Seminggu telah berlalu, tibalah hari di mana aku harus memberikan jawaban atas penyataan cintanya padaku.
Dengan berat hati aku menolaknya karena aku merasa belum pantas untuk berpacaran dan aku masih menikmati masa-masa remaja ini tanpa ada yang membatasi pergerakanku.
Bukan karena keegoisan, justru menurutku ini yang terbaik. Aku tidak harus menyakiti hati siapapun, tidak menyakiti Eka karena aku berpacaran dengan orang dia suka dan juga tidak menyakiti Rizky kalau sikapku nanti tidak seperti yang ia harapkan.
Setelah penolakan itu sikap Riski berubah, ia seperti orang asing yang tidak mengenaliku. Jelas saja aku sedih atas perubahannya karena aku telah sangat terbiasa dengan sikap baiknya, namun tak mengapa aku bisa memakluminya.
Aku tidak tau kenapa hari-hariku terasa sepi karena Riski yang selalu menyapaku kini tak lagi muncul dihadapanku.
Aku merasa terhibur saat melihat kelasnya, saat melihatnya samar-samar dari balik pohon, saat melihat motornya di parkiran. Aku benar-benar telah menyukainya.
Tapi apa boleh buat, aku telah menolaknya dan tentu saja itu sangat melukai hatinya. Yang bisa kulakukan hanyalah melihatnya dari jauh lalu mengubur perasaanku untuknya.
"Ra, kamu kenapa sih kok akhir-akhir ini lemas gitu" tanya Mira yang menyadari perubahanku.
"Enggak apa-apa kok, aku baik-baik saja" dengan senyum sedikit dipaksakan.
"Jangan bohong deh Ra, kamu nggak biasanya seperti ini" ujar Rani. Aku hanya membalasnya dengan senyuman.
"Ngomong-ngomong, berapa hari ini kok Riski nggak pernah gabung dengan kita lagi ya?". Hatiku terasa sedih saat nama Riski disebut.
"Muka kamu kenapa sih Ra, cerita dong jangan dipendam-pendam gitu. Apa gunanya kita sebagai sahabat kamu?" tanya Eka.
Setelah sempat bungkam untuk beberapa waktu akhirnya aku memberanikan diri untuk curhat.
Meski memiliki banyak teman, aku memang sedikit tertutup. Jarang sekali aku menceritakan tentang kehidupan pribadiku, masalah dan kesedihanku.
Aku berpikir semua orang punya masalahnya masing-masing jadi menceritakan kesedihan kita hanya akan menambah masalah orang lain.
"Riski mengungkapkan perasaannya padaku..." masih sedikit aku berbicara Rani dan Mira memotong, "Haah, serius Ra, kapan? Dimana? Terus apa jawaban kamu?".
"Tunggu dong jangan dipotong dulu aku belum selesai" ucapku.
"Oke.. okee.. " ucap Mira dengan tidak sabar.
Akhirnya aku melanjutkan perkataanku.
"Riski menyatakan perasaannya padaku minggu lalu, aku meminta waktu untuk menjawabnya kemarin dan aku menolaknya.. " kalimatku galau.
Eka pun terlihat sedih lalu mengatakan "Apa karena aku kamu menolak dia Ra? ". Rani dan Mira kaget mendengar perkataan Eka.
Aku menjawab "Aku tidak ingin menyakiti kamu Ka, kamu sahabat aku dan kamu juga menyukainya. Tapi bukan itu aja, aku juga takut akan menyakiti hatinya dengan sikapku yang kadang tidak suka diatur" ujarku.
"Oo jadi kamu murung karena nyesel nolak Riski nih ceritanya?" tanya Mira setengah meledek.
"Iya aku nyesel.. aku nggak bisa lagi lihat dia dan dia juga nggak pernah nunjukin muka lagi didepanku.. aku sedih.." dengan menahan malu aku mengakuinya.
"Hahahah..." Rani, Eka dan Mira tertawa serentak.
"Akhirnya sahabatku jatuh cinta juga. Aku kira nggak doyan cowok.. " ledek Mira.
"Makanya Ra kalau suka jangan gengsi. Nyesel kan jadinya.." tambah Rani.
Aku melirik Eka, "Nih anak kok malah happy ya? Harusnya kan dia sedih!" batinku.
Eka yang menyadari aku melirik ke arahnya lantas mengatakan, "Kenapa lihat-lihat...? Heran ya kok aku biasa aja?" dia masih terus tertawa.
"Ra, aku emang suka sama Riski tapi ya gitu biasa aja. Aku tau Riski suka banget sama kamu dari kelas satu, makanya aku nggak menaruh harapan padanya" ujarnya santai.
"Hah.." aku bingung.
"Terus mukamu kemaren kenapa gitu waktu Riski dekat aku.." tanyaku.
"Aku kan pura-pura. Pengen tau aja kamu beneran suka atau tidak. Kamu itu dingin banget tau Ra. Dia sudah sangat menunjukkan perasaannya padamu, dia perhatian sama kamu, selalu belain kamu, tapi kamu cuek banget sama dia Ra" cetus Eka.
"Oo gitu.." ujar bibirku, padahal aku tau perhatiannya padaku. Tapi aku malu, takutnya aku hanya kegeeran sendiri makanya aku diam dan pura-pura cuek.
"Kamu temui aja dia nanti Ra.." usul Rani.
