Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat kejadian ataupun cerita, itu adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan.
Karena hubungan kedua orang tuanya yang berantakan Catalina besar dipanti asuhan, jauh dari tempat yang layak. Selang beberapa tahun hidup dipanti dan menjadi Gadis yang cantik, Jodi Hermawan selaku Ayah tiri yang baru dikenalnya membawa Catalina meninggalkan Panti tempat dirinya dibesarkan dan membawanya ke Rumah Bordiri miliknya. Meski demikian Luzi Ibu kandungnya memilih bungkam tak memiliki keberanian melepaskan Catalina dari kekuasaan Jodi Suami barunya.
Hingga keberadaan Catalina terdengar di telinga Heru ayah Kandungnya. Dibawah kekuasaan dan harta Istri barunya Heru mampu membawa Catalina pergi jauh dari Jodi maupun Luzi mantan istrinya.
“Menikalah dengan Andreas, Dia laki-laki yang baik dan Kau akan baik-baik saja jika bersamanya!” ujarnya, sebelum meninggalkan Catalina yang mematung.
`
“Jika Kau memilih pergi, pergilah. Disana akan ada Adeline yang menunggu mu. Jika Kau memilih tinggal maka akan ada aku Tungangan mu. Jika Kau masih memaksakan untu pergi. Maka aku tak akan menahanmu dan Aku akan tetap disini selama kau sendiri yang menintaku untuk pergi.” Teriak Catalina.
Seketika Andreas menghentikan langkahnya sesaat.
Sereia adalah seorang putri duyung yang tinggal di pantai Mediterania, Gadis itu akan muncul ke permukaan begitu panas terik yang melanda kawasan Mediterania. walaupun dibilang sikapnya terlalu ekstrim Gadis itu selalu abai dalam menyikapi peraturan-peraturan yang harus di taati oleh mahluk sejenisnya.
kerap kali terlibat menampakkan diri, Sereia selalu tertarik dengan dunia manusia. dimana mereka memiliki kedua kaki yang bisa berjalan di atas daratan dan bisa menyelam di kedalaman air. Jiwanya semakin bergejolak ketika pandangan gadis itu tertuju pada lelaki jakun di depan sana, gerakannya nampak mahir dalam memainkan Ombak wajahnya yang manis dan tampan seolah memikat Sereia.
"kau tahu, Mereka adalah musuh kita. yang kapan pun bisa membahayakan kita, abaikan perasaan mu mereka makhluk tidak berperasaan!"