Dua

1133 Words
❤️❤️❤️ Seorang pria tampak sesekali melirik arlojinya karena bosan. Sudah hampir setengah jam ia duduk terdiam di jok mobil kesayangannya, namun seseorang yang ia tunggu belum juga datang. "Prang!!" Ini ketiga kalinya ia menangkap suara gaduh dari dalam rumahnya. Tidak perlu bertanya, ia sudah tahu jawabannya. Tidak mungkin jika Bi Surti yang selalu bekerja rapi yang menyebabkan suara gaduh itu. Dan selang beberapa menit, munculah sosok yang telah lama ia tunggu. Sosok yang juga menjadi terduga dari kegaduhan yang sejak tadi Andrea dengar. "Bi, Bi, tolong itu bukain dulu pintu belakangnya!" "Baik, Non," Andrea masih terdiam di posisinya. Ia hanya dapat menghela napas panjang dan berdoa agar Tuhan memberinya kesabaran yang lebih besar lagi. "Prang!!" "Astaga," ringis Andrea dengan volume lirih. Ia ingin mengumpat keras, tapi ia menahannya agar tidak terjadi keributan sepagi ini. 'Cklek' 'Glerrr' "Hehe... Ayo berangkat! Udah telat hampir sepuluh menit kita," ujar perempuan yang baru saja datang dan duduk di sampingnya. Tak ingin menunda-nunda lagi, Andrea segera menyalakan mesin mobilnya. "Makanya, kan udah aku ingetin buat siap-siap dari malam," ujar Andrea ketika di jalan. Sesekali pria berusia tiga puluh satu tahun itu menoleh ke arah sang istri yang sibuk menyisir rambutnya. "Aduh.. lupa, besok nggak aku ulangi deh," balas Vania dengan nada santai. Andrea berdecak. Sekilas, Vania memang seperti akan menuruti omongannya, tapi ia sudah sangat hafal dengan perempuan itu. Karena nyatanya sudah belasan kali Vania memberi jawaban yang sama atas ucapan Andrea. Tapi bisa dilihat, dia sama sekali tidak mempraktikkannya. Bahkan setelah Andrea mengingatkannya sejak semalam. "Tunggu!" ujar Vania. Andrea menoleh sebentar, "Panci sama baskom Bu Dona kayaknya lupa aku bawa deh," lanjut wanita itu. Andrea memutar bola matanya malas. "Aku sedang tidak dalam mood yang terlalu baik untuk nurutin keinginan kamu jika ingin putar balik ya, Vania," ujar Andrea malas. "Yah.. tapi kan Bu Dona udah ngasih DP nya kemarin. Gimana dong?" bingung Vania. "Besok saja. Nanti kamu jelasin baik-baik ke Bu Dona," usul Andrea. Vania berdecak dan menekuk wajahnya. "Kamu itu selalu aja gampangin urusan aku. Yang namanya orang jualan itu ya harus ngasih service yang baik, nggak bisa seenaknya," protes Vania. "Bukannya seperti itu, Vania. Aku bahkan selalu ingatin kamu buat nyiapin barang bawaan kamu, termasuk panci-panci kamu, sejak sore. Biar kalau pagi kita nggak buru-buru," Bukannya mendengarkan penjelasan suaminya, Vania malah berpaling ke luar jendela. Andrea pun hanya bisa menghela napas. Ingin sekali ia menghujat perempuan di sampingnya itu, tapi, ia kembali teringat pesan sang ayah mertua untuk selalu sabar menghadapi segala tingkah konyol Vania. Sejak dua bulan terakhir, Andrea memang belajar untuk lebih sabar menghadapi Vania. Tepatnya setelah kepergian ayah mertuanya dua bulan lalu, yang membuat Vania terguncang hebat, bahkan sampai tidak sadarkan diri hampir dua hari lamanya. Andrea tahu, selama ini, hanya Bisma, sang ayah mertua yang dapat memahami Vania sepenuhnya. Bisma adalah sosok yang paling dekat dengan Vania. Dan sebagai seorang suami, Andrea merasa bertanggung jawab untuk itu. Ia harus bisa menjadi sosok pengganti Bisma dalam kehidupan Vania. Ia harus siap menjadi telinga pertama yang siap menampung keluh kesah wanita yang telah berstatus sebagai istrinya itu. Jadi, semenjengkelkan apapun tingkah Vania, sebisa mungkin ia tetap menjaga emosinya. * 'Glerrr' Andrea memejamkan matanya sejenak karena keterkejutanya mendengar bantingan pintu yang cukup keras. Ia menoleh ke jok belakang dan mendapati sang istri tengah mengambil satu per satu barang jualannya. "Bawa sebisanya aja, nanti aku bantu!" Tidak ada jawaban dari mulut sang istri yang menandakan jika ia tak menolak tawaran Andrea. Memang dasarnya saja Vania yang gengsi tapi mau menerima tawaran itu. Dan untung saja suaminya itu cukup peka dan segera mengambil alih barang-barang di jok belakang mobilnya. "Titip di ruangan kamu dulu, nanti kalau yang pesan udah pada chat, aku ambil satu per satu," ujar Vania seenaknya. "Kenapa nggak di ruangan kamu aja sih?" protes Andrea. Pasalnya, selama ini Vania memang suka seenaknya di ruangannya. Bahkan Andrea merasa ruangannya seperti gudang pribadi sang istri. Padahal ruangan Vania juga tak kalah besar dari ruangannya. "Aku nggak mau ruangan aku berantakan, Mas," balas Vania. "Ya kan sama," lirih Andrea. "Tapi kan kamu rajin bersih-bersih, jadi nggak papa sering aku berantakin. Nanti kan tinggal kamu beresin lagi," ujar Vania kemudian berjalan mendahului sang suami. Andrea menghela napas panjang dan pasrah dengan keinginan sang istri yang sangat tidak tahu diri itu. Dengan tangan yang dipenuhi beragam perabot dapur pun, ia segera masuk ke gedung rumah sakit dan menyusul langkah istrinya. Setelah presensi, mereka berjalan ke arah lift dan menunggu pintunya terbuka. 'Ting!' Pintu lift terbuka. Vania dengan santainya masuk ke dalam lift. Sementara Andrea masih terdiam di depan pintu lift. Matanya menyorot malas ke arah seorang pria yang lebih dulu masuk ke lift daripada dirinya dan Vania. Pria itu memiliki paras yang tak kalah menakjubkan darinya. Bahkan orang-orang rumah sakit sering membanding-bandingkan penampilan mereka. Tapi, tentu saja Andrea masih jadi juaranya. Apalagi ketika ia berbalutkan jas putih kebanggaannya yang membuat karismanya lebih bersinar. "Kok nggak naik? Pintunya mau aku tutup nih. Kamu mau olahraga naik tangga?" tanya Vania polos. Andrea berdecak kemudian segera masuk dan berdiri di sebelah Vania. "Sepertinya kamu kesusahan, sini saya bawakan sebagian!" ujar seorang pria kepada Vania. "Eh, boleh. Nih!" Dengan entengnya, Vania pun menerima bantuan pria itu. Membuat mata Andrea membolat sempurna. Sudah menjadi rahasia publik jika pria yang merupakan direktur rumah sakit itu memiliki perasaan lebih terhadap Vania. Dia adalah Haical, salah seorang kepercayaan Rafael (kakak Vania) yang diberi wewenang untuk mengurus rumah sakit Keluarga Renandi. Andrea meringkas barang bawaannya, hingga dapat dibawa dengan satu tangan saja. Lalu ia merebut barang-barang yang ada di tangan Haical. "Nggak papa padahal, saya bantu saja dari pada kalian kesusahan," ujar Haical. "Iya, ih. Suka banget sama yang ribet-ribet. Gengsi ya ditolong sama saingan?" bisik Vania. Andrea melirik tajam Vania yang membuat wanita itu tertawa geli dan mendorong bahu Andrea karena gemas. 'Brakkk' Andrea menghela napas. Ia melirik malas ke arah barang bawaannya yang berjatuhan. "Tuh, kan. Saya bilang apa? Nggak papa saya bantu aja, Dokter Andrea. Jangan sungkan," ujar Haical terdengar tulus. "Udah tahu lagi bawa banyak barang, malah pakai acara dorong-dorong gemes segala," lirih Andrea yang kembali mengundang tawa Vania. Mereka bertiga; Vania, Andrea dan Haical berjongkok untuk mengambil kembali barang-barang yang berjatuhan. Namun dengan segera, Andrea kembali merebut barang-barang yang ada di tangan Haical. "Kamu ini gengsinya tinggi banget ya?" bisik Vania. "Terserah kamu mau menilai aku apa," kesal Andrea yang membuat Vania semakin cekikikan puas. Haical sendiri tidak paham dengan apa yang dibicarakan suami-istri di sebelahnya. Ia hanya sesekali melirik dan ikut tersenyum saat melihat wajah Vania yang begitu ceria pagi ini. Yang tentu saja juga membawa keceriaan untuk paginya hari ini. ❤️❤️❤️ Bersambung ..... Hay hayyy.. mulai aku masukin karakter baru di sini. Haical, sebelumnya tidak ada di Devania seri pertama kan? Jangan lupa juga buat follow ig @riskandria06 , yaaa ... biar tahu info seputar semua ceritaku, termasuk rencana terbit cetak
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD