Story By Bulan
author-avatar

Bulan

ABOUTquote
Menuangkan isi kepala dalam tulisan-tulisan indah, membawa Aku dan kita dalam tulisan itu. Semoga Aku dan Kalian dapat berenang dalam bait-bait kata dan kalimat. terbawa dan tertenang.
bc
Kembali Bertemu
Updated at Nov 13, 2021, 19:22
Kembali Bertemu 23 desember 2011, liburan akhir tahun telah tiba, libur yang cukup panjang untuk mengunjungi tempat lama, yang hampir dilupakan oleh seorang gadis dengan tinggi badan 155 cm bernama. Yah Adinda, adalah seorang mahasiswi yang sedang menumpuh pendidikan pada perguruan tinggi yang cukup terkenal di daeraahnya. Gadis yang mulai berajak dewasa ini, mulai menyusun agenda liburannya. Dalam benaknya banyak sekali tempat yang harus ia kunjungi untuk merehatkan otak dari aktivitas perkuliahan yang begitu padat yang harus mengorbankan berat badanya turun hingga 7 kg, berat badan yang susah payah ia naikan. Sebuah buku kecil dengan sampul mini bus, penuh dengan list tempat yang menjadi objek liburan Adindai. Ia mulai dari kampung halaman Papa dan Mamanya, yang keduanya telah ia kunjungi. Lalu lanjut dengan ajakan Paman dan Bibinya untuk ikut bersama mereka, ajakan Kakak sepupunya hingga liburan bersama teman-temannya. Adinda mulai bingung harus kemana, hingga telpon selulernya berdering. “Ring… ring… ring..” “Hallo, Nenek” teriak Tachi rindu. “Bagaimana kabarmu Cucu mungilnya Nenek?” tanya Nenek. “Aku selalu baik nek, lama sekali Nenek tidak menelefon. Rindu ku telah menumpuk segudang” jawab Adinda manja. “Oooh astaga gadis kecil Nenek masih saja manja, kau tau kan sayang, jaringan telepon di daerah Nenek masih saja begini, Pemerintah kurang mempertikan keaadaan kampung-kampung di pelosok seperti ini sayang. Pahamilah gadis kecil Nenek”. Nenek mencoba menenagkan cucu kecilnya itu. “Adinda lupa Nek, kampung nenek masih saja seperti dulu” jawab Adinda. Kampung halaman Neneknya Adinda memanglah susah untuk terhubung dengan jaringan telpon apalagi jaringan internet. Dari dulu semenjak Adinda kecil, masih tinggal bersama neneknya masalah jaringan belum juga terselesaikan. Ini harusnya menjadi perhatian Pemerintah, baik Pemerintah Desa, Kabupaten/Kota maupun Pemerintah Pusat. Zaman telah maju tetapi pemenuhan kebutahan seperti jaringan saja belum mampu di penuhi oleh Pemerintah. Dan mereka pun melanjutkan obrolan dengan penuh kehangatan. Setelah pembicaraan hampir 2 jam tersebut, Adinda telah memutuskan harus menghabiskan liburannya dimana. Yah, kampung halaman Nenek. Tempat yang telah lama ia tinggalkan dan hampir terlupakan. Tempat masa kecilnya yang begitu penuh warna, pantai, sungai, kebun cengkeh, gunung begitu asri masa kecil gadis yang selalu dianggap kecil oleh Neneknya itu. Malam yang begitu sunyi, Adinda mulai menyiapakan barang-barang bawaannya. Baju, kacamata, kamera dan tentunya kopi hitam kesukaan neneknya. “Okey, semuanya telah ready. Tinggal tiket kapal dan berangkat” Ucap Adinda bahagia. Untuk sampai ke kampung halaman Neneknya, Adinda harus menggunakan jalur laut, membutuhkan waktu 12 jam pelayaran, kemudian melanjutkan perjalanan darat dengan kendaraan roda 2 atau roda 4 dengan waktu setengah jam lebih. Ini sudah cukup cepat, karena pembangunan jalan yang mulai membaik. Hari keberangkatan telah tiba, Adinda memulai liburan yang mungkin akan sangat berkesan dan menjadi kenangan yang tak terlupakan nantinya. Sepanjang perjalanan Adinda mulai mengorek kenangan apa saja yang masih ia ingat sewaktu umurnya 9 tahun itu. Yah, ia tak ingat banyak, semuanya seakan samar. Nama kawan-kawannya mulai ia ingat satu persatu, meskipun tidak sampai 10 orang. “Isya, Niara, Dian, Zara, Topan dan yah Imbra” hanya 6 orang yang mulai muncul dalam ingatannya. Setelah menghabiskan waktu kurang lebih 13 jam akhirnya Adinda sampai di kampung halaman neneknya. Desa yang masih terlihat begitu alami. Tidak banyak yang berubah sejak ia tinggalkan 10 tahun terakhir. “Assalamualaikum” salam Adinda membuka pintu rumah yang terbuat dari kayu jati dengan ukiran bunga mawar besar. “Waalaikum Salam, Ya Allah cucu Nenek sudah sebesar ini” sambut Nenek dengan peluk dan cium hangat. Adinda membuka pintu kamar yang menjadi tempat tidurnya sewaktu kecil dulu, kamar dengan jendela yang menghadap kearah barat, ia letakan koper dan membuka jendela, berhadapan dengan sebuah rumah yang mulai perlahan muncul dalam ingatannya. Rumah teman baiknya, Imbra. Anak lelaki yang selalu bersama dengannya, kemanapun Adinda pergi Ia selalu menggenggam tangannya. Adinda mulai mengingat kembali anak lelaki itu. Senyuman manis mulai terpancar seolah-olah kenangannya bersama Imbra adalah yang termanis. “Nenek, Nek..” Panggil Adinda. “ Ya sayangnya Nenek, ada apa?” Jawab Nenek. “Nek, teman kecil Aku dulu ada kan yang namanaya Imbra? Tanya Adinda penasaran. “Oh si bocah nakal” saut Nenek, sambil mennyeruput kopi hitam. “Nek Imbra masih disini? Dia tidak merantau? Kuliah? Kerja? Atau gimana nek.” Tanya Adinda seolah mengintrogasi Neneknya. “Tidak sayang, Imbra masih disini, makin nakal itu anak, tidak melanjutkan sekolah hanya duduk main dengan kawan-kawannya lalu mabuk-mabukan.” Jawab Nenek. “Kok sekarang Imbra jadi kayak gitu Nek? Jawab Adinda kecewa. “Nenek juga bingung sayang, tiba-tiba selepas SMA dia mulai nakal tidak karuan begitu.
like