Ada Luka Yang Tidak Pernah SembuhUpdated at Mar 15, 2026, 19:44
Malam yang Tidak Pernah Pergi
Beberapa malam tidak pernah benar-benar berakhir.
Mereka hanya berpura-pura menjadi masa lalu.Namun sebenarnya mereka tetap tinggal—diam-diam—di dalam ingatan seseorang.
Malam itu adalah salah satunya.
Langit gelap tanpa bintang.
Angin bergerak pelan di antara pepohonan di tepi danau, membawa suara air yang bergetar lembut di permukaan.
Di tempat itu berdiri tiga orang.
Namun hanya dua di antara mereka yang benar-benar saling berhadapan.
“Alya, dengarkan aku. ”Suara laki-laki itu terdengar tegang. Seolah ada sesuatu yang sangat penting yang harus ia katakan sebelum semuanya terlambat. Alya berdiri beberapa langkah dari tepi air. Dadanya naik turun cepat.“Aku tidak ingin mendengarnya lagi,” katanya.“Ini penting."
“Tidak.”
Angin malam bergerak sedikit lebih kuat.Lampu jalan yang redup memantulkan bayangan panjang di atas tanah yang lembap.
“Ada seseorang yang mempermainkan kita,” kata laki-laki itu lagi.
Alya menggeleng.
“Kamu hanya mencari alasan.”Laki-laki itu mendekat satu langkah.
“Alya—"
Namun sebelum kalimatnya selesai—
Langkah kaki lain terdengar dari belakang mereka.
Pelan.
Namun cukup untuk membuat keduanya menoleh.
Seseorang berdiri di antara bayangan pepohonan.
Sosok itu tidak mengatakan apa-apa.
Namun kehadirannya membuat udara terasa berubah.
Laki-laki itu langsung menegang.
“Kenapa kamu ada di sini?”
Sosok itu tidak menjawab.
Ia hanya melangkah lebih dekat.
Lampu jalan yang redup membuat wajahnya tetap sulit terlihat.
Namun satu hal terasa sangat jelas.
Ia tidak datang ke tempat itu secara kebetulan.
“Aku sudah memperingatkanmu,” katanya akhirnya.
Suaranya rendah.
Tenang.
Namun ada sesuatu yang dingin di dalamnya.
Laki-laki itu menggeleng.
“Kamu tidak bisa menghentikan ini.”
Angin malam kembali bergerak.
Air danau bergetar pelan.
“Sudah cukup,” kata sosok itu.
Semuanya terjadi sangat cepat setelah itu.
Sebuah langkah.
Sebuah dorongan.
Dan suara air yang pecah di tengah malam.
Alya berteriak.
Namun suaranya tenggelam oleh gelombang kecil di permukaan danau.
Ia berlari ke arah air.
Namun sebelum ia sempat mencapai tepi—
Dunia di sekelilingnya terasa berputar.
Suara-suara berubah menjadi gema yang jauh.
Dan malam itu…
akhirnya menelan segalanya.
Tujuh tahun kemudian, kota kecil itu tetap terlihat sama.
Danau itu masih ada.
Lampu jalan yang sama masih berdiri di tempat yang sama.
Namun satu hal tidak pernah benar-benar hilang dari tempat itu.
Kenangan.
Karena beberapa malam…
tidak pernah benar-benar pergi.
Mereka hanya menunggu seseorang kembali.
Untuk akhirnya mengingat semuanya.