"Sama-sama Ra. Kamu hati-hati ya pulangnya.. " ucapnya.
"Iya mas dan Mira juga hati-hati ya.. byee" mobil mas Arif pun sudah menghilang dari pandangan.
Hari yang sudah hampir gelap dan sepi menambah kesan horor parkiran sekolah ini. Tiba-tiba sebuah mobil sedan hitam muncul dan berhenti tak jauh dari kami.
"Siapa tuh Ra.. kok diem gitu.. bikin takut aja.. " Rani mendekatiku.
"Aku juga nggak tau. cepatlah Ran, perasaanku nggak enak.. cepat ambil motor jangan lama-lama.." ujarku panik dan kami mempercepat gerakan agar bisa segera pergi dari tempat ini.
Kemudian pintu mobil tersebut terbuka dan turunlah dua orang menggunakan penutup muka berjalan mendekati kami.
"Rani larii... " teriakku pada Rani yang sama-sama belum duduk diatas motor.
"Cepat tangkapp.. " teriak salah seorang yang mengenakan kaos abu-abu mengejarku, sementara yang berjaket hijau mengejar Rani.
Aku dan Rani berlari tak tau arah, seketika pikiranku menjadi kosong hingga lupa dimana pintu keluar. Hanya satu yang ada dipikiranku yaitu aku dan Rani bisa kabur dari mereka. Akhirnya aku bersembunyi di balik tembok besar dan berdiam utuk beberapa saat.
"Laauuuraaa peerrrgiii... " aku mendengar teriakan Rani yang menyuruhku pergi. Aku sadar bahwa Rani telah bersama mereka dan aku menjadi semakin panik. Aku melihat keadaan sekitar dan si abu-abu sudah tak terlihat.
Pelan-pelan aku mencoba keluar dari persembunyian namun sialnya aku tertangkap. Bukan si abu-abu atau si jaket hijau yang menangkapku, melainkan Ferdi.
Ia menyeretku menuju mobilnya yang terparkir bersebelahan dengan mobil hitam, didalam mobil terlihat Rani yang sudah diapit kedua orang bertopeng yang tadi mengejarku.
"Raniii.." aku ingin berlari menolong Rani namun Ferdi menahanku.
"Lauraa.. tolooonggg.. " Rani berteriak meminta bantuanku.
"Ferdi.. Lepasin Rani Fer, dia nggak salah apa-apa.. Tolong lepasin dia Fer.. Toloong.." aku memelas pada Ferdi namun mobil hitam tersebut justru pergi dan membawa Rani.
"Raaa... Lauraaa.. " suara Rani yang semakin lama semakin menghilang.
"Fer,, Rani mau dibawa kemana.. jangan apa-apakan dia Fer.. " aku menangis dan sangat menghawatirkan nasib kami berdua.
"Diam kamu.. sekarang ikut aku.. " ia menarik paksa tanganku agar masuk ke dalam mobilnya.
"Aku nggak mau.. aww sakit.." aku terus meronta namun Ferdi mengikat tangan kiriku pada assist grip dan memasangkan safety belt hingga aku tidak bisa bergerak lagi.
Ia melajukan mobilnya ke suatu tempat yang cukup jauh dan tidak kukenali.
Sesampainya disana kulihat mobil hitam yang tadi membawa Rani sudah terparkir disana namun dalam keadaan kosong. Aku sedikit tenang ternyata Rani selamat dan tidak dibawa ketempat yang berlainan denganku.
Kali ini aku diam yang tidak banyak melawannya karena aku ingin segera melihat keadaan Rani. Aku dibawa kesebuah rumah mewah berlantai dua yang terlihat sepi.
"Aahhh sakiitt.. hiks.. hiks.. " aku terkejut mendengar suara serak Rani merintih kesakitan.
Tanpa pikir panjang aku segera berlari mencari sumber suara, namun Ferdi menahanku.
"Rani kenapa Fer.. kalian apakan sahabatku.. Lepasin aku mau cari Rani.. " aku memukul-mukul tubuh Ferdi agar ia melepasku.
Saat terlepas aku segera berlari dan menggedor salah satu pintu ruangan yang terkunci dimana terdapat suara Rani dari dalamnya.
Tok.. tok.. tok...
"Buka pintunya.. Rani buka pintunya.. Rani bukaa.. " dengan panik aku terus menggedor pintu tersebut.
"Ra.. ahhh... tolong Ra.." suara Rani semakin melemah.
"hikss..hikss.. buka pintunya.. jangan apa-apakan Rani.. tolongg.. " aku menangis sejadi-jadinya lalu tiba-tiba mataku menjadi gelap dan aku tidak sadarkan diri.
