Story By LAKSMIE
author-avatar

LAKSMIE

ABOUTquote
I am a story writer storage and you can also provide support if you like my work by reading it Enjoy my story and wait for my next work, see you soon
bc
MY LOVE STORIES
Updated at Mar 6, 2022, 02:36
The train stops at one of the stations in city A. A tall girl, with white skin, sharp nose, blue eyes, and long wavy hair, with simple clothes got off the train carrying a suitcase. The girl's name is Ama Batari who comes from the village. Someone waved at Ama. "Miss Ama?" asked a man approaching Ama. "Yes, I'm Ama" Ama answered. "I am the driver sent by Mr. Dani" the man introduced himself. "Yes, I'm Ama" Ama answered. "I am the driver sent by Mr. Dani" the man introduced himself. Ama nodded her head. "Come with me," said the man. Ama nodded her head again. The driver walked first without wanting to carry Ama's suitcase. Along the way, Amanda looked out the window. The driver looked Ama up and down through the rearview mirror in the car with a condescending look. Unintentionally, when the driver was looked at Ama, he met eyes with Ama. "What's the matter, sir?" Ama asked in surprise at the driver who kept staring at her. "Oh, no," replied the driver. Ama looked out again. "Um, can I ask you a question?" asked the driver to start the conversation. "Okay, what do you want to ask?" Ama answered ending with a question. "I heard, you don't want an arranged marriage with Mr. Dani. Is that true?" asked the driver. Ama glanced at the driver, then looked outside without answering the question driver. "Miss, Mr. Dani doesn't want to be matched with Miss. If I'm not mistaken, Mr. Dani already has a woman in his heart," said the driver. "But I also don't know. That's what other people said, Miss. I hope you don't get offended," he continued. Ama ignored the driver's virginity. Ama still faithfully looked outside. "Hehehe." The driver chuckled, lifting the corner of his lips. His laughter looked very disdainful. Ama looked at the laughing driver. Ama knew that the driver was laughing at her. But Ama didn't want to respond to the driver's laugh. "Huh, be patient Ama. You came here not to find trouble with other people. You came to cancel this matchmaking. You won't stay here long. Only 3 months. After 3 months, you will return to your home and live in peace" Ama said in her heart encouraging herself. After 1 hour of travel, Ama finally arrived at Aiden's residence. Ama could see a luxurious mansion, magnificent 3 floors. When getting out of the car, Ama way greeted by iva (Dani's mother) and livia or often called Oliv (Dani's cousin). The two women looked down at Ama. Ama smiled kindly at iva and Oliv. Instead of returning Ama's smile in a friendly manner, iva and Oliv Ama smiled back with a mocking smile. Ama was about to say hello by shaking iva's hand, but iva didn't accept Ama's hand. "No need to shake hands. My hands will get dirty," said iva. Ama nodded her head with a bitter smile. "Are you Ama? The woman who was betrothed to my son Dani?" asked iva ignoring Ama's outstretched hand. "Yes aunty" Ama replied pulling her hand back. "Auntie, is it true that this woman will be paired with Dani?" Oliver asked. "I think so," replied iva. "Huh, that's ugly" said Oliv insulting Ama. "How is it not bad, he comes from the village," said iva, who also insulted Ama. "That's right. The clothes are shabby, tattered, dirty, iyyuhh, disgusted," said Oliv sticking out his tongue. Ama was just silent hearing the insults from iva and Oliv. "Heh, listen to a village girl. Don't expect you to be with my son Dani. A village girl like you doesn't deserve to be my child's life partner," iva said. "Yeah. And again, you don't have to expect Dani to be matched with a dirty girl like you. Even dreaming about it it's forbidden for you a country girl" said Oliv. "Are you ready?" Ama asked. iva and Oliv looked at each other confusedly. "Is this the welcome from the Aiden family? Usually guests will be served an abundance of food. But this family is different. The Aiden family greeted guests with an abundance of insults. Really, a very special welcome" Ama said. "What do you mean?" asked iva with a sharp look. "Auntie, auntie, what do you think I came here for? Do you think I came here to conquer your daughter's heart?" Ama asked. iva and Olive fell silent. "I'm here to fulfill my grandfather's request. Yes, my aunt and I are indeed matched. But if within 3 months we don't love each other, then this matchmaking will be cancelled," said Ama. "Didn't your aunt tell you that? Uh, it's really sad. This big news, auntie didn't know it," continued Ama. Ama looked at iva intensely. "Ah, I suspect, could it be that auntie is not her biological mother? Huh, I don't know what happened in your family. It seems that the Aiden family doesn't get along, doesn't it. It seems that you often hide the truth from family members. Oops, sorry, I talk a lot.
