Aleta pun mempersilahkan Farrel yang sudah membawa tas ransel besar segera memasuki rumahnya.
Setelahnya mereka semua berkumpul di ruang tengah membicarakan rencana yang akan mereka susun untuk pendakian besok pagi.
"Jadi setelah ini kita naik motor sampai ke stasiun lalu kita taruh motor di penitipan motor di dekat stasiun, setelahnya kita naik kereta jurusan Bogor. Setelah sampai sana kita ke arah Cibodas. Kita akan naik gunung lewat jalur itu. Setelahnya kita tidur dulu di pos pertama, pos tempat istirahat." ujar Farrel yang saat itu sedang duduk diatas sofa bersama Mirna.
"Oh lewat jalur Cibodas mah enggak sulit." ujar Aleta
"Terus kita naik gunungnya jam berapa? Udah malem soalnya." tanya Mirna.
"Lo sanggup enggak kalo sekitar jam 1 malam?" tanya Farrel pada gadis itu. Mata Mirna langsung membulat ketika mendengarnya.
"Hah? Malam banget. Apa enggak takut jam segitu, nanti ada dedemit lagi." ujar Mirna menggidik ketakutan.
"Biasa banget deh Mir kamu suka parno duluan. Enggak ada kok, lagian nanti banyak temannya disana. Ini soalnya ngejar waktu supaya bisa lihat matahari terbit. Sayang loh kalo enggak bisa liat matahari terbit." ujar Aleta.
"Gitu ya. Tapi bener kan banyak orang?" tanya Mirna.
"Iya bener. Soalnya banyak orang yang lebih memilih waktu itu buat mendaki, supaya bisa lihat matahari terbit." terang Aleta
Beberapa saat kemudian mereka pun sudah menaiki tunggangannya, Aleta naik motor sendirian sedangkan Farrel membonceng Mirna. Tampaknya gadis itu merasa senang bisa dibonceng oleh lelaki tampan macam Farrel.
Jadi seperti ini rasanya dibonceng oleh lelaki tampan di malam Minggu. Meskipun belum menjadi pacar, Mirna sangat bahagia hanya dengan hal ini.
Setelah mereka sampai di stasiun kereta, mereka menaruh motornya di tempat penitipan. Lalu mereka masuk ke dalam stasiun dan membeli tiket.
Menempuh perjalanan sekitar 1,5 jam didalam kereta untuk sampai ke kota Bogor. Lalu dari sana mereka menaiki angkot yang mengarah ke cibodas.
Untungnya perjalanan malam, jika siang pasti tidak akan keburu mengejar waktu karena kemungkinan macet.
Dua jam kemudian sampailah mereka ke salah satu daerah yang terletak di kaki gunung gede. Mirna merasa sangat lelah.
Melakukan perjalanan jauh selepas pulang kerja memang melelahkan, ia salut dengan Aleta yang sudah menganggap ini sebagai hal biasa.
Mereka mendirikan tenda di pos pertama. Aleta membantu Farrel mendirikan tenda. Sedangkan Mirna hanya menonton mereka. Waktu SD saja ia disuruh mendirikan tenda hasilnya selalu rubuh, apalagi ini.
Setelah selesai mendirikan satu tenda. Farrel pun membantu Mirna mendirikan tenda. Saat itu Mirna hanya mengikuti apa yang ia suruh.
Mengangkat tenda dan memasang patok kayu ke tanah. Farrel yang melihat Mirna sedikit kesusahan lantas mendekatinya dan menimpa tangan gadis itu dengan tangannya, mencoba agar patok kayu itu menancap tanah.
Agak sedikit kesulitan karena tanahnya agak keras. Mirna yang tangannya terus dipegang oleh tangan Farrel langsung berdegup parah jantungnya.
Ia merasa meleleh jadi blue band detik itu juga, dekat dekat dengan Farrel benar benar membuatnya kepanasan.
Aleta yang melihat Mirna tampak gugup langsung tertawa. Sepertinya rekan kerjanya itu sedang kesusahan menahan degup jantungnya. Terlihat dari tangannya yang terus memegang dadanya.
Setelah berhasil mendirikan tenda. Aleta dan Mirna masuk ke dalam tenda pertama. Sedangkan Farrel masuk ke dalam tenda kedua. Barusan Farrel menghimbau pada mereka agar tidur terlebih dahulu selama beberapa jam hingga pukul 01.00 dinihari karena mereka akan mengikuti banyak orang melakukan pendakian di malam hari.
Ada banyak tenda yang berdiri disana bukan hanya tenda mereka saja. Bahkan sebelum masuk ke dalam tenda Farrel sudah berkenalan dengan beberapa orang disana.
Ia membicarakan beberapa hal terkait keikutsertaannya dalam pendakian nanti malam. Ia juga sempat berkenalan dengan team leader yang akan memimpin pendakian nanti malam.
Mirna dan Aleta rebahan sambil melihat atap tenda. Mirna beralih memiringkan posisi tidurannya menatap Aleta.
"Al, Lo kenal si Farrel sejak kapan?" tanya Mirna penasaran.
"Udah lama, dia teman masa kecilku Mir." terang Aleta.
"Lu curang banget sih, enggak kasih tau gue kalo lu punya teman masa kecil seganteng itu " ujar Mirna.
"Yee, emang harus gitu dipublikasiin? Emang menurut kamu dia ganteng ya? Biasa aja ah. Eh apa karena aku sering ketemu dia ya jadi nganggepnya biasa?" ujar Aleta.
"Yang kayak gitu Lo anggep biasa Al.. gue heran deh mau yang kayak gimana sih selera lu?" tanya Mirna. Aleta nyengir.
