Ep. 15 - Mental baja!

1121 คำ
"Jangan berani-berani nyuekin aku Laura.." tegasnya. "Suka-suka aku.. Lepaslah.." ia semakin mempererat genggamannya. "Maumu apa..!" ketusku, namun ia hanya menatapku. Tiba-tiba datang dua orang teman sekelasnya menyampaikan bahwa ia dipanggil ke ruang BK, ia melepaskan tanganku lalu berjalan menuju ruang BK dan aku segera kembali ke kelas. Hari ini pelajaran matematika, seharusnya yang mengajar saat ini adalah pak Tri namun kenapa bu Habibah yang berada dikelas. Ternyata mulai saat ini ia menggantikan pak Tri mengajar matematika kelas kami karena pak Tri harus cuti beberapa bulan untuk pemulihan kakinya yang patah akibat kecelakaan. Perasaanku tidak enak, entah kenapa aku yakin bu Habibah akan mengerjaiku. "Laura maju kedepan selesaikan soal ini..?" hampir copot jantungku mendengarnya, pasalnya ia masih baru masuk dan sudah mulai mengerjaiku. Dengan pede aku mengambil spidol dan mengerjakan soal yang ada di papan tulis, karena sebetulnya aku selalu belajar sebelum masuk materi baru dan materi logaritma ini juga sudah kubahas bersama guru lesku jadi aku harus bisa. Setelah selesai bu Habibah melihat jawabanku dengan tidak senang karena jawabanku tepat. Ia menyuruhku kembali mengerjakan soal lainnya dan aku kembali menyelesaikannya dengan benar. Akhirnya ia menyerah dan menyuruhku duduk. Kini giliran Deon si cowok bermulut ember + penjilat yang ia suruh kedepan. Curang sih, bu Habibah memberi soal yang sulit untukku sementara si Deon dikasi soal yang mudah, itupun dia tak bisa mengerjakannya. "Makanya kalau sekolah otaknya jangan ditinggal, jadi b**o kan.. weeekk.." ejekku saat ia kembali ke tempat duduk yang kebetulan tepat dibelakangku. "Sombong kali kau.." protesnya. "Biarin yang jelas aku pintar, daripada engkau sombong tapi bodooh.. hahah" bibirnya yang doer itu semakin doer setelah kuejek, lalu aku kembali menghadap kedepan. Iqbal hanya menatapku dan tidak berani berkata apapun. "Laura kerjakan ini lagi kedepan..!" bu Habibah memanggilku kembali untuk mengerjakan dua soal lagi, sepertinya ia belum puas mengerjaiku. "Maaf bu, kenapa ibu menyuruh saya lagi, kan saya sudah mengerjakan 2 soal logaritma dengan benar. Kenapa ibu tidak menyuruh Iqbal atau yang lain untuk mengerjakannya..?" aku memprotes dengan halus. Wajah Iqbal dan bu Habibah seketika panik dan dengan terpaksa bu Habibah menyuruh anaknya yang mengerjakan soal tersebut tapi ia tidak bisa mengerjakannya bahkan tidak tau bagaimana caranya. "Hahah.. sukurin. Malu banget pasti..." aku menertawakannya dalam hati. Agar anaknya tidak malu akhirnya bu Habibah melelang pertanyaan tersebut dengan memberikan nilai bagi yang bisa menjawabnya. Setelah beberapa saat tidak ada yang tunjuk tangan, akhirnya dengan terpaksa aku lagi yang bersedia menyelesaikan soal tersebut dan kembali benar. Aku tidak peduli apakah diberi nilai atau tidak, yang jelas aku harus bisa mendiamkan mulut-mulut nyinyir orang kelas ini dengan kemampuanku. Setelah bel istirahat berbunyi Iqbal tidak beranjak dari tempat duduknya. "Kenapa..? Ada masalah..?" ketusku risih dengan tingkahnya yang sedari tadi melirikku. "APAA..!" ia malah menantangku. Deon ngedumel pelan dari belakang, entah apa yang dibilangnya aku nggak dengar yang pastinya ia kesal karena aku mengejeknya tadi. Aku sakit hati dengan Deon karena ia pernah mengeluarkan aku dari kelompok biologi sehingga aku harus membuat alat peraga sel hewan sendirian, untungnya alat peragaku tetap paling bagus meski aku hanya bekerja sendiri. "Ngomong apa sih.. macam tawon aja dari tadi.." cibirku padanya, ia senyap dan tak bersuara lagi. "Hahaha... takut juga dia sama aku. Emang enak.." batinku geli. Mereka semua jadi lebih takut denganku setelah aku menampar Iqbal hari itu, tidak ada lagi yang berani menyindirku saat aku berada didekat mereka. Kalau dibelakang ya aku nggak tau dan nggak peduli