"Jangan berharap aku mencintaimu.”Kalimat itu keluar dingin dari bibir Nathan Alexander, CEO muda pemilik Syailendra Group yang terkenal sempurna, kaya raya, dan sangat sulit didekati wanita mana pun.Di hadapannya, seorang gadis sederhana bernama Clara hanya bisa menunduk menahan gugup.Satu minggu lalu hidupnya masih biasa saja.Ia bekerja sebagai barista di sebuah café kecil demi membayar biaya rumah sakit ibunya.Namun semuanya berubah ketika tanpa sengaja Clara menabrak Nathan di lobby hotel mewah dan merusak dokumen penting milik pria itu.Clara pikir hidupnya tamat.Tapi Nathan justru memberinya tawaran aneh.Menjadi tunangannya.Palsu.
Pria dingin itu menggenggam tangannya erat, sementara Alya terlihat seperti wanita yang baru saja menangis.Dan judul berita yang muncul membuat darahnya membeku.“CEO Mahardika Diam-Diam Menikahi Mantan Tunangan Rendra Wijaya?”“Astaga…” lirih Alya.Belum sempat ia mencerna semuanya, pintu kamar rumah sakit terbuka kasar.
PremisSebuah kafe tua bernama Midnight Coffee tiba-tiba viral di media sosial karena hanya muncul setelah jam 12 malam. Banyak orang datang untuk membuat konten horor, tetapi beberapa dari mereka menghilang tanpa jejak.Nara, mahasiswi tingkat akhir yang sedang mencari bahan skripsi urban legend, memutuskan menyelidiki kafe itu bersama sahabatnya, Dimas. Namun semakin lama mereka berada di sana, semakin sulit membedakan mana manusia dan mana arwah.
Hujan turun deras malam itu. Jalanan kota basah dan kosong, hanya lampu-lampu jalan yang berkedip redup seperti mata lelah yang belum tidur selama berhari-hari.
Raka memarkir motornya di depan rumah kontrakan kecil miliknya. Helm hitamnya meneteskan air hujan saat ia membuka pintu yang berderit pelan.Sudah hampir tengah malam.Ia melempar tas ke sofa lalu menyalakan laptop tua di meja kerja. Layar menyala lambat.
Di dinding kamar tergantung foam peredam suara murahan dan mikrofon bekas yang mulai berkarat.Inilah markas “Podcast Horor.”
Podcast kecil miliknya yang mulai kehilangan pendengar.Raka mengusap wajahnya frustrasi. Sudah dua bulan ia kehabisan ide. Semua cerita terasa biasa. Tidak ada yang cukup menyeramkan lagi.Ia membuka aplikasi statistik pendengar.Turun lagi.
“Gila…” gumamnya pelan.Ponselnya tiba-tiba berbunyi.Nomor tak dikenal.Raka ragu beberapa detik sebelum mengangkatnya.
“Halo?”Tidak ada jawaban.Hanya suara napas.Panjang.Pelan. Seperti seseorang berdiri sangat dekat dengan mikrofon.
“Halo?” ulang Raka.
Kemudian terdengar suara perempuan berbisik.“Cari episode yang hilang…”Sambungan langsung terputus.Raka membeku.Beberapa detik ia hanya menatap layar ponselnya sendiri.
“Prank apaan…”
Ia mencoba mengabaikannya lalu membuka email. Namun matanya langsung terpaku pada satu pesan baru tanpa nama pengirim.