Ida menatap mata lawan bicaranya dengan mimik penasaran. “Kamu tahu siapa pengirim e-mail itu?” tanyanya. “Tidak, tapi tak ada salahnya mencoba untuk datang. Dia juga mengajakku ketemuan di kafe yang letaknya tidak jauh dari sini,” jawab Davien. Dirinya menyeringai, “Perempuan murahan itu benar-benar memba …” “Namanya Anastasia Hameldon, Davien, jangan menyebutnya seperti itu!” potong Ida sebal. “Oh, jadi kamu membela dia?” sindir Davien. Ida menggeleng. “Bukannya aku membela dia,” sanggahnya. “Lantas?” tanya Davien agak ketus. Dia menghela nafas sejenak. “Karena aku dan Anastasia sama-sama wanita, dan aku berani jamin tak ada satupun wanita di dunia ini yang sudi dipanggil dengan sebutan w************n,” jelas Ida serius. “Ya, ya, terserah apa katamu,” ucap Davien acuh tak acuh. T