juga, toh rambutku nggak jadi keriting walau bibir mereka keriting mencibirku. "Kasar banget sih kamu Ra.." ujar Iqbal. "Kenapa..? Nggak suka..?" balasku yang mencoba menahan diri. "Iya aku nggak suka.. kamu itu terlalu sombong dan kasar.. jahat sama teman..!" perkataannya seketika membuat hatiku panas. "Terus yang baik itu gimana? Macam kamu, yang pura-pura berteman denganku tapi nyatanya menyebarkan fotoku ke akun sekolah dengan caption cewek penggoda? atau kaya' dia, nyeritain aku kesana kemari terus mengeluarkan aku dari kelompok? atau macam Eka, berteman setahun namun tidak tulus, malah dengki denganku? atau kaya' mereka semua, yang ikut menyindirku, menjauhiku, tidak mau sekelompok denganku dan bahkan memusuhiku..!" aku sudah tak mampu lagi menahan ucapanku, mereka terdiam mendengarkannya. "Aku yang terlalu baik dengan kalian sehingga kalian jadi ngelunjak..! Aku sudah muak menangis karena perlakuan kalian. Kalian nggak mau menganggap aku sebagai teman sekelas ya nggak usah. Nggak ada masalah buat aku. Suatu saat pasti kalian akan diperlakukan yang sama oleh oranglain" mereka tetap terdiam dan nggak berani membantahku. Keesokan harinya mereka tidak berani menatapku. "Hmm.. kenapa mereka seperti takut begini melihatku.. memanglah teman-temanku yang aneh. Padahal kalian baik-baik sebanarnya, tapi ntah kenapa mudah sekali terhasut dengan omong kosong.." batinku. "Kemana Iqbal dan Eka, kenapa dia nggak masuk kelas sampai pelajaran terakhir..?" gumamku yang bertanya-tanya kemana perginya mereka. "Laauuuraaa.." teriak Mira dan Rani dari luar kelasku. "Cepatnya kalian keluar..?" tanyaku saat menghampiri mereka. "Iya dong, kita kan mau jalan-jalan.." ucap Mira semangat. "Bentar.. bentar.. mana si Eka, kok tumben dia nggak masuk..?" tanya Rani. "Enggak tau tuh kemana, Iqbal juga nggak masuk dari tadi pagi. Tas mereka ada, cuma orangnya ntah kemana.." jawabku. "Kok bisa samaan gitu sih, Riski dan Ferdi juga nggak masuk kelas dari tadi. Kemana mereka berempat..?" ungkap Rani. "Ih udah dong nggak usah dipikirin. Ayo berangkat aku sudah nggak sabar nih.. " ajak Mira. Let's Gooo... Kami berangkat menuju mall bersama mas Arif. Sebenarnya mas Arif yang mengajak kami pergi jalan-jalan hari ini sebab ia baru saja medapatkan gaji pertamanya setelah bekerja di cafe milik temannya. "Sudah lama mas Arif nggak ketemu kamu, kamu makin cantik saja Ra.. pantes banyak yang suka.. " sapanya. "hihi.. mas Arif bisa aja. Banyak yang benci mas bukan yang suka.. " balasku. "Siapa yang benci.. Cowok-cowok yang kemarin..?" mas Arif membicarakan Rian dan Riski yang kemarin diintrogasi bersamanya. "Iya mas.. " jawabku. "Hahah.. yang mas lihat sih mereka suka sama kamu Ra, karena sesama cowok jadi mas yakin begitu.." ujarnya. "Mereka emang suka mas sama Laura, tapi dianya aja yang jual mahal.. " Rani ikut nimbrung. "Iii apaan sih Ran.. dasar cerewet.." aku menutup mulut Rani, mereka tertawa. "hahah.. masku ini lagi galau Ra.. Layangan putuss.. jadi pacar mas Arif dong Ra biar dia nggak galau lagi.. " ejek Mira membuat Rani tertawa. "Ehh ni anak masih nggak berubah juga.. " omelku dan mereka terus mengejek aku dan mas Arif hingga kami sampai ditempat tujuan. Disana kami bermain, nonton dan makan. Setelahnya aku dan Rani diantar kembali kesekolah untuk mengambil motor yang masih terparkir disana. "Makasih ya mas Arif traktirannya.. sering-sering ya mas.. " goda Rani. "Hahaha.. siap siap.." balas mas Arif. "Maafkan teman saya ya mas Arif..hahah.. Terimakasih banyak sudah bikin kami senang hari ini mas Arif.. " aku berterimakasih padanya. "Sama-sama Ra. Kamu hati-hati ya pulangnya.. " ucapnya. "Iya mas dan Mira juga hati-hati ya.. byee" mobil mas Arif pun sudah menghilang dari pandangan.
อ่านฟรีสำหรับผู้ใช้งานใหม่
สแกนเพื่อดาวน์โหลดแอป
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    ผู้เขียน
  • chap_listสารบัญ
  • likeเพิ่ม