Ep. 14 - Masalah yang bertubi-tubi

1085 คำ
Sesampainya di ruang BK beberapa guru langsung menginterogasiku. Aku berusaha tenang dalam menjelaskan karena aku tidak bersalah. Aku menjelaskan secara detail siapa-siapa saja yang ada di foto tersebut diantaranya mas Arif, Rian, dan Riski. Guru memanggil orang-orang tersebut. Rian dan mas Arif telah selesai diinterogasi dan pernyataanku terbukti benar. Tibalah Riski yang diinterogasi, aku khawatir Riski akan memberikan keterangan yang tidak benar karena ia membenciku. Namun ternyata Riski mengatakan yang sejujurnya pada guru, aku sangat lega. Akhirnya aku terbukti tidak bersalah, namun namaku tidak serta merta menjadi bersih. Hanya beberapa siswa yang tau faktanya, sebagian yang lain tidak. Tapi syukurlah setidaknya dimata guru aku tidak seburuk itu. "Kenapa kamu malah membela dia Ki, bukankah aku sudah mengatakan apa yang harus kamu jawab didepan guru..?" aku mendengar perdebatan dua orang dari belakang koperasi yang aku yakini itu Ferdi dan Riski. Aku berhenti untuk mendengarkan apa yang sedang mereka bahas dan merekamnya, kebetulan aku juga ingin tahu apakah benar dugaanku bahwa Ferdi yang memposting foto-fotoku. "Aku nggak bisa Fer. Pasti takkan ada guru yang mempercayai perkataanku jika aku bilang Laura menggodaku, bahkan untuk mengantar jemputnya saja dia nggak menolak, apalagi melakukan hal seperti itu..." aku tersentuh mendengar perkataan Riski, kuanggap ia masih memiliki sisi baik meski hubungan kami sudah tidak baik. "Cukup Ki,, aku muak mendengarmu selalu membelanya..! Ferdi susah payah meyakinkan Iqbal untuk memposting foto itu, tapi kamu malah menyia-nyiakan kesempatan tersebut..!" aku terkejut mendengar suara Eka yang ternyata berada disana. "Sebenci apa Eka padaku sampai ingin melihatku dibenci semua orang.. Ferdi, Iqbal..? Ternyata mereka dalangnya.. Tega banget Iqbal padaku, padahal aku sudah berbaikan dengannya..Ternyata ia juga tidak tulus.." batinku. Aku menghentikan rekaman dan berjalan lemas ke ruang BK kembali. Aku menunjukkan hasil rekaman tersebut pada guru BK. "Ibu tidak menyangka mereka sanggup melakukan ini pada kamu Ra... Masalah kalian sebenarnya apa..?" bu guru bertanya padaku. "Laura tidak tahu bu.." aku tidak menjelaskan apapun pada bu guru karena sebenarnya aku tidak memliki masalah dengan mereka, hanya mereka saja yang merasa punya masalah denganku. "Jadi kamu ingin bagaimana sekarang Ra..?" tanya bu guru lagi. "Bagaimana baiknya menurut ibu saja, saya sudah tidak ingin dibuat pusing oleh masalah ini lagi. Saya juga tidak ingin berbicara dengan mereka lagi, biarlah saya menanggung akibat dari perbuatan mereka. Suatu saat kebenaran pasti akan terungkap juga kan bu.." ujarku lemah, setelah itu aku pamit untuk kembali kekelas. Mira dan Rani menghampiriku saat aku keluar dari ruangan BK. Aku menceritakan siapa pelaku sebenarnya pada mereka, dan mereka terkejut saat aku menyebutkan nama-namanya. Mereka menguatkan aku, aku merasa sedikit terhibur. Saat dikelas Iqbal sangat menguji kesabaranku. Tadinya aku berniat untuk tidak mengingat apa yang sudah Iqbal lakukan padaku hingga semua masalah ini terjadi. Tapi ia terus menyindirku dan membuat satu kelas juga ikut mencibirku. "MULUTMU BISA DIAM NGGAK..! DARI TADI AKU SURUH MINGKEM SUSAH BANGET..! SENGAJA MANCING-MANCING EMOSIKU YA.. SEKALI LAGI KAMU BERISIK, AKU TAMPAR KAMU..!" ancamku seraya membentaknya. "Dasar cewek ganjen... Apa? Mau nampar aku? Ni.. tampar nih.. ayo tampar sekarang.. Pengen tau aku bagaimana rasanya ditampar kamu.. ayo cepet tampar.." dia menantangku sambil terus menunjukkan pipinya ke arahku. PLLAAKKK Dengan kesal aku segera berdiri dan menuruti keinginannya. Seisi ruangan terkejut terlebih ia yang sangat tidak menyangka aku benar-benar melakukannya sambil memegangi pipinya yang sudah kuberi stempel. "Puas...?" aku menyunggingkan senyum sinis. "Ada apa nih.. Kenapa kamu menampar Iqbal.." aku