Kekesalan Hana

1207 คำ
Aku dan Raya saling berpandangan, ada apa Hana malam - malam begini mencari Raya. "Mas." Raya menaikkan dagunya, sebagai isyarat, harus bagaimana. Aku segera turun dari ranjang dan memunguti pakaianku yang tergeletak di lantai kamar. "Mbak … Mbak Raya." Kembali suara Hana terdengar. Ketukannya semakin kencang, sekencang debaran dalam dadaku. "Pakai baju, aku di kamar mandi," ucapku dengan berbisik. Hana masih saja mengetuk pintu, dan memanggil nama Raya. Membuatku Raya semakin panik. Raya segera turun dari ranjang, aku berlari ke kamar mandi. "I … iya sebentar." Terdengar suara Raya berteriak menjawab panggilan Hana. Aku buru - buru mengenakan pakaian. Dadaku sudah berdebar tak karuan. Apa Hana tau aku sedang bersama Raya? Apa dia tadi melihatku masuk kesini? Banyak pertanyaan berjejal dalam benakku. "Ada apa?" Terdengar pintu dibuka dan suara Raya. "Maaf mengganggu, saya mau minta tolong." Suara Hana terdengar setelahnya. "Boleh masuk?" "Apah?" Suara Raya terdengar kaget. "Masuk." "Oh … i … iya." Raya terdengar gagap. "Kepala saya pusing sekali. Biasanya baru enakan kalau sudah dikerok. Papa Luna masih disana. Mbak Raya bisa bantu kan?" Suara Hana terdengar lebih jelas, Hana memang punya kebiasaan aneh. Kalau kepalanya pusing pasti minta dikerok tengkuk dan punggung atasnya. "Oh … bi … bisa," jawab Raya. "Mbak Raya sakit?" Terdengar Hana bertanya. "Ng … nggak. Kenapa?" "Mbak Raya keliatan pucat." Tak ada jawaban dari Raya, suara hening. "Bagian sini Mbak, leher sampai punggung atas saja." Kembali terdengar suara Hana. Suasana kembali hening untuk beberapa saat, tak ada suara Hana atau juga Raya. "Mbak Raya, sudah berkeluarga?" tanya Hana. "Su … sudah," jawab Raya, terdengar gugup. "Mbak Raya, kok kayaknya marah sama saya. Apa saya punya salah?" Kembali suara Hana terdengar. " Nggak." Raya menjawab singkat. Hana terus saja bertanya dan bercerita, meski Raya hanya menjawab satu dua patah kata. Raya terdengar enggan bicara. Kenapa Hana lama sekali, dia terus saja bicara. "Sudah malam, aku mengantuk." Akhirnya Raya menyela kalimat Hana. "Oh, iya." Hana menjawab singkat. "Terima kasih sudah dibantu." "Huamm." Raya terdengar menguap. "Ada apa lagi?" "Nggak, kayak nyium bau parfumnya Papa Luna. Perasaan saya saja sepertinya." Tak ada suara lagi, sampai akhirnya terdengar pintu ditutup dan kembali dikunci Huff … Aku segera keluar dari kamar mandi. Sisa debaran dalam dadaku masih terasa. Raya masih berdiri dekat pintu dengan menyilangkan tangannya di d**a. "Istri Mas menyebalkan sekali," keluhnya kemudian. Aku tak menjawab apapun. "Mas mau ke kamar," ucapku kemudian. "Terus urusan kita?" tanya Raya. Aku menarik napas dalam. Hasratku hilang seketika, apalagi saat sadar aku tak bisa lagi. Raya hanya akan mencibirku saja nantinya. "Lain waktu saja, sudah jangan cari masalah." Aku beranjak mendekat pintu tak kupedulikan Raya yang berdiri dengan bibir manyun kesal. Aku segera keluar dan berjalan ke kamar di mana Hana berada, hanya beberapa langkah. "Belum tidur?" tanyaku pada Hana. Saat aku masuk dia masih terlihat sibuk dengan ponsel di tangan ya. "Tadi mau tidur, kepala Hana pusing. Sepertinya masuk angin. Hana sampai minta tolong ke Mbak Raya buat minta di kerokin." Hana bercerita kemudian. Hana terlihat biasa, aku mulai merasa lega. "Mau mas pijit?" tanyaku kemudian. "Nggak usah, Hana mau tidur aja. Mas jangan lupa bersihkan badan dulu sebelum tidur," ucap Hana kemudian. "Apa?" "Mas, cuci kaki, tangan, muka kan abis kumpul sama orang banyak," ucap Hana lagi. "Oh, iya," jawabku. Aku beranjak ke kamar mandi, badanku terasa penat. Tapi, kalau aku mandi Hana pasti curiga. Lebih baik seperti katanya tadi saja. ▪•▪ "Iya, iya … abis antar anak - anak saja." Hana terdengar bicara dengan seseorang di telepon. Siapa yang pagi - pagi begini menelponnya. "Yang itu, mainkan abis ini. Jangan lupa save kasih liat aku nanti. Pasti lucu