Hariz menatap perempuan yang sedang menggandeng seorang anak kecil. Angin yang bertiup ringan menyapu hijabnya membuat semuanya berjalan lebih lambat dari seharusnya. Gadis itu tersenyum lembut, jari-jarinya yang lentik merapihkan anak-anak rambut bocah kecil disampingnya, tas berkarakter transformers yang tersampir di bahunya membuat perempuan itu terlihat begitu…dewasa?. Hariz seperti melihat masa depannya pada perempuan itu.
“Saya duluan, papanya Cetta”
Buk! Satu tonjokan tak kasat mata berhasil menyadarkan Hariz.
Tunggu sebentar, Papa? Apakah perempuan itu baru saja memanggilnya Papa Cetta? Ia bukan papa Cetta. Bagaimana Hariz bisa membersihkan kesalahpahaman yang terjadi pada otak perempuan itu? Hariz bahkan belum mengetahui namanya dan bahkan tidak yakin bisa bertemu lagi dengan perempuan itu. Tapi dalam benaknya, ia sudah menanamkan wajah perempuan itu untuk menjadi miliknya. Semoga kali ini Tuhan mau memberikan sedikit kemurahanNya agar ia bisa menjadikan perempuan itu miliknya.