Riri tidur terlentang dengan selimut ungu pudar yang menyelimuti tubuhnya. Setelah kejadian diruang makan yang membuat dadanya sesak, Riri meminta untuk makan di kamarnya sendiri. Sebelumnya Dave dan kembar Dawson meminta Riri untuk diperiksa terlebih dahulu, takut-takut jika Riri memang memiliki gangguan pernapasan.
Tapi dengan lihainya Riri menolak, dan berakhir dengan tidur lebih awal seperti ini. Setidaknya Riri tidak akan merasa sesak ketika tidur, itu yang melintas dalam kepala Riri. Matahari masih menggantung tinggi dan Riri sudah mulai terbangun dari alam mimpinya, ia bergumam aneh lalu membuka matanya kecil. Ia masih sangat ngantuk tapi tidurnya tidak terasa nyaman.
Riri bangun dari tidurnya dan memilih turun mencari salah satu suaminya. Karena jika Riri sedang seperti ini, ia perlu salah satu suaminya untuk memeluk dan menenangkan dirinya hingga ia tertidur lagi. Tapi setelah mencari ke ruang kerja dan kamar pribadi mereka, Riri tidak menemukan satupun suaminya. Riri mengerutkan keningnya, lupa bahwa hari masih siang. Dan pastinya suaminya masih berkutat dengan pekerjaan mereka masing-masing.
Riri memilih turun ke ruang santai dan mencari Fany, mungkin satu pelukan darinya dapat membuat Riri kembali tertidur. Tapi bukannya Fany yang ia temukan, tapi Dave, Daddy-nya kini tengah membaca sebuah buku tebal di sofa empuk.
"Riri sudah bangun?" Dave bertanya setelah melepas kacamata yang bertengger di hidungnya. Dave menatap wajah Riri yang terlihat masih sayu.
"Riri masih ngantuk," rengek Riri mendekat pada Dave.
"Maka tidurlah kembali. Masih ada waktu sebelum makan siang." Dave tersenyum tipis setelah melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Tapi Riri gak bisa tidur lagi. Riri pengen dipeluk sama kak Athan, baru Riri bisa tidur lagi." Riri menunduk dan memilin ujung gaunnya yang tampak kusut.
"Mau Dad peluk?" Dave bertanya sambil merentangkan tangannya. Riri mengangkat kepalanya dan mengangguk semangat. Riri langsung duduk di atas pangkuan Dave dan menenggelamkan wajahnya di d**a Dave yang tak kalah lebar dan kokoh jika dibandingkan dengan suami-suaminya. Dave terkekeh dan mulai menepuk-nepuk pelan punggung Riri. Tak butuh waktu lama, dan Riri benar-benar telah tertidur kembali.
Hendrik datang menyajikan teh untuk Dave. Ia sedikit terkejut dengan keberadaan Riri yang tertidur di pangkuan Dave, tapi ia segera menyesuaikan ekspresi wajahnya.
"Letakkan di sana saja Hendrik, aku masih ingin membaca buku ku." Dave memang melanjutkan acara membacanya, ia memegang buku di tangan lain yang tidak merengkuh tubuh Riri.
Dave menikmati waktunya. Angel dan Fany memiliki waktu mereka sendiri sekarang. Anak-anaknya juga sedang menyelesaikan pekerjaan mereka masing-masing. Oh jangan lupakan Cecil, tamunya itu tengah mengurusi galerinya. Sedangkan Dave? Ia tak memiliki pekerjaan hari ini, jadi ia memilih tetap di mansion membiarkan istrinya bersenang-senang dengan perlindungan yang ia siapkan di luar sana. Suara pintu terbuka mengalihkan perhatian Dave dari buku yang sedang ia baca. Anaknya yang paling keras kepala muncul dibalik sana.
"Selamat datang Tuan Farrell. Maaf saya tidak menyambut Anda di depan." Hendrik membungkuk hormat pada Farrell.
"Tak apa Hendrik." Farrell bergumam dan duduk dengan nyaman di sofa tepat di hadapan Dave yang kini tengah memangku istri kecilnya. Farrell tanpa sadar mengepalkan tangannya. Dave melirik pada wajah Farrell yang memiliki lebam tipis di sana. Lebam yang juga menarik perhatian di acara sarapan tadi pagi.
"Kenapa pulang sangat awal?" tanya Dave datar tanpa mengalihkan perhatiannya dari buku.
