"Hai, ini jagoan sama princess-nya? Siapa namanya?" Bima tersenyum menyapa kedua anakku, yang menyambut senyumnya.
"Iya, ini Abang Al, ini namanya dedek Luna." Hana memperkenalkan dua anak kami. "Salim dulu, sama Om Bima!"
Al dan Luna turun dari kursi dan mendekat, kemudian salim pada Bima. Tampak bergantian Bima mengusap kepala kedua anakku. Fokusku pindah pada Hana yang sedari tadi mengulas senyumnya.
"Abang mau makan apa? Luna juga apa? Bunda ambilkan." Tanpa sadar sambutan di depan telah selesai. Semua telah dipersilahkan mengambil makanan yang telah disediakan pihak resorts.
"Terserah Bunda," ucap Al.
"Sama." Luna ikut menimpali.
"Tunggu di sini ya?!" Hana beranjak dari tempat duduknya. Dia tak bicara padaku sama sekali.
Bima melihat ke arah Raya. Raya juga melihat ke arah pria itu, Raya menyungging senyumnya. Tangannya terulur, mau apa dia.
"Saya Raya." Raya memperkenalkan dirinya.
"Oh, Bima." Bima menjawab sambil menerima uluran tangan Raya. "Keluarga?" tanya Bima, tatapannya mengarah padaku.
"Iya." Aku menjawab singkat.
"Mau ambil makan dulu." Pria itu menarik tangan yang sedari tadi Raya genggam. Kemudian beranjak dari kursinya.
"Mas, kenapa? Kek sebel banget gitu sama, Mas Bima." Raya bertanya padaku, aku hanya menggeleng. Pandanganku mengikuti langkah Bima. Nah benar kan, dia kembali mendekati Hana.
"Mas, mau kemana?" tanya Raya saat melihat aku berdiri.
"Ambil makan, kamu disini. Tungguin Al sama Luna," jawabku langsung beranjak pergi.
"Sayang, Al minta ayam saja tadi." Aku mencari alasan untuk mendekati Hana.
"Oh, iya. Masih antri ini." Hana menjawab, karena bersamaan, di area sajian masih terlihat antrian.
"Mas aja yang ambilkan, kamu tunggu di meja." Aku bicara dengan suara lembut. Kemudian mengambil piring dari tangan Hana.
"Oh, ya udah. Jangan lupa sayurnya dipisah," balas Hana kemudian.
"Mas, Hana balik meja dulu." Hana berpamitan pada Bima.
"Ntar aku susul." Bima membalas, dahiku mengkerut. Andai bukan atasanku, sudah ku
… ehh, kesal sekali melihat caranya menatap Hana. Aku benar - benar tidak suka.
"Yang terlihat berkilau belum tentu berharga. Jangan sampai keliru, membuang permata, demi pecahan kaca." Bima berucap tanpa melihatku. Tapi, aku tau itu ditujukan padaku.
"Ingatlah banyak pria yang akan siap membahagiakannya. Hanya pria bodoh saja yang tak bisa menghargainya." Kembali Bima berbicara.
"Bapak bicara dengan saya?" Akhirnya aku bertanya. Apa yang dia ucapkan seolah sedang menyindirku.
"Kamu merasa?" tanyanya sambil menoleh padaku.
"Tidak." Aku menjawab singkat. Kenapa dia semakin menyebalkan sekali. Aku beranjak bergabung ke antrian, mereka mengalah dan memberikan tempat.
Aku mengisi dua piring di tanganku dengan nasi dan lauknya. Satu piring untuk Al dan Luna, satu piring untukku dan Hana.
▪▪
"Mas suapin, kamu suapin Abang sama Luna," ucapku ke Hana. Dia nampak sedikit bingung atas sikapku. Tapi, dia tak membantah atau menanyakan apapun.
Bima datang dengan piringnya, sengaja aku bersikap mesra ke Hana. Raya nampak berjalan di belakang Bima.
"Sayang, ada kotor." Aku mengusap bibir Hana dengan jariku. Dan aku suka melihat ekspresi pria itu.
Denting sendok dan piring yang beradu dari arah Raya, menandakan dia sedang kesal. Aku pura - tak memperhatikan, dia pasti kesal atas sikap mesraku pada Hana. Aku pura - pura tak mendengarnya.
