Selama beberapa hari aku izin tidak masuk sekolah karena pindah rumah. Orang tuaku sudah tidak tahan dengan suasana di TK itu lagi titik para wali murid dan guru yang penjilat memusuhi orang tuaku dan mengucilkan kami. Benar-benar tidak tahu diri makiku. Aku mulai membiasakan diri tidak peduli dengan sekitar saat tengah berjalan atau mengendarai motor, agar tidak sakit hati melihat mereka memalingkan wajah saat berpapasan. Awalnya sulit, namun lama-lama aku nyaman dengan keadaan seperti ini.
Orang tuaku sepakat merintis sekolah baru bersama seorang guru yang tahu bagaimana asal-usul sekolah tersebut. Untuk mengenang jasa guru tersebut yang telah percaya dan setia bersama kami, orang tuaku memberi nama TK tersebut menggunakan namanya. Aku menasehati Ibuku nggak perlu seperti itu nanti kejadian pilu terulang kedua kalinya. Namun orang tuaku bersikeras memberikan nama tersebut untuk TK kami. Ya sudahlah aku hanya bisa diam saja.
Namun setelah orang tua aku keluar dari TK itu, calon murid baru yang mendaftar sebelumnya juga ikut menarik diri dan batal masuk ke sana. Sebagian besar mendaftar di TK baru kami dan sebagian kecil mencari entah ke mana. Hanya menyisakan 10 murid di TK tersebut. lagi-lagi aku terheran dibuatnya, mereka memusuhi Ibuku tapi tetap ingin anaknya dididik oleh ibuku.
*******
Aku tiba diparkiran sekolah dan kebetulan bersamaaan dengan Ferdi yang juga sedang memarkirkan kendaraannya. Aku senyum padanya namun dia tidak membalas bahkan memalingkan wajahnya.
"Dasar cowok gendeng.." Aku kesal. lalu aku berjalan melewatinya tanpa menoleh sedikitpun kearahnya.
Bruukkk...
Seseorang menabrakku dengan keras membuat ku yang tengah melamun terjatuh, dengan santainya hanya tersenyum lalu pergi meninggalkanku.
"Dasar Ferdi kurang ajar.." kutukku dalam hati.
"Kenapa dia harus sebenci ini padaku, padahal aku tidak pernah membencinya meskipun ia selalu menjahiliku. Hmm... yasudahlah selama tidak berlebihan aku masih bisa bersabar.. " ujarku sambil berdiri membersihkan rok yang sedikit kotor lalu beranjak menuju kelas.
Hari ini Rizki ada pertandingan dengan Rival bebuyutan yaitu SMK Garuda Sakti. Tim cheerleader sekolah juga akan tampil menyemangati seluruh tim yang akan bertanding hari ini. Aku dipercayakan menjadi asisten dokter yang bertugas hari ini untuk mengobati bila ada pemain yang mengalami luka ringan.
"Ra, kalau kamu ingin melihat pertandingan ya silakan. Saya tidak Melarang kamu untuk melihat pertandingan teman-teman kamu..." ucap bu dokter menawariku.
"Nggak apa-apa bu... Laura disini aja. Tadi Laura sudah melihat teman tampil cheers... " tolakku halus.
Aku memang sudah ke lapangan untuk melihat penampilan cheers Mira, Eka dan Rani sekaligus untuk melihat Riski. Kami sempat saling bertatap mata, namun Riski hanya melihatku dingin lalu berbalik arah.
Aku tidak peduli bila Ferdi yang melakukannya padaku, Namun beda halnya dengan Riski. Diperlakukan seperti itu olehnya membuatku merasa insecure untuk berada disana sehingga aku memutuskan untuk kembali setelah penampilan cheers selesai.
Aku mendengar sorak sorai penonton yang begitu bergemuruh, babak awal pertandingan dimulai.
"Lauuuraaa..." aku terkejut mendengar teriakan Eka yang berlari dan langsung menarikku menuju bangku penonton.
Akhirnya aku menonton pertandingan hingga satu ronde selesai sebelum akhirnya masuk membantu beberapa pemain yang memerlukan pengobatan.
"Tolong dong obati pergelangan kakiku.. tadi agak sakit.." pinta salah seorang anggota tim lawan menunjuk kearah kakinya yang terbungkus kaos kaki dan cukup basah oleh keringat.
Aku bertanya-tanya apakah dia serius menyuruhku mengobati kakinya dan aku tercengang. Dia malah cengengesan nggak jelas.
"Cepetan dong... sakit nih.." katanya lagi.
Aku cemberut, "Serius nih.. heeemmm... aku nggak mau.. kaos kaki kamu basah.. kan bauu.." aku menolak manja sambil terus menggelengkan kepala.
Dia semakin cengengesan lalu berkata, "haha.. enggak.. enggak.. aku cuma bercanda kok.." ia dan teman setimnya yang berada diruangan itu tertawa melihat ekspresiku.
"Ada-ada saja kamu Ben.. haha..." begitulah respon teman-temannya.
Tak lama kemudian masuklah pelatih yang menyuruh mereka untuk segera keluar dan bergantian dengan tim sekolahku.
Aku deg-degan saat melihat wajah Riski dan Ferdi di antara 4 orang tim voli sekolah yang kini berada di depanku. Aku tidak tau harus bagaimana dengan reaksi mereka seperti sangat tidak suka melihatku. Dan aku juga heran kenapa Ferdi bisa ada di tim ini.
"Ra... mereka mungkin keram dibagian-bagian tertentu. Nanti tolong kamu semprotkan ini ya untuk menghilangkan kram mereka.." bu dokter memberikan instruksi. Melihat tidak ada cedera serius dari mereka, bu dokter izin keluar sebentar dan aku yang meneruskannya.
"Oh iya.. baik bu.." aku mengambil botol spray yang disodorkan bu dokter lalu mulai mengobati mereka satu persatu.
"Oo jadi cewek ini yang nolak kamu Ki...?" ucap salah seorang dari mereka menyindirku saat aku tengah mengobatinya.
"Kalian sudah selesai.. silahkan keluar.." aku meminta mereka keluar karena tugasku telah selesai.
"Kalau kami nggak mau, gimana..?" bantahnya.
"Yasudah.. aku yang keluar.." karena tidak ingin memperpanjang percakapan, aku segera melangkahkan kaki menuju pintu.
"Mau kemana...?" Ferdi berdiri mencegatku.
Aku tidak menjawabnya dan terus mencari celah agar aku bisa melewatinya. Sejujurnya aku takut berada disatu ruangan yang sama dengan mereka, jelas saja karena jumlah mereka 4 orang sementara aku hanya sendiri.
"Jangan kaya' anak-anak deh Fer..." ketusku kesal melihat ulahnya yang terus menghalangi jalanku.
"Oh gitu... terus mau seperti orang dewasa ya..?" dia tersenyum seraya melangkahkan kakinya mendekatiku, membuatku semakin takut.
"Minggir ah Fer, nggak jelas banget sih..." aku menyikutnya kesal ditambah lagi melihat Riski yang hanya diam saat aku dipermainkan teman-temannya.
Akhirnya aku pergi meninggalkan mereka dengan arah yang tidak jelas. Ku atur nafas yang sedari tadi tidak karuan dan menenangkan diri.
*****
Pertandingan telah usai yang dimenangkan oleh tim sekolahku. Untuk merayakannya, seluruh tim voli dan tim panitia makan bersama.
"Kamu lihat penampilan kami tadi Ra..?" Mira bertanya kepadaku.
"Jelas dong aku lihat.. keren kalian tadi.." jawabku.
"Pertandingan voli kamu lihat nggak Ra? Seru tau? Penampilan Ferdi dan Riski keren banget..!" ujar Mira heboh yang tentu saja membuat Ferdi langsung melihat kearah kami.
