19.511K
VISITORS
881

ABOUT ME

LIVE ..... LOVE.... LAUGH..... REPEAT..... IG : nana.thedreamer69 Semua visual tokoh dan lokasi novel, saya taruh di IG yaa. Jangan lupa untuk follow page The Maters / add Savitri Prameswari ( my PA). Thanks all... Satu lagi, per 3 bulan sekali akan ada info GA di Instagram. Soo, keep stay tune... muachhh...

ABOUT ME

LIVE ..... LOVE.... LAUGH..... REPEAT..... IG : nana.thedreamer69 Semua visual tokoh dan lokasi novel, saya taruh di IG yaa. Jangan lupa untuk follow page The Maters / add Savitri Prameswari ( my PA). Thanks all... Satu lagi, per 3 bulan sekali akan ada info GA di Instagram. Soo, keep stay tune... muachhh...
FOLLOWING
You are not following any writers yet.
More

STORY BY Nana

Elegi Cinta Elena

Elegi Cinta Elena

0 Reads

Koridor Lachin, perbatasan Armenia dan Turki “God…” “What the hell I’m doing here?” Elena sibuk mengucap sumpah serapah sambil terus memaki dirinya dirinya. Saat itu, ia tengah berlindung di salah satu dinding bangunan rumah yang sudah setengah roboh sementara di sekitarnya, ada banyak penduduk lokal yang tengah bergeletakan dengan kondisi tubuh yang mengenaskan. Banyak dari mayat itu bergelempangan dengan anggota badan yang tak lagi utuh dan sempurna. Orangtua, anak-anak, wanita, dan remaja. Semuanya bercampur aduk di sana. Mereka bukan lagi manusia. Melainkan hanya setumpuk onggokan daging tanpa nyawa. Bau anyir darah dan asap mesiu tercium kuat di sana. Elena tak mampu berbuat apa-apa. Ia pasrah akan nasibnya. Ia pasrah akan hidupnya. Ia pasrah kalau ternyata hari ini akan menjadi hari terakhirnya di muka bumi ini. Dari serangkaian kata-kata kutukan yang ia ucapkan berentetan seperti sebuah mantra, dalam beberapa menit berikutnya, dari mulut yang sama, kata-kata itu berubah menjadi suara isakan dan doa komat-kamit yang terus meratap agar dirinya diberikan kesempatan untuk bisa melihat matahari pagi lagi keesokan harinya dalam keadaan tubuh yang utuh tanpa kurang suatu apapun. Doa yang sederhana. Tapi sarat makna… Terutama untuk dirinya di tengah-tengah suasana yang sangat genting seperti itu. Bunyi suara tembakan senapan dan desingan peluru terus terdengar dari kiri kanannya. Elena tak lagi bisa duduk. Ia langsung merebahkan dirinya di atas tanah sambil terus menutup kedua telinganya dan kedua matanya rapat-rapat. Demi apa ya Tuhan… Ia bisa terjebak di tengah-tengah situasi berbahaya seperti ini. Padahal dari salah satu sumber yang ia percaya, ia mendengar kabar kalau tentara Armenia tidak akan ada di area perbatasan hari ini. Biasanya hanya ada pasukan perdamaian dari UN dan tentara Turki saja yang sibuk berpatroli demi memastikan agar suasana terus terjaga secara kondusif dan aman terkendali. Entahlah… Mungkin hari ini ia sedang sial saja. Sudah hampir dua jam Elena berbaring di atas tanah sambal terus menutup kedua kupingnya tanpa sekalipun ia berani beranjak dari lokasinya sekarang. Tapi kemudian, telinganya menangkap sebuah bunyi lain. Bunyi desingan yang merobek angkasa dan suara itu terdengar semakin lama semakin dekat ke arahnya. Raut wajah Elena berubah horror seketika. Mukanya pucat pasi. Ia tahu benar suara apa itu. Roket misil… Tuhan… Tidak… Ia tak mau mati sekarang. Tidak hari ini. Tidak di tempat ini. No… Znggggggg….. nggg…. Selamat tinggal, dunia… Tepat di saat itu, seseorang menyeret tubuhnya dengan kekuatan yang luar biasa. Tubuhnya didekap dan dipanggul bagai sekarung beras di atas bahu seseorang. Elena tak mampu berpikir apa-apa lagi ketika peluru misil itu mendarat telak di lokasi tempatnya berada tadi… BUM!!! DUARRR!!!! Suara ledakan dan awan debu segera terbentuk. Tubuh sang penolong dan Elena itu terpental akibat pantulan suara ledakan tersebut. BAMMM!!! Tubuh Elena terbanting sukses di atas tanah berbatu cadas. Telinganye berdenging hebat akibat efek ledakan barusan. Sengatan rasa sakit yang luar biasa menyengat badannya. “Akh…” Elena meringis. Mencoba untuk duduk. Tapi rasanya sekujur tubuhnya tak lagi patuh pada perintah dari otaknya. Justru sang penolongnya yang duluan bangkit dan segera menuju ke arahnya dengan raut wajah cemas. “Bayan, iyi mizinis?” (Nona, apakah Anda tidak apa-apa?)

