“Saya atas nama Daniswara Jati Praba, bercita-cita menjadi pasangan hidup Juju.”
“Saya atas nama Nafihas Juda Wimarkho, bercita-cita menjadi pasangan hidup Danis.”
Adalah harapan kecil yang diinginkan oleh Danis dan Juju saat keduanya baru mengenal cinta monyet. Harapan itu terkubur begitu saja saat keduanya putus karena sebuah kesalahpahaman. Danis pergi ke Belanda untuk kuliah, meninggalkan Juda dalam keadaan patah.
Keduanya dipertemukan kembali pada acara reuni SMA saat sudah sama-sama dewasa. Entah untung atau buntung, mereka kembali terlibat dalam sebuah hubungan yang lebih rumit.
Akankah harapan kecil mereka di masa lalu itu bisa terwujud atau akan semakin terkubur oleh realita yang tak seindah bayangan?
Belum genap satu bulan menikah, Dito dan Fania memutuskan untuk pisah kamar. Bukan tanpa alasan. Pernikahan yang tidak mereka kehendaki itu menyiksa batin dan cukup sulit untuk beradaptasi. Akhirnya mereka pun memilih untuk tidak tidur di satu ranjang yang sama.
Tidak hanya pisah ranjang, mereka berdua juga diam-diam membuat kontrak pernikahan yang diresmikan oleh pengacara kenalan Dito. Ada tiga syarat dalam kontrak yang mereka setujui:
1. Pisah kamar demi kenyamanan masing-masing (kecuali setelah berhubungan badan, baru boleh tidur satu ranjang),
2. Tidak boleh selingkuh atau berhubungan dengan orang lain selama masih terikat kontrak,
3. Pernikahan akan berakhir (cerai) jika dalam satu tahun masing-masing pihak tidak bisa saling mencintai atau salah satu pihak telah menemukan tambatan hati yang dicintai (dengan catatan: jika kedua belah pihak sepakat untuk melanjutkan pernikahan tanpa cinta, kontrak akan diperbarui setelah masa kontrak habis).
Lalu, mampukah Dito dan Fania memenuhi klausa kontrak itu?