terkejut saat bu Habibah ibunya Iqbal sudah berdiri di depan pintu kelasku. "Aduh gawat.. apa ibu itu melihat kejadian tadi.." batinku yang seketika berubah menjadi panik. Bu Habibah berjalan mendekat kemeja aku dan Iqbal, membuatku semakin panik. "Gara-gara dia masalahku jadi bertambah.. Iqbal kamvreet..!" aku menatap Iqbal dengan perasaan kesal. "Kenapa kamu nampar Iqbal, Laura..?" tanyanya lagi. Dengan terpaksa aku menjawab, "Bukan apa-apa bu.. Laura permisi ke kamar mandi ya bu.." aku pasrah menerima konsekuensi yang akan diberikan bu Habibah nantinya. Setelah kejadian tersebut aku benar-benar dikucilkan dikelas, bahkan guru-guru juga ikut mengabaikanku. Hanya beberapa guru yang berada dipihakku, diantaranya bu Rita guru BK, pak Budi, sir Ai, sir Amir dan pak Jodi. Sementara didalam kelas tidak ada satupun yang mau sekelompok denganku bahkan tidak ada yang ingin berteman denganku atau sekedar menyapaku. Aku benar-benar sedih. Hanya Mira dan Rani yang selalu meghampiri dan menghiburku, dan itu sudah membuatku sedikit bahagia. Bu Habibah pun aneh, setiap jam istirahat ia akan bertandang ke kelas-kelas ngerumpi dengan para siswa. Aku berpikir ia menjelek-jelekkan aku karena setiap aku lewat disaat mereka tengah berkumpul, seketika itu mereka langsung terdiam sambil melirikku. Aku jengkel, seharusnya seorang guru bisa bersikap bijak dan tidak melakukan hal tersebut. Tapi begitulah berhubung guru juga manusia yang pasti berbuat salah, aku memakluminya dan hanya mengabaikannya. Hari ini pak Budi dan sir Ai memanggilku ke mushala dan aku segera menemuinya. "Kamu ada masalah apa Ra dengan Iqbal..?" aku tidak menyangka pak Budi akan menanyakan hal itu padaku. "Enggak ada masalah apa-apa pak.." jawabku berbohong. "Jujur saja gak apa-apa Ra. Kata bu Habibah kamu menampar Iqbal ya..? Masalahnya apa..?" aku terkejut ternyata pak Budi dan Sir Ai mengetahui hal itu. Aku masih tersenyum lalu mengatakan "Tidak apa-apa pak..". "Kenapa kamu nggak pernah mengerjakan tugas secara berkelompok Ra, semua tugas kelompok kamu mengerjakannya sendiri..?" hatiku sedih mendengar pertanyaan Sir Ai, mataku langsung berkaca-kaca namun aku tetap tersenyum menahan airmataku agar tidak benar-benar jatuh. Lagi-lagi aku hanya menjawab tidak apa-apa. "Tidak ada yang mau sekelompok sama kamu..?" perkataan pak Budi membuat tangisku pecah. Aku malu terlihat sangat menyedihkan seperti ini. "Mereka tidak ingin sekelompok dengan saya pak.. hikss..hikss.. Tapi nggak masalah, saya bisa mengerjakan semuanya sendiri. Saya nggak suka memelas-melas untuk masuk kekelompok mereka. Huhu.. sedih banget saya.." airmataku berlinangan mengungkapkan kesedihan yang terpendam. Pak Budi dan sir Ai terdiam menatapku, aku menyeka airmata dan menahan tangisku agar berhenti. Lalu sir Ai kembali bertanya, "Kamu kenapa menampar Iqbal..?". Aku menceritakan semuanya pada sir Ai dan pak Budi. "Kamu yang sabar ya Ra.. Hari berganti, masalah pun pasti akan berlalu.." pak Budi dan sir Ai menyemangatiku lalu aku pamit keluar dari mushala dan aku menemukan Eka sedang menguping dari luar mushala. "Ngapain kamu..? Nguping..? Apa kamu merasa bahagia sekarang..? Selamat ya..!" ketusku lalu berjalan meninggalkannya. Aku berjalan menuju kamar mandi untuk mencuci wajahku yang terlihat sembab karena habis menangis. Saat keluar dari kamar mandi aku berpapasan dengan Ferdi dan aku hanya melewatinya tanpa memperdulikannya sedikitpun. "Bagaimana rasanya di musuhi satu sekolah Laura..?" usilnya yang kuabaikan. Ia menarik lenganku agar aku berhenti melangkah. "Awas ih.. Lepas nggak.." dengan muak aku menoleh kearahnya. "Jangan berani-berani nyuekin aku Laura.." tegasnya. "Suka-suka aku.. Lepaslah.." ia semakin mempererat genggamannya. "Maumu apa..!" ketusku. bersambung...
อ่านฟรีสำหรับผู้ใช้งานใหม่
สแกนเพื่อดาวน์โหลดแอป
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    ผู้เขียน
  • chap_listสารบัญ
  • likeเพิ่ม