Updated at

Read
RED

RED

553 Reads

Sekuel dari Teman Panggilan "Pak Dewantara Laksono, Anda kami tahan atas tuduhan penggelapan pajak negara yang telah dilakukan oleh perusahaan Anda selama 15 tahun.. " "Ap… apa ini!!! Anda bercanda??? Saya sama sekali tidak pernah melakukan hal tersebut!! " protes Pak Dewantara marah, tapi akhirnya ia tetap mengikuti rombongan kepolisian yang setengah menggiringnya paksa. "Pa… papa… . " Adriana dan ibunya terpaku kaget saat melihat adegan tak terduga tersebut. Tapi belum sempat mereka berdua bereaksi, salah satu petugas kepolisian tiba-tiba berjalan mendekati kedua wanita tersebut dan mengeluarkan sebuah surat lain. "Nyonya, seluruh aset perusahaan dan rumah ini, kami sita malam hari ini juga. Kami beri Anda waktu satu jam untuk membereskan seluruh perlengkapan pribadi Anda dan silakan keluar dari bangunan ini secepatnya… " "APA???!!! " teriak Adriana kaget sambil berusaha menguasai dirinya. Tapi ibunya langsung pingsan di tempat karena shock. Acara pesta yang tadinya berlangsung meriah langsung berantakan dan kacau balau. Sebuah berkah yang berubah menjadi musibah. "PAPA!!! MAMA!!! " teriak Adriana tiba-tiba dengan nafas tersengal-sengal dan keringat dingin yang mengucur di tubuhnya. Badannya gemetar ketakutan. Wajahnya pucat pasi.

Updated at

Read
FALLEN ANGEL - THE BEGINNING

FALLEN ANGEL - THE BEGINNING

261 Reads

“Jadi, aku ini apa?” tanya Audy penasaran setelah ia duduk berhadapan dengan kedua pria berwajah tampan tersebut. “Kamu sama seperti kami… malaikat juga… dulunya…” balas pria di hadapannya yang sebelumnya memperkenalkan dirinya sebagai Azalel. “Lalu, kenapa kalian baru muncul sekarang?” tanya Audy lagi sambil menyesap frapucinnonya. “Karena kau masuk ke dalam jasad bayi yang baru lahir sehingga sulit sekali ditemukan. Sementara di saat yang sama, ada jutaan bayi di seluruh dunia yang juga terlahir di jam yang sama. Kami harus memeriksa semua identitas bayi tersebut satu persatu…” keluh Azalel dengan wajah datarnya tanpa emosi. “Lalu, bagaimana kalau aku tidak mau kembali ke surga…??” “Terserah, tapi biar kuberitahu saja ya? Memiliki kekuatan seorang malaikat di dalam tubuh manusia itu sama sekali tidak menyenangkan. Kau akan bisa menilai mereka secara jujur dan adil. Kau akan bisa melihat hal-hal yang tidak seharusnya kau lihat. Nah, kau sanggup??” Audy terdiam. Ia bingung. Ulang tahunnya sekitar 3 bulan lagi dari sekarang. Mulai dari hari ini, ia benar-benar harus berpikir dan membuat sebuah pilihan.