Selepas makan pagi nanti, semua diminta segera ke tempat acara hari ini berlangsung. Akan banyak permainan dan banyak hadiah yang dibagi. Panitia sudah menyiapkan dengan cukup baik acara hari ini.
"Raya tunggu di kamar saja," ucap Raya yang entah sejak kapan berdiri di sampingku. Aku sedang mengambil minuman untuk Hana dan anak - anak. Bima sedang bergabung dengan karyawan lainnya. Jadi aku bisa sejenak meninggalkan Hana di meja.
"Iya," jawabku ke Raya.
"Kok, iya." Aku menoleh ke arah Raya, dia yang minta aku iyakan masih salah juga.
"Kan, kamu yang minta." Kening mengkerut.
"Sudahlah, laki - laki memang tidak peka." Raya berucap dengan kesal. Apalagi salahku? Kenapa wanita sering kali membuat bingung. Sudahlah …
•○•
Aku tak melihat Raya, di tempat acara . Sepertinya dia benar - benar kembali ke kamarnya. Kembali pandanganku mengedar ke arah Bima, yang sedang mengobrol dengan Agung, dan Deni, supervisorku.
Hana dan kedua anakku, tampak membaur dengan keluarga karyawan lainnya. Panitia sedang menyiapkan alat permainan.
"Bapak ikut juga kan?" Aku menoleh, Arga sudah berada di sampingku.
"Game yang mana?" tanyaku kemudian.
"Ini, kekompakkan. Jadi Bapak dan Ibu nanti bawa balon dari arah sana, jalan sampai sana. Balonnya dikasih dikening, nggak boleh jatuh." Arga menjelaskan.
"Boleh." Aku menjawab cepat, sepertinya bagus untuk meredakan kemarahan Hana.
Setelah semua disiapkan, pembawa acara memanggil namaku dan Hana. Dia nampak terkejut, tapi datang juga.
"Tumben, biasanya nggak pernah jadi peserta," ucap Hana sesampainya di dekatku.
"Ikuti saja, anak - anak mau kita ikut seru - seruan," jelasku pada Hana.
Dan benar saja, Hana terlihat sangat menikmati, tawanya berderai sepanjang permainan. Ada yang sedari tadi memperhatikanku dan Hana, yah siapa lagi kalau bukan Bima. Dasar … istri orang masih di deketin juga.
Tawa renyah Hana dan sorak gembira dari Al dan Luna membuatku begitu terlarut dalam rasa bahagia. Lama sekali aku tak merasakan suasana hati seperti ini.
•▪•
"Ye … Papa sama Bunda Hebat." Al memujiku dan Hana, Luna juga kegirangan mendapatkan hadiah dari panitia.
Pembawa acara sengaja menggodaku dan Hana, menjuluki kami pasangan yang kompak. Sebuah doa juga diucapkan untuk keluargaku. Senyumku melebar mendengarnya. Hanya sementara, mataku menangkap Raya yang berdiri di samping sebuah pohon sambil menghentakkan kakinya kesal. Hmm masalah baru …
Panitia membagikan makan siang berupa nasi kotak dan minuman kemasan. Acara berlangsung cukup seru, semua tampak bergembira.
"Mas, nggak makan?" tanya Hana, melihat aku belum menyentuh makananku. Al dan Luna memilih makan sendiri, tak mau disuapi.
"Suapin," pintaku. Hana mengerutkan keningnya.
"Ish, Luna sama Al aja, makan sendiri."
"Kan, gantian. Sekarang mas yang disuapin." Aku beralasan.
"Mas, hari ini aneh banget, sok mesra." Hana berucap sambil menatapku tajam.
"Masak, mau mesra - mesraan sama istri sendiri dibilang aneh," balasku sambil membuka tutup botol air mineral, kemudian menegaknya.
"Mbak Raya, juga."
"Uhuks …." Aku tersedak saat Hana menyebut nama Raya.
"Mas, kenapa?" Hana menepuk punggungku.
"Nggak … nggak papa." Aku menjawab, sambil sedikit membusungkan d**a, untuk melegakan dadaku.
"Mbak Raya, mau sampai kapan dirumah kita?" Hana tiba - tiba membahas Raya.
