SEASON 2 Ep. 17 - Enam Tahun Berlalu

1087 คำ
Enam tahun kemudian... Pengalaman dan masa lalu yang menyakitkan membuatku tumbuh menjadi gadis yang lebih tegar dari sebelumnya. Tidak akan kubiarkan satu orangpun menyakitiku karena aku tidak segan untuk membalas semua perlakuan mereka. Yang pasti aku tidak akan mengganggu siapapun lebih dahulu. Saat ini aku berusia 23 tahun dan bekerja di sebuah hotel berbintang 4 di Kepulauan Riau. Meski baru 4 bulan aku bekerja disini, namun aku diberikan posisi yang terbilang sangat bagus untuk anak baru yaitu Front Office Manager dengan besaran gaji yang cukup menggiurkan, sehingga aku bisa menabung untuk keperluan masa mendatang. Sejujurnya aku tidak ingin kembali lagi ke kota ini, namun kedua orangtuaku tidak ingin aku jauh dari mereka. Jadi aku tetap bekerja di kota ini namun ngekos bersama sahabatku bernama Zerlina atau biasa disapa Jeje, di daerah yang dekat dengan tempat kerja kami berdua. Setiap weekend dan hari libur aku akan mengunjungi atau mengajak kedua orangtuaku jalan-jalan. "Pulang jam berapa nanti kamu Gi..." tanya Jeje saat kami tengah sarapan. "Enggak tau nih.. ya mungkin seperti kemarin. Kenapa..?" balasku. "Oh nggak apa-apa.. aku cuma mau bilang ntar aku pulang gak telat. hehe.. mau jalan dulu dengan doi.." jawabnya cengengesan. "Hahah.. jalan mulu. Cepat minta dilamar biar lebih enak jalannya.." ujarku. "Hehe.. aku sih tinggal nunggu waktu aja. Kamu tuh yang buruan cari pacar. Jomblo terus nggak baik bagi kesehatan..hahaha" ledeknya. "Hahah.. No comment deh.. Aku pergi ya.. bye Assalamualaikum.." aku segera keluar dan mengendari mobilku menuju hotel tempat kerjaku. Begitulah aku selalu menghindar jika sudah disinggung tentang pacar. Bukan tidak mau, namun trauma masa lalu membuatku takut untuk menjalin hubungan dengan lelaki manapun. Rasa tidak percaya, ragu bahkan curiga selalu hadir setiap kali aku berkenalan dengan mereka. Bahkan aku juga mengubah nama panggilan saat kuliah. Gita,, begitulah anak kampus mengenalku. Setelah hampir setengah jam perjalanan, akhirnya aku sampai di basement hotel "Moon" tempat kerjaku. "Selamat pagi mbak..." sapa beberapa orang padaku. Pada awalnya mereka memanggilku dengan sebutan "Bu", namun aku nggak nyaman dengan panggilan tersebut karena aku sebaya bahkan lebih muda dari mereka. Maka aku meminta mereka untuk menggantinya dengan sebutan "Mbak". "Selamat pagi mbak Gita... Mbak Gita disuruh keruangan pak Beni.." ucap Heni, salah satu petugas resepsionis. "Oke Heni... Terimakasih ya. Sebentar lagi saya kesana.." balasku ramah. Beni Fadilla adalah seniorku saat kuliah. Aku baru tau bahwa ia adalah seorang anak pemilik hotel saat awal kerja di hotel ini. Dia tampan dan berwibawa. Aku menghormatinya sebagai pemimpin di hotel ini. Tok... tok... tok... "Masuk.." serunya. "Permisi pak.. Bapak manggil saya..?" tanyaku. "Iya... Gita, nanti kita kedatangan tamu VIP, seorang pengusaha muda dan sekaligus mitra bisnis saya, namanya Rafael. Tolong siapkan staff kamu untuk menyambutnya dan berikan pelayanan yang terbaik untuknya. Karena itu merupakan salah satu cara agar bisnis saya dengannya tetap berjalan dengan lancar.." perintahnya. "Baik pak.." jawabku seraya meminta izin dan langsung menyiapkan segala sesuatu sesuai dengan yang talah diperintahkan pak Beni. Setelah lebih dari dua jam, akhirnya tamu VIP yang ditunggu-tunggu tiba dihotel. Semua staff bergegas, tak terkecuali pak Beni yang turut menyapa rekan bisnisnya tersebut dan mengantarkannya menuju kamar mewah yang telah dipersiapkan untuknya. Mereka tampak berbincang-bincang ya mungkin seputar bisnis, lalu mempersilahkan rekannya tersebut beristirahat. Saat jam makan siang, pak Beni mengajakku makan bersamanya di restaurant hotel dan akupun mengikutinya. Rupanya rekannya yang tadi juga sudah berada