Updated at

Read
Story of The Rose

Story of The Rose

5.408K Reads

Mata gadis itu bersinar nyalang dan ganas. Walaupun bertubuh mungil, ia sama sekali tak gentar saat dikepung oleh sepuluh orang remaja laki-laki yang bertubuh dua kali lebih besar dari badannya. Tidak ada rasa takut di sorot matanya. Malah sebuah senyum mengejek tersungging di bibir tipisnya. “Menyerah sekarang????!!!” tanya salah satu remaja yang memegang sebuah pemukul tongkal bisbol dari logam. Gadis remaja bertubuh mungil tersebut malah tersenyum semakin lebar. “MAJU KALIAN SEMUAAA!!!” perintahnya tegas. Serentak, kesepuluh remaja tersebut langsung maju untuk mengeroyok gadis mungil di hadapan mereka. Masing-masing dari mereka sudah membawa pemukul bisbol logamnya dan semuanya siap dihantamkan tanpa ampun ke tubuh gadis tersebut. Tapi, dalam hitungan sepersekian detik ketika semua pemukul tersebut diayunkan tepat ke sasaran… Zap!!! Tubuh gadis itu menghilang!!! “WHATTT???” Semua orang terbelalak kaget saat melihat mangsa mereka tiba-tiba lenyap di depan mata. Tapi kemudian…. Sesosok bayangan muncul mendadak di belakang tubuh mereka dan langsung melancarkan serangannya secara telak ke masing-masing bagian vital dari semua tubuh penyerangnya. “AWW……!!!” “OUCHHHH….!!!!” “AKHHHH…!!!” “FUCKKKK…!!!” “DAMNNN!!!!” “SHITTTT!!!!” “UGHHHHHH….!!!!” Satu persatu mereka semua dihajar tanpa ampun. Dalam beberapa kali serangan, mereka semua roboh tak berdaya dalam waktu kurang dari 5 menit. Setelahnya, para remaja yang tadi berwajah beringas kini berganti seperti sekumpulan anak anjing yang melolong sakit dengan wajah memelas sambil memegangi anggota tubuhnya yang terkena serangan dadakan tersebut. “Tiga menit dua puluh lima detik…. “ “Ah, aku semakin lambat saja…” keluh gadis tersebut dengan tampang kecewa. Rekor terbaiknya dulu adalah dua menit tiga puluh lima detik saat melawan gerombolan preman yang secara terang-terangan menantang anggota gengnya di sebuah pasar tradisional. Akibatnya, ia langsung mengirim lima belas orang tersebut ke rumah sakit di hari yang sama!

Updated at

Read
Teman Panggilan

Teman Panggilan

28.318K Reads

Sekuel of Satu Jam Saja (21++) Johan sontak berdiri dengan gugup ketika ia mendengar bunyi langkah sepatu yang tengah berjalan memasuki ruangannya. Sang petugas hotel sendiri hanya berdiri di depan pintu dan menyilakan wanita muda berkacamata hitam tersebut untuk masuk ke dalam lalu segera menutup pintu. Memberikan privasi penuh kepada mereka berdua. Setelah pintu tertutup sempurna, wanita itu pelan membuka kacamata hitamnya dan mulai bersuara. “Jadi, sesuai dengan apa yang sudah kita sepakati…” Ucapannya terhenti tiba-tiba di udara ketika sepasang mata indahnya bertemu dengan mata dan wajah yang sangat dikenalnya dulu. Seseorang yang pernah mengisi hari-hari penuh warna di masa SMU dulu. Johan sendiri tak kalah kaget ketika menatap sosok yang tengah berdiri tegak di hadapannya sekarang. “Kau???” teriak keduanya berbarengan. ………………………………………………………………………………. “Johan Alvaro???” “Lidwina Andrea???” “Apa yang sedang kau lakukan di sini??” Lagi-lagi berbarengan. Sampai kemudian, keduanya spontan membuang muka kea rah lain dan menarik kursi untuk duduk berseberangan. “Jadi….” Kembali keduanya bersahutan berbarengan. Ah, sialan!!

