Story By Thunder_04
author-avatar

Thunder_04

bc
Meet Again
Updated at Jan 11, 2022, 20:21
Istana Pasir - 30 Mei 2012 - Deburan ombak terdengar merdu di telinga setiap individu yang sedang menikmati hari libur di pantai Lemo . Berpasang-pasang kekasih saling bergandengan tangan menyisiri pinggiran pantai Lemo . Ada juga yang hanya duduk termenung menikmati setiap detik tarikan nafas yang ia rasakan . Bagi seorang fotografer , ini adalah salah satu kesempatan untuk mengabadikan momen indah di kehidupan yang ia temui , melalui kamera ia akan men-save gambaran yang terpampang di hadapannya ini untuk jadi pengetahuan dan kenangan . Namun bagi seorang pelukis , mengabadikannya harus melalui cat warna , kuas , dan kanvas . Tak lupa suasana hati harus seirama dengan pemandangan yang hadir di depan mata , agar lukisan tersebut terlihat hidup di atas kanvas . Seorang gadis kecil sedang asyik membuat istana Pasir , namun sayang berkali-kali ia mencetak istana Pasir tersebut , berkali-kali juga istana Pasir tersebut akan roboh . Karena capek dan kecewa istana Pasir tersebut tak pernah jadi , ia melempar ember pencetak pasir beserta penyendok pasirnya ke arah depan , lalu ia menundukkan kepalanya dan menangis tersedu-sedu . Tanpa ia sadari , seorang anak laki-laki sedari tadi memperhatikan gerak-geriknya . Anak laki-laki tersebut tersenyum melihat tingkah lucu nan menggemaskan gadis kecil itu . Ia pun menghampirinya lalu mengambil ember dan penyendok pasir yang sempat gadis kecil itu lempar . " jangan menangis lagi , biar aku ajari kamu cara membuat istana Pasir ," ucap anak laki-laki tersebut menenangkannya . " apakah kamu bisa membuatnya ," tanya gadis kecil tersebut . " kita lihat saja ," katanya sambil tersenyum . Ia mulai menyendok pasir lalu memasukkannya ke dalam ember , kemudian menekan pasir tersebut agar menyatu dengan yang lainnya . Ketika ember tersebut telah penuh , ia membalikkannya dan menepuk-nepuk bokong ember sebanyak tiga kali , lalu mulai mengangkat ember perlahan-lahan . Pasir tersebut berdiri kokoh membentuk sebuah bangunan istana . Gadis kecil itu tersenyum riang .... " untukmu ... ," ucap anak laki-laki tersebut . " benarkah ... terima kasih ," gadis kecil tersebut memeluk anak laki-laki itu , ia bahagia karena istana pasirnya sudah jadi . " ajari aku cara membuatnya ," pinta sang gadis kecil . " tapi ini sudah sore ... tidak lama lagi senja akan tiba , pulanglah dulu ... Minggu depan aku akan kembali ke sini untuk mengajarimu ," ucap anak laki-laki tersebut meyakinkan . " benarkah , tapi kamu harus janji untuk datang yah , kamu harus ajari aku cara membuatnya ," pinta sang gadis kecil . " Iyya ... aku janji ," " janji ," gadis kecil mengulurkan jari kelingkingnya , anak laki-laki itu menyambutnya , lalu mereka mempertemukan ibu jari masing-masing sebagai tanda bahwa janji tersebut harus dilaksanakan . Kedua anak itu tersenyum , lalu ibu sang gadis kecil memanggil untuk pulang , gadis kecil berlari meninggalkan anak laki-laki itu . Ketika sudah sampai di hadapan ibunya , ia berbalik lalu melambaikan tangan sambil tersenyum kepada anak laki-laki tersebut . Anak laki-laki itu balas tersenyum , ia melihat kepergian gadis kecil itu lalu berjanji dalam hati , minggu depan ia harus kembali ke tempat ini ...