"Aku hanya ingin mengecek keadaan Riri," jawab Farrell tak kalah datar dan dingin.
Dave terkekeh pelan, tak ingin membangunkan Riri yang masih tertidur. "Riri sudah dalam kondisi yang baik-baik saja. Sesaknya tadi pagi tidak ada hubungannya dengan kondisinya tadi malam." Dave mengelus pelan rambut Riri sedikit memberikan sindiran di sana, menyebabkan gemeretak terdengar dari rahang Farrell.
"Berikan Riri padaku Dad." Entah sejak kapan Farrell telah berdiri di dekat Dave dan berusaha melepaskan tangan Riri yang melingkar di leher dadnya. Riri bergumam dan membuka matanya pelan. Riri tersentak ketika ia bangun dan melihat wajah Farrell yang dihiasi lebam berada di dekat wajahnya. Riri segera beringsut menjauh dari Farrell dengan cara kembali menenggelamkan wajahnya dilekukan leher Dave. Perlu diingat, Riri tak tahu di malam ia merasakan sakit, Farrell juga memberikan haknya dan ambil alih dalam mengobati Riri.
"Riri lepas. Ikut aku sekarang!" Suara Farrell terdengar membuyarkan lamunan Riri ketika mengingat ucapan Cecil tadi pagi.
Riri mengintip dari balik bahu Dave. “Nggak mau. Riri mau sama Dad aja." Suara Riri teredam bahu Dave.
"Riri ...." Farrell berdesis rendah karena penolakan Riri. Farrell sudah akan menarik Riri dengan paksa sebelum sebuah suara menghentikan gerakannya.
"Kak El? Sedang apa?" Farrell berbalik dan melihat Cecil di depan pintu.
Farrell berdehem. Dan berbalik bertanya, "Cecil kenapa sudah pulang? Bukannya kauada acara sampai malam nanti?" tanya Farrell.
"Acaranya tidak jadi. Aku memilih kembali dan kupikir untuk mengajak Riri membeli kado ulang tahunnya." Cecil mendekat pada Farrell dan bergelayut di tangan kekar Farrell. Riri mengintip dibalik helaian rambutnya. Bibirnya mencebik kesal ketika Cecil bermanja-manja dengan suaminya itu.
"Apa Riri masih tidur? Kenapa Riri tidur di pangkuan paman?" Cecil melirik Riri yang masih betah duduk diatas pangkuan Dave.
"Riri sudah bangun." Dave menjawab dan mengelus helaian rambut Riri yang terurai sepunggung.
"Riri tidak boleh ke mana-mana." Farrell memberikan perintah. Riri langsung mengangkat wajahnya dari bahu Dave. Riri mengerutkan keningnya ketika sebuah ide melintas di kepalanya. Ia turun dari pangkuan Dave, dan berdiri di sisinya.
"Riri ikut kak Cecil. Riri mau kado Riri." Riri berbicara tanpa melihat Farrell. Farrell berdesis marah merasa tertantang dengan pemberontakan kecil Riri. Cecil yang merasa bahagia segera terlonjak dan memeluk Riri.
"Paman kami siap-siap dulu ya." Cecil menarik tangan Riri untuk segera bersiap-siap pergi tak memperhatikan wajah Farrell yang telah menggelap dan Dave yang tersenyum tipis. Tak butuh waktu lama dan kini Cecil telah menarik Riri menuju mall ternama di new York.
"Riri ingin hadiah apa?" Tanya Cecil riang ketika mereka melihat-lihat barang yang dipajang dengan rapi. Mata Riri sudah tertuju pada boneka kelinci berwarna biru yang terlihat sangat lembut. Mata Riri berbinar membayangkan tangannya menyentuh dan memeluk boneka biru itu, ah betapa bahagia hatinya walau hanya sekedar membayangkannya saja. Cecil bisa menangkap keinginan Riri itu dan ia tersenyum.
"Ah aku dengar kemarin kauberulang tahun ke-17 bukan?" Riri mengangguk mengiyakan.
"Kalau begitu kausudah dewasa. Jadi aku sepertinya akan memberikan hadiah untuk kedewasaan mu, Riri." Cecil menarik Riri menuju butik yang berada di lantai eksklusif bagi orang-orang yang berdompet tebal.
