Chapter 1 - Undangan Tengah Malam
Hujan turun deras saat Nara menutup laptopnya di perpustakaan kampus. Jam di layar menunjukkan pukul 11.47 malam. Hampir semua mahasiswa sudah pulang, menyisakan suara AC dan petugas keamanan yang sesekali lewat.
Nara menghela napas panjang.
Skripsinya tentang urban legend Yogyakarta masih berantakan. Ia butuh sesuatu yang benar-benar menarik agar dosennya berhenti menyuruh revisi.
Tiba-tiba ponselnya bergetar.
Sebuah notifikasi masuk dari akun anonim i********:.
@midnightcoffee.id mengirimi Anda pesan.
Nara mengernyit.
Ia membuka DM itu perlahan.
“Datanglah sebelum jam 12 malam.”
“Pesan meja terakhir masih kosong.”
“Jl. Langit No. 13.”
Di bawah pesan itu terdapat foto sebuah kafe klasik bercahaya remang-remang dengan papan nama: MIDNIGHT COFFEE.
Aneh.
Nara belum pernah mendengar tempat itu sebelumnya.
Padahal ia cukup sering berburu tempat nongkrong malam demi konten t****k.
“Nar!”
Suara Dimas membuatnya tersentak.
Cowok itu muncul sambil membawa helm.
“Masih di sini aja? Satpam udah nyariin.”
Nara menunjukkan DM tadi.
Dimas langsung tertarik.
“Eh, ini tempat yang lagi viral itu bukan sih?”
“Viral?”
“Iya. Katanya kalau datang lewat jam 12, pengunjungnya bukan cuma manusia.”
Nara tertawa kecil.
“Gimik marketing.”
“Orang yang ngomong gitu hilang tiga hari lalu.”
Nara diam.
Dimas memang suka bercanda, tapi ekspresinya kali ini serius.
“Lo percaya?” tanya Nara.
“Gue percaya netizen Indonesia terlalu gabut.”
Mereka tertawa bersamaan.
Namun entah kenapa, bulu kuduk Nara terasa dingin.
Motor Dimas berhenti di depan sebuah gang sempit.
Jam menunjukkan pukul 11.58 malam.
“Hah? Ini tempatnya?” gumam Nara.
Gang itu gelap dan nyaris tidak ada lampu.
Di ujung jalan tampak bangunan tua dengan cahaya kuning redup.
MIDNIGHT COFFEE.
Persis seperti foto di i********:.
“Fix ini tempat horor,” bisik Dimas.
Mereka melangkah masuk.
Bel kecil di atas pintu berbunyi pelan.
KRING.
Suasana di dalam kafe sunyi.
Musik jazz tua terdengar samar.
Beberapa pengunjung duduk diam tanpa berbicara.
Anehnya, semuanya menunduk.
Seorang pelayan wanita menghampiri mereka.
Kulitnya pucat.
Senyumnya terlalu lebar.
“Selamat datang,” katanya lirih.
“Meja terakhir sudah menunggu.”
Nara merasakan jantungnya berdetak lebih cepat.
“Mbak, kafenya buka sampai jam berapa?” tanya Dimas.
Pelayan itu diam beberapa detik.
Lalu menjawab:
“Kami tidak pernah tutup.”
Mereka duduk di pojok ruangan.
Lampu di atas meja berkedip pelan.
Nara memperhatikan sekitar.
Tidak ada jendela.
Padahal dari luar tadi bangunannya memiliki banyak kaca.
“Aneh banget,” bisiknya.
Dimas sibuk merekam video.
“Guys, jadi sekarang gue lagi di Midnight Coffee—”
Tiba-tiba layar ponselnya mati sendiri.
“Loh?”
Pelayan tadi datang membawa dua cangkir kopi hitam.
“Apa kami memesan ini?” tanya Nara.
“Ini pesanan dari pengunjung sebelum kalian.”
Nara menatap cangkir itu.
Di permukaan kopi terlihat bayangan wajah seorang perempuan.
Sedang tersenyum kepadanya.
Padahal tidak ada siapa-siapa di belakangnya.
BRAK!
Nara menjatuhkan cangkir itu.
Seluruh pengunjung langsung menoleh bersamaan.
Pelan.
Kaku.
Mata mereka hitam seluruhnya.
Dan secara bersamaan mereka berkata:
“Jangan pergi sebelum pesanan selesai.”
Nara membeku.
Dimas menarik tangannya.
“Nar…”
“Sinyal HP gue hilang.”
Lampu kafe tiba-tiba padam.
Gelap total.
Lalu terdengar suara langkah kaki mendekat dari belakang mereka.
Satu.
Dua.
Tiga.
Dan sebuah bisikan muncul tepat di telinga Nara.
“Kalian datang terlalu malam."