like
bc
Meet Again
Updated at Jan 9, 2022, 20:36
Istana Pasir - 30 Mei 2012 - Deburan ombak terdengar merdu di telinga setiap individu yang sedang menikmati hari libur di pantai Lemo . Berpasang-pasang kekasih saling bergandengan tangan menyisiri pinggiran pantai Lemo . Ada juga yang hanya duduk termenung menikmati setiap detik tarikan nafas yang ia rasakan . Bagi seorang fotografer , ini adalah salah satu kesempatan untuk mengabadikan momen indah di kehidupan yang ia temui , melalui kamera ia akan men-save gambaran yang terpampang di hadapannya ini untuk jadi pengetahuan dan kenangan . Namun bagi seorang pelukis , mengabadikannya harus melalui cat warna , kuas , dan kanvas . Tak lupa suasana hati harus seirama dengan pemandangan yang hadir di depan mata , agar lukisan tersebut terlihat hidup di atas kanvas . Seorang gadis kecil sedang asyik membuat istana Pasir , namun sayang berkali-kali ia mencetak istana Pasir tersebut , berkali-kali juga istana Pasir tersebut akan roboh . Karena capek dan kecewa istana Pasir tersebut tak pernah jadi , ia melempar ember pencetak pasir beserta penyendok pasirnya ke arah depan , lalu ia menundukkan kepalanya dan menangis tersedu-sedu . Tanpa ia sadari , seorang anak laki-laki sedari tadi memperhatikan gerak-geriknya . Anak laki-laki tersebut tersenyum melihat tingkah lucu nan menggemaskan gadis kecil itu . Ia pun menghampirinya lalu mengambil ember dan penyendok pasir yang sempat gadis kecil itu lempar . " jangan menangis lagi , biar aku ajari kamu cara membuat istana Pasir ," ucap anak laki-laki tersebut menenangkannya . " apakah kamu bisa membuatnya ," tanya gadis kecil tersebut . " kita lihat saja ," katanya sambil tersenyum . Ia mulai menyendok pasir lalu memasukkannya ke dalam ember , kemudian menekan pasir tersebut agar menyatu dengan yang lainnya . Ketika ember tersebut telah penuh , ia membalikkannya dan menepuk-nepuk bokong ember sebanyak tiga kali , lalu mulai mengangkat ember perlahan-lahan . Pasir tersebut berdiri kokoh membentuk sebuah bangunan istana . Gadis kecil itu tersenyum riang .... " untukmu ... ," ucap anak laki-laki tersebut . " benarkah ... terima kasih ," gadis kecil tersebut memeluk anak laki-laki itu , ia bahagia karena istana pasirnya sudah jadi . " ajari aku cara membuatnya ," pinta sang gadis kecil . " tapi ini sudah sore ... tidak lama lagi senja akan tiba , pulanglah dulu ... Minggu depan aku akan kembali ke sini untuk mengajarimu ," ucap anak laki-laki tersebut meyakinkan . " benarkah , tapi kamu harus janji untuk datang yah , kamu harus ajari aku cara membuatnya ," pinta sang gadis kecil . " Iyya ... aku janji ," " janji ," gadis kecil mengulurkan jari kelingkingnya , anak laki-laki itu menyambutnya , lalu mereka mempertemukan ibu jari masing-masing sebagai tanda bahwa janji tersebut harus dilaksanakan . Kedua anak itu tersenyum , lalu ibu sang gadis kecil memanggil untuk pulang , gadis kecil berlari meninggalkan anak laki-laki itu . Ketika sudah sampai di hadapan ibunya , ia berbalik lalu melambaikan tangan sambil tersenyum kepada anak laki-laki tersebut . Anak laki-laki itu balas tersenyum , ia melihat kepergian gadis kecil itu lalu berjanji dalam hati , minggu depan ia harus kembali ke tempat ini ...
