Pendakian

1096 คำ
"Ya pokoknya dia itu kelihatannya aja mungkin baik, ramah, sopan tapi diam diam dia menghanyutkan." Salah satu hal yang perlu Aleta ketahui hanyalah itu. Semenjak ia tahu Aleta seperti tidak mengingat apapun mengenai kenyataan bahwa Alister adalah siluman ular putih, Farrel harus menyembunyikan semua fakta ini dan menjadikannya rahasia. Bahkan kemungkinan besarnya ingatan Aleta dihapus oleh Alister yang membuktikannya tidak bisa mengingat apapun di hari ketika ia diculik beberapa waktu lalu. Aleta tertawa kecil. "Farrel, Farrel.. kamu ngomong kayak gitu seolah udah kenal dia lama aja padahal baru ketemu sekali." ujar Aleta heran. "Gue berpikir secara naluri Al, cowok yang tiba tiba ngedeketin Lo padahal baru kenal itu patut dicurigai." ujar Farrel. "Iya sih. Dia memang agak mencurigakan." ujar Aleta sambil membayangkan kebaikan Alister selama ini. "Ya kan? Coba lu pikir, dia itu kayak ngincer sesuatu didalam diri Lo." ujar Farrel. "Mengincar sesuatu? Seperti apa?" tanya Aleta penasaran. "Gue juga enggak tahu Al. Tapi gue rasa dia lagi mengincar sesuatu di elo. Entah itu apa." ujar Farrel. Aleta jadi ikutan curiga dengan Alister. Masalahnya semua hal tentangnya itu misterius. Dia tidak pernah terlihat makan atau makan siang dihadapannya. Tidak ada yang tahu latar belakang mengenainya secara keseluruhan. Hal yang hanya ia dan para karyawan tahu, dia hanya seorang anak presiden direktur restoran 21. Hanya itu informasi yang ia ketahui tentangnya. Farrel melihat jam di ponselnya. Saat ini sudah pukul 00.57 dinihari "Bentar lagi jam satu Al." ujar Farrel. Sesuai jadwal, tepat pukul 01.00 dinihari para pendaki akan memulai pendakian ke atas gunung. Aleta menjawab. "Iya Rel, tuh udah pada bangun." ujar Aleta melihat beberapa orang termasuk leader team yang sudah keluar dari tenda. "Aku bangunin Mirna dulu ya Rel." ujar Aleta yang lantas bangkit dan langsung pergi ke tendanya. Aleta membuka resleting tenda dan masuk. Ia bangunkan Mirna saat itu juga. "Mirna, kita mau nerusin perjalanan." ujar Aleta. Mirna masih terlelap bahkan ia hanya mengusik saja saat Aletaencolek colek tubuhnya. Ternyata Mirna kebo juga tidurnya. Aleta pun punya cara lain dalam usaha membangunkannya. Ia bisiki telinga Mirna sesuatu. "Bangun Mir, ada kecoa di kepala kamu." bisik Aleta. Namun Mirna masih tidak bergerak sama sekali, ia benar benar pulas "Cara ini kurang ampuh apa ya. Kecoa mungkin udah jadi temannya Mirna." ujar Aleta. Ia pun kembali berbisik di telinga Mirna. "Ada tikus makanin baju kamu Mir." bisik Aleta. Mirna masih pulas. "Kayaknya tikus juga udah jadi temannya Mirna. Ahh aku punya ide." Aleta seperti punya ide cemerlang. Ia lepas kaus kaki yang dipakai oleh Mirna lalu ia dirikan diatas hidung gadis itu. Lima detik masih terdiam namun beberapa detik langsung bersin bersin. Mirna langsung batuk berkali kali saat itu. Ia membuka matanya dan kaget melihat ada kaus kaki diatas wajahnya. Ia langsung memaki Aleta sambil muntah muntah. "Lo gila apa Al! Stres lu!" maki Mirna. Aleta tertawa geli. "Itu kaus kaki kamu Mir, masa sama kaus kaki sendiri kebauan hahaha." Beberapa saat kemudian dengan senter ditangan atau dikepala. Aleta, Mirna, Farrel dan lima orang lainnya termasuk team leader memutuskan untuk melakukan pendakian detik itu juga. Semuanya merasakan kesejukan udara saat itu yang membuat tubuh mereka menggigil kedinginan. Aleta bahkan beberapa kali bersin bersin karena kedinginan. Farrel langsung melepas syal yang dipakainya lalu lilitkan ke leher Aleta. Aleta terkejut, entah kenapa ia merasa Farrel begitu perhatian padanya belakangan ini. Namun Aleta tidak mau terlalu memikirkan tentang perubahannya ini. Mirna bisa melihat mereka berdua yang tampak seperti sepasang kekasih saat itu. Entah kenapa ia merasa iri dengan Aleta, tapi ia coba menghalau perasaan itu. Bagaimanapun ia harus mendukung perjalanan cinta Aleta! Pepohonan, semak belukar dan jalan bebatuan mewarnai perjalanan mereka saat itu. Aleta, Mirna, Farrel berjalan di paling belakang, Mirna lah yang membuat jalan mereka lambat. Ia terlihat kelelahan saat itu. Mungkin karena ia masih sangat mengantuk bahkan beberapa kali ia terlihat menguap. Lelah karena habis pulang bekerja dan masih mengantuk adalah faktor yang membuat Mirna berjalan lambat. Namun ada beberapa jalan yang tinggi dan licin karena tanah merah bekas hujan kemarin. Farrel berulang kali membantu Mirna dan memegang tangannya. Saat itu Mirna semakin kagum dengan Farrel yang tampak sigap membantunya. Beberapa saat kemudian mereka sudah berjalan melewati pos kedua. Dalam pendakian ini ada empat pos. Itu artinya masih dua pos lagi untuk sampai ke puncak gunung. Mirna terus memegang area Miss Vnya. Ia kebelet pipis. Aleta yang melihatnya terus goyang goyang tidak karuan itu langsung bertanya. "Kamu kenapa Mir haha?" tanya Aleta. "Gue kebelet kencing Al, duh enggak ada WC apa disini?" tanya Mirna "Enggak ada Mir. Kalo enggak kamu kencing dulu gih nyari pohon." ujar Aleta. "Anterin kek Al. Plis." pinta Mirna. "Iya yaudah ayo." ujar Aleta langsung beranjak pergi dengan Mirna setelah sebelumnya ijin dulu kepada Farrel dan leader team. Mereka mencari pepohonan disekitar sana dan akhirnya ketemu. Mirna segera mendekati pohon namun sebelum itu ia berkata sesuatu pada Aleta. "Al, lu madep sana. Burungnya enggak mau keluar nanti." ujar Mirna. "Haha emangnya kamu punya burung? Iya iya. Aku kesana ya." ujar Aleta langsung bergegas menjauh dari Mirna. Aleta terus berjalan lalu berhenti ke depan banyak pepohonan. Suasana sangat menyeramkan saat itu. Ini pertama kalinya Aleta melakukan pendakian sepagi ini. Benar benar dingin cuacanya, Aleta sesekali meniup atau mengusap tangannya karena kedinginan. Tiba tiba saja ia merasakan sesuatu bergerak dari balik semak semak. Aleta mencoba mendekati semak semak itu namun sesuatu seperti keluar dari semak semak dan berpindah ke belakang pohon. Aleta mencoba mendekati pohon, perlahan lahan Aleta coba mengintip makhluk apa yang ada dibelakang pohon. Aleta langsung tercengang ketika melihat seekor macan tutul kecil berada tepat dibelakang pohon. Tepatnya saat ini ia sedang menjilati kakinya yang terluka dan berdarah. Macan itu yang melihat ada Aleta disana langsung pergi meskipun jalannya pincang. Ia berjalan cepat dan masuk ke dalam portal. Aleta terkejut dan coba mendekati portal yang berada didepannya. Aleta coba menjangkau portal itu sembari berjalan mendekati, langkah demi langkah hingga akhirnya ia tertekan dan masuk ke dalam portal itu. Alister membuka kedua matanya yang semula terpejam dan bangkit beralih dalam posisi duduk. Ia bisa merasakan kehadiran Aleta di dunia itu. Tepatnya saat ini Alister sedang berada didalam sebuah gua. Itu adalah tempat biasanya beristirahat melepas lelah. Bisa dibilang sebuah rumah keduanya setelah kerajaan siluman ular putih. Semenjak ia menjadi buronan ayahnya dan banyak menghabiskan waktu di dunia manusia, ia jadi sering menjadikan gua itu sebagai tempat bersemayamnya. Alister lantas memejamkan matanya dan mencari dimana keberadaan Aleta saat itu. Ia terkejut saat melihat bayangan Aleta yang sedang dikejar oleh sekumpulan siluman macan tutul. Alister lantas membuka pejaman matanya dan segera bangkit berdiri. Pemuda tampan berpakaian serba putih itu segera berjalan keluar dari gua lalu perlahan menghilang.
อ่านฟรีสำหรับผู้ใช้งานใหม่
สแกนเพื่อดาวน์โหลดแอป
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    ผู้เขียน
  • chap_listสารบัญ
  • likeเพิ่ม