Saat terbangun aku sudah terbaring di tempat tidur, dengan gugup kuperiksa pakaianku yang masih utuh tanpa rusak sedikitpun.
Ternyata hari sudah pagi, itu artinya semalaman aku tidak pulang dan tidak memberi kabar ke orangtuaku.
Aku segera bangkit dan berlari menuju tempat dimana Rani berada. Betapa terkejutnya aku melihat Ferdi yang tengah memukuli si kaos abu-abu yang ternyata ia adalah Adi teman SMP ku dulu dan Riko pun juga ada disana, ialah yang mengenakan jaket hijau.
Semakin panik, aku masuk ke ruangan tersebut dan melihat Rani meringkuk memilukan dengan tubuh tertutup kain.
Kaki ku lemas dan airmataku mengalir deras. Aku berjalan lemah kearahnya, sakit yang luar biasa terasa dihatiku. Aku sangat membenci mereka.
Aku bersimpuh dihadapan Rani sambil terus menangis. Lalu aku segera memungut pakaiannya yang berserakan dan membantu memakaikannya.
"Lauraa.. hiks.. hiks.. sakitt.." Rani memelukku sambil terisak. Emosiku memuncak melihat kondisi Rani saat ini.
Aku segera menuntun Rani dan membawanya keluar dari ruangan itu.
Plaaakkk...
Aku menampar Ferdi dan meluapkan segala kemarahan yang selama ini kupendam padanya.
"KURANGAJARR KAMU FER..! KAMU MANUSIA PALING BREENGSEKK YANG PERNAH KUTEMUI. AKU NGGAK PERNAH MELAKUKAN HAL SEJAHAT INI PADAMU, TAPI KENAPA KAMU MELAKUKANNYA PADAKU..! HANYA KARENA SEKALI AKU MENOLAK CINTAMU, SERIBU KALI KAMU INGIN MENYAKITI HATIKU. MAUMU SEBENARNYA APAA.. ?!" sekali lagi aku menamparnya.
"AKU BENCI DENGANMU, AKU SANGAT MEMBENCIMU. SAMPAI KAPANPUN AKU TIDAK AKAN PERNAH MEMAAFKANMU..!
DAN KAMU ADI... AKU TIDAK MENYANGKA KAMU SERENDAH ITU. MASALAHMU APAA SAMPAI KAMU TEGA MELAKUKAN ITU PADANYA..?! AKU BENCI KALIAN SEMUA" aku menampar Adi meskipun tanganku sudah terasa perih setelah menampar Ferdi tadi.
"Sekarang kalian bertiga antar kami pulang..!" ucapku kasar tanpa ingin dibantah.
Mereka terdiam dan menuruti perkataanku. Aku mengarahkan mereka menuju rumah Rani untuk mempertanggung jawabkan perbuatan mereka kemarin.
Aku memaksa mereka menjelaskan semuanya hingga ibu Rani tampak syok, dengan emosi ayah Rani memukuli mereka terutama Adi yang telah memperkosa anaknya. Kalau tidak dilerai mungkin saja Adi sudah mati ditangan ayah Rani.
Tak lama datanglah orangtuaku, serta orangtua Ferdi, Adi dan Riko. Aku dan Rani disuruh masuk ke dalam kamar sehingga kami tidak tau apa yang dibahas diluar.
Rani terus menangis hingga membuatku tak kuasa menahan tangkisku. Sakit sekali hatiku mengingat betapa jahatnya ia sampai tega menyakiti sahabatku demi membalaskan dendamnya padaku.
"Aku ke kamar mandi bentar Ra.." Rani pergi ke kamar mandi, menit demi menit berlalu namun Rani tak kunjung keluar. Dengan perasaan khawatir aku menyusulnya dan membuka paksa pintu kamar mandinya.
"Raniii..." teriakku seraya berlari menghentikan Rani yang akan menggoreskan kater ke pergelangan tangannya.
"Keluar Raa.. aku bilang kamu keluar Laura.. " ia membentak memaksaku keluar.
"Enggak aku nggak akan keluar.. lepasin katernya Ran.. biar aku yang pegang.. " aku dan Rani saling berebut kater dan terjadilah keributan.
Aku mendengar langkah kaki berlari kearah kami dan ternyata itu mas Arif. Aku kehilangan fokus.
"Lepasin Ra..." teriaknya lagi sambil mendorong tubuhku. seketika leherku terasa sangat sakit seperti tersayat. Darah segar bercucuran memberi warna dibajuku.
"LAURAAA.." mas Arif berteriak dan berlari menangkap tubuhku yang limbung.
Samar-samar aku melihat Rani menggoreskan kater tersebut melukai dirinya, aku juga masih bisa mendengar tangisan ibuku beberapa saat, lalu... semuanya menjadi gelap.