Updated at

Read
REVEAL THE TRUTH

REVEAL THE TRUTH

18.383K Reads

“Hmmmm…. urusan bisnis tetap berlaku ya, Wanda. Tapi, biar bagaimanapun, aku bersyukur karena kau sudah membawaku kepada seseorang yang sudah kucari-cari selama 15 tahun terakhir.” Kening Wanda berkerut bingung. Siapa? Wanda belum sempat bereaksi ketika tiba-tiba tubuh Kronos sudah berada di hadapannya dengan sangat cepat dan tangan pria itu mencekik lehernya dengan kencang. Mata Wanda melotot ngeri sementara detak jantungnya berdebar kencang ketakutan. Gerakan pria itu sangat cepat!! Pantaslah ia dijuluki Dewa Kematian di Klan Judas. Mata Kronos berkilat keji saat memandang wajah Wanda yang mulai menangis terisak-isak dengan wajah memerah karena kurang oksigen. “Wanita cantik bermata biru di sebelah Cristan. Bawa dia kepadaku!!” ancam Kronos. Aura pembunuh yang dipancarkan tubuhnya semakin kuat. Membuat Wanda megap-megap dan sulit bernafas. “A… Arissa, maksudmu?” “Ba…. Baik…. Aku akan mengaturnya untukmu….” bisik Wanda lirih.

Updated at

Read
Satu Jam Saja  ( 21++)

Satu Jam Saja ( 21++)

565.1K Reads

6 jam sebelumnya…. Air mata meleleh deras di kedua pipi Renata ketika di tengah candlelight romantic mereka, Johan memberikannya selembar surat cerai serta surat kesepakatan untuk ditandatanganinya saat itu juga. Dengan mata buram karena air mata yang terus mengalir, Renata menatap dan membaca setiap baris demi baris kalimat yang tercatat dengan sangat detail pada kedua lembar surat tersebut. Tapi semakin lama ia membacanya, dadanya terasa semakin sesak oleh sakit hati yang tak terkatakan. “I…ini apa??” tanyanya lirih. Logikanya memahami maksud dan tujuan dari kedua surat yang ada di dalam tangannya tersebut tapi hatinya masih berusaha untuk mengingkari kenyataan yang baru saja diterimanya. Suaminya sendiri…. mau menceraikannya??? Kenapa??? Apa salahnya??? Bukankah selama 4 tahun ini hubungan mereka berdua baik-baik saja??? Jadi?? Kenapa??? “Maaf….” kata Johan penuh sesal. Dengan sangat terpaksa, ia harus melakukan ini karena ditekan oleh ibu kandung dan seluruh keluarga besarnya.

Updated at

Read
THE ROOMMATE

THE ROOMMATE

54.079K Reads

"ARGHHHHHHHHH!!!!!!" Arissa lagi-lagi harus berteriak keras-keras sambil mengubur dirinya sendiri di bawah tumpukan bantal di atas sofa ketika telinganya kembali merasa tersiksa dengan suara erangan dan lenguhan nan erotis dari teman serumahnya. Cristan Lewis. Pria tampan tapi urakan tersebut dengan sangat santainya selalu membawa pasangan tidur yang berbeda-beda setiap malamnya. Semuanya adalah para wanita cantik dan seksi dengan tubuh yang luar biasa menggiurkan. Tapi, di balik sikap egois dan menyebalkannya, ternyata Cristan adalah pewaris tunggal dari Levy Corp. Sebuah perusahaan multinasional yang memiliki cabang hampir di semua negara 3 Dunia. Lalu, Arissa hanya bisa pasrah sambil menumpang tidur di atas sofa dengan hati merana sembari ia terus menghitung waktu perjanjian kontrak mereka di mana mereka berdua "dengan sangat terpaksa" harus berbagi atap yang sama. Tanpa ia sadari, kalau sebenarnya pertemuan mereka berdua ternyata telah ditakdirkan oleh benang nasib dari jauh-jauh hari sebelumnya. Dan ternyata, hanya pemuda itulah yang sanggup untuk melindungi dirinya dari bayangan masa lalu yang masih mengejarnya.

Updated at

Read
Aku, Kamu, Dia

Aku, Kamu, Dia

3.649K Reads

Kisah cinta romantis penuh drama dan intrik yang berlokasi di Jakarta dan Italia. Novel ini bercerita tentang seorang wanita karir yang hancur setelah diceraikan secara tak adil oleh suaminya sendiri dan kemudian ia berani untuk terus melangkah maju serta seiring waktu, mengubur masa lalu dan menemukan kebahagiaannya sendiri.

Updated at

Read

Navigate with selected cookies

Dear Reader, we use the permissions associated with cookies to keep our website running smoothly and to provide you with personalized content that better meets your needs and ensure the best reading experience. At any time, you can change your permissions for the cookie settings below.

If you would like to learn more about our Cookie, you can click on Privacy Policy.