Sang PewarisUpdated at Jun 25, 2022, 10:59
Namaku Rianti Putri Anggoro, hidupku buat aku terkadang terasa semerawut kata orang Jawa bilang semenjak, mama aku Reina terkena stroke dan papa aku juga terkena diabetes basah, sehingga kakinya bengkak dan basah sehingga menjadi susah keluar kemana – mana, seiring dalam waktu yang bersamaan pun, suasana di rumah menjadi ruwet bagiku, lagi – lagi membahas tetangga, yah walau pun, bagiku terasa aneh, mereka mengapa menyarankan untuk mencari asisten rumah tangga, seolah tidak mau membantu namun, aku pikir, ada benarnya, juga hal – hal kecil yang semestinya di lakukan oleh orang di rumah, menjadi tidak bisa di lakukan, dan sementara belum ada asisten rumah tangga, tetangga ujung – ujungnya akhirnya mau membantu karena memahami, keadaan di rumah seperti apa, aku tahu siapa dalang di balik semua ini, dan aku tahu apa tujuan si pelaku, tersebut, membuat keluargaku menjadi seperti ini, aku tahu dia ingin merenggut kebahagiaan kami semua, namun aku anak tunggal dari keluarga Reza Anggoro tidak tinggal diam, atas apa yang menimpa kami semua ini, dan aku tahu sebelum mama aku Reina kena stroke dan sebelum semuanya, ada sepupu aku bernama, Tania, dan waktu itu dia sering menginap di rumah aku, kejadiannya memang tidak lama dari tahun, di mana awal tahun itu, adalah tahun musibah bagi kami sekeluarga, namun sebelumnya, itu sebuah pertanda bagiku, ada sesuatu yang akan terjadi.
Aku lanjutkan ceritaku, mengenai sepupuku itu, yang bernama Tania, yah perlu di akui, kalau menurut aku dia adalah sosok artis gagal namum bergaya sombong, dan boleh di katakan justru dia yang sebenarnya pansos, atau mau panjat sosial, ada orang bilang, mulut itu cerminan diri sendiri, sikap dan semua yang menempel di dalam diri, dan di tunjukkan kepada orang lain, itulah sifat karakter asli kita, yang tanpa sengaja, orang menilai akhirnya tahu, sifat asli kita, dari itu semua.
Aku memang seorang penulis, Penulis Novel, bukan soal sombong tapi ini bicara kenyataan, dan bukan soal mau pamer atau show off tapi kenyataan, aku tidak pernah berkata, mengada – ngada, dan mengarang cerita tentang apa yang di lakukan, oleh kita semua, namun wajar saja, kalau seorang Penulis itu banyak ketemu orang lain karena dari pekerjaannya, yang memang berdasarkan orang yang beli novel itu berapa banyak, Novel pertamaku, berjudul Hani sudah masuk toko buku Singapura dan aku mendapat uang 15 juta dari sana, selain itu, aku bersahabat dengan seorang artis host acara program Tv Kebajikan, dan Tania, memang seolah seperti orang kesurupan, semenjak dia tahu, aku dan keluargaku ada hubungan dekat dengan host tersebut, bernama Irfan, dia membuat karangan cerita sendiri, seolah aku dan Irfan, bukanlah hubungan baik, padahal Irfan adalah sahabat aku, Irfan Sandika, itu nama lengkapnya, dan siapa yang tidak tahu dirinya, yang juga seorang Indigo, bagiku, masalah netizen, dengan Irfan, adalah masalah pribadi, namun mengapa, orang yang membenci dia, atau hatters, selalu saja membawa – bawa aku juga, padahal apa urusannya denganku, apapun yang Irfan katakan, padaku dan komunikasi kita selama ini juga benar adanya, Irfan pernah bilang padaku, kalau kita seperti keluarga sendiri, aku sudah di anggap sahabat sejatinya, namun Tania yang tahu dan mendengar semua itu, membalikkan fakta, seolah omongan itu tidak pernah ada dan hanya karangan aku saja, aku di katakan, olehnya, hanya melebih – lebihkan keadaan, karena mau show off sebagai penulis yang belum di kenal, bahkan membuat fitnah, kalau Irfan sebenarnya di kejar – kejar olehku, omongan tersebut memang tidak ada bukti, namun karena Irfan adalah sosok artis terkenal kadang ada orang yang justru terpengaruh oleh omongan Tania.
Kesabaranku sudah habis, pada waktu itu, Tania datang ke rumah, bawa donut, aku tahu ini hanya akting, aku tahu ini bukan suatu ketulusan hati untuk berbuat kebaikan kepadaku, dan aku tahu ini hanya pura – pura, dan aku tahu tujuannya, cari muka, agar aku di tuduh oleh mama aku, memusuhi saudara, padahal justru mama aku itu membela aku, atas semua ini.
“Kak Rianti ini ada donut buat mama dan papa yah”, katanya berpura – pura baik, emosiku sudah meninggi aku lempar makanan itu di depan wajahnya, hingga dia melotot, aku tidak akan pernah menyakiti siapapun, kalau bukan orang itu sendiri menyakitiku, dan aku bisa menilai hati seseorang mana yang baik dan yang buruk, karena aku orang yang tulus dengan semua, bahkan persahabatanku dengan Irfan bukanlah karena aku ingin di puji, Penulis punya sahabat arti, tapi karena ketulusan hati.
“asal kamu tahu yah Tania, aku sama Irfan itu benar – benar sahabat baik, terserah kamu mau memandang apa, terserahhhhh yahhhh, mau menilai apa, tapi aku bukan bela siapapun itu, urusan kamu benci sama dia, juga, bukan berarti kamu mau mengatur hidup aku seenaknya dan keluargaku, dan kamu itu siapa, cuma saudara bukan orang tuaku, sekaligus kamu perlu tahu kamu nginap di sini gratis” !!!!! bentakku keras.
“Kak, aku enggak pernah bahas apapun tentang Irfan lho kak”, katanya dengan gagap.