"Ihh nggak mau.. Aku mau ngapain, aku sudah nolak dia" sesalku.
"Ya kamu minta maaf sama dia.." balasnya.
"Hmm.. aku nggak mau. Aku malu..." ucapku bimbang.
Mereka terus memaksaku untuk menemui Riski, namun aku tetap menolak.
Akhirnya kami kembali ke kelas, dan akan melanjutkan pelajaran seperti biasa. Namun guru-guru rapat dan kami diberi tugas kelompok.
Iqbal berulah seperti biasa, kali ini ia melepaskan ikat rambutku yang membuat rambutku tergerai.
Aku mendiamkannya dan membiarkan rambut panjangku terurai.
"Laura, nah ikat rambutmu.. ambil sini.. " tawarnya yang menyodorkan ikat rambutku.
Aku tidak bergeming karena aku yakin dia punya niat lain, aku mengabaikannya.
"Sini aku nggak bohong. Ambillah.. " tawarnya lagi. Dengan berat hati aku berjalan ke arahnya. Saat akan mengambilnya, tiba-tiba ia menjauhkan tangannya hingga membuat aku hampir terjatuh dan ia memelukku dengan sengaja.
Aku sangat marah dan tanpa sengaja tanganku menamparnya.
Plakkk..
"Dasar cowok kurangajar..!" maki ku.
"Alahhh... nggak usah munafik lah. Sudah berapa cowok yang meluk kamu..? Nggak usah sok jual lah sama aku!" karena emosi ia mengeluarkan perkataan yang sangat menyakiti hatiku.
"Diamlah.." ketusku tidak ingin berbicara lebih lama dengannya.
Aku mencoba kembali mengambil ikat rambutku namun lagi-lagi dia sengaja menjauhkannya dariku.
Dengan muak kudorong tubuhnya lalu mengatakan, "Dasar syaiton.. makanlah samamu biar engkau kenyang..!" lalu aku berjalan kembali ke tempat duduk.
Rian yang sedari tadi memperhatikan geram, dengan gagah ia berdiri dan mengambil ikat rambut tersebut dari tangan Iqbal dan mengembalikannya padaku.
"Heh... kenapa kamu selalu ikut campur dalam urusanku..?" tanya Iqbal murka.
"Bodo' amatlah.." aku dan Rian serentak membuang muka karena malas meladeni orang sinting seperti Iqbal.
"Makasih ya Rian kamu bantuin aku lagi.." kalimatku pada Rian.
"Sama-sama Laura.. kamu duduk disebelahku aja yuk daripada disini kamu selalu digangguin bocil..?" tanyanya yang membuat Iqbal makin kesal.
"Terus dia mau dikemanakan?" tanyaku tertawa kecil sambil menunjuk teman sebangku Rian. "Kamu tenang saja, aku bisa kok menghadapinya.." ujarku meyakinkannya.
Tempat duduk diubah oleh wali kelas dan nggak bisa seenaknya pindah kesana kemari menurut kemauan kita nanti guru merasa tersinggung, aku tidak ingin seperti itu. Lagian aku menganggap Iqbal hanya kecoa kecil yang nggak perlu segitunyalah untuk dihindari.
Aku mengerti Iqbal seperti itu untuk mencari perhatian karena aku terlalu acuh padanya. Tapi entah kenapa sulit sekali bagiku untuk berbaik-baik dengannya, apakah aku yang terlalu sombong padanya? Aku memutuskan mulai hari ini aku akan ubah sikapku agar bisa sedikit lebih baik dan lebih akur dengannya. Karena bosan juga lama-kelamaan, hampir satu tahun aku selalu ribut dan bermusuhan dengannya.
Keesokan harinya aku melihat luka di siku kirinya dan tanpa berpikir panjang kuambil plester luka yang selalu kubawa.
"Nah.." aku menyodorkan plester tersebut dan melirik sikunya yang terluka. Aku bermaksud ini menjadi sarana permintaan maafku dan menjadi akhir perselisihan kami. Pada awalnya ia mengacuhkanku namun aku menarik lengannya paksa.
"Aduuhhh.. kamu ngapain sih?" tanyanya.
"Kenapa jadi kamu yang marah sama aku, harusnya aku yang marah tau nggak. Kamu yang selalu gangguin aku.." ucapku bete.
"Ya akulah yang harusnya marah sama kamu. Dasar cewek sombong.." balasnya lagi lalu kami sama-sama tertawa geli melihat tingkah kami yang seperti anak kecil sedang berantem. Lalu aku menyerahkan obat luka beserta plester di mejanya.
"Diobati dong bu dokter.. biasanya kan kamu yang ngobati anak-anak lain, ini kok cuma nyerahin obatnya doang.." pintanya usil. Aku hanya tersenyum lalu mulai mengobati lukanya.
"Kenapa? Galau dicuekin cewek cantik sepertiku?" candaku.
"Iss GEER... Aku.. aku kesel aja lihat cewek yang sombongnya minta ampun.." balasnya salah tingkah dan aku hanya tersenyum sembari terus mengolesi obat luka hingga selesai.
"Maaf ya Ra.. aku jahat sama kamu, selalu gangguin kamu.." ia meminta maaf padaku dan menjulurkan tangan.
"Aku juga minta maaf sama kamu atas ucapan kasarku yang membuatmu sakit hati, maaf ya.." balasku menjabat tangannya dan menjadi awal pertemanan antara aku dan Iqbal.