like
bc
Meet Again
Updated at Jan 9, 2022, 20:35
Istana Pasir - 30 Mei 2012 - Deburan ombak terdengar merdu di telinga setiap individu yang sedang menikmati hari libur di pantai Lemo . Berpasang-pasang kekasih saling bergandengan tangan menyisiri pinggiran pantai Lemo . Ada juga yang hanya duduk termenung menikmati setiap detik tarikan nafas yang ia rasakan . Bagi seorang fotografer , ini adalah salah satu kesempatan untuk mengabadikan momen indah di kehidupan yang ia temui , melalui kamera ia akan men-save gambaran yang terpampang di hadapannya ini untuk jadi pengetahuan dan kenangan . Namun bagi seorang pelukis , mengabadikannya harus melalui cat warna , kuas , dan kanvas . Tak lupa suasana hati harus seirama dengan pemandangan yang hadir di depan mata , agar lukisan tersebut terlihat hidup di atas kanvas . Seorang gadis kecil sedang asyik membuat istana Pasir , namun sayang berkali-kali ia mencetak istana Pasir tersebut , berkali-kali juga istana Pasir tersebut akan roboh . Karena capek dan kecewa istana Pasir tersebut tak pernah jadi , ia melempar ember pencetak pasir beserta penyendok pasirnya ke arah depan , lalu ia menundukkan kepalanya dan menangis tersedu-sedu . Tanpa ia sadari , seorang anak laki-laki sedari tadi memperhatikan gerak-geriknya . Anak laki-laki tersebut tersenyum melihat tingkah lucu nan menggemaskan gadis kecil itu . Ia pun menghampirinya lalu mengambil ember dan penyendok pasir yang sempat gadis kecil itu lempar . " jangan menangis lagi , biar aku ajari kamu cara membuat istana Pasir ," ucap anak laki-laki tersebut menenangkannya . " apakah kamu bisa membuatnya ," tanya gadis kecil tersebut . " kita lihat saja ," katanya sambil tersenyum . Ia mulai menyendok pasir lalu memasukkannya ke dalam ember , kemudian menekan pasir tersebut agar menyatu dengan yang lainnya . Ketika ember tersebut telah penuh , ia membalikkannya dan menepuk-nepuk bokong ember sebanyak tiga kali , lalu mulai mengangkat ember perlahan-lahan . Pasir tersebut berdiri kokoh membentuk sebuah bangunan istana . Gadis kecil itu tersenyum riang .... " untukmu ... ," ucap anak laki-laki tersebut . " benarkah ... terima kasih ," gadis kecil tersebut memeluk anak laki-laki itu , ia bahagia karena istana pasirnya sudah jadi . " ajari aku cara membuatnya ," pinta sang gadis kecil . " tapi ini sudah sore ... tidak lama lagi senja akan tiba , pulanglah dulu ... Minggu depan aku akan kembali ke sini untuk mengajarimu ," ucap anak laki-laki tersebut meyakinkan . " benarkah , tapi kamu harus janji untuk datang yah , kamu harus ajari aku cara membuatnya ," pinta sang gadis kecil . " Iyya ... aku janji ," " janji ," gadis kecil mengulurkan jari kelingkingnya , anak laki-laki itu menyambutnya , lalu mereka mempertemukan ibu jari masing-masing sebagai tanda bahwa janji tersebut harus dilaksanakan . Kedua anak itu tersenyum , lalu ibu sang gadis kecil memanggil untuk pulang , gadis kecil berlari meninggalkan anak laki-laki itu . Ketika sudah sampai di hadapan ibunya , ia berbalik lalu melambaikan tangan sambil tersenyum kepada anak laki-laki tersebut . Anak laki-laki itu balas tersenyum , ia melihat kepergian gadis kecil itu lalu berjanji dalam hati , minggu depan ia harus kembali ke tempat ini ...
like
bc
Meet Again
Updated at Jan 9, 2022, 20:35
Istana Pasir - 30 Mei 2012 - Deburan ombak terdengar merdu di telinga setiap individu yang sedang menikmati hari libur di pantai Lemo . Berpasang-pasang kekasih saling bergandengan tangan menyisiri pinggiran pantai Lemo . Ada juga yang hanya duduk termenung menikmati setiap detik tarikan nafas yang ia rasakan . Bagi seorang fotografer , ini adalah salah satu kesempatan untuk mengabadikan momen indah di kehidupan yang ia temui , melalui kamera ia akan men-save gambaran yang terpampang di hadapannya ini untuk jadi pengetahuan dan kenangan . Namun bagi seorang pelukis , mengabadikannya harus melalui cat warna , kuas , dan kanvas . Tak lupa suasana hati harus seirama dengan pemandangan yang hadir di depan mata , agar lukisan tersebut terlihat hidup di atas kanvas . Seorang gadis kecil sedang asyik membuat istana Pasir , namun sayang berkali-kali ia mencetak istana Pasir tersebut , berkali-kali juga istana Pasir tersebut akan roboh . Karena capek dan kecewa istana Pasir tersebut tak pernah jadi , ia melempar ember pencetak pasir beserta penyendok pasirnya ke arah depan , lalu ia menundukkan kepalanya dan menangis tersedu-sedu . Tanpa ia sadari , seorang anak laki-laki sedari tadi memperhatikan gerak-geriknya . Anak laki-laki tersebut tersenyum melihat tingkah lucu nan menggemaskan gadis kecil itu . Ia pun menghampirinya lalu mengambil ember dan penyendok pasir yang sempat gadis kecil itu lempar . " jangan menangis lagi , biar aku ajari kamu cara membuat istana Pasir ," ucap anak laki-laki tersebut menenangkannya . " apakah kamu bisa membuatnya ," tanya gadis kecil tersebut . " kita lihat saja ," katanya sambil tersenyum . Ia mulai menyendok pasir lalu memasukkannya ke dalam ember , kemudian menekan pasir tersebut agar menyatu dengan yang lainnya . Ketika ember tersebut telah penuh , ia membalikkannya dan menepuk-nepuk bokong ember sebanyak tiga kali , lalu mulai mengangkat ember perlahan-lahan . Pasir tersebut berdiri kokoh membentuk sebuah bangunan istana . Gadis kecil itu tersenyum riang .... " untukmu ... ," ucap anak laki-laki tersebut . " benarkah ... terima kasih ," gadis kecil tersebut memeluk anak laki-laki itu , ia bahagia karena istana pasirnya sudah jadi . " ajari aku cara membuatnya ," pinta sang gadis kecil . " tapi ini sudah sore ... tidak lama lagi senja akan tiba , pulanglah dulu ... Minggu depan aku akan kembali ke sini untuk mengajarimu ," ucap anak laki-laki tersebut meyakinkan . " benarkah , tapi kamu harus janji untuk datang yah , kamu harus ajari aku cara membuatnya ," pinta sang gadis kecil . " Iyya ... aku janji ," " janji ," gadis kecil mengulurkan jari kelingkingnya , anak laki-laki itu menyambutnya , lalu mereka mempertemukan ibu jari masing-masing sebagai tanda bahwa janji tersebut harus dilaksanakan . Kedua anak itu tersenyum , lalu ibu sang gadis kecil memanggil untuk pulang , gadis kecil berlari meninggalkan anak laki-laki itu . Ketika sudah sampai di hadapan ibunya , ia berbalik lalu melambaikan tangan sambil tersenyum kepada anak laki-laki tersebut . Anak laki-laki itu balas tersenyum , ia melihat kepergian gadis kecil itu lalu berjanji dalam hati , minggu depan ia harus kembali ke tempat ini ...
like
bc
Kaulah Takdirku
Updated at Dec 29, 2021, 19:34
Prolog... " Uhibbuka Fillaah zaujatyy... " sambil mengecup kening istrinya . " Ahabbakallaahulladzii ahbabtanii lahuu..." balas sang istri sambil tersenyum . Satu kata yang dapat di gambarkan oleh dua insan ini adalah BAHAGIA . Rasa syukur mereka panjatkan kepada Sang Maha Kuasa atas semua rasa sakit , rasa bimbang , penantian dan kesabaran yang menguras tenaga dan pikiran , yang membuat batin terasa sesak . Teka-teki yang begitu sulit dipecahkan , namun karena kesabaran yang tak terbatas , doa yang dipanjatkan dengan tetesan air mata , Sang Maha Kuasa membalas penantian mereka . Dua insan yang jauh berbeda , bagaikan langit dan bumi , yang secara logika tak dapat bersatu , namun takdir telah berbicara , tak satupun insan yang dapat mengubah , keduanya menyatu dalam ikatan suci , yaitu PERNIKAHAN . Part 1.. Hujan ... awal sebuah takdir " Yah ... hujan deras ... gimana caranya gue pulang coba , mana HP lowbat lagi , kenapa tadi nggak bawa mobil aja yah ? aduhhhh ... kok hari ini gue sial banget sih , aarrrgghhh ... " sambil menghentak-hemtakkan kakinya ia menggerutu kesal dengan keadaannya saat ini . Nabila Syafira , gadis yang telah menginjak usia ke-25 tahun , lahir dari keluarga konglomerat yang memiliki begitu banyak harta di mana-mana . Sejak kecil ia sudah terbiasa di manja , apapun yang ia inginkan akan segera terkabulkan . Saat ini ia sedang menyusun skripsi untuk menyelesaikan gelar S-1 yang ia tempuh selama delapan tahun ini di UI ( Universitas Indonesia ) . Simple saja , ia bercita-cita untuk menjadi seorang dokter kandungan hanya karena ingin menyaksikan proses persalinan yang katanya begitu menyakitkan , bagaikan hidup dan mati . Ia anak semata wayang dalam keluarganya , Ibunya tak bisa hamil lagi , jadi yah ... wajar saja kalau ia begitu penasaran dengan proses persalinan . " Aduhhh ... kayaknya nih hujan harus gue terobos aja deh , soalnya sampai tuh kaum siput bisa lari nih hujan juga nggak bakal berhenti . " Nabila melindungi berkas-berkas yang ia bawa ke dalam jaket yang ia kenakan , lalu menerobos hujan tersebut . Di sisi lain ... " Allahumma Shoyyibaan Naafiaan ... " doanya ketika melihat hujan turun dengan begitu derasnya . Gadis itu berdiri di depan gedung sastra Inggris Universitas Indonesia ( UI ) , dengan gamis berwarna dan pink susu dipadukan dengan jilbab putih , ia terlihat manis dan ayu , pas dengan kulitnya yang kuning Langsat . Tangannya memegang setumpukan kertas yang entah apa isinya , tas yang ia gandeng di punggungnya tak dapat lagi menampung benda-benda , begitu penuh terisi dengan buku-buku yang entah apa materinya . Ridza Al-Fatizha , gadis dengan IQ yang tak bisa di remehkan , bertahan di Universitas ternama di Indonesia dengan mengandalkan kecerdasan yang ia miliki , sehingga mampu menghasilkan beasiswa full selama menempuh pendidikan . Tak hanya itu ia juga aktif di dunia tulis-menulis versi online untuk membiayai kebutuhan hidupnya di tanah rantau , dan juga kebutuhan keluarganya di kampung . Karena lahir dan besar di keluarga sederhana , anak pertama dari enam bersaudara , maka mau tak mau ia harus menjadi tulang punggung keluarganya untuk sementara , setidaknya sampai ayahnya dinyatakan sembuh dari kanker yang di deritanya .
like