"Coba ceritain pertama Lo kenal sama dia? Gue penasaran." tanya Mirna.
"Awalnya itu pas aku SD, dia nolong aku yang lagi dipalakin sama teman. Lalu setelahnya aku diajakin pulang bareng, katanya dia satu komplek dengan rumahku. Mulai dari saat itu aku jadi dekat sama dia. Awalnya aku merasa aneh sih pas pertama liat dia, dia itu mirip anak anjing yang aku tolong, bahkan di ujung keningnya ada luka yang ditempel plester mirip yang aku tempelin ke anak anjing itu." ujar Aleta, Mirna tersenyum mendengarnya.
"SMP kita sekelas. Sebenarnya itu awalnya karena ayah Farrel enggak mau anaknya repot repot nyari teman baru. Jadi ayahnya memasukkan dia disekolah ku karena hal itu."
"Berarti Lo dekat banget ya sama dia? Bahkan ayahnya menyarankan anaknya bersekolah ditempat yang sama kayak Lo." ujar Mirna.
"Iya dekat. Apalagi saat ayahnya tahu kedua orang tuaku meninggal, keluarga mereka bahkan berniat mengangkat aku sebagai anak. Tapi aku menolaknya. Aku enggak mau banyak ngerepotin orang lain." terang Aleta. Mirna menyimak.
"Tapi mereka tetap membantu aku setelahnya, Farrel sering main ke rumahku dan membawa makanan. Dia juga suka membantu aku tiap kali aku kesusahan. Dia orang yang baik. Aku sudah menganggap dia sebagai kakakku sendiri meskipun kita seumuran. Oh iya aku juga pernah bekerja sebagai waitress di kedai makannya." ujar Aleta.
"Oh dia punya kedai makanan juga?" tanya Mirna.
"Iya, lama aku kerja di kedai makanannya. Lalu setelahnya aku dapat panggilan kerja di restoran 21 dan bekerja disana hingga sekarang." ujar Aleta.
"Enak banget ya hidup Lo, dikelilingi sama cogan. Pertama pak Alister kedua Farrel." ujar Mirna.
"Kamu juga dikelilingi sama cogan. Melki contohnya hahaha.
"Melki mah bukan cogan, tapi combro!"
"Hahaha isinya oncom." Aleta tertawa geli.
Mirna tiba tiba menguap, Aleta pun ikutan menguap hingga membuat mata mereka berair dan mereka pun tertawa.
"Gue yakin terlepas dari semua penderitaan Lo selama ini, akan ada aja orang yang bakal menjadi malaikat pelindung Lo.
Malaikat pelindung yang selalu menjadi pahlawan didalam hidup Lo, memberikan Lo kebahagiaan dan menjauhkan Lo dari kesukaran." ujar Mirna.
Aleta terkejut, entah kenapa perkataannya mengingatkannya pada Alister. Sedang apa ya dia sekarang?
Sang malaikat pelindung...
Seseorang yang selalu ada ketika dibutuhkan...
Beberapa jam kemudian
Aleta terbangun tiba tiba dari tidurnya dan mengerjapkan mata. Ia berkeliat sebentar lalu melihat jam di ponselnya. Ternyata sudah jam 12 malam.
Ia yang melihat bayangan seseorang di luar tenda sedang duduk langsung memutuskan untuk membuka resleting tendanya dan keluar.
Ternyata bayangan seseorang yang sedang duduk adalah Farrel.
Saat ini tepatnya ia sedang duduk didepan api unggun, memindahkan kayu bakarnya dalam posisi berdiri, agar terbakar semua oleh api.
Ia terlihat kedinginan saat itu, beberapa kali tangannya disembunyikan kedalam saku jaket karena saking dinginnya.
Aleta berjalan mendekati Farrel dan mengagetkannya. "Dor!"
"Eh elo, bukannya tidur." ujar Farrel.
"Kamu juga bukannya tidur." balas Aleta ikut duduk di atas kayu rotan bersamanya.
Farrel yang melihat Aleta menggigil hingga memasukkan tangannya ke saku jaket langsung merasa terganggu. Ia masukkan tangan kiri Aleta ke dalam saku jaketnya dan genggam erat.
"Sekarang Lo enggak kedinginan lagi Al." ujar Farrel dengan sinar mata yang teduh ketika menatapnya. Aleta tersentak, entah kenapa ia bisa merasakan ketulusan Farrel saat itu. Kenapa ya dia tiba tiba bersikap aneh seperti ini. Tidak seperti biasanya.
Mendadak suasana diantara mereka jadi memanas, jantungnya pun berdebar tidak karuan saat itu.
Aleta merasa sangat canggung begitupun Farrel. Tidak ada yang bersuara saat itu, selain suara api yang membakar kayu didepannya.
Tiba tiba Farrel bersuara. "Gue senang cowok itu enggak ikut." ujar Farrel.
"Maksud kamu pak Alister?" tanya Aleta
"Namanya Alister? Jangan jangan dia Alister yang itu!" Farrel mendadak teringat dengan sang pangeran ular putih yang memiliki julukan si haus darah. Mungkinkah dia sang pangeran ular yang sudah menghabisi banyak nyawa manusia itu?! Pangeran ular putih dari keluarga Maximilian!
Aleta yang melihat Farrel tampak cemas pun langsung menyadarkan lamunannya. "Rel?" tanya Aleta. Farrel tersadar.
"Kenapa?" tanya Aleta cemas
"Enggak kenapa napa Al." jawab Farrel. "Gue hanya enggak suka aja Lo dekat sama cowok itu. Dia sangat sangat berbahaya." ujar Farrel.
Aleta mengernyit.
"Berbahaya? Berbahaya gimana?" tanya Aleta penasaran.