hahaha." Hana tertawa, apa yang mereka bicarakan. "Iya, siap. Makasih banyak Beb, Waalaikumsalam," ucap Hana, kemudian menurunkan ponsel yang tadi menempel di telinganya. "Siapa?" tanyaku kemudian. "Oh, Yola. Mau minta antar belanja, Hana bilang abis anter anak - anak aja nanti." Hana menjelaskan. "Oh." Responku singkat. "Mas, yang tas kemarin jadi kan, dibelikan?" Hana menagih janjiku kemarin sewaktu di resort. Mengingatnya membuatku kesal, tapi pagi ini aku merasa berbeda. Pagi tadi sewaktu bangun … apa aku sudah normal lagi. "Sayang …." Aku mendekati Hana yang sedang menyisir rambut di depan cermin. "Apa?" Hana nampak terkejut saat aku memeluknya dari belakang. Sebuah kecupan aku berikan di tengkuk putihnya. Terasa tubuh Hana menegang. "Coba lagi, yuk!" pintaku padanya. "Hana udah mandi, Mas. Ini mau nyiapin anak - anak juga." Hana beralasan. "Ayolah, sayang." Aku memohon padanya. Hana hanya terdiam, tak merespon apa - apa. "Ya?!" Hana mengangguk pelan. Aku putar tubuh Hana hingga kami saling berhadapan, lengkung sabit itu segera kubekap dengan bagian yang sama. Tanganku ikut bekerja. 'Tok … tok … tok." Suara ketukan pintu mengagetkanku dan Hana. "Mas …." Terdengar suara Raya diluar sana. Aku dan Hana saling berpandangan, Hana mengangkat dagunya. Aku menggelengkan kemudian mengangkat bahu. Hana merapikan bajunya, aku juga kemudian melangkah keluar. "Mas …." Raya langsung memelukku, membuat aku kaget setengah mati. Hana langsung menatapku tajam. "Mbak, jaga sikap." Hana mendorong Raya yang nampak ketakutan. "Ada apa?" tanya Hana kemudian. "Datang - datang main peluk laki orang." Hana terlihat marah. "Ada apa?" Aku ikut bertanya. "Ada … ha … hantu." Wajah Raya semakin pucat. "Hantu? Hahahaha …." Hana tertawa lepas. "Mbak jangan mengada - ada, mana ada hantu. Pagi - pagi lagi." "Mas, aku nggak bohong. Ada suara nenek - nenek tertawa." Wajah Raya semakin pucat. Tawa Hana semakin kencang, ada apa dengan Raya. Selama tinggal bertahun - tahun di rumah ini, tak pernah menemui hal aneh. "Kamu mimpi?" tanyaku kemudian. "Nggak, Mas. Aku lagi di kamar mandi. Ada suara kayak orang bersenandung gitu, tapi serem. Habis itu suara Nenek - nenek tertawa. Raya nggak mimpi." Raya bersikukuh dengan ceritanya. "Raya takut …." Raya akan kembali memelukku, Hana dengan cepat maju di depanku. "Dengar ya, Mbak. Ga usah cari - cari alasan, atau ngarang cerita aneh - aneh. Mbak aja kali yang kegatelan … sengaja mau peluk - peluk suamiku." Hana terlihat meradang. "Hei jangan bicara seenaknya ya, ini juga su …." "Sudah … sudah, cukup." Raya hampir saja kelepasan. "Dengar, Mbak Raya. Tidak ada hantu atau apalah itu. Mungkin halusinasi Mbak saja." Aku mencoba menengahi. "Mas, nggak percaya sama aku. Mas jahat." Raya berlari pergi dengan wajah kesal. "Mas jahat? Ngambek? Dia pikir dia siapa? Sakit jiwa benar - benar." Hana terlihat heran dengan sikap Raya. Aku tak menimpali apa - apa, apa Raya sedang mabuk? Tapi dia tidak sedang minum. Tak ada bau alkohol juga, lalu … "Hana, jadi ngeri sendiri, Mas. Jangan - jangan benar dia lagi stress, depresi atau bahkan sakit jiwa. Orang waras nggak akan peluk suami orang seenaknya. Dihadapan istrinya lagi." Hana terlihat sangat kesal, bahkan marah sepertinya. Aku belum pernah melihat dia marah seperti ini. Wajar, Raya juga tak bisa menjaga sikap. Bahkan dia hampir kelepasan tadi. Serumah sepertinya bukan ide yang bagus. Aku harus membujuk Raya, atau semua akan semakin runyam. "Hana mau urus anak - anak dulu. Mas mandi aja, Hana siapin sarapannya." Hana beranjak masih dengan wajah kesal menuju kamar anak - anak. Aku tak menjawab apa - apa, jangan - jangan Hana benar. Tapi, selama ini Raya nampak baik - baik saja. Apa karena aku tidak tau saja, kan baru semingguan ini tinggal bersama. Bersambung.
อ่านฟรีสำหรับผู้ใช้งานใหม่
สแกนเพื่อดาวน์โหลดแอป
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    ผู้เขียน
  • chap_listสารบัญ
  • likeเพิ่ม