disana. Aku kikuk berada diantara dua pengusaha muda yang ganteng dan tajir melintir seperti ini. Ditambah lagi tatapan beberapa pegawai yang sepertinya tidak menyukai keberadaanku disini semakin membuat nyaliku mengkerut. "Kenalin ini Manager Front Office di hotel ini, namanya Anggita Laura atau biasa dipanggil Gita. Dan Gita kenalin ini sahabat saya sekaligus rekan bisnis saya, Rafael.. " pak Beni memperkenalkan. "Oh jadi ini... " ucapannya terhenti saat pak Beni meliriknya. "Saya Gita pak Rafael.. " ucapku sambil menerima uluran tangannya. "Jangan panggil pak, tua banget kesannya, lagian saya bukan bos kamu yang harus dipanggil seformal itu. Panggil Rafa saja.." ujarnya. "hmm.. oke mas Rafa.." aku mengucapkan dengan ragu-ragu. Sejujurnya aku malu karena memanggil mas pada orang yang baru aku kenal, tapi yasudahlah. "Kok macam tukang bakso ya dipanggil mas.. " sindirnya. Aku mulai bosan dengan pembahasan ini, "Yasudah Rafa... pak.. " aku menghentikan pembahasan dan tetap memanggilnya dengan gelar pak. Pak Beni dan pak Rafa saling mengulum senyum mungkin heran melihat betapa keras kepalanya diriku. "Jadi Gita, sebenarnya saya dan Rafael akan ada bisnis sekaligus berkunjung ke resort adik saya diluar kota selama hampir dua minggu. Saya akan membawa kamu untuk menjadi asisten pribadi adik saya. Kita akan berangkat lusa, jadi besok kamu tidak usah bekerja. Kamu cukup prepare keperluan kamu dan esoknya kita berangkat.." tanpa jeda pak Beni menjelaskan padaku. Aku terdiam mendengarkan penjelasan pak Beni yang sama sekali tidak menanyakan apakah aku bersedia atau tidak. "Baguslah sekalian liburan.. " pikirku. Aku mengiyakan perintah pak Beni dan keesokan harinya aku benar-benar mempersiapkan 3 pasang pakaian formal, 2 baju tidur, mukenah serta make up. Hanya satu koper kecil saja, karena aku juga malas ribet. Aku menghubungi Mira dan Rani untuk memberitahu bahwa aku akan berangkat besok. Iya kedua sahabatku saat SMA. Kabar mereka baik. Rani pun sudah kembali pulih. Aku lupa menceritakan bahwa setelah tragedi malam kelabu itu, aku dan Rani benar-benar hancur. Terutama Rani yang menjadi korban. Kondisi mentalnya tidak stabil, ia sering tiba-tiba menangis histeris sambil terus melukai dirinya sendiri. Aku dan Mira selalu bolak balik kerumahnya menemani dan menenangkannya. Beberapa kali aku terluka terkena lemparan barang saat Rani mengamuk. Si Ferdi yang breenggsek itu menghilang bagai ditelan bumi. Susah payah aku mencari Adi untuk meminta pertanggungjawabannya yang telah membuat Rani hamil. Aku menemukannya dikampusku, ia mengambi jurusan olahraga disana. Ternyata ia hidup dengan nyaman setelah membuat hidupku dan Rani hancur. Akhirnya Adi menikahi Rani, kini anak mereka sudah berusia 4 tahun. Adi dan Riko benar-benar menyesali perbuatan mereka. Kini menyisakan 1orang biang kerok dari semua masalah yaitu Ferdi yang tidak diketahui keberadaannya. Aku berharap ia benar-benar menghilang ditelan bumi agar aku tidak akan pernah lagi bertemu dengannya walau hanya sekedar berpapasan. Aku membencinya dan takkan memaafkannya. Hari keberangkatan pun tiba. Aku, pak Beni dan pak Rafa sudah berada didalam pesawat dengan kota tujuan Makassar selama lebih dari 4 jam. Aku merasa sangat ngantuk sehingga aku tertidur pulas. "Gita bangun,, kita sudah sampai.. " pak Beni membangunkan aku. Aku merasa tidurku sangat nyaman dengan bantal empuk disisi kananku. Namun betapa malunya aku ternyata sedari tadi aku tertidur dibahu pak Beni. "Maaf pak.." ucapku seraya merapikan rambut yang sedikit tidak rapi lalu meluruskan posisi ke bentuk semula. "Pulas sekali ya tidur kamu Gita.. " sindir pak Rafa. Aku hanya tersenyum malu.
อ่านฟรีสำหรับผู้ใช้งานใหม่
สแกนเพื่อดาวน์โหลดแอป
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    ผู้เขียน
  • chap_listสารบัญ
  • likeเพิ่ม