Story By Ayu tyasti Tyasti
author-avatar

Ayu tyasti Tyasti

bc
Raka Wiryawan
Updated at Aug 5, 2022, 00:10
"bersyukurlah paling enggak selama ini apa yang kamu mau sudah terdapai bikin konten di tik tok nyanyi sampai lupa makan sekarang giliran di tawarkan jadi penyanyi di Malaysia dan konten kamu di minati malah gusar", kata Ratih ibu kandung Raka Wiryawan ketika akan berangkat meninggalkan Tegal kampung halamannya untuk menjadi penyanyi di sana, selama ini Raka berusaha menjadi seorang pekerja keras sejak Wiro ayahnya meninggal dunia, namun di tengah jalan seolah dia seperti mencari yang lain dari kebahagiaan yang di inginkan selama ini wajar saja yang kurang dalam hidupnya adalah bukan karena menjadi seorang penyanyi di Malaysia sekarang ini akan di jalaninya tapi adalah dia belum juga menikah di usianya yang sudah tiga puluh tahun. Raka menarik koper dengan satu tangannya sambil menggendong ransel hitam miliknya dan kemudian dia meninggalkan rumahnya yang sederhana tersebut sambil mencium tangan wanita bernama Ratih sang ibu yang mengantar anaknya untuk pergi ke negeri orang tersebut. dengan mobil hitam di antar oleh kakak kandungnya yang rumahnya hanya bersebelahan dengan Raka, bernama Yudi mengantar adik ke Bandara, Raka duduk di sebelah Yudi yang menyetir mobil sedangkan di belakang ada Dewi dan Adinda bercengkrama sendiri. Dewi adalah istri Yudi di usia yang tiga puluh tahun dia sudah menikah dan punya anak satu sedangkan Raka masih mengembara mencari calon istri, selama ini yang membuat Raka rendah diri akan kekurangannya tersebut rasanya hambar saja hidup di terima sebagai penyanyi di Malaysia mendapat fasilitasi gratis, tiket gratis semua susah di biaya oleh pihak di sana Tapi hidup belum punya istri di umur tiga puluh tahun. Manusia memang tidak ada puasnya tetapi semua hal itu hanya bisa di serahkan kepada Allah, rezeki dan jodoh hanya datangnya dari Allah kita manusia hanya bisa meminta kepadaNya. "koe Nopo tho dik muka kok di tekuk", ? celetuk Yudi sang kakak. "urong enek bojone dadi stress", sahut Dewi. "Mbak Dewi sama Mas Yudi ini apaan sih ahhh mudah - mudahan calon aku perempuan Malaysia pake jilbab akhlaknya apik, sholatnya rajin", sahut Raka sebal dan mereka tertawa mendengar kata - kata Raka seolah selama belum menikah masih di anggapnya bocah. Akhirnya tiba juga di Bandara, Raka menuju ke arah tempat untuk menaruh barang ke dalam bagasi pesawat dan kemudian masuk ke dalam ruang tunggu pesawat. Hening lamunan membuat dia setengah tertidur untung aja tidak di tinggal oleh pesawat yang akan di tumpanginya karena sudah waktunya masuk ke dalam kabin dan di dalam kabin pesawat, Raka duduk di kursi yang menghadap langsung ke arah pemandangan di luar kabin. Rasa kantuk mulai menyerang sambil memeluk ransel hitamnya dia tertidur dan tanpa sadar pramugari membangunkannya. "Mas bangun kita lagi transit di Singapore", katanya dan Raka terperanjat dan kemudian dia mengambil ransel yang di taruh di bawah kakinya lalu kemudian siap - siap untuk di taruhnya di atas punggungnya lagi. Sebentar lagi pesawat akan mendarat di Bandara Changi, dan ketika sudah mulai berada di kabin Bandara Raka bersiap - siap berdiri dan dan mengantri untuk keluar dari dalam pesawat dan ketika sudah masuk ke dalam Bandara. Raka berjalan dengan derap sepatu yang terdengar agak sedikit berbunyi dan kemudian dia menuju tempat mengambil barang ketika sedang berada di sana, tanpa sengaja Raka hampir menabrak perempuan berjilbab yang sedang membalikkan badannya, dia pun kaget dan mulai berpikir negatif kalau Raka akan macam - macam padanya tapi pikiran Raka justru lebih negatif lagi mengenai dirinya. Nampaknya perempuan itu bukan orang Indonesia Raka sedikit keras juga kepadanya hingga dia pun yang akhirnya justru malah terkejut melihat sikap Raka itu. "what do you want for me", kata Raka kasar dan terdengar perempuan itu marah dengan bahasa Melayu. "justru awak yang mau macam - macam sama saya, awak mau apa sama saya kalau saya teriak awak akan di tahan di Bandara ini dan tak akan melanjutkan perjalanan ke Malaysia ", katanya agak kasar. "Justru kamu yang nabrak saya duluan", balas Raka tidak mau kalah. "Awak orang Indonesie", ? tanyanya. . "Kamu pikir saya orang hutan apa", jawab Raka dengan nada suara bercanda. "Saya dari Malaysie dan saya mau pulang kampung juga selama ini saya kerja di Singapore dan kontrak kerja saya juga sudah habis di sana", kata perempuan itu. "kamu kerja di mana", ? tanya Raka. "saya pegawai hotel Grand Central di sana", jawab perempuan itu. "Kamu muslim", ? tanya Aisyah. "Muslim", jawab Raka. Perkenalan singkat namun entah kenapa membuat canggung Raka, dari tadi dia hanya diam sedangkan si perempuan mengoceh tanpa Jedah, ketika kembali ke dalam pesawat dia mengenalkan dirinya pada Raka. "Aisyah", katanya. "Raka" balas Raka dan mau menjambat tangannya tapi dia menolak dengan halus. "Belum murhim kalau bersentuhan masih takut nanti ada fitnah, seperti yang terjadi dengan Adam dan Hawa", kata Aisyah, dia menaruh kedua tangannya dan memberi salam dengan cara islami. sejenak aku meme
like
bc
Sang Pewaris
Updated at Jun 25, 2022, 10:59
Namaku Rianti Putri Anggoro, hidupku buat aku terkadang terasa semerawut kata orang Jawa bilang semenjak, mama aku Reina terkena stroke dan papa aku juga terkena diabetes basah, sehingga kakinya bengkak dan basah sehingga menjadi susah keluar kemana – mana, seiring dalam waktu yang bersamaan pun, suasana di rumah menjadi ruwet bagiku, lagi – lagi membahas tetangga, yah walau pun, bagiku terasa aneh, mereka mengapa menyarankan untuk mencari asisten rumah tangga, seolah tidak mau membantu namun, aku pikir, ada benarnya, juga hal – hal kecil yang semestinya di lakukan oleh orang di rumah, menjadi tidak bisa di lakukan, dan sementara belum ada asisten rumah tangga, tetangga ujung – ujungnya akhirnya mau membantu karena memahami, keadaan di rumah seperti apa, aku tahu siapa dalang di balik semua ini, dan aku tahu apa tujuan si pelaku, tersebut, membuat keluargaku menjadi seperti ini, aku tahu dia ingin merenggut kebahagiaan kami semua, namun aku anak tunggal dari keluarga Reza Anggoro tidak tinggal diam, atas apa yang menimpa kami semua ini, dan aku tahu sebelum mama aku Reina kena stroke dan sebelum semuanya, ada sepupu aku bernama, Tania, dan waktu itu dia sering menginap di rumah aku, kejadiannya memang tidak lama dari tahun, di mana awal tahun itu, adalah tahun musibah bagi kami sekeluarga, namun sebelumnya, itu sebuah pertanda bagiku, ada sesuatu yang akan terjadi. Aku lanjutkan ceritaku, mengenai sepupuku itu, yang bernama Tania, yah perlu di akui, kalau menurut aku dia adalah sosok artis gagal namum bergaya sombong, dan boleh di katakan justru dia yang sebenarnya pansos, atau mau panjat sosial, ada orang bilang, mulut itu cerminan diri sendiri, sikap dan semua yang menempel di dalam diri, dan di tunjukkan kepada orang lain, itulah sifat karakter asli kita, yang tanpa sengaja, orang menilai akhirnya tahu, sifat asli kita, dari itu semua. Aku memang seorang penulis, Penulis Novel, bukan soal sombong tapi ini bicara kenyataan, dan bukan soal mau pamer atau show off tapi kenyataan, aku tidak pernah berkata, mengada – ngada, dan mengarang cerita tentang apa yang di lakukan, oleh kita semua, namun wajar saja, kalau seorang Penulis itu banyak ketemu orang lain karena dari pekerjaannya, yang memang berdasarkan orang yang beli novel itu berapa banyak, Novel pertamaku, berjudul Hani sudah masuk toko buku Singapura dan aku mendapat uang 15 juta dari sana, selain itu, aku bersahabat dengan seorang artis host acara program Tv Kebajikan, dan Tania, memang seolah seperti orang kesurupan, semenjak dia tahu, aku dan keluargaku ada hubungan dekat dengan host tersebut, bernama Irfan, dia membuat karangan cerita sendiri, seolah aku dan Irfan, bukanlah hubungan baik, padahal Irfan adalah sahabat aku, Irfan Sandika, itu nama lengkapnya, dan siapa yang tidak tahu dirinya, yang juga seorang Indigo, bagiku, masalah netizen, dengan Irfan, adalah masalah pribadi, namun mengapa, orang yang membenci dia, atau hatters, selalu saja membawa – bawa aku juga, padahal apa urusannya denganku, apapun yang Irfan katakan, padaku dan komunikasi kita selama ini juga benar adanya, Irfan pernah bilang padaku, kalau kita seperti keluarga sendiri, aku sudah di anggap sahabat sejatinya, namun Tania yang tahu dan mendengar semua itu, membalikkan fakta, seolah omongan itu tidak pernah ada dan hanya karangan aku saja, aku di katakan, olehnya, hanya melebih – lebihkan keadaan, karena mau show off sebagai penulis yang belum di kenal, bahkan membuat fitnah, kalau Irfan sebenarnya di kejar – kejar olehku, omongan tersebut memang tidak ada bukti, namun karena Irfan adalah sosok artis terkenal kadang ada orang yang justru terpengaruh oleh omongan Tania. Kesabaranku sudah habis, pada waktu itu, Tania datang ke rumah, bawa donut, aku tahu ini hanya akting, aku tahu ini bukan suatu ketulusan hati untuk berbuat kebaikan kepadaku, dan aku tahu ini hanya pura – pura, dan aku tahu tujuannya, cari muka, agar aku di tuduh oleh mama aku, memusuhi saudara, padahal justru mama aku itu membela aku, atas semua ini. “Kak Rianti ini ada donut buat mama dan papa yah”, katanya berpura – pura baik, emosiku sudah meninggi aku lempar makanan itu di depan wajahnya, hingga dia melotot, aku tidak akan pernah menyakiti siapapun, kalau bukan orang itu sendiri menyakitiku, dan aku bisa menilai hati seseorang mana yang baik dan yang buruk, karena aku orang yang tulus dengan semua, bahkan persahabatanku dengan Irfan bukanlah karena aku ingin di puji, Penulis punya sahabat arti, tapi karena ketulusan hati. “asal kamu tahu yah Tania, aku sama Irfan itu benar – benar sahabat baik, terserah kamu mau memandang apa, terserahhhhh yahhhh, mau menilai apa, tapi aku bukan bela siapapun itu, urusan kamu benci sama dia, juga, bukan berarti kamu mau mengatur hidup aku seenaknya dan keluargaku, dan kamu itu siapa, cuma saudara bukan orang tuaku, sekaligus kamu perlu tahu kamu nginap di sini gratis” !!!!! bentakku keras. “Kak, aku enggak pernah bahas apapun tentang Irfan lho kak”, katanya dengan gagap.
like