Riri mengernyit, saat melihat baju yang dipilihkan oleh Cecil. Tapi Riri terdiam saat mendengar penjelasan Cecil”Jangan protes, aku memilihkan hadiah yang sangat cocok untuk ulang tahunmu kali ini. aku akan membuatmu lebihdewasa, karena aku tahu Kak El sangat tidak menyukai wanita yang kekanakan.”
Riri menurut ketika dipaksa untuk duduk diam dan menerima polesan kosmetik di wajahnya. Riri pasrah, toh ia percaya Cecil tidak akan berbuat macam-macam. Dave juga tampak percaya saat menitipkannya pad Cecil.
Langit berubah menjadi gelap dalam waktu singkat. Kni Cecil dan Riri telah berada dalam sebuah mobil yang melaju menuju tempat yang diinginkan oleh Cecil. Ririmengerutkan keningnya. “Tadi Kakak Cuma bilang akan mengajak membeli hadiah kan? Sekarang kita mending plang.”
Cecil tersenyum manis. “Tidak. Tadi aku bilang akan membuatmu menjadi dewasa bukan? Jadi, aku akan menuntaskannya. Kaubelum dewasa jika belum berkunjung ke tempat ini.” Akhirnya Riri kembali diam, walau tangannya terrlihat saling meremas cemas.
Mobil berhenti, dan Cecil segera menarik Riri untuk turun dan melangkah menuju sebuah bangunan yang tampak memiliki pencahayaan yang remang. Riri ditarik untuk masuki bangunan tersebut. Cecil terrsenyum pada seorang pria yang menjaga pintu masuk.
“Aku datang dengan temanku,” ucap Cecil sembari melepas mantel yang ia kenakan. Hal itu membuat gaun merah darah yang membalut tubuh moleknya. Riri yang melihatnya tampak kebingungan, padahal tadi Cecil tidak mengenakan pakaian itu.
“Riri, ayo lepas mantelmu.”
Riri tersentak, Riri menggeleng, ia malu jika harus membuka mantelnya. “Cepat buka mantelmu, jika tidak kaubuka, kita tidak bisa masuk. Lihat, sudah banyak yang mengantri,” bisik Cecil.
Riri pada akhirnya melepaskan mantel yang ia kenakan dengan setengah hati. Hal itu membuat pria penjaga menelan ludah, karena penampilan Riri yang sungguh memesona. Pria penjaga itu segera membuka jalan dan memepersilakan keduanya untuk masuk.
Begitu masuk, Riri segera menutup telinganya. Musik yang menghentak terasa mengocok isi kepalanya. Kini kedua tangan Riri sibuk untuk menutup telinga serta membenahi gaun mini yang ia kenakan. Jujur saja, Riri tak merasa nyaman. dengan gaun yang ia kenakan, maupun tempat asing yang penuh sesak ini.
Riri tiba-tiba terbatk saat tak sengaja menghirup asap rokok yangn diembuskan oleh salah satu pengunjung. ‘Ugh, Kak Cecil, Riri mau pulang!”
“Kenapa? Kauharus enjadi wanita dewasa mala mini!” Cecil baals berteriak.
“Ta-tapi—“
“Tidak ada tapi-tapian Riri.” Cecil menarik Riri agar duduk di meja bartender.
“Aku pesan yang biasa ya.” Cecil mengedipkan mata pada sang bartender, yang dijawab menggunakan senyuman maut si bartender. Sedangkan Riri kini mengelus lengan atasnya yang terekspos, mala mini sangat dingin.
Riri merasa risi saat roknya yang pendek membuat pahanya yang putih menjadi terlihat saat dirinya duduk. Ah Riri benar-benar ingin pulang. Di sini terasa menakutkan bagi Riri.
“Oh ayolah Riri, enjoy! Ini, minumlah dulu!” Cecil menyodorkan gelas kecil pada Riri. Karena kebetulan Riri haus, maka minuman itu segera tandas.
***
Farrell terus menggerutu dalam hati. Ia masih kesal karena Dave mengizinkan Riri pergi bersama Cecil. Dan kini pembuat kekesalannya itu akan pulang ke Belanda karena ada masalah yang mendesak.
“Sayang, jaga Riri ya. Fany akan ikut dengan Mom. Riri tidak boleh mengetahui kondisi Fany, atau ia akan sedih,” Angel mengelus lemut rahang Farrell.
“Sampaikan permintaan maaf Mom pada saudaramu yang lain, Mom tidak bisa menuggu mereka pulang. Mom harus kembali sekarang juga.” Farrell mengangguk dan membalas pelukan Angel, sebelum Dave dengan cepat menarik Angel darinya.