"Sa … sampai dapat kerja." Aku menjawab sedikit tergagap.
"Nyari aja nggak, mau dapat dari mana."
"Ya, katanya abis ini coba masukin lamaran - lamaran, ke perusahaan." jawabku.
"Lulusan apa sih?"
"SMA sepertinya." Aku menelan saliva saat Hana menatapku tajam sambil terus bertanya.
"SMA ngelamar ke perusahaan, bagian apa?" Hana kembali bertanya, dan aku dibuat tak bisa menjawab. Ijazah SMA nya saja kejar paket setauku.
"Kenapa tanya aku? tanya orangnya sendiri sana. Mana mas tau, kenal juga belum lama," jawabku, untuk menghindari kecurigaan Hana.
Hana berhenti bertanya, hatiku sedikit lega. Dia kalau sudah bertanya sangat mendetail sekali. Salah jawab, Hana akan terus mengejarnya.
▪•▪
Malam ini, selepas makan malam panitia sudah menyiapkan hiburan. Tampak bersiap dua orang penyanyi wanita dengan pakaian mininya. Ada acara pemilihan karyawan teladan dan beberapa kategori lainnya.
"Mas, anak - anak ngantuk. Hana bawa ke kamar ya?!" Hana meminta untuk kembali ke kamar lebih dahulu. Dia benar, Al dan Luna sudah terlihat mengantuk. Raya tak mau bergabung dengan Hana di meja yang sama, Raya duduk bersama Amalia, dan staff yang lain.
Aku sedikit khawatir atas kedekatan Raya dan Amalia. Dari tatapan matanya, sepertinya Amalia tau aku memiliki hubungan dengan Raya. Bisa jadi, Amalia lah yang memberi tau sewaktu Hana ke kantor tempo hari. Ini bukan hal yang bagus.
Hana menggendong Luna dan menggandeng Al, keluar dari ruangan. Aku tak melihat Bima juga sejak sore. Mungkin dia sudah pulang, baguslah, setidaknya bisa mengurangi rasa sakit di kepalaku.
Ponsel pribadiku bergetar, pasti Raya. Baru saja Hana pergi, dia tak membuang waktu.
Sebuah pesan masuk, mengatakan dia akan menunggu di kamar. Aku memintanya bersabar, aku pimpinan disini, tak mungkin meninggalkan acara secepat ini.
[Pintar - pintarnya, Mas cari alasan] balas Raya kemudian. Aku hanya menjawab iya, agar tak berkepanjangan.
Belum setengah jam, aku baru saja selesai membacakan award untuk karyawan terbaik. Dan , baru kembali ke meja. Ponsel sudah kembali bergetar, aku merogoh saku. Seperti biasa Raya sudah bersiap dengan lingerie-nya. Foto seksinya dia kirim dengan berbagai pose, aku menelan saliva. Raya membuat otakku semakin panas.
[Tunggu setengah jam lagi]
Balasan aku kirim ke Raya. Aku kembali mengikuti acara sambil memikirkan cara yang tidak mencolok untuk keluar dari sini.
•
Akhirnya aku pamit pada Arga dengan mengatakan Hana kurang enak badan. Segera aku bergegas keluar, Raya pasti sudah menunggu. Aku meminta Raya untuk tidak mengunci pintu kamarnya. Sesampainya di depan kamar Raya, aku melihat kondisi sekitar setelah aku pastikan aman aku segera masuk dan menguncinya kembali.
Raya tak terlihat di atas ranjang, dia keluar dari kamar mandi dengan mengenakan lingerie yang tadi digunakan di foto. Kembali aku menelan saliva, saat melihat Raya berjalan dengan melenggak lenggokkan tubuh sintalnya.
Dia menyambutku dengan sebuah ciuman yang cukup panas. Raya sangat ganas malam ini, mungkin karena cukup lama berpuasa. Aku dengan cepat terbakar oleh syahwatku.
"Mas, kok???"
Terjadi lagi hal yang sama … aku tak bisa melakukannya.
"Mas, kenapa?"
Aku tak bisa menjawabnya, wajah kecewa Raya nampak jelas.
"Mbak … Mbak Raya, sudah tidurkah?" Aku kaget setengah mati saat mendengar ketukan di pintu dibarengi suara Hana.