Empat Pilar KehidupanUpdated at Oct 14, 2026, 20:23
Hana seorang gadis manis dan tomboy yang harus masuk ke sekolah khusus cowok karena "hukuman kecil" orangtua nya.
Bertemu dengan kumpulan cowok populer yang memandang rendah dan meremehkan nya..Hana berjalan dengan langkah santai, hampir terlihat malas, menuju kursi kosong yang berada tepat di tengah-tengah lingkaran pengaruh tujuh pemuda itu.
Suara gesekan sepatu dan deru napasnya yang tenang terasa kontras dengan atmosfer tegang yang ia ciptakan sendiri. Saat ia menarik kursi dan duduk dengan gaya yang sangat tidak formal—seragam yang berantakan dan celana olahraga di balik roknya terlihat jelas—suasana di meja itu mendadak sunyi sejenak.
Mark, yang tadinya sibuk merapikan letak kacamatanya dan memastikan catatan sejarahnya sejajar, tertegun. Ia menatap Hana, lalu beralih melihat seragam Hana yang berantakan, merasa sedikit gelisah melihat ketidakteraturan itu di lingkungan sekolah yang begitu disiplin.
"Kamu... yakin tidak salah masuk kelas? Ini kelas XII-A, bukan area lapangan olahraga."
Mark berujar dengan nada tenang namun ada sedikit nada peringatan dalam suaranya. Ia mencoba tetap terlihat dewasa, meski matanya tidak bisa berhenti memperhatikan betapa 'berbedanya' kehadiran Hana dibandingkan siswa lain di sini.
Hanbin justru terkekeh pelan, ia menopang dagu dengan tangannya, menatap Hana dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan binar jahil di matanya. Ia sama sekali tidak merasa terganggu; justru ia merasa menemukan hiburan baru.
"Wah, lihat ini! Gaya berpakaianmu benar-benar membuat standar kedisiplinan sekolah ini runtuh dalam sekejap. Aku suka keberanianmu!"
Hanbin menyeringai lebar, memberikan kode lewat tatapan mata kepada teman-temannya bahwa "pertunjukan" telah dimulai.
Di sisi lain, Jay hanya diam. Ia tidak bicara, namun otot lengannya yang terlihat karena lengan baju yang digulung tampak menegang saat ia mengamati aura Hana yang kuat. Sebagai kapten olahraga, ia bisa merasakan bahwa gadis ini bukan sekadar murid biasa; ada energi petarung yang terpancar darinya.
Rendy menghela napas panjang sambil menutup buku sketsanya dengan suara 'plak' yang cukup terdengar. Ia menatap Hana dengan tatapan kritis, seolah sedang menganalisis sebuah karya seni yang tidak simetris.
"Berantakan sekali... Bagaimana kamu bisa fokus belajar kalau penampilanmu saja seperti baru selesai melewati badai?"
Jiwon menyela dengan senyum manisnya yang paling menawan, mencoba mencairkan ketegangan meskipun ia sendiri merasa bingung dengan kehadiran seorang perempuan di tengah mereka semua.
"Jangan dengarkan mereka. Aku Jiwon. Selamat datang di Akademi Impian, meskipun sepertinya kamu akan menjadi tantangan terbesar bagi kami semua di sini"
Clark tertawa kecil mendengar ucapan jiwon barusan, sementara Juna hanya bisa menunduk dalam-dalam, telinganya memerah karena malu sekaligus gugup menghadapi kehadiran sosok perempuan setangguh Hana di dekatnya.