“Bersikaplah lebih bertanggung jawab, El. Kausudah menjadi suami, tetapkan dalam hatimu jika Riri adalaprioritas yang tak bisa kauduakan,” ucap Dave.
Farrell menatap kedua orang tuanya yang sudah memasuki mobil. Atensinya teralihkan saat mendengar suara Fany. “Tuan Farrell, mohon biarkan saya meminta satu hal.” Mendengar itu, Farrell hanya berdehem sebagai jawaban.
“Tolong jaga Riri. Saya bicara sebagai ibunya. Saya tahu, jika Riri terkadangsangat kekanakan …” bukan terkadang, tapi selalu, sela Farrell dalam hati. “… tapi itu karena Riri yang tidak mendapatkan kasih sayang cukup saat kecil. Saya mohon, Tuan menjaga Riri dengan sebaik-baiknya.” Fany menunduk hormat lalu undur diri.
Setelah mengatar kepergian mereka, kini Farrell tengah menunggu laporan dari anak buahnya. Ya, Farrell memang memerintahkan salah satu anak buahnya untuk mengikuti jejak Cecil.
Farrell mengangkat telepon dan langsung bertanya, “Di mana?”
Rahang Farrell segera mengetat saat mendengar jaawaban lawan bicaranya. Tanpa banyak kata, Farrell segera memanggil Hendrik, “Kita, ke Marquee Club.”
Tak butuh waktu lama bagi Farrell untuk sampai ke tempat yang ia tuju. Masih diikuti oleh Hendrik, dirinya masuk ke dalam club dan melihat Cecil yang tampak tengah ketakutan. Ia tengah digoda oleh seorang pria.
Farrell mendekat dan berdehem, pria yang mengganggu Cecil segera lari kocar-kacir saat melihat wajah sangar Farrell. Cecil sendiri segera menangis kerars dan merangsek ked lam pelukan Farrell, tapi Farrell dengn sigap menahan bahu Cecil dan bertanya keras,
“Di mana Riri?!”
Dengan tangan bergetar, Cecil menunjuk pada lautan manusia yang tampak mengglla di lantai dansa. Farrell tentu saja merasa bingung, tapi sesaat kemudian napasnya terasa terenggut. Farrell segera mengerahkan Cecil pada Hendrik dan memerintahkan Cecil untuk pulag terlebih dahulu dengan mobil yang ia tumpangi sebelumnya.
Tanpa menunggu Cecil pergi, Farrell segera melangkah mennuju lautan manusia yang sejak tadi menarik perhatiannya. Karena status Farrell yang disegani, para pengunjung club yang awalnya tertawa dan menari gila-gilaan, kini berubah tegang. Karena kehadiran Farrell yang melangkah dengan aura yang mencekam.
Sedangkan Farrell kini hanya terfokus pada titik yang sedari tadi ia incar. Ia hanya menatap gadis bergaun biru yangtampak sangat bersemangat menggoyangkan seluruh tubuhnya. Gadis itu berjingkrak-jingkrak tanpa alas kaki. Tangannya yang mungil menunjuk ke atas dan tawanya terdengar riang. Wajahnya yang manis tampak memerah, dan matanya sayu.
Farrell menggeram marah, ketika pandangannya turun dan melihat bagian perut dan pusat gadis itu terlihat bebas. Beberapa lelaki tampak bergerak di sekelilingnya dan bergoyang seirama. Gadis bergaun biru itu terlihat semakin bersemangat dari waktu ke waktu. Dan tepat sebelum salah sat tangan pria menyentuh pinggangnya, Farrell telah menarik dan menghantam p****************g itu dengan membabi buta.
Setelah puas melampiaskan amarahnya, Farrell berdiri dan membenarkan letak jasnya yang kusut. Ia berbalik dan melihat gadis bergaun birutengah bersandar di d**a seorang pria dan memainkan tangannya dengan manja di sepanjang d**a pria itu.
Wajah Farrell memerag dengan rahang yang terkatup erat. Kedua alisnya mengerut hampir menyatu. Urat-urat di sekitar kening dan lehernya menonjol, tanda bahwa dirinya benar-benar tengah menahan amarah. Satu detik kemudian Farrell berteriak marah, ketika pria asing itu mencoba memeluk gadis bergaun biru.
“Riri!”