"Hmm.. iyakah. Wow pantes juara ya. Aku nggak lihat tadi soalnya kerjaan aku banyak banget tadi. Hmm.. Eka kemana ya?" aku mengalihkan pembicaraan karena tidak nyaman dengan pandangan Ferdi yang tidak beralih dariku.
"Nggak tau tuh.." balas Rani.
"Aku kekamar mandi bentar ya Mir.. Ran.." aku melarikan diri dari pandangan Ferdi dan berjalan melihat-lihat suasana cafe yang indah dengan kolam ikan bertaburan lampu menambah kesan romantis cafe tersebut.
Saat aku tengah menikmati suasana malam di pinggiran kolam, aku mendengar suara orang bertengkar. Aku diam dan menguping pembicaraan mereka dengan rasa penasaran.
"Aku nggak suka kamu terus menyembunyikan hubungan kita... taau jangan-jangan kamu beneran suka ya sama dia...! Kamu sedih karena dia nolak cinta kamu..! Ingat, dari awal kedekatan kita dengan dia hanya pura-pura. Aku bosan harus berpura-pura baik dengannya ters-menerus. Aku benci pandangan semua orang terus tertuju padanya, termasuk kamu. Kamu itu pacar aku..!" teriak seorang wanita sambil menangis.
Aku semakin penasaran, akhirnya senyap-senyap aku berjalan menuju sumber suara.
"Eka...!" betapa terkejutnya aku ternyata suara gaduh tersebut disebabkan oleh dua orang yang sangat kukenal.
Tanpa kuduga Eka berlari kearahku dan mendorongku hingga aku tersungkur di tanah. Lalu ia berdiri dihadapanku yang masih terduduk dan membentakku.
"Aku benci sama kamu Ra. Semua orang menyukaimu.. teman, guru, semuanya. Bahkan orang yang aku suka juga menyukaimu. Aku benci berpura-pura baik denganmu. Kamu munafik dan sok baik didepan semua orang. Aku muak..!" hatiku terasa sakit mendengar perkataan Eka hingga airmata tak kuasa kubendung lagi dan aku menangis dihadapannya.
"Kamu kenapa seperti ini Ka..? Apa aku ada salah denganmu? Ternyata kalian pacaran, terus kenapa kalian berbohong padaku? Untuk apa? hiks..hiks.." suaraku serak dan butir airmataku terus mengalir deras. Aku mencoba bangkit dari posisiku semula.
"Untuk menyakiti hatimu. Sama seperti yang kamu lakukan padaku, Laura..!" dari belakang suara Ferdi terdengar dan berhenti tepat didepanku.
"Ferdi..." aku bingung apa dia turut andil dengan semua ini.
"Iya ini aku. Orang yang pernah kamu permalukan didepan umum.. Kamu masih ingat Laura..?" jawabnya.
"Kamu masih dendam sama aku karena peristiwa itu? tanyaku lemah.
"Tentu aku masih dendam sama kamu. Karena kamu hidup dengan nyaman selama setahun ini, sementara tidak denganku. Begitu sulitnya aku untuk membangun kembali kepercayaan diriku yang telah kamu hancurkan. Kamu juga harus merasakan semua penderitaanku Laura..! Apapun akan aku lakukan untuk menghancurkan kesombonganmu..!" ucapnya lagi.
Aku hanya diam membisu, hatiku terlalu sakit hingga aku tak sanggup untuk mendengarkan mereka lagi saat ini. Kutatap wajah Eka dan Riski dengan perasaan kecewa lalu beranjak meninggalkan mereka. Aku tidak mood lagi masuk kedalam dengan wajah sembab seperti ini, yang aku inginkan hanya pulang dan menenangkan diri dikamar. Tak lama kemudian muncullah Rani dan Mira yang membawakan tasku dan mengajakku meninggalkan cafe tersebut. Tanpa banyak bicara kami bertiga pun beranjak pergi dari cafe tersebut dan menginap dirumahku.