like
bc
Sebuah Berkas Yang Sangat Bermakna
Updated at Nov 4, 2021, 04:43
BAB I Saya berada di Bursa Efek Jakarta untuk membunyikan bel pembukaan ketika saya melihatmana-mana senjata itu. Henry meraih bahuku dan ketika aku berbalik, dia menggerakkan bibirnya. Tapi aku tidak bisa menangkap kata-kata dalam semua kekacauan itu. Saya bertemu Hendry pagi itu. Saya telah diperintahkan untuk datang ke pintu samping bursa, sebuah pintu yang tidak mencolok di sebuah gang. "Aku penghubungmu," kata Hendry, nyengir lebar. Dia mengeluarkan kartu nama. "Pernah ke sini sebelumnya?" Aku menggelengkan kepalaku dan menyingkirkan rambut dari wajahku. Aku mengambil kartu itu, memberinya salah satu milikku. Selama sepuluh tahun, saya telah membagikan kartu yang sama. Tapi ini akan menjadi salah satu yang terakhir yang masih bertuliskan "CEO." "Yah, kurasa semua orang melihat lantai perdagangan. Aku akan memberimu tur di balik layar yang sebenarnya." Saya berkata, "Impian setiap pengusaha untuk melakukan ini sekali dalam karier mereka." 1 Hendry tertawa terbahak-bahak. "Aku punya firasat bagus kamu akan melakukan ini lebih dari sekali." Hendry membukakan pintu untukku, dan Saya melangkah ke sebuah ruangan beton kecil dengan penjaga keamanan di salah satu sudut dan mesin kartu waktu tua di dinding. Penjaga memeriksa ID saya, menepuk saya, dan melambai saya. Hendry membimbingku melewati koridor semen. Semua pintunya berwarna merah, warna gudang yang sama dan tidak bertanda. Rasanya seperti labirin. "Harus kuakui, aku cukup gugup." "Oh, jangan. Banyak orang membunyikan bel. Buka dan tutup. Dua kali sehari, setiap hari. Maksudku, kamu masih masalah besar, jangan salah paham. Tidak setiap hari kita mendapatkan seorang CEO Latina bertenaga tinggi berjalan melewati pintu-pintu ini. Kemarin, itu adalah Peri Gula Plum dari Met, percaya atau tidak. Tapi yang harus Anda lakukan hanyalah menekan tombol hijau." Saya tidak gugup menekan tombol. Saya gugup karena membunyikan bel adalah tugas resmi terakhir saya sebagai CEO Ancien. Itu adalah hari terakhirku. Dewan direksi telah mempekerjakan orang baru itu, dan dia telah membayangi saya dalam rapat. Mengenal staf. Bekerja pada proyek-proyek kecil di sana-sini. Hanya dalam beberapa jam lagi, matahari akan terbit di Pantai Barat, dan Toha Massin secara resmi akan menggantikan saya. "Apakah Toha ada di sini?" Saya bertanya. "Dia tiba di sini satu jam yang lalu. Dia menunggu di ruang kopi. Tidak ingin tur, hanya kata sandi Wi-Fi. Bisakah saya memperkenalkan Anda kepada kepala TI kami?" Toha mungkin ingin memulai dengan posisi barunya. Tidak diragukan lagi dia sedang menulis rentetan email penting kepada orang-orang penting. Lagi pula, itulah yang seharusnya saya lakukan. "Tidak." Hendry mengerutkan hidungnya dan menatap jam tangannya dengan canggung. "Oh, baiklah. Saya tidak menyadari betapa terlambatnya itu. Butuh kamar kecil?" "Bagus sekali." Orang malang. Menganggap hidup begitu serius. Aturan. Jadwal. Mengapa tidak lebih banyak orang yang menyadari betapa konyolnya semua itu? Tidak mungkin bos. Anggota keluarga yang tidak mungkin. Orang asing yang tidak mungkin. Semua orang berusaha menyenangkan orang lain. Baru setelah saya berhenti bermain dengan aturan orang lain dan mulai membuat aturan sendiri, saya mendapatkan apa pun dalam hidup ini. Satu-satunya hal yang membedakan pintu kamar mandi dari semua yang lainnya adalah warna merahnya dipecah oleh seorang wanita kecil bersablon putih. Aku perlu membawamu ke rambut dan riasan lima menit yang lalu," kata Hendry saat aku masuk. Aku berdiri di depan cermin dengan keringat dingin. Mungkin masih ada waktu untuk mundur. Bagaimana jika aku tidak menunjukkannya? ke atas? Mungkin mereka tidak akan membunyikan bel, dan IPO tidak akan berhasil. Perusahaan saya akan tetap menjadi milik saya. Kemudian saya menyadari betapa gilanya saya terdengar, dan saya memercikkan air dingin ke wajah saya. Aku harus mendapatkannya bersama-sama. Ini akan terjadi-kereta sudah meninggalkan stasiun. Tidak ada jalan kembali. Ini hanya formalitas. Jika saya tidak membunyikan bel, Toha akan mengumumkan perusahaan saya, dan dia akan mengambil semua pujian. Raih semua kemuliaan dari satu dekade kerja keras yang saya curahkan ke perusahaan ini. Sepuluh tahun dan beginilah cara dewan berterima kasih kepada saya? Dengan menggantikanku? Tentu saja, mereka tidak menyebutnya begitu. Tapi itulah yang terjadi. Ada ketukan di pintu. "Nona Valen, Anda baik-baik saja di sana?" "Yang akan datang." "Luna, senang bertemu denganmu," kata Toha. Aku memaksakan senyum tetapi tidak mengatakan apa-apa. Tempat itu berdengung. Kami berdiri di atas panggung yang ditinggikan menghadap ke 56 lantai perdagangan. Baunya seperti keringat dan uang. AC meledak di belakang leher saya, yang biasanya akan mengganggu saya, tetapi hari ini, udara dingin terasa segar di bawah lampu sorot. "Oke, kalian berdua," kata Hendry. "Kamera ada di sana." Dia menunjuk ke tengah langit-langit lantai perdagangan. Saya hampir tidak b
like