Seorang ibu rumah tangga biasa. Kelahiran Kuningan 1 Maret 2002.Mempunyai hobby mengumpulkan dan membaca buku. Ada lebih dari seratus buku berjajar rapi di rak dalam kamar nya. Anak pertama dari empat bersaudara. Menikah dengan Sobari 2019 lalu, dan di karuniai seorang putra bernama Muhammad.S.Samudra.
Kehidupan masa kecilnya di lalui dengan membaca buku yang di bawa nya dari perpustakaan sekolah, bersama adik nya, Putri. Awal hobby membaca ia rasakan ketika di rumah nya tidak mempunyai televisi, dan tidak punya gadget, ia akhirnya memutuskan mencari ilmu lewat buku. Hingga ia lulus SMP dengan nilai terbaik.
"Aku tidak bisa, Shuji."
Hati lelaki mana yang tak sakit saat mendengar kalimat tersebut keluar dari mulut wanita yang di sayangi nya. Begitu pula Shuji Yoshimitsu, lelaki yang sudah empat tahun lama nya menanti cinta seorang Asma.
Selama ini Asma nya selalu menggantung hubungan mereka, tidak pernah memberi penjelasan. Berpuluh kali Shuji menyatakan keseriusannya pada Asma namun selalu berakhir sama.
Terlebih saat hadirnya sosok Zacky yang merubah segalanya. Asma nya, lebih memilih melabuhkan hatinya pada sosok yang baru tiga bulan di kenal nya.
Ini adalah yang terakhir dia meminta kepada Asma. Setelah empat tahun berjuang, inilah titik terendah seorang Shuji. Meski lelah dia tidak menyesal mengenal sosok Asma, karena bagi nya, Asma lah yang memperkenalkan dirinya kepada sang pencipta, Allah SWT.
Akan kah Shuji berpindah keyakinan demi mendapatkan hati wanita pujaan hatinya?
Atau Asma justru memilih Zacky yang telah mampu membawa perubahan besar dalam hidupnya?
Mari berpisah, Mas.
Ucapan itu terus saja menghantui pikiran Farell. Bagaimana tidak, ucap tersebut keluar dari mulut perempuan yang tengah mengandung darah daging nya.
Ia menyadari bahwa apa yang dia lakukan adalah salah. Tapi apa tidak ada kesempatan bagi nya untuk meminta maaf dan memperbaiki semuanya?
Bagai di sambar petir di siang bolong, kalimat tersebut mampu meluluhkan lantahkan hati Farell yang keras bak batu itu.
"Tapi apa salah ku? Kenapa tiba-tiba kamu mengatakan ini?" Tanya Farell tak mengerti dengan apa yang baru saja di ucapkan istrinya.
"Karena kamu, hidup aku seperti ini. Kamu yang telah membuat ku kehilangan semua hal yang aku sayang." Jawab Allea dengan sorot mata tajam.
"Aku sudah tahu semuanya, aku sudah tahu bahwa kamu..."
Aarggh
Farell menjambak rambut pirang nya dan menjerit kesal. Tidak sanggup lagi ia menerima kenyataan bahwa Allea nya telah mengetahui semua kebenarannya. Ia tidak sanggup mendengar kalimat terakhir yang Allea ucapkan. Karena sebenarnya Farell sendiri tidak tahu bahwa dia lah penyebab utama semua rasa sakit yang di rasakan Allea.
Duarr.. Duarr..
Beberapa butir peluru melesat cepat di udara. Dentuman dan teriakan anak kecil terdengar silih berganti.
"Abi, bagaimana ini?" Tanya Maria kepada suaminya yang hanya diam saat mendengar suara tembakan di depan matanya. Kilatan petir membuat suasana semakin mencekam.
"Sekarang saatnya kalian pergi, tetap ikuti arahan jika ingin semuanya berhasil. Abi percaya semua anak abi anak baik, semoga tidak ada pembelot diantara kita." Teriak Raihan selaku pemimpin madrasah di tengah-tengah riuh nya tembakan dan meriam yang saling bersahutan.
"Kami gak akan ninggalin abi, Abi harus ikut pergi bersama kami!" Ucap Asep, anak asuhan nya yang paling besar.
Itu adalah percakapan terakhir Raihan bersama sepuluh anak asuh nya saat masih dalam gubuk persembunyian di tepian sungai Gajeboh. Tapi sekarang dia sedang berada tepat di tengah-tengah kaum komunis yang selama ini tengah mencari keberadaan, terlihat dari palu dan celurit yang mereka bawa di tangan.
Raihan melirik kearah istrinya yang merintih kesakitan di dalam pedati-sejenis gerobak pengangkut hasil tani. Tanpa membuang waktu Raihan dorong gerobak itu hingga meluncur cepat ke dalam jurang, hati nya meringis melihat kenyataan pahit yang di terima nya.
"Allahuakbar.." jerit nya saat sebuah sabetan celurit mengenai tangan kanan nya.
"Allahuakbar.." teriak nya lagi saat sebuah palu besar mendarat di tengkuk nya.