Ep. 13 - Teror..!

1245 คำ
Semalaman aku menangis dan hari ini mataku bengkak. Bagaimana caranya aku bisa berangkat kesekolah ? "Ihh gimana dong mataku bengkak,, malulah aku kesekolah dengan mata seperti ini.." aku panik berbicara pada Mira dan Rani. Mereka berdua malah serentak menertawakanku. "Hahahaha... makanya Ra, tadi malam kan sudah kubilang jangan nangis terus, ngapain ditangisi makhluk-makhluk nggak tau diri itu. Sekarang mata kamu bengkak kan jadinya, terus gimana? apa sakit hatimu sembuh? enggak kan? kamu hanya buang-buang tenaga menangisi mereka.." protes Rani sambil terus tertawa melihat mataku yang semakin kecil. "Hahaha.. lucu tau Ra muka kamu sekarang. Pakai kacamata aja Ra sementara, nggak akan terlihat jelas bengkaknya pasti" Mira menyarankan. "Iya deh aku pakai kacamata.." tanpa pikir panjang kupakai kacamata anti radiasi yang biasanya kugunakan saat menatap layar laptop, lalu kami pamit dan berangkat sekolah. Disekolah kami berpapasan dengan Eka, namun tanpa rasa menyesal ia berjalan angkuh didepan kami. "Ihh dasar sintingg.. dia yang salah dia yang ngelengos.." ketus Rani yang kesal. "Iya tuh nggak tau diri banget..." Mira menimpali. "Sudahlah yuk kita masuk kelas.. masih terlalu pagi untuk ribut. Ntar moodku buruk lagi.." aku menenangkan dan mengajak mereka segera menuju ke kelas. Pada awalnya kami agak canggung setiap kali berpapasan dengan Eka, karena biasanya kami berempat dan kini hanya bertiga. Namun lama-kelamaan kami terbiasa dan malah lebih kompak dari sebelumnya. Hancurnya persahabatan menjadi pelajaran penting bagi kami, mengajarkan kami arti ketulusan. Tibalah saatnya kami di penghujung sekolah. Sekarang kami telah memasuki kelas 3 SMA yang artinya kurang dari setahun kami akan meninggalkan sekolah ini dan melanjutkan jalan masing-masing. Aku berada di kelas XII IPA 1, Rani dan Mira juga sudah tidak sekelas lagi, Rani di IPS 1 dan Mira di IPS 2. Meski begitu kami tetap menyempatkan diri untuk berkumpul bersama. Keanehan terjadi saat ini, aku sekelas dengan Eka, Rani sekelas dengan Ferdi dan Mira sekelas dengan Riski. Situasi macam apa yang kami hadapi saat ini, semua terasa canggung, tapi bagaimana pun hidup terus berjalan dan mau tidak mau kami harus menjalaninya. Kaget sih saat tau Aku berada disatu kelas yang sama dengan Eka, maklumlah kami sudah sama-sama saling membenci. Untungnya ada Iqbal yang juga satu kelas denganku, ia mengajakku duduk sebangku lagi dengannya dan aku segera mengiyakannya. Eka menatapku dengan pandangan tidak suka, namun aku tidak memperdulikannya. Saat jam istirahat aku merasa bosan dikelas namun enggan kekantin. Aku memutuskan untuk jalan ke kelas Mira dan Rani karena berapa minggu ini aku sangat sibuk dan tidak bisa main bersama mereka. "Hahaha.. kamu itu cuma anak sopir, kamu nggak pantas berada disekolah ini.." terdengar dari luar kelas Rani. Dengan perasaan khawatir aku segera berlari menuju kelas Rani. Betapa sakit hatiku saat melihat beberapa orang cewek sedang merundung Rani dan menyiraminya dengan s**u, anak kelas yang lain hanya diam menonton perundungan tersebut terlebih Ferdi dan beberapa temannya yang tertawa melihat mereka. Tanpa pikir panjang aku segera menghampiri mereka dan merebut sebotol s**u yang akan mereka tuangkan kembali di tubuh Rani, lalu kusiramkan s**u tersebut kewajah mereka. "Aaaaaa..." teriak cewek berpita pink saat kusiram. Membuat satu kelas termasuk Ferdi kaget melihat kehadiranku. Aku memegang lengan Rani dan menuntunnya untuk berdiri, ia basah kuyup akibat perbuatan mereka. Rani menangis terisak. "Kurangajar.. apa begini cara kalian memperlakukan teman..?" ucapku yang tersulut emosi. "Hello,, temen siapa yaa..? Gue nggak pernah tuh nganggap dia temen.. bener nggak tuh..?" ucap cewek berambut ikal yang bernama Sara kepada teman-temannya. "Dia itu cuma anak sopir yang nggak tau diri.." imbuhnya lagi. Tak lama Mira berlari dari kelasnya dan langsung menghampiri kami. "Kamu kenapa Ran..? Kenapa kamu basah gini..?" tanyanya panik dan Rani semakin terisak. "Lo yang bikin temen gue jadi begini.. dasar cewek manja, belagu.." bentak Mira seraya mendorong tubuh gadis tersebut hingga membuatnya terjatuh. "Aww... kurangajar.." ia segera bangkit dan mendorong tubuh Mira kembali. "Lo siapa sih.. kalian berdua nggak usah sok jadi pahlawan disini. Gue cuma mau ngasi pelajaran ke anak sopir ini biar dia tau diri dan nggak belagu disekolah ini.." ketusnya lagi. "Kamu sudah pintar sampai ingin mengajari oranglain haa..? Dia nggak pernah belagu disini, justru kamu yang belagu dan sombong.. Kalau kamu pintar harusnya kamu bisa mengajari diri kamu sendiri bagaimana cara bersikap yang baik dengan oranglain. Tandanya kamu begoolah makanya sikapmu seperti ini.." ucapku kasar. "Kurangajar kamu yaa..." ia melayangkan tangannya kearahku dan dengan sigap aku menangkapnya. "Apa.. ! Mau nampar aku ya cewek tolol..? Kamu nggak akan bisa.." aku benar-benar sudah emosi. Kudorong tubuhnya sekuat tenaga hingga menabrak meja. Ia kesakitan dan lagi-lagi aku tidak peduli karena ia dan teman-temannya telah menyakiti sahabatku. "Mampuuuss lo..." ejek Mira. "Sekali lagi kalian melakukan ini pada Rani, akan ku laporkan kelakuan kalian pada guru.." ancamku. Pooookkk.. Pookkk... Pooookkkk... "Wow.. hebat sekali kawan kita yang satu ini.." Ferdi berdiri dihadapanku. "Sayanggg.. sakiitt.." Sara berteriak manja pada Ferdi dan aku baru tau kalau Ferdi pacaran dengan gadis tersebut. "Ini ulahmu Fer..?" tuduhku. "Iyaa.. memang ini ulahku. Aku kan sudah mengatakan aku akan melakukan apa saja untuk menyakitimu, termasuk melukai sahabat-sahabatmu.." ujarnya yang tidak merasa bersalah sedikitpun. "Dasar giiilaaa.. " aku melemparkan botol s**u ke arahnya dan menumpahkan sisa s**u tersebut ke wajah serta bajunya. "Sayaangg.." Sara dan semua terkejut melihatku memperlakukan Ferdi seperti itu. "Dasar banciii..." ucapku seraya menarik lengan Rani dan Mira agar segera meninggalkan kelasnya. Kami segera pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri Rani yang terkena tumpahan s**u. Aku memberikan baju olahraga yang tadi kubawa untuk dipakainya dan ia segera menggantinya. Kami meminta penjelasan Rani tentang kejadian tadi akhirnya ia menceritakan bahwa Sara adalah putri pak Jamal bos ayahnya Rani. Dari awal ia sudah tau kalau Sara masuk disekolah yang sama dengannya, namun Sara benci kini ia harus sekelas dengan Rani yang sejatinya hanyalah anak sopirnya, hingga ia merundungnya. "Aku nggak bisa apa-apa Ra.. aku juga nggak bisa melawannya karena ia anak bos bapakku.." tangis Rani sesenggukan. "Kamu bisa Ran.. kamu nggak harus diam saja bila diperlakukan seperti itu olehnya mentang-mentang dia anak bos ayah kamu.. Kamu jangan diam saja Ran, karena itu sangat tidak adil buatmu.. Rani adalah cewek paling pemberani yang kami kenal.." balasku meyakinkannya. "Iya Ran kamu jangan takut.. kami akan selalu ada untuk mendukung kamu.." Mira menguatkan Rani. Beberapa hari kemudian Sara and the geng tidak lagi membuli Rani begitupun Ferdi yang tidak mencari gara-gara denganku. Disatu sisi aku senang karena Rani bisa tersenyum seperti biasanya namun disisi lain aku curiga Ferdi merencanakan sesuatu yang lainnya. Keesokan hari sesampainya aku kedalam kelas, perhatian semua orang langsung tertuju kearahku. Aku bertanya-tanya apa yang terjadi dengan mereka, kenapa mereka menatap sambil mencibirku. "Kenapa sih Bal, kok semuanya lihatin aku seperti itu. Ada yang salah dengan penampilanku..?" tanyaku pada Iqbal. Namun reaksi Iqbal tidak seramah biasanya. Ia menatapku sebentar lalu mengalihkan pandangannya dan memainkan handphone nya. "Nih lihat.." dia memberikan hpnya untuk menunjukkan sesuatu padaku. Betapa terkejut dan sakitnya hatiku melihat fotoku bersama beberapa cowok yang kukenal tersebar di akun sosmed sekolah dengan caption cewek penggoda. Aku langsung berpikir akun tersebut dipegang oleh anggota OSIS tapi siapa yang orangnya? Dengan sigap aku menuju ke kelas Rian dengan maksud ingin menanyakan siapa pemegang akun sekolah karena Rian adalah anggota OSIS. Saat tiba dikelas Rian aku tidak menemukannya disana, mungkin ia belum datang. Aku kembali kekelas dengan suasana hati yang tidak tenang. Eka lewat didepanku dan menyindirku, "Dasar cewek penggoda..! Muka sok polos, tapi kelakuannya...!". Meski kesal, aku tidak menanggapinya, aku malas ribut apalagi dengan orang-orang yang sudah masuk kedalam daftar blacklistku. "Ra.." Rani dan Mira membawaku keluar kelas. "Kamu dipanggil ke ruang BK.." Rani memberitahuku, dengan segera aku menuju ke ruangan tersebut.
อ่านฟรีสำหรับผู้ใช้งานใหม่
สแกนเพื่อดาวน์โหลดแอป
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    ผู้เขียน
  • chap_listสารบัญ
  • likeเพิ่ม