I\'m a scientists.
Saya adalah orang yang senang dan mudah bersosialisasi, bertemu, bahkan bekerja sama dengan orang yang baru saya kenal. Saya pun dikenal sebagai pendengar yang baik sehingga mampu menangkap inti persoalan dan memberikan solusi yang tepat.
Saya adalah orang yang bisa mengambil keputusan dengan cepat dan tepat, bahkan saat berada pada situasi genting atau di bawah tekanan. Bagi saya, setiap pekerjaan adalah penting. Mengerjakannya dengan teliti dan semaksimal mungkin adalah bentuk tanggung jawab saya.
Saya seorang yang kreatif dan suka mencari alternatif solusi dari berbagai macam persoalan. Saya juga bersikap terbuka terhadap semua kemungkinan solusi yang ada. Kreativitas sangat membantu saya untuk menjadi pemimpin yang baik karena saya bisa mengantisipasi berbagai persoalan.
Saya adalah orang yang sangat disiplin dan fokus terhadap hasil kerja hingga cenderung idealis. Namun, saya juga bisa realistis saat menentukn target atau tujuan dan selalu berupaya keras untuk bisa mencapai tujuan tersebut dengan cara yang baik dan efisien.
Lahir di Melolo, 02 Mei 1990. Saya menerima gelar sarjana sains dari Universitas Nusa Cendana Kupang pada tahun 2012. Saya adalah orang yang sangat antusias dengan segala hal berbau Analisis di Laboratorium dan selalu merasa tertantang untuk mengerjakan projek-projek baru atau penelitian.
Terimakasih.
Mey and Dinal looked at each other, once again making the atmosphere awkward because they could not find a topic talk about. “Why dont you go and do something first? I also need to take care of some things.” Dinal usually had a cheerful personality, but he didnt know why, but once he met Mey, he didnt konow what to do. “Okay.” Mey nodded, got up, and walked to the study. Dinal glanced at her and also went back to the room to prepare the materials needed for tomorrows work. After being busy for about one hours, Dinal turned off the phone and raised his hand to rub the pain between his eyebrows. He got up went out. He opened the door and saw Mey came out of the bathroom. She was wearing a white robe and her short black hair was dripping with water. The expression on her face made people feel very cold. “Its getting late, let go wash up and sleep.” Her tone was indifferent. After she finished speaking, she didnt look at him anymore. She turned around and entered the room. Dinal was at a loss. He felt that she has planning to sleep with him tonight. But, but he felt that he could not accept him in his heart. Thingking of this, Dinal felt that his heart beating so fast that it was difficult for him to breathe. After struggling in the bathroom for half on hour, Dinal finally came out of the room. He found a set of long sleeve pajamas and wrapped himself tightly. When he returned to the room, he didnt see Meys figure and could not help but quietly sigh in relief. After all, he and her were already legal wife and husband.
Entah apa yang kini kurasakan saat keadaaan tak lagi seperti yang dulu.
Begitu cepat dunia mengembalikanmu kepada Sang Pencipta.
Kini semua tarasa berbeda ketika kau pergi tanpa pesan apapun, bahkan ketika lemah dan tak berdaya kau menutupi dengan bahasa tubuh menyemangatiku yang berpikir kau baik-baik saja.
Kau pergi dengan kesederhanaan dan tak menyusahkanku, namun sakit ini masih ada dan terus ada. Mungkin bahagiapun tak mampu ku berikan sepenuhnya untukmu saat kau masih di sampingku, "maafkan aku tak sempurna." Dad I miss u 😭.
Terimakasih untuk cinta yang kau berikan dan tanamkan selama hidup.tak akan terlupakan. Sulit memang membendung air mata ini. tak percaya bahwa kenyataan merubah semua kebiasaan yang ada.
Masih banyak sebenarnya yang harus aku lalui denganmu dan jujur aku masih sangat membutuhkan nasehat dan merindukan banyak cerita tentang kau di masa muda dulu yang bisa ku jadikan inspirasi.
Terlepas daripada semua yang terjadi, kini ku sadari bahwa memang benar kau pergi dan membuat aku begitu sangat merindukanmu.
Enam puluh tahun tujuh bulan kau buktikan cintamu yang besar untukku.bahkan disaat terakhir kau masih memberiku sebuah jempol yang tak pernah terbayangkan itu menjadi jempol terakhir. "Dad I'm not okay".
Bicara tentang perpisahan, setiap kita tentu tidak pernah menginginkannya. Namun nyatanya perpisahan tetap akan ada. Hidup tidak terlepas dari kata mati diakhirnya. Sejatinya kita memang sementara.
Kau pun mampu membuatku rindu seberat ini. Ingin rasanya kau kembali dengan sebuah mujizat, tapi itu bukan hakku. "God Is Good All The Time".
Sekali lagi terimakasih sudah menghadirkan cinta yang luar biasa untuk ku di dunia ini. "I love you Daddy."