" dengan menahan eneg aku bertanya pada Beni.
"Ini pesanan kamu.. kamu tadi pesan Spinach Pesto Fusilli kan.. ya ini dia.." ia menjelaskan, aku menyesal telah memilih makanan tanpa membacanya terlebih dahulu.
"Haa... mmmm..." dengan wajah menyesal, mual dan memelas aku menatap pak Beni. Tak lama seorang pelayan datang menghidangkan ayam bakar yang sangat menggugah seleraku.
"Aduh gimana dong... aku nggak suka ini. Aku maunya itu... hmm ayam bakarnya enak banget pasti. Ini makanan apaan.. mana kenyang aku kalau makan ini.." batinku berdebat.
Tanpa berkata apapun, tiba-tiba pak Beni mengambil piring pesananku dan menukarnya dengan ayam bakar pesanannya. Aku terkejut sekaligus tersentuh, tenyata pak Beni memahami kegalauanku. Namun aku jadi tidak enak karena kecerobohanku pak Beni yang harus memakan pesananku yang tidak sesuai seleranya.
"Yasudah kamu makan itu, biar saya yang makan punya kamu. Makanya kalau pesan makanan itu diperhatikan dulu.." nasehatnya. Aku hanya mengangguk tanpa berani menatap wajahnya. Dan kami makan dengan tenang.
"Sudah bisa kita gerak sekarang mumpung tamu lagi pada santai.." ucap Ferdi setelah kami selesai makan.
Kami mulai menyapa tamu yang sedang berkegiatan di pinggir pantai. Kemudian Rafa dan Beni menunjukkan atraksi mereka dengan bermain jetski, membuat banyak wanita terpukau dengan ketampanan mereka. Rafael dengan mudah menggaet satu pengunjung seksi diatas jetskinya, begitupun Beni.
Sementara aku, duduk dikursi santai menikmati keindahan pantai sambil sesekali memperhatikan Beni dan Rafa.
Tiba-tiba datang seorang pemuda bertubuh six pack memaksaku bermain jetski bersamanya. Aku menolaknya karena aku tidak nyaman dengan kondisinya yang bertelanjang d**a, dan hanya memakai celana boxer diatas lutut.
"Ayolah jangan malu-malu.." ia terus memaksaku.
"Hmm kamu saja.. saya tidak memakai pakaian renang.. saya tidak mau ikut.." aku terus menolaknya. Namun ia menarik paksa tanganku yang membuatku takut. Aku berusaha melepaskan tanganku namun ia terus menyeretku hingga hampir di pinggir pantai.
Sampai sebuah tangan menarik kuat tanganku yang membuat pegangannya terlepas, lalu dengan nada sedikit tinggi orang itu berkata, "Kalau dia tidak mau, jangan dipaksa..".
Aku menoleh orang tersebut dan ternyata Ferdi yang telah menolongku.
"Aku hanya ingin mengajaknya bermain jetski..Kamu siapa ikut campur urusanku?" lelaki itu berdalih.
Ferdi tidak mengatakan apapun dan langsung menarik tanganku menjauhi pria tersebut. Aku melepaskan tanganku dari genggamannya, "Makasih.." ketusku tanpa melihatnya lalu berbalik arah untuk menghindarinya.
"Laura maaf.." kalimatnya yang membuatku kesal. Tanpa menoleh dan menjawab, aku meninggalkannya.
Tampak Beni dan Rafa yang telah selesai bermain jetski berjalan bersama beberapa wanita berbaju ketat yang menampakkan lekuk tubuh mereka. Jujur saja awalnya aku fikir Beni bukan orang seperti itu, tapi nyatanya sama saja. Ia terlihat santai saat dipeluk-peluk wanita-wanita seksi tersebut saat bermain jetski tadi.
Aku jelas ilfeel, tapi yasudahlah itu urusan dia. "Dih..suka-sukanya lah.. Apa peduliku.." batinku yang geli sendiri melihat wanita-wanita tersebut berusaha menarik perhatian Rafa dan Beni. Dengan cuek aku berjalan balik ke kamarku.
"Gitaaa..." teriak Beni. Langkahku terhenti dan dengan enggan aku menoleh padanya.
"Ada apa pak..?" tanyaku berpura-pura tersenyum.
"Nanti malam kita ketemu di Resto hotel ya. Jamnya nanti saya chat.." ucapnya.
"Hmm.." aku hanya mengangguk sambil tersenyum tipis.