Anacaona Menjelma Menjadi Ratu MafiaUpdated at Oct 14, 2026, 20:00
Ratusan ribu pasang mata tertuju pada satu sosok yang begitu dirindukan. Di atas balkon, berdiri seorang wanita berusia lima puluh tiga tahun dengan jemari yang mencengkeram erat besi pembatas, namun salah satu telunjuk jemarinya sudah menghilang. Sorak kemenangan dan tangisan haru membahana di bawah gemuruh langit yang mencekam, tatkala kilatan petir menyambar di berbagai sudut.Sebuah microphone berukuran kecil yang menempel di pakaiannya menjadi penegas pesatnya kemajuan teknologi masa kini. Dari balik matanya, memancar tatapan hangat—begitu kontras dengan bekas luka goresan senjata tajam yang baru saja mengering di sudut kelopak matanya.Tanpa pidato panjang lebar, ia hanya menyampaikan satu kalimat yang menggelegar:"Mournvale akan terbebas!"Waktu berputar cepat, menembus memori ke dua puluh delapan tahun yang lalu.Di sebuah ruangan remang, seorang pria renta tengah mendudukkan raganya di atas kursi goyang usang. Jemarinya yang gemetar asyik mengutak-atik tombol remote TV tabung, sampai gerakan jarinya mendadak terhenti pada satu siaran langsung berita CNN. Layar kaca itu memperlihatkan ratusan personel kepolisian yang tengah berdiri tegap, memberikan penghormatan terakhir kepada sang jenderal yang terbujur kaku di dalam peti mati sebelum diturunkan ke liang lahat.Jauh di sudut kota yang lain, di dalam lorong gang sempit yang gelap dan dingin, seorang bocah berusia sebelas tahun berdiri dengan jemarinya yang kaku menyerahkan sebuah neraca kepolisian kepada seorang pria bernuansa serba hitam. Bocah itu mendongak, memecah keheningan di tengah gemuruh langit yang mencekam:"Setidaknya berikan aku dua puluh Dollar!"DOR... DOR...!Dua proyektil timah panas melesat tanpa rasa iba, menyasar tepat ke kepalanya. Seringai mengerikan terukir di wajah pria tersebut yang diringi gelegar petir menyambar di segala sisi—sebuah pemandangan yang sudah lebih dari cukup untuk menggambarkan betapa busuknya jaringan bawah tanah di kota neraka ini.