Nura harus merelakan orang yang diam-diam ia puja dan ia damba bertahun-tahun lamanya dimiliki oleh sahabatnya sendiri. Klasik memang. Tapi, masalahnya bukan terletak kepada siapa akhirnya cinta yang ia perjuangkan berlabuh. Toh, gadis penyuka puisi itu sudah belajar sedari awal bahwa cinta tak mesti bersama.
Mungkin belajar mencintai orang yang tak dicintai itu sulit. Tapi, Nura paham bahwa ada yang lebih sulit dan juga menyakitkan dari sekadar melihat orang yang kita sayang lebih bahagia dengan orang lain.
Kehilangan seseorang di saat ia sayang-sayangnya.
Bukan ini yang Sina harap. Hanya saja cinta dan asa yang tertambat, semakin terasa menjerat.
Sina tidak tahu kenapa ia disebut perebut suami orang, padahal jika dipikir ulang, ia adalah yang pertama untuk Muhyi. Lagi, pernikahan Muhyi dan Anis berlangsung ketika Muhyi tengah menjalani komitmen dengannya untuk menikah selepas ia kuliah dan pulang dari Maroko.
Sina pikir, ia yang harusnya lebih pantas untuk Muhyi. Hanya saja waktu yang membuatnya kalah cepat dan menjadikannya berada di posisi kedua.
Kendati demikian, Sina selalu yakin, suatu saat ia akan menjadi pemenangnya. Ia akan menjadi satu-satunya untuk Muhyi. Jika tidak di dunia ini, barangkali di hari yang